
TENTANG KUDUS
Jerusalem van Java, Jejak Al-Quds di Balik Asal Nama Kota Kudus
Kudus – Pada masa lalu, nama Kota Kudus juga sempat bernama Tajug. Soalnya di kota ini, begitu banyak bangunan tajug. Tajug pada dasarnya adalah atap tradisional yang berbentuk limas segi empat. Namun setelah Sunan Kudus datang, tajug berganti nama menjadi Al-Quds yang berarti Kudus.
Nama Kudus sendiri telah lama melekat sebagai identitas sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Di balik nama tersebut tersimpan kisah yang berkaitan dengan perjalanan Sunan Kudus atau Ja’far Shoddiq, seorang tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut. Nama Kudus sendiri disebut berasal dari kata Al-Quds, nama lain bagi Kota Yerussalem di Palestina.
Kisah itu berawal dari perjalanan Ja’far Shoddiq ke Palestina. Sebelum mendirikan masjid dan mengembangkan wilayah yang kini dikenal sebagai Kudus, Sunan Kudus pernah menetap di Baitul Maqdis untuk mempelajari agama Islam. Pada masa itu, wilayah tersebut tengah dilanda wabah penyakit yang menyebabkan banyak korban meninggal dunia.

Dalam catatan yang dikutip dari sumber sejarah yang berkembang di Kudus, Ja’far Shoddiq disebut berperan dalam upaya mengatasi wabah tersebut. Atas jasa-jasanya, Amir di Palestina memberikan hadiah berupa ijazah wilayah, yakni pemberian wewenang untuk menguasai suatu daerah di Palestina.
Pemberian wewenang tersebut disebutkan tertulis pada batu berhuruf Arab kuno yang hingga kini masih berada di atas mihrab Masjid Menara Kudus. Keberadaan batu tersebut menjadi bagian dari kisah yang terus dikenang dalam sejarah berdirinya Kudus.
Meski memperoleh kehormatan tersebut, Ja’far Shoddiq kemudian mengajukan permohonan kepada Amir Palestina yang juga disebut sebagai gurunya. Ia meminta agar wewenang wilayah tersebut dipindahkan ke Pulau Jawa. Permohonan itu kemudian disetujui.
Setelah mendapatkan persetujuan, Ja’far Shoddiq kembali ke Tanah Jawa. Kepulangannya menjadi awal dari berdirinya sebuah pusat kegiatan keagamaan yang kemudian berkembang menjadi bagian penting dalam sejarah Kudus.
Pada tahun 1956 Hijriyah atau 1548 Masehi, Ja’far Shoddiq mendirikan sebuah masjid di daerah Kudus. Pada awalnya, masjid tersebut diberi nama Al Manar. Namun kemudian nama itu berubah menjadi Masjid Al Aqsho.
Perubahan nama tersebut tidak terlepas dari pengalaman dan keterhubungan Sunan Kudus dengan Palestina. Nama Masjid Al Aqsho dipilih dengan meniru nama masjid yang berada di Yerussalem, yakni Masjidil Aqsho.
Dari sinilah jejak Al-Quds mulai terlihat dalam sejarah Kudus. Yerussalem dikenal pula dengan sebutan Baitul Maqdis atau Al-Quds. Nama Al-Quds kemudian menjadi inspirasi bagi lahirnya nama Kudus yang digunakan hingga sekarang.
Kisah penamaan itu menjadi bagian penting dari sejarah daerah tersebut. Nama Kudus tidak hanya merujuk pada sebuah wilayah administratif, tetapi juga mencerminkan hubungan historis dan spiritual yang dikisahkan melalui perjalanan Sunan Kudus.
Masjid yang didirikan Ja’far Shoddiq kemudian berkembang menjadi salah satu bangunan yang paling dikenal di Kudus. Hingga kini masjid tersebut tetap berdiri dan dikenal sebagai Masjid Agung Kudus. Lokasinya berada di kawasan alun-alun Kota Kudus dan menjadi salah satu penanda sejarah perkembangan Islam di daerah itu.
Seiring perjalanan waktu, wilayah yang berkembang di sekitar masjid tersebut tumbuh menjadi pusat kehidupan masyarakat. Kudus kemudian dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah penyebaran agama Islam di Jawa.
Kabupaten Kudus sendiri dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan agama Islam pada masa lampau. Hal itu antara lain terlihat dari keberadaan makam para wali yang berada di wilayah tersebut, termasuk makam Sunan Kudus.
Jejak sejarah yang ditinggalkan Sunan Kudus tidak hanya berupa bangunan fisik, tetapi juga identitas daerah yang masih bertahan hingga sekarang. Nama Kudus yang berasal dari Al-Quds menjadi pengingat atas perjalanan seorang ulama yang pernah menimba ilmu di Palestina sebelum kembali ke Jawa.
Di tengah perkembangan zaman, kisah tersebut tetap menjadi bagian dari sejarah yang melekat pada Kabupaten Kudus. Nama kota, keberadaan masjid, serta berbagai peninggalan yang terkait dengan Sunan Kudus terus menjadi penanda perjalanan panjang daerah tersebut.
Saat ini, Kabupaten Kudus merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Pusat pemerintahan kabupaten berada di Kota Kudus, yang juga menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan daerah.
Kabupaten ini dikenal sebagai kota santri dan memiliki hubungan yang kuat dengan sejarah perkembangan Islam. Keberadaan makam Sunan Kudus menjadi salah satu bukti keterkaitan tersebut, bersama dengan sejumlah situs keagamaan lain yang berada di wilayah kabupaten.
Secara administratif, Kabupaten Kudus terdiri atas sembilan kecamatan, sembilan kelurahan, dan 123 desa. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kota Kudus.
Dalam perkembangan selanjutnya, Kudus tumbuh menjadi daerah yang memiliki identitas khas. Namun di balik berbagai perkembangan tersebut, kisah mengenai asal-usul nama Kudus tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah daerah ini.
Perjalanan Ja’far Shoddiq dari Palestina menuju Jawa, kisah tentang pemberian ijazah wilayah, pendirian masjid pada tahun 1548 Masehi, hingga penggunaan nama Al-Quds sebagai inspirasi penamaan Kudus menjadi rangkaian cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Nama Kudus yang kini dikenal luas berakar pada kisah tersebut. Dari sebuah sebutan bagi Kota Yerussalem, Al-Quds kemudian menjadi Kudus, sebuah nama yang melekat pada daerah di Jawa Tengah dan menjadi bagian dari identitas sejarahnya hingga hari ini.
sumber : https://daerah.sindonews.com/newsread/1121565/29/kisah-sunan-kudus-mendirikan-kota-kudus-setelah-terinspirasi-al-quds-di-palestina-1686258378, https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kudus
