

5 Rekomendasi Soto Kudus yang Wajib Dicoba Saat Berkunjung ke Kudus
KUDUS – Hampir setiap orang yang datang ke Kudus memiliki satu tujuan kuliner yang sama: mencari semangkuk Soto Kudus. Bagi wisatawan, makanan ini dapat menjadi bagian dari agenda perjalanan. Sementara bagi mereka yang datang untuk mengikuti kegiatan olahraga, soto bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu setelah bertanding.
Soto Kudus mudah dikenali dari penyajiannya dalam mangkuk berukuran relatif kecil. Di dalamnya terdapat nasi, kuah, potongan daging ayam atau kerbau, kecambah atau tauge, serta taburan bawang goreng. Hidangan tersebut biasanya ditemani berbagai lauk, seperti sate jeroan, sate telur puyuh, sate kerang, perkedel, atau kerupuk.
Ukuran mangkuk tersebut berkaitan dengan kebiasaan menikmati soto bersama berbagai lauk pendamping. Porsinya tidak terlalu besar sehingga kuah dapat tetap dinikmati dalam kondisi hangat, sekaligus memberi ruang bagi pengunjung untuk menambahkan lauk atau memesan satu mangkuk lagi jika masih ingin makan. Penyajian dalam porsi yang pas juga menjadi bagian dari kebiasaan kuliner masyarakat Kudus yang sederhana.
Namun, pengalaman menikmati Soto Kudus tidak berhenti pada isi dan ukuran mangkuk. Setiap warung mempunyai perjalanan masing-masing. Ada yang telah berjualan sejak 1945, ada yang berdiri sejak dekade 1950-an, ada yang diteruskan hingga generasi kedua, dan ada pula yang bertahan selama lebih dari enam dekade.
Bagi Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Arief Zuli Tanjung, keberadaan Soto Kudus berkaitan dengan sejarah dan budaya masyarakat setempat. Penggunaan daging kerbau menjadi salah satu ciri yang membedakannya dari soto di sejumlah daerah lain.

“Yang membedakan jelas tentu saja bahan bakunya, yaitu daging kerbau. Itu tidak hanya sekadar pilihan rasa atau tekstur kuliner, tetapi juga karena ada nilai-nilai budaya yang berakar kuat di Kudus,” sebutnya.
Menurut Arief, keberadaan Soto Kudus juga tidak terlepas dari nilai budaya yang berkembang di Kudus sebagai warisan Sunan Kudus. Cita rasa dan cara pengolahannya kemudian diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pelestarian tersebut juga menjadi perhatian melalui Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Pemerintah daerah mendorong terbentuknya komunitas pelaku warung atau rumah makan yang menyajikan Soto Kudus. Tujuannya agar para pelaku kuliner memiliki ruang untuk saling terhubung sekaligus menjaga keberadaan kuliner tersebut.
“Makanya kita mendorong agar para pelaku usaha di bidang kuliner soto itu memiliki komunitas yang terus saling terikat, kemudian dengan semangat untuk melestarikan,” ujarnya.
Bagi wisatawan, banyaknya warung Soto Kudus memberi kesempatan untuk mengenal sajian yang sama dari tempat berbeda. Berikut lima warung yang dapat masuk dalam agenda kuliner saat berkunjung ke Kudus.
1. Soto Kudus Pak Ramidjan Sejak 1950-an

Soto Kudus Pak Ramidjan di Jalan Raya Kudus-Jepara, Purwosari, telah berjualan sejak dekade 1950-an dan menjadi salah satu warung kuliner dengan sejarah panjang di Kudus.
Menu yang tersedia tidak hanya Soto Kudus dengan daging kerbau. Pengunjung juga dapat memilih soto ayam kampung maupun nasi pindang.
Harga soto kerbau yang terdata berada di kisaran Rp 20 ribuan per porsi. Lokasinya berada di jalur Kudus-Jepara sehingga cukup mudah dijangkau pengunjung dari arah Jepara maupun wisatawan yang menuju pusat Kota Kudus. Berdasarkan informasi operasional yang tersedia, warung buka sejak pagi hingga malam.

2. Soto Kudus Bu Djatmi, Generasi Kedua

Berbeda dengan Pak Ramidjan yang berada di jalur Kudus-Jepara, Soto Kudus Bu Djatmi berada lebih dekat dengan pusat kota, tepatnya di Jalan KH Wahid Hasyim, Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus.
Warung ini dirintis pada 1982 oleh ibu dari pengelola sekarang. Usaha tersebut kemudian diteruskan anak-anaknya dan kini memasuki generasi kedua.
Soto ayam dan soto kerbau menjadi dua pilihan utama. Kuahnya berwarna kuning dengan tekstur cukup kental, dilengkapi potongan daging, kecambah atau tauge, serta bawang goreng.

Pengunjung juga dapat memilih lauk seperti sate paru, sate telur puyuh, perkedel, dan kerupuk rambak. Harga soto ayam maupun soto kerbau beserta nasi berada di kisaran Rp 20 ribuan.

Warung ini beroperasi sejak pagi hingga malam. Pelanggannya tidak hanya berasal dari Kudus. Sejumlah pengunjung dari Semarang, Rembang, Tuban, Pekalongan, Bandung hingga Jakarta pernah datang ke warung tersebut.
Letaknya di kawasan kota membuat Bu Djatmi dapat dimasukkan dalam agenda kuliner setelah wisatawan mengunjungi sejumlah kawasan di pusat Kudus.
3. Soto Kudus Pak Denuh di Jati Wetan

Jika ingin mengenal warung yang telah bertahan selama puluhan tahun, Soto Kudus Pak Denuh dapat menjadi salah satu tujuan. Warung di Jalan AKBP Agil Kusumadya, Jati Wetan, Kudus, sekitar kawasan RS Mardi Rahayu, ini disebut telah berjualan sejak 1945.
Selain soto ayam dan soto kerbau, tersedia pindang ayam dan pindang kerbau. Pilihan lauknya juga beragam, mulai dari sate ayam, sate kerang, sate telur puyuh, sate gotro, sate udang hingga paru.


Harga soto berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp20.000 per porsi, sementara pindang ayam sekitar Rp16.000. Aneka sate dan perkedel tersedia sebagai lauk tambahan dengan harga yang dihitung terpisah sesuai pilihan. Kisaran harga tersebut mengacu pada daftar menu yang tersedia dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Lokasinya di Jati Wetan menjadikan warung ini salah satu pilihan kuliner bagi wisatawan yang melintas maupun beraktivitas di kawasan sekitar.
4. Haji Sulichan’s Soto dan Pindang Kudus Pilihan di Pusat Kota

Haji Sulichan’s Soto & Pindang Kudus berada di Pusat Kuliner Taman Bojana, Barongan. Usaha tersebut telah berjualan sejak 1968 dan menyajikan Soto Kudus serta pindang ayam dan kerbau.
Soto kerbau menjadi salah satu pilihan dengan isian nasi, kecambah atau tauge, seledri, bawang putih dan bawang merah goreng, serta potongan daging kerbau.

Harganya mulai dari sekitar Rp 20.000 per porsi, tergantung jenis soto dan pilihan lauk. Sejumlah lauk yang tersedia antara lain tempe garit, sate paru, telur pindang, dan kerupuk.
Lokasinya di Taman Bojana membuat warung ini mudah dimasukkan dalam agenda wisata di pusat Kudus.
5. Soto dan Nasi Pindang Ibu Noor’in Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Masih di kawasan Taman Bojana, terdapat Warung Soto dan Nasi Pindang Ibu Noor’in di Jalan Simpang Tujuh, Barongan. Warung ini telah beroperasi sejak 1962 atau lebih dari enam dekade.
Sajian yang ditawarkan terdiri atas soto ayam kampung, soto daging kerbau, serta nasi pindang Kudus. Kisaran harga yang terdata berada antara Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per porsi.

Pilihan tersebut membuat pengunjung dapat mencicipi Soto Kudus sekaligus nasi pindang dalam satu tempat. Bertahannya usaha selama lebih dari 60 tahun juga memperlihatkan bagaimana resep dan menu keluarga dapat terus hadir di tengah perkembangan kota.
Wisata Kuliner Usai Berlomba
Soto Kudus juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata olahraga. Arif Wismoyono, atlet trail runner asal Bandung yang mengikuti Muria Trail Run (MTR) 2026, mencicipi sejumlah kuliner berbahan daging kerbau selama berada di Kudus, mulai dari pindang, sate hingga Soto Kudus.
Bagi Arif, penggunaan daging kerbau menjadi hal yang langsung membedakan kuliner Kudus dengan daerah asalnya.

“Daging kebonya yang membedakan. Jarang di daerah lain biasanya sapi. Nah kalau di sini kerbau,” tutur Arif.
Ia mengetahui rekomendasi kuliner Kudus dari keluarganya yang tinggal di daerah tersebut. Menurutnya, perjalanan ke Kudus tidak hanya berkaitan dengan aktivitas olahraga, tetapi juga dapat dilengkapi dengan mencicipi makanan khas dan mencari oleh-oleh.
“Wajib untuk para traveler di sini tuh paket lengkap. Kuliner enak, kalau di kota Kudusnya beli oleh-oleh juga gampang. Kemudian Muria itu mirip kayak Rinjani, jadi harus dicoba,” ungkapnya.
Pengalaman Arif menunjukkan bagaimana kuliner dapat masuk dalam rangkaian perjalanan olahraga. Atlet dan wisatawan yang datang ke Kudus untuk mengikuti kegiatan tertentu tetap memiliki kesempatan mengenal daerah melalui makanan yang mereka coba.
Bagi Arief Zuli Tanjung, pengalaman tersebut juga dapat menjadi alasan wisatawan untuk kembali. Setiap warung memiliki cita rasa berbeda sehingga pengalaman di satu tempat dapat dilanjutkan dengan mencoba warung lainnya.
“Ketika merasakan cita rasanya, terus cocok, kemudian itu akan menggugah pada suatu saat akan datang kembali atau kemudian mencoba yang lain,” jelasnya.
Dengan pilihan warung, menu, dan sejarah usaha yang beragam, Soto Kudus menjadi salah satu cara sederhana untuk mengenal kota melalui kulinernya. Bagi wisatawan yang memiliki waktu singkat, mencicipi soto sekaligus mencoba lauk pendampingnya dapat menjadi salah satu agenda yang mudah dimasukkan dalam perjalanan. (OEB/mainkekudus)