Logo Kudus

Baru Saling Jegal, Kini Nonton Bareng: Persahabatan Tumbuh di HYDROPLUS Soccer League All Stars

7 Juli 2026Saldy Nurzaman

Kudus – Peluit panjang memang mengakhiri pertandingan. Namun di HYDROPLUS Soccer League (HPSL) All Stars 2025/2026, bunyi peluit itu justru menjadi awal dari banyak percakapan, tawa, dan persahabatan baru.

Di atas lapangan, para pemain saling berebut bola, berduel demi kemenangan, bahkan tak ragu melakukan tekel untuk mempertahankan harga diri tim. Begitu pertandingan usai, suasana berubah. Jersey yang sebelumnya menjadi penanda rival kini tak lagi menjadi sekat. Yang terlihat justru para pemain duduk berdampingan, saling mengobrol, bertukar cerita, hingga menikmati pertandingan berikutnya bersama.

Para pemain Putri Tangsel dan Samba Persada saling respect usai laga. (Foto: ITN/mainkekudus)

Momen itu tampak usai laga fase grup U-18 yang mempertemukan Akademi Persib Regional Bandung melawan Arema FC Women Regional Surabaya di Supersoccer Arena (SSA), Kudus, Senin (6/7/2026). Baru saja menyelesaikan duel sengit selama 70 menit, para pemain dari kedua tim memilih tetap berada di tribun untuk menyaksikan pertandingan Samba Persada U-18 menghadapi Putri Tangsel City U-18.

Pemandangan sederhana tersebut memperlihatkan sisi lain dari pembinaan sepak bola usia muda. Kompetisi bukan hanya menjadi ruang untuk mengejar kemenangan, tetapi juga tempat lahirnya karakter, sportivitas, serta jejaring pertemanan antar pemain dari berbagai daerah.

Para Atlet Akademi Persib Regional Bandung dan Arema FC Women Regional Surabaya saat tertawa bersama di Tribun Supersoccer Arena (SSA), Kudus, Senin (06/07/2026) (Foto: ITN/mainkekudus)

Bagi pemain Akademi Persib U-18, Muthia Keasha, sebagian wajah yang ditemuinya di Kudus sebenarnya sudah tidak asing lagi. Jauh sebelum bertemu di lapangan, hubungan mereka telah terjalin melalui media sosial.

“Awalnya kami berteman di media sosial, saling mengikuti Instagram. Tadi memang bertanding sebagai rival, tetapi kami tetap profesional. Di luar lapangan kami tetap berteman,” ujar Muthia.

Atlet Akademi Persib Regional Bandung, Muthia Keasha (kiri) dan Arema FC Women Regional Surabaya, Dian Anisa (kanan) saat foto bersama di Tribun Supersoccer Arena (SSA), Kudus, Senin (06/07/2026). (Foto: ITN/mainkekudus)  

Menurut gadis kelahiran Kota Priangan itu, pertandingan tidak mengubah rasa saling menghargai antar pemain. Justru pertemuan langsung membuat hubungan mereka semakin dekat karena memiliki kecintaan yang sama terhadap sepak bola putri.

Ia juga menikmati permainan yang diperlihatkan tim lawan. Baginya, setiap pertandingan menjadi kesempatan untuk belajar dari kualitas permainan tim lain.

“Penguasaan bola mereka bagus, komunikasinya juga berjalan,” ucapnya.

Meski baru pertama kali bertemu langsung setelah lama saling mengenal di media sosial, Muthia berharap hubungan itu terus terjaga.

“Kalau nanti bertemu lagi di pertandingan berikutnya, tentu tetap profesional, tetapi silaturahmi tetap berjalan,” katanya.

Perasaan serupa dirasakan pemain Arema FC Women U-18, Dian Anisa. Baginya, pertandingan yang berlangsung keras tidak menghilangkan rasa saling menghormati setelah laga berakhir.

“Bermain tadi seru, saling jegal juga di lapangan. Tapi setelah selesai kami langsung nonton bareng. Di luar pertandingan kami tetap teman,” ungkapnya sambil tersenyum.

Semangat kebersamaan juga dirasakan kiper Samba Persada U-18 Regional Kudus, Fairus Putri. Turnamen di Kudus bukan hanya memberinya kesempatan untuk bertanding, tetapi juga menghadirkan pengalaman baru di luar lapangan.

Kiper Samba Persada U-18 Regional Kudus, Fairus Putri. (Foto: ITN/mainkekudus)

Selama berada di kota ini, ia berkesempatan mengunjungi sejumlah ikon daerah, mulai dari Menara Kudus, PB Djarum, hingga Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Bakti Lingkungan Djarum Foundation.

“Pertama datang ke Kudus kesannya luar biasa. Banyak tempat yang bisa dikunjungi dan itu jadi pengalaman baru. Yang paling membuat saya semangat justru karena bisa bertemu banyak teman dari berbagai kota,” ujarnya.

Di sela-sela pertandingan, Fairus membangun kedekatan dengan pemain dari Tangerang Selatan, Arema, Bandung, hingga Tigers Football Academy. Salah satu sahabat yang paling dekat dengannya adalah Savaira Rizqin dari Putri Tangsel City U-18.

Pemain Putri Tangsel City U-18, Savaira Rizqin. (Foto: ITN/mainkekudus)

“Awalnya saya sempat berpikir mereka galak. Ternyata setelah kenal semuanya baik dan asyik. Di luar pertandingan kami sering jalan-jalan, ngobrol, dan saling bertukar cerita. Tapi kalau sudah masuk lapangan, kami tetap profesional. Setelah selesai bertanding, kami kembali saling menghormati,” katanya.

Bagi Fairus, pengalaman paling berharga yang dibawanya pulang bukan semata hasil pertandingan.

“Yang paling saya dapat adalah kebersamaan, rasa saling menghargai, dan pertemanan. Kalau turnamen selesai nanti, saya pasti rindu teman satu tim sekaligus teman-teman dari tim lain,” tuturnya.

Hubungan itu juga dirasakan Savaira Rizqin. Ia mengaku telah mengenal Fairus sejak mengikuti pemusatan latihan tim nasional di Malang tahun lalu. Pertemuan kembali di Kudus membuat keduanya semakin akrab.

“Bagi saya Kak Fairus bukan hanya teman, tapi juga seperti kakak dan mentor. Waktu saya gugup, dia selalu menyemangati supaya lebih percaya diri,” ungkapnya.

Savira berujar, dari Fairus ia belajar untuk tidak mudah menyerah dan terus berjuang.

Menurutnya, HYDROPLUS Soccer League All Stars menghadirkan pengalaman yang jauh lebih berharga daripada sekadar hasil pertandingan.

“Selain kemenangan, yang saya dapat di sini adalah teman baru, relasi, dan kebersamaan. Itu yang akan saya ingat setelah turnamen selesai,” katanya.

Nilai-nilai tersebut juga menjadi perhatian tim pelatih. Asisten Pelatih Samba Persada U-18, Dera Saviola Febriana, mengatakan pembinaan karakter berjalan seiring dengan pembinaan prestasi.

Asisten Pelatih Samba Persada U-18, Dera Saviola Febriana. (Foto: ITN/mainkekudus)

Sejak menjalani pemusatan latihan hingga berada di Kudus, para pemain terus dibiasakan untuk disiplin, bertanggung jawab, dan menghormati siapa pun.

“Awalnya anak-anak masih canggung, tetapi setelah beberapa hari di Kudus mereka mulai terbuka dan mudah bergaul dengan pemain dari daerah lain,” jelasnya.

Perubahan itu terlihat bukan hanya saat bertanding, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang paling membuat saya bangga, bukan hanya permainan mereka, tetapi rasa empatinya. Saat ada teman yang sakit, satu tim datang memberi semangat. Itu menunjukkan karakter mereka mulai terbentuk,” katanya.

Pengalaman serupa disampaikan Liaison Officer Samba Persada U-18, Nida Afifatur Rahma. Menurutnya, interaksi antar pemain berlangsung hangat sejak hari pertama turnamen.

Liaison Officer Samba Persada U-18, Nida Afifatur Rahma. (Foto: ITN/mainkekudus)

Ia menilai fasilitas yang lengkap, transportasi yang tertata, serta kualitas Supersoccer Arena Kudus membuat para atlet merasa nyaman selama berada di Kudus.

“Anak-anak dari berbagai kota sudah saling mengenal dan cepat akrab. Kudus menjadi tuan rumah yang nyaman karena fasilitasnya lengkap, lapangannya bertaraf internasional, lingkungannya bersih, dan semuanya mendukung mereka untuk berkembang,” ujarnya.

Para Atlet Akademi Persib Regional Bandung dan Arema FC Women Regional Surabaya saat foto selfie bersama di Tribun Supersoccer Arena (SSA), Kudus, Senin. (06/07/2026). (Foto: ITN/mainkekudus)  

Pada akhirnya, setiap tim memang datang dengan tujuan meraih kemenangan. Namun HYDROPLUS Soccer League All Stars menghadirkan makna yang lebih luas daripada sekadar hasil di papan skor. Turnamen ini mempertemukan talenta-talenta muda dari berbagai daerah dalam satu ruang yang sama, tempat mereka belajar menghargai lawan, membangun kepercayaan, memperluas pertemanan, dan membawa pulang pengalaman yang akan tetap dikenang jauh setelah peluit terakhir dibunyikan. (ITN/mainkekudus)

Baru Saling Jegal, Kini Nonton Bareng: Persahabatan Tumbuh di HYDROPLUS Soccer League All Stars | Main ke Kudus