

Bertumbuh Lewat Proses, Dikuatkan oleh Dukungan
Kudus – Langkah Arema FC Women U-18 (Malang) harus terhenti di babak semifinal HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 di Supersoccer Arena, Kudus. Kekecewaan masih terasa ketika para pemain meninggalkan lapangan. Mimpi membawa pulang trofi pun harus pupus.
Namun beberapa saat kemudian, nama Oedaija O’Shea Sharinah dipanggil ke depan. Gelandang Arema FC Women U-18 (Malang) itu dinobatkan sebagai Best Player U-18, sebuah penghargaan yang datang di tengah kegagalan timnya melangkah ke partai final.

“Rasanya senang dan bangga juga sebagai pemain terbaik. Awalnya nggak tahu kalau jadi Best Player, ternyata tiba-tiba dipanggil, jadi agak nervous,” ujarnya.
Penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa dalam pembinaan sepak bola usia muda, kemenangan memang menjadi tujuan setiap pertandingan, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Di balik setiap prestasi, ada proses panjang yang terus membentuk seorang atlet.

Berawal dari Lapangan Kampung
Jauh sebelum berdiri menerima penghargaan di Kudus, perjalanan Oedaija dimulai dari Kelurahan Simpang Tiga Pekan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Sejak usia enam tahun, lapangan kampung menjadi tempat pertama ia mengenal sepak bola.
“Main bola sejak umur enam tahun. Prosesnya sejak kecil pasti ada jenuhnya, capek juga, tapi lama-lama dinikmati saja. Yang paling berkesan itu bapak saya, karena beliau yang pertama kali mengenalkan dan melatih saya bermain bola.”
Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Sebagai pesepak bola putri, Oedaija pernah menghadapi tantangan fisik, rasa lelah, hingga kehilangan kepercayaan diri. Namun semua itu justru menjadi bagian dari proses yang membuatnya terus berkembang.
“Tantangan terbesar sebagai putri itu kadang ketika kondisi badan kurang enak atau saat menstruasi. Penghargaan ini sangat berarti karena jarang dapat Best Player di turnamen nasional. Ini saya persembahkan untuk bapak saya, pelatih, dan tim. Yang membuat saya tetap konsisten sebenarnya percaya diri, walaupun kemarin sempat nggak yakin.”
Penampilan para pemain sepanjang HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 menjadi perhatian, termasuk Oedaija O’Shea Sharinah yang tampil konsisten selama turnamen. Meski demikian, kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbuka bagi seluruh atlet yang ambil bagian. Selama kompetisi berlangsung, tim scouting yang terdiri atas Timo Scheunemann, Jacksen F. Tiago, dan Takumi Taniguchi memantau perkembangan setiap pemain sebagai bagian dari proses pembentukan skuad Indonesia U-16.

Hasil pemantauan tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menyeleksi pemain yang berpeluang memperkuat dua tim Indonesia U-16 pada ajang Srikandi Merdeka Cup yang dijadwalkan berlangsung pada 14–23 Agustus 2026 di Supersoccer Arena, Kudus. Dengan demikian, HYDROPLUS Soccer League All Stars tidak hanya menjadi ruang kompetisi bagi para atlet muda, tetapi juga membuka kesempatan untuk melangkah ke tahap pembinaan berikutnya dan bersaing mendapatkan tempat di level yang lebih tinggi.
Proses Lebih Penting daripada Hasil Akhir
Pelatih Arema FC Women U-18, Dindin Wahyudin, menilai pengalaman bertanding di level nasional menjadi bekal penting bagi perkembangan para pemain.

“Yang pertama tentu pengalaman buat anak-anak. Di tingkat nasional banyak tim terbaik dari berbagai daerah. Dari sini kami punya gambaran apa yang harus dievaluasi dan dipersiapkan ke depan,” katanya.
Menurut Dindin, pembinaan atlet muda tidak hanya berfokus pada kemampuan teknik dan taktik, tetapi juga membangun mental bertanding.

“Mental bertanding harus terus diasah. Ada pemain yang sudah berpengalaman, ada juga yang baru pertama kali tampil di level nasional. Saya tetap mengapresiasi perjuangan mereka meskipun langkah kami terhenti di semifinal.”
Baginya, setiap pertandingan selalu menghadirkan pelajaran baru. Hasil di papan skor memang penting, tetapi yang jauh lebih berharga adalah bagaimana para pemain mampu berkembang dari setiap pengalaman yang mereka jalani.
Dukungan yang Menjaga Mimpi Tetap Hidup
Proses tersebut tentu tidak dijalani para pemain seorang diri. Di balik setiap sesi latihan, perjalanan menuju pertandingan, hingga saat menghadapi kekalahan, ada keluarga yang terus memberikan dukungan.
Hal itulah yang dilakukan Solichah, orang tua salah satu penjaga gawang Arema FC Women U18, Keysha Putri Dwi Arianti. Ia sengaja mengambil cuti selama sepekan agar dapat mendampingi putrinya selama mengikuti HYDROPLUS Soccer League All Stars di Kudus.

“Saya di sini selama seminggu untuk memberikan support kepada anak-anak Arema. Kebetulan putri saya bermain di Arema U-18, jadi saya datang mendukung tim U-15 dan U-18.”
Selama mengikuti pertandingan, Solichah melihat perkembangan permainan para pemain dari hari ke hari. Menurutnya, pengalaman menghadapi tim-tim terbaik dari berbagai daerah menjadi bekal berharga bagi perkembangan mereka.

Baginya, kehadiran orang tua di tribun bukan sekadar memberi semangat. Dukungan tersebut membantu anak-anak tetap percaya diri ketika bertanding dan tetap bangkit ketika hasil yang diraih belum sesuai harapan.
Perjalanan Panjang di Balik Sebuah Penghargaan
Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Oedaija. Ayahnya, Chairil Syafwan, merupakan mantan pemain Timnas Indonesia U-16 yang pertama kali mengenalkan sepak bola kepada putrinya.
Dari Sumatera Utara, Chairil mengaku tak mampu menahan haru ketika mengetahui Oedaija dinobatkan sebagai Best Player U-18.

“Kami di sini bahagia sekali. Mudah-mudahan ini jadi penyemangat juga untuk sepak bola putri di Sumatera Utara. Kami juga bersyukur Arema mau menerima anak kami yang berasal dari kampung.”
Chairil masih mengingat bagaimana ia melatih Oedaija sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia bahkan pernah mengajak putrinya merantau ke Jakarta agar memperoleh pengalaman dan kesempatan berkembang di lingkungan sepak bola yang lebih kompetitif.
“Bahagia sekali sampai menetes air mata. Anak yang dari kampung ternyata bisa jadi pemain terbaik di Jawa sana. Dia latihan rutin sejak kelas satu SD, latihan sama anak laki-laki. Waktu kelas lima SD juga sempat saya bawa ke Jakarta hampir dua tahun supaya mendapat pengalaman.”
Baginya, penghargaan tersebut bukan akhir perjalanan, melainkan hasil dari proses panjang yang telah dijalani bersama selama bertahun-tahun.
HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 memang telah usai. Sebagian tim pulang membawa trofi, sementara yang lain harus menerima hasil yang belum sesuai harapan. Namun bagi para atlet muda yang tampil di Kudus, perjalanan mereka masih terus berlanjut.
Setiap pertandingan telah menjadi ruang belajar. Setiap evaluasi menjadi bekal untuk berkembang. Setiap dukungan dari pelatih dan keluarga menjadi penguat untuk terus melangkah.

Kisah Oedaija menjadi salah satu buktinya. Penghargaan sebagai pemain terbaik tidak lahir dalam semalam, melainkan dari latihan sejak usia dini, keberanian menghadapi tantangan, bimbingan pelatih, serta dukungan keluarga yang tak pernah berhenti percaya.
Pada akhirnya, sepak bola usia muda tidak hanya mengajarkan cara memenangkan pertandingan. Olahraga ini mengajarkan bahwa kemenangan sejati dibangun melalui proses yang panjang, dan proses itu hampir selalu dijalani bersama orang-orang yang terus mendampingi setiap langkah seorang atlet menuju mimpinya. (JMY/HNR/mainkekudus)