

Cerita Haru Pemuda Kudus Pembentang Bendera saat Lagu Indonesia Raya Berkumandang di Caffino Srikandi Merdeka Cup
Kudus – Gemuruh dukungan penonton untuk delapan tim peserta Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 menggema di Supersoccer Arena Kudus. Di tengah kemeriahan turnamen sepak bola putri internasional tersebut, terselip cerita dari para pemuda asli Kudus yang turut mengambil bagian dalam setiap pertandingan, bukan sebagai pemain, melainkan sebagai bagian dari tim flag bearer dan pembentang centre circle flag.
Salah satunya adalah Mualif Bagas Taufiq (22) dan Hebron Jauza Munandar (20). Bersama 25 pemuda lainnya, keduanya bertugas membawa dan membentangkan centre circle flag (CCF) di tengah lapangan menjelang pertandingan dimulai.
Mualif sehari-hari berprofesi sebagai pengajar jurusan Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Ma’arif Kudus. Sementara Hebron merupakan mahasiswa semester lima Program Studi Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Mereka membawa centre circle flag ke tengah lapangan sekitar 10 menit sebelum pertandingan dimulai. Meski baru pertama kali terlibat dalam tugas tersebut, pengalaman mengikuti sejumlah agenda sepak bola di Kudus membuat mereka semakin terbiasa menjalankan tugas di lapangan.

“Awalnya pertama ikut di MilkLife (MilkLife Soccer Challenge) memang belum ada pengalaman, tapi berjalannya waktu jadi bisa menyesuaikan,” ujar Mualif ditemui sebelum menjalankan tugasnya di Supersoccer Arena Kudus, Sabtu (22/8/2026).
Bagi Hebron, ada satu momen yang terasa berbeda ketika bertugas dalam pertandingan yang mempertemukan Timnas Putri U-16 Indonesia atau Garuda Pertiwi. Momen itu terjadi ketika seluruh stadion berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
“Kalau pas laga Indonesia yang main, terutama pas anthem Indonesia Raya itu cukup merinding buat saya. Jadi ada rasa agak gugup juga,” ungkap Hebron.
Berdiri di tengah lapangan bersama puluhan pemuda lainnya, keduanya merasakan langsung atmosfer pertandingan internasional dari jarak yang sangat dekat. Bagi mereka, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam perhelatan sepak bola putri yang berlangsung di kota sendiri.

Cerita lain datang dari Riski Dwi Saputro dan M. Alif Suryansyah, dua mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) yang mendapat tugas sebagai flag bearer atau pembawa bendera resmi tim yang bertanding.
Keduanya merupakan mahasiswa semester delapan Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian UMK. Di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi, Riski dan Alif menyempatkan diri mengambil bagian dalam Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026.
Keterlibatan Riski bermula dari tawaran seorang rekan yang lebih dahulu bergabung dalam tim operasional turnamen. Tanpa berpikir panjang, ia menerima kesempatan tersebut.
“Pengalaman pertama dan momen paling sakral saat tak semua orang bisa dapat kesempatan berada di posisi mengibarkan bendera. Apalagi berhadapan dengan pemain dan ribuan suporter,” kata Riski.
Salah satu momen yang paling membekas baginya terjadi pada pertandingan pembukaan saat Timnas Putri U-16 Indonesia menghadapi Arab Saudi. Garuda Pertiwi menang dengan skor 7-0 dalam laga tersebut.

Sementara bagi Alif, pengalaman yang paling emosional justru terasa ketika ia berdiri di lapangan sambil membawa bendera Indonesia dan lagu kebangsaan mulai berkumandang.
“Jujur saya sangat antusias sekaligus terharu. Ada rasa bangga bisa mengibarkan bendera Indonesia di turnamen internasional, apalagi saat seluruh isi stadion menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama,” ungkap Ali.
Kisah Mualif, Hebron, Riski, Alif, dan puluhan pemuda lainnya menunjukkan bahwa Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 tidak hanya menghadirkan pertandingan sepak bola internasional. Perhelatan yang berlangsung pada 14-23 Agustus 2026 itu juga membuka ruang bagi anak muda Kudus untuk terlibat langsung, belajar dari pengalaman baru, sekaligus menjadi bagian dari momen olahraga yang berlangsung di kota mereka sendiri. (DV/RND/mainkekudus)