Logo Kudus

Dari Menara Kudus hingga Pusat Pembibitan Tanaman, Cultural Visit Bekali Atlet HYDROPLUS Soccer League All Stars dengan Nilai Sportivitas dan Kepedulian Lingkungan 

5 Juli 2026Saldy Nurzaman

KUDUS – Sehari sebelum peluit pertama dibunyikan di HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026, para pesepak bola putri muda dari berbagai daerah tidak langsung memusatkan perhatian pada taktik, strategi, atau latihan terakhir. Mereka justru diajak mengenal Kota Kudus dari sisi yang berbeda menyusuri jejak sejarah, belajar dari tradisi olahraga, hingga memahami pentingnya menjaga lingkungan.

Rangkaian cultural visit yang berlangsung pada Sabtu (4/7/2026) itu menjadi ruang bagi para atlet untuk beristirahat sejenak dari atmosfer kompetisi sekaligus mengenal tempat yang akan menjadi tuan rumah pertandingan mereka. Sebelum bertanding di Supersoccer Arena pada 5 hingga 12 Juli 2026, mereka diajak memahami bahwa sebuah kota tidak hanya dikenali melalui lapangan olahraga, tetapi juga melalui sejarah, budaya, dan alam yang membentuk identitasnya.

Sebanyak 16 tim terbaik kategori U-15 dan U-18 dari regional Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mengunjungi tiga destinasi ikonik, yakni Menara Kudus, GOR Djarum, serta Pusat Pembibitan Tanaman (PPT). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter atlet sekaligus membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan baru sebelum memasuki persaingan di lapangan.

Menyapa Sejarah untuk Pertama Kalinya

Tim Arema FC Women U-18 berfoto bersama di depan menara kudus. (Foto: SBR/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Perjalanan dimulai dari Menara Kudus, salah satu simbol sejarah dan akulturasi budaya yang diwariskan Sunan Kudus. Di lokasi ini, para atlet diajak mengenal kisah tentang perjumpaan budaya yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Kota Kudus.

Bagi sebagian peserta, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda wisata. Banyak di antara mereka baru pertama kali melihat langsung bangunan bersejarah yang selama ini hanya dikenal melalui cerita atau buku.

Tim Samba Persada Women U-18 saat di menara kudus. (Foto: SBR/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Kapten Tigers Football Academy U-15, Vincka Setyawati, menjadi salah satu atlet yang merasakan pengalaman itu.

Kapten Tigers Football Academy U-15, Vincka Setyawati. (Foto: ITN/mainkekudus)

“Momen yang paling berkesan itu di Menara Kudus karena ini pertama kalinya bagi saya. Bisa melihat sejarah langsung itu luar biasa,” ujarnya.

Pengurus Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Deny Nur Hakim, berharap kunjungan tersebut dapat menjadi cara yang menyenangkan bagi generasi muda untuk mengenal identitas daerah melalui sejarah.

Pengurus Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Deny Nur Hakim. (Photo retouched: Arpan Jayadi/ Foto Dok. mainkekudus)

“Melalui sejarah, mereka mengenal identitas Kota Kudus. Harapannya, generasi muda bisa belajar dari sejarah dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Kunjungan itu memperlihatkan bahwa sebelum menjadi atlet yang mengejar prestasi, para peserta juga diajak memahami nilai-nilai yang hidup di tempat yang mereka singgahi.

Belajar dari Tempat Lahir Para Juara

Perjalanan kemudian berlanjut menuju GOR Djarum, tempat yang telah melahirkan banyak atlet bulutangkis berprestasi di tingkat dunia. Di sana, para pemain tidak mengikuti sesi latihan, melainkan mendengarkan kisah tentang proses panjang yang harus dilalui untuk mencapai prestasi.

Administrator PB Djarum, Raventus Pongoh, mengingatkan bahwa keberhasilan tidak pernah hadir secara instan. Menurutnya, setiap pencapaian dibangun melalui disiplin, kerja keras, dan konsistensi.

“Kalau ingin menjadi legenda, harus punya prestasi. Semua itu butuh proses. Jangan mudah menyerah karena atlet hebat lahir dari kerja keras dan konsistensi,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pertandingan hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang seorang atlet. Di balik setiap kemenangan selalu ada proses yang tidak terlihat oleh banyak orang.

Bagi para pemain yang sedang mempersiapkan diri menghadapi kompetisi nasional, pengalaman mendengar langsung motivasi di tempat yang sarat sejarah olahraga Indonesia memberikan perspektif baru mengenai arti sebuah perjuangan.

Mengenal Lingkungan dari Hal-Hal Sederhana

Destinasi terakhir membawa para atlet ke  Pusat Pembibitan Tanaman (PPT). Di kawasan ini, suasana berubah dari hiruk-pikuk dunia olahraga menjadi ruang belajar mengenai lingkungan.

Para peserta diperkenalkan pada proses pengelolaan sampah organik menjadi pupuk, pentingnya memilah sampah sejak dari rumah, hingga manfaat penghijauan dalam menjaga kawasan hulu Pegunungan Muria agar tetap mampu menyimpan cadangan air sekaligus mengurangi risiko longsor.

Program Associate Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Timothy Ariel Saputra, menjelaskan bahwa edukasi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia muda.

Program Associate Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Timothy Ariel Saputra. (Foto: ITN/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

“Kami ingin mereka memahami bahwa sampah terbesar berasal dari sampah organik. Ketika mereka melihat sendiri bagaimana sampah itu bisa diolah menjadi pupuk, mereka akan mengetahui manfaatnya. Kalau masyarakat sudah mampu memilah sampah dari rumah, setengah dari persoalan sampah sebenarnya sudah terselesaikan,” jelasnya.

Timothy juga menjelaskan bahwa Bakti Lingkungan Djarum Foundation memiliki lima pilar utama, yakni penghijauan daratan, konservasi satwa, pelestarian pesisir, pengelolaan sampah, serta pelibatan generasi muda dalam gerakan peduli lingkungan. Seluruh program tersebut saling berkaitan dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Salah satu upaya yang dijalankan adalah penghijauan di kawasan lereng Pegunungan Muria untuk menjaga struktur tanah, meningkatkan daya serap air, sekaligus mengurangi potensi longsor.

Saat Sepak Bola Bertemu Kepedulian Lingkungan

Tim Putri Batang U-18 (Reg. Kudus) saat mendengarkan materi pengelolaan sampah di Pusat Pembibitan Tanaman (PPT), Kudus pada Sabtu (04707/2026) sore (Foto: ITN/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Semangat yang ditularkan kepada para atlet ini sejalan dengan program pelestarian lingkungan yang dilakukan di Kudus. Misalnya melalui penanaman pohon trembesi oleh Djarum Foundation yang dimulai dari Kudus dan dilanjutkan ke sepanjang jalur Pantura Jawa hingga Madura serta tol Sumatera. 

Sebelumnya, klub asal Italia, Como 1907, juga menjalankan inisiatif penghijauan di Kudus melalui program ROOTS: Strong Roots, Shared Goals.

Klub yang sejak 2019 diakuisisi Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, pemilik Djarum, mengalokasikan sebagian hasil penjualan season ticket musim 2025/2026 untuk mendukung penanaman sekitar 13.000 pohon di kawasan Bukit Patiayam, Kudus.

Program itu menjadi simbol bahwa dukungan suporter di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Italia, tidak hanya membantu perkembangan klub di lapangan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pelestarian lingkungan, terutama di Kudus.

Di bawah kepemilikan keluarga Hartono, Como 1907 berhasil bangkit dari Serie D hingga promosi ke Serie A dan kini tampil di kompetisi Liga Champions. Seiring perkembangan tersebut, klub juga mengembangkan berbagai program komunitas yang menempatkan sepak bola, keberlanjutan, dan pemberdayaan masyarakat sebagai satu kesatuan.

Melalui ROOTS, Como 1907 menunjukkan bahwa olahraga dapat menghadirkan dampak lintas negara, dari tribun Stadion Giuseppe Sinigaglia hingga kawasan konservasi di Kudus.

Menjaga Mental Sebelum Bertanding

Bagi para peserta, pengalaman selama sehari itu tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memberi ruang untuk membangun kebersamaan sebelum memasuki kompetisi.

Larena Lareina Savvy, atlet Tim Putri JP U-18 Jakarta, mengaku mendapatkan sudut pandang baru mengenai hubungan antara olahraga dan lingkungan.

Atlet Tim Putri JP U-18 (Reg. Jakarta), Lareina Savvy di Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Oasis Djarum, Kudus pada Sabtu (04/07/20260 sore. (Foto: ITN/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus) 

“Di sini kami belajar cara merawat tanaman dan menjaga ekosistem. Lingkungan yang sehat akan membuat kita juga menjadi pribadi yang sehat. Jadi olahraga dan menjaga lingkungan sebenarnya saling berkaitan,” tuturnya.

Pelatih Scorpion FC U-15, Hermawan Danu, menilai kegiatan di luar lapangan turut membantu menjaga kesiapan mental para pemain, terutama bagi peserta yang datang dari luar kota.

Hermawan Danu, Pelatih Scorpion Fc Saat Sesi Jumpa Pers. (Foto: ITN/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

“Bagi anak-anak yang berasal dari luar kota, ini sangat penting agar mereka lebih rileks. Tadi di Menara Kudus dan PB Djarum menjadi cara kami mempererat chemistry sebelum pertandingan,” katanya.

Menurutnya, suasana yang lebih santai sebelum bertanding membantu para pemain beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus memperkuat kebersamaan di dalam tim.

Sementara itu, Program Manager HYDROPLUS Soccer League, Rijki Kurniawan, mengatakan bahwa cultural visit merupakan bagian dari pengalaman yang ingin diberikan kepada seluruh peserta, bukan hanya sebagai kompetitor, tetapi juga sebagai generasi muda yang mengenal sejarah, menghargai lingkungan, dan menjunjung tinggi sportivitas.

Rijki Kurniawan, Program Manager HYDROPLUS Soccer League. (Foto: JMY/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Pada akhirnya, perjalanan sehari itu menjadi lebih dari sekadar agenda pengenalan kota. Di sela-sela persiapan menuju pertandingan, para atlet membawa pulang pengalaman tentang sejarah yang membentuk identitas sebuah daerah, proses panjang yang melahirkan prestasi, serta kepedulian terhadap lingkungan yang menjadi tanggung jawab bersama. Bekal-bekal itulah yang melengkapi perjalanan mereka, sehingga ketika memasuki lapangan, mereka tidak hanya datang sebagai pemain yang mengejar kemenangan, tetapi juga sebagai generasi muda yang telah diajak memahami nilai-nilai yang menyertai olahraga. 

Mulai 5 hingga 12 Juli 2026, semangat dan nilai-nilai yang mereka peroleh selama cultural visit akan dibawa ke lapangan dalam rangkaian pertandingan HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 di Supersoccer Arena. Turnamen ini menjadi ruang bagi para atlet muda untuk tidak hanya menunjukkan kemampuan terbaiknya, tetapi juga menerapkan sportivitas, rasa hormat, dan karakter yang telah mereka pelajari selama berada di Kudus. Seluruh pertandingan HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 dapat disaksikan secara langsung melalui kanal YouTube dan TikTok HYDROPLUS Soccer League. (JMY/SBR/ITN/mainkekudus)

Dari Menara Kudus hingga Pusat Pembibitan Tanaman, Cultural Visit Bekali Atlet HYDROPLUS Soccer League All Stars dengan Nilai Sportivitas dan Kepedulian Lingkungan  | Main ke Kudus