

Dedikasi Para Pembuat Garis Lapangan yang Menjaga Pertandingan Tetap Bergulir
Kudus – Sorak sorai penonton, selebrasi kemenangan, dan gol-gol yang tercipta menjadi bagian yang paling mudah diingat dari sebuah pertandingan sepak bola. Pada HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 di Supersoccer Arena, Kudus, perhatian memang tertuju pada aksi para pemain muda yang bertanding. Namun, sebelum pertandingan dimulai, ada rangkaian pekerjaan yang memastikan seluruh laga dapat berlangsung sesuai standar.
Sejak stadion masih sepi, tim grounds Supersoccer Arena sudah berada di lapangan. Mereka menyiapkan arena pertandingan, mengukur setiap sisi lapangan, menggambar garis, hingga memastikan seluruh elemen sesuai regulasi. Setelah pertandingan selesai pun pekerjaan belum berhenti. Ketika penonton mulai meninggalkan tribun, mereka kembali bersiap mengubah lapangan untuk jadwal pertandingan berikutnya.
Ketelitian yang Menjadi Awal Sebuah Pertandingan
Lapangan yang tampak rapi merupakan hasil pekerjaan yang telah dimulai beberapa hari sebelum turnamen berlangsung. Persiapan dilakukan sejak 2 hingga 3 Juli 2026 oleh tim grounds Supersoccer Arena.
Salah satu petugas pembuat garis lapangan, Catur Anggoro, bersama tiga personel lainnya mengukur seluruh area pertandingan menggunakan meteran dan tali tambang. Setelah itu, garis lapangan dibuat menggunakan troli pengecat dengan cat khusus serta kalsium karbonat sebagai material penanda.

Untuk kategori U-18 digunakan lapangan berukuran 105 x 68 meter sesuai standar nasional. Sementara pertandingan U-15 memakai lapangan berukuran 68 x 44 meter yang disesuaikan dengan format sembilan pemain.
“Tugas utama kami mengukur lapangan ideal terlebih dahulu. Untuk U-18 memakai ukuran 105 x 68 meter, sedangkan U-15 menggunakan 68 x 44 meter. Semua harus presisi sesuai standar HYDROPLUS Soccer League All Stars,” ujar Catur pada Minggu (12/7/2026).
Pekerjaan tersebut menuntut ketelitian sejak tahap pengukuran. Lingkaran tengah, kotak penalti, titik penalti, hingga area tendangan sudut harus berada pada ukuran yang tepat. Setelah seluruh proses selesai, lapangan kembali diperiksa bersama perangkat pertandingan sebelum dinyatakan siap digunakan.
Grounds Manager Supersoccer Arena, Rochmansyah Setiawan, mengatakan pengecekan dilakukan bersama wasit sebelum kick-off.

“Semua dicek bersama wasit. Mulai ukuran lapangan, ketebalan garis, titik penalti, sampai ukuran gawang. Standarnya harus sesuai karena event ini menjadi bagian dari pembinaan pemain menuju level yang lebih tinggi,” katanya.
Mengubah Ukuran Lapangan dalam Waktu Satu Jam
Tantangan terbesar justru muncul ketika kompetisi mulai berjalan. Selama delapan hari penyelenggaraan, satu lapangan digunakan bergantian untuk kategori U-15 dan U-18 yang memiliki dimensi berbeda.
Artinya, setiap kali pertandingan U-15 selesai, seluruh garis harus dibersihkan sebelum lapangan kembali digambar sesuai ukuran U-18. Seluruh proses itu hanya memiliki waktu sekitar satu jam agar pertandingan berikutnya tetap dimulai sesuai jadwal.

“Kesulitan kami ketika pagi dipakai U-15, siangnya harus berubah lagi menjadi lapangan U-18. Semua garis harus dihapus lalu dicat ulang dalam waktu satu jam karena pertandingan berikutnya segera dimulai,” jelas Catur.
Pergantian konfigurasi lapangan dilakukan hingga dua kali setiap hari. Selama turnamen berlangsung, tim menggunakan sekitar 25 liter cat dengan kebutuhan rata-rata lima liter untuk setiap proses pengecatan. Seluruh pekerjaan dilakukan bersama-sama, mulai dari menghapus garis lama, mengukur ulang, hingga mengecat kembali seluruh area pertandingan.

Dalam waktu yang terbatas, koordinasi menjadi kunci agar seluruh tahapan selesai sebelum para pemain memasuki lapangan.
Saat Penonton Pulang, Persiapan Hari Berikutnya Dimulai
Rutinitas serupa juga dijalani Ahmad Sauji yang bergabung sebagai volunteer. Ia ikut bertugas dalam proses perubahan konfigurasi lapangan setiap kali jadwal pertandingan berganti.

Bagi sebagian penonton, pertandingan berakhir ketika peluit panjang dibunyikan. Namun bagi Sauji, saat itulah pekerjaan berikutnya dimulai. Bersama rekan-rekannya, ia kembali masuk ke lapangan untuk menyiapkan arena pertandingan yang akan digunakan keesokan hari.
Setelah tribun perlahan kosong, ia bersama rekan-rekannya kembali ke lapangan untuk menyesuaikan ukuran arena pertandingan agar siap digunakan pada hari berikutnya. Rutinitas itu berlangsung setiap hari selama kompetisi.
“Momen yang paling berkesan itu saat menyiapkan lapangan. Pekerjaannya paling berat karena kami harus menunggu semua pertandingan selesai. Kemarin kami baru selesai sekitar pukul 23.00 WIB untuk melakukan setting lapangan. Sebelum kick-off, semua perlengkapan juga harus sudah siap. Setelah itu pun kami belum langsung pulang karena masih harus mengecek kondisi lapangan,” tuturnya.

Rutinitas tersebut berlangsung setiap hari sepanjang kompetisi. Ketika pertandingan dimulai kembali keesokan paginya, lapangan sudah berada dalam kondisi siap digunakan tanpa memperlihatkan proses panjang yang terjadi beberapa jam sebelumnya.
Bagi Sauji, keterlibatannya dalam kompetisi yang mempertemukan tim-tim dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Jakarta menjadi pengalaman yang membanggakan.
Detail Kecil yang Berpengaruh pada Keselamatan Bermain
Peran lain dijalankan Prasetyo Budi sebagai awak tandu tim lapangan. Selain bersiaga ketika pertandingan berlangsung, ia juga ikut memastikan kondisi lapangan tetap aman setelah proses perubahan ukuran lapangan dilakukan.

Salah satu pekerjaannya adalah membersihkan sisa bubuk penanda garis sebelum lapangan kembali digunakan untuk kategori pertandingan berikutnya.
Pada babak semifinal, ia bersama tim bahkan mulai bekerja lebih awal. Jika biasanya bersiap sejak pukul 08.30 WIB, kali ini mereka sudah berada di lapangan pukul 08.00 WIB untuk mengantisipasi kemungkinan pertandingan berlangsung hingga adu penalti sehingga jadwal pertandingan berikutnya tidak terganggu.

“Tantangan terbesarnya itu karena dalam satu hari ukuran lapangan beberapa kali berubah, menyesuaikan pertandingan U-15 dan U-18. Selain itu, kami juga harus membersihkan sisa magnesium putih yang dipakai sebagai penanda garis lapangan,” ujarnya.
Menurut Prasetyo, kondisi lapangan yang bersih dan tertata membantu pemain bertanding dengan lebih nyaman sekaligus meminimalkan gangguan selama pertandingan berlangsung.

Sebagai warga Kudus, ia mengaku bangga dapat menjadi bagian dari penyelenggaraan turnamen yang mempertemukan pemain-pemain muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Fondasi Sebuah Pertandingan
Selama pertandingan berlangsung, perhatian penonton umumnya tertuju pada pemain, pelatih, dan wasit. Namun sebelum peluit pertama dibunyikan, ada rangkaian pekerjaan yang memastikan pertandingan dapat berjalan sesuai standar.
Empat personel grounds team, para volunteer, petugas lapangan, hingga awak tandu bekerja dalam ritme yang saling mendukung. Mereka memastikan ukuran lapangan tetap presisi, perlengkapan pertandingan siap digunakan, dan perubahan konfigurasi lapangan dapat diselesaikan dalam waktu yang terbatas.
Pekerjaan mereka memang tidak tercatat dalam statistik pertandingan. Namun dari setiap garis yang digambar dengan presisi, setiap lapangan yang kembali disiapkan, hingga setiap pengecekan yang dilakukan sebelum kick-off, terdapat kontribusi yang memungkinkan para pemain muda bertanding dengan aman dan nyaman.
Sebelum sebuah gol tercipta atau trofi diangkat, pertandingan sesungguhnya sudah dimulai melalui pekerjaan-pekerjaan yang berlangsung jauh lebih awal. Dari garis-garis putih yang digambar dengan teliti itulah, setiap pertandingan memperoleh pijakan pertamanya. (ITN/DN/mainkekudus)