Logo Kudus

Di Balik Jersey, Ada Perjalanan Tak Terlihat yang Membentuk Karakter Atlet

8 Juli 2026Saldy Nurzaman

Kudus – Sebuah pertandingan sepak bola biasanya dikenang lewat gol, kemenangan, atau perebutan posisi di klasemen. Namun, di tengah perjalanan Hydroplus Soccer League All Stars 2025/2026, ada cerita lain yang tumbuh jauh dari sorotan tribun dan kamera. Cerita tentang kebersamaan, kedisiplinan, kepedulian, hingga proses menjadi pribadi yang lebih matang.

Bagi para atlet muda, turnamen ini tidak hanya menjadi tempat mengukur kemampuan di lapangan. Selama berada di Kudus, mereka juga menjalani rutinitas yang membentuk karakter, mempertemukan mereka dengan teman-teman baru, serta menghadirkan pengalaman yang kelak bisa lebih membekas daripada sekadar hasil pertandingan.

Para Pemain Putri JP Jakarta U – 18 Menjalani Sesi Brifing di Ruang Ganti Sebelum Pertandingan (Foto: DN/mainkekudus)

Di balik setiap jersey yang dikenakan, ada perjalanan yang tidak selalu terlihat. Sorak-sorai penonton memang menjadi bagian yang paling mudah dikenang dari sebuah laga. Namun, kehidupan para pemain berlangsung jauh lebih panjang daripada 90 menit pertandingan. Hari mereka dimulai sejak sebelum matahari terbit, saling membangunkan teman sekamar, bersiap menjalani latihan, bertanding, hingga menutup hari dengan evaluasi bersama.

Ada pula momen ketika mereka saling menguatkan setelah mengalami kekalahan, menemani rekan yang cedera, atau sekadar berbagi cerita sebelum beristirahat. Kehidupan seperti itulah yang dijalani para atlet selama mengikuti HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 di Kudus.

Bagi kapten Putri JP U-18 Regional Jakarta, Rengganis Wijanarto, perjalanan menuju All Stars bukan sekadar kesempatan mengenakan jersey tim. Pengalaman itu justru mengubah cara pandangnya tentang arti kebersamaan dan tanggung jawab sebagai seorang atlet.

Rengganis Wijanarto (Baju hitam) Bersama Roommate Ilmira Okto (Baju Putih).  (Foto: DN/mainkekudus)

Setiap pagi, ia bersama teman sekamarnya memulai hari dengan shalat Subuh, merapikan kamar, lalu bersiap mengikuti rangkaian kegiatan hingga latihan dan pertandingan. Seusai bertanding, aktivitas mereka masih berlanjut dengan menjalani ice bath sebagai bagian dari pemulihan, shalat berjamaah, makan malam, kemudian melakukan evaluasi bersama.

“Yang paling sering saya ajak bicara setelah pertandingan ya teman sekamar. Kami sama-sama bermain di posisi gelandang, jadi kami saling mengoreksi posisi, membahas kesalahan, lalu mencari solusi bersama,” tutur gadis kelahiran ibu kota itu, Selasa (7/7/2026).

Bagi Rengganis, kebersamaan yang terjalin selama berada di Kudus menjadi salah satu pengalaman paling berharga. Pertemuan dengan atlet-atlet dari berbagai daerah menghadirkan ruang untuk saling mengenal, belajar, dan berbagi mimpi yang sama.

Cerita itu juga dirasakan oleh teman sekamarnya, Ilmira Octo. Baginya, kamar menjadi tempat paling sederhana sekaligus paling jujur untuk mengenal satu sama lain.

Ia masih mengingat kebiasaan Rengganis yang enggan tidur lebih dulu jika belum ditemani. Hal-hal kecil seperti saling membangunkan pada pagi hari, menyiapkan perlengkapan, hingga mendengarkan musik bersama sebelum pertandingan perlahan berubah menjadi kenangan yang membekas.

Rengganis Wijanarto ( Kaos Hitam ) Saat Merawat Teman Satu Kamar Ilmira Okto (Kaos Putih) Yang mengalami Cedera. (Foto: DN/mainkekudus) 

Momen yang paling ia ingat justru terjadi ketika dirinya mengalami cedera pada laga pertama. Saat itu, tanpa diminta, Rengganis langsung membantu mengompres dan menemaninya hingga kondisinya membaik.

“Perhatian sekali. Hal seperti itu yang paling saya ingat dari teman sekamar saya,” ujarnya.

Bagi Pelatih Putri JP U-18 Jakarta, Herry Susilo, kisah-kisah sederhana seperti itulah yang menjadi bagian penting dari proses pembinaan. Menurutnya, HYDROPLUS Soccer League All Stars bukan hanya ruang untuk mencari juara, melainkan tempat membentuk pribadi yang memiliki karakter kuat.

Herry Susilo, Pelatih Putri JP U 18 saat memberikan arahan di ruang ganti sebelum pertandingan. (Foto: DN/mainkekudus)

Selama mendampingi anak asuhnya di Kudus, ia melihat perubahan yang tumbuh dalam keseharian para pemain. Mereka belajar menjadi lebih bertanggung jawab, lebih disiplin, sekaligus lebih menghargai orang lain. Karena itu, sikap di luar lapangan menjadi perhatian yang tidak kalah penting dibanding kemampuan bermain.

“Attitude nomor satu. Sebagus apapun mereka bermain, kalau tidak punya sikap yang baik, saya rasa tidak akan bertahan. Kami ingin mereka menjadi pribadi yang baik, baik di lapangan maupun di kehidupan sehari-hari,” tegas Herry.

Ia menambahkan, target tim tidak berhenti pada hasil pertandingan. Yang lebih penting adalah membekali para pemain agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi, baik sebagai atlet maupun ketika menjalani kehidupan di masa depan.

Menurutnya, setiap pertandingan memang menguji kemampuan teknik para pemain. Namun, kehidupan yang mereka jalani bersama selama mengikuti turnamen menghadirkan pelajaran yang berbeda.

“Setiap pertandingan memang menguji kemampuan teknik, tetapi kehidupan di luar lapangan mengajarkan arti kepedulian, disiplin, dan persahabatan,” paparnya.

Memasuki pertengahan kompetisi HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026, setiap pertandingan memang semakin menentukan langkah masing-masing tim. Namun, bersamaan dengan itu, proses bertumbuh juga terus berlangsung di luar lapangan.

Para Pemain Putri JP Jakarta U 18 di depan penginapan mereka di Perum MVR Kudus. (Foto: DN/mainkekudus)

Di Kudus, para pemain datang dengan mengenakan jersey yang sama dan mengejar tujuan yang sama. Di balik seragam itu, tersimpan perjalanan yang dibangun melalui rutinitas, kebersamaan, kepedulian, serta pembelajaran setiap hari sebuah pengalaman yang bisa jadi akan mereka kenang jauh lebih lama daripada hasil pertandingan itu sendiri. (ITN/DN/mainkekudus)