Logo Kudus

Di Balik Layar HYDROPLUS Soccer League All Stars 2026, Mereka yang Datang Lebih Awal dan Pulang Paling Akhir

8 Juli 2026Saldy Nurzaman

KUDUS – Penonton yang memenuhi tribun Supersoccer Arena (SSA) Kudus umumnya hanya menyaksikan apa yang terjadi selama pertandingan berlangsung. Sorak sorai, gol-gol yang tercipta, hingga peluit panjang penutup laga menjadi bagian yang paling mudah diingat. Namun, jauh sebelum bola pertama bergulir, sudah ada banyak orang yang bekerja memastikan seluruh pertandingan dapat berjalan sebagaimana mestinya. 

Sport Terapis tim Putri JP Jakarta U-18. (Foto: JMY/photo retouched: arpan jayadi/mainkekudus)

Ketika para pemain masih beristirahat di penginapan, sejumlah orang telah memulai aktivitasnya sejak dini hari. Begitu pula saat pertandingan berakhir dan stadion mulai lengang, pekerjaan mereka belum selesai. Mereka adalah para petugas di balik layar yang menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan HYDROPLUS Soccer League (HPSL) All Stars 2026, turnamen yang mempertemukan 16 tim sepak bola putri kategori U-15 dan U-18 dari berbagai daerah di Indonesia di Supersoccer Arena Kudus pada 5–12 Juli 2026.

Peran mereka memang jarang terlihat dari tribun penonton. Namun, di balik setiap pertandingan yang berlangsung, ada proses panjang yang melibatkan banyak tangan, mulai dari menyiapkan kebutuhan pemain, menjaga kondisi fisik atlet, mendampingi aktivitas tim, hingga memastikan seluruh rangkaian kompetisi berjalan sesuai jadwal.

Salah satu di antaranya adalah Winarto.

Sebagai kitman Putri JP Jakarta U-18, hari Winarto dimulai ketika kebanyakan orang masih tertidur. Dalam sepak bola, kitman merupakan staf tim yang bertugas menyiapkan, mengatur, dan merawat seluruh kebutuhan perlengkapan pemain maupun pelatih, baik saat latihan maupun pertandingan. Pekerjaannya meliputi menyiapkan seragam, sepatu, dan kaus kaki di ruang ganti, memastikan bola serta perlengkapan latihan seperti cone dan ladder tersedia, hingga memenuhi kebutuhan logistik berupa air minum, handuk, dan perlengkapan pribadi pemain. Meski jarang mendapat sorotan, peran tersebut menjadi bagian penting agar seluruh aktivitas tim dapat berjalan tanpa hambatan.

Winarto, Kitman tim Putri JP Jakarta U-18. (Foto: JMY/photo retouched: arpan jayadi/mainkekudus)

Bagi Winarto, rutinitas itu dimulai sejak pukul 03.00 WIB. Bersama tiga rekannya, ia sudah berada di dapur dan ruang perlengkapan. Mereka menjadi orang pertama yang mempersiapkan kebutuhan tim sebelum para pemain membuka mata.

“Kesibukan kita itu dimulai dari bangun pagi sekali, menyiapkan sarapan, mendampingi keberangkatan, sampai jelang bermain kita siapkan semuanya,” tutur Winarto saat ditemui di sela-sela kesibukannya pada Selasa, 7 Juli 2026.

Pekerjaannya tidak berhenti pada urusan perlengkapan pertandingan. Winarto juga memastikan kebutuhan gizi para pemain tetap terpenuhi agar kondisi fisik mereka terjaga selama menjalani kompetisi.

Selain mengurus laundry, rompi latihan, dan perlengkapan bertanding, ia juga harus memahami kebiasaan setiap pemain. Tidak semua atlet memiliki selera makan yang sama, sementara kebutuhan energi tetap harus terpenuhi agar mereka siap bertanding.

“Tantangannya ya memang harus bangun pagi-pagi, menyiapkan buah-buahan dan gizi lainnya agar atlet tetap prima sehat bermain bola. Selain itu, dinamika di lapangan juga bermacam-macam. Ada kalanya anak-anak merasa kurang selera dengan menu yang ada. Kalau sudah begitu, kita harus sigap menyiapkan menu khusus lain bagi mereka. Yang penting mereka tidak mogok makan dan tetap punya energi,” tambahnya sembari tersenyum.

Jika Winarto memastikan kebutuhan perlengkapan dan logistik tersedia, Ayu Kurniawati memiliki tanggung jawab menjaga kondisi fisik para pemain. Sebagai Sport Terapis Putri JP Jakarta U-18, ia bersama Annisa Rahmawati mendampingi para atlet hampir sepanjang hari selama turnamen berlangsung. “Kita itu kan tinggal bareng, jadi setiap harinya bareng terus. Biasanya jam 7 pagi kami sudah start melakukan treatment untuk membantu anak-anak,” jelas Ayu.

Sport Terapis tim Putri JP Jakarta U-18, Ayu Kurniawati.(Foto: JMY/mainkekudus)

Padatnya jadwal pertandingan membuat proses pemulihan menjadi bagian penting dalam setiap hari kompetisi. Nyeri otot, memar, hingga cedera ringan menjadi kondisi yang kerap mereka tangani agar pemain dapat kembali menjalani pertandingan berikutnya.

“Tantangan terbesar di event ini mungkin karena jumlah atletnya yang banyak, dan dalam selang beberapa menit pasti ada saja atlet yang kenapa-kenapa di lapangan. Kami harus lumayan bekerja keras di situ, apalagi tensi pertandingan cukup tinggi,” ungkap Ayu.

Ayu Kurniawati sedang merawat atlet sepak bola Putri JP Jakarta U-18. (Foto: JMY/mainkekudus)

Di balik padatnya pekerjaan itu, Ayu justru menyaksikan semangat yang terus dijaga para pemain.

“Anak-anak ini jujur baik-baik banget, daya juangnya tinggi sekali. Ada satu momen yang bikin saya terharu, saat kondisi fisik mereka sebenarnya kurang baik, tapi mereka tetap semangat dan memaksakan diri untuk bermain. Ambisi dan daya juang seperti itu yang patut diapresiasi. Bagi saya, keberadaan tim pemulihan seperti sport terapis ini krusial sekali untuk menjaga mimpi mereka tetap menyala di lapangan.”

Perjalanan para peserta selama berada di Kudus juga didampingi oleh Liaison Officer (LO). Salah satunya adalah Cindi Rantika Harlan yang menjadi penghubung antara tim dengan panitia sekaligus memastikan seluruh kebutuhan operasional peserta dapat terpenuhi. “Kalau LO jam kerjanya dari pagi sampai malam. Mulai dari persiapan keberangkatan dari penginapan sampai kepulangan kembali, itu semua kita yang handel,” kata Cindi.

LO Tim Putri Garut, Cindi Rantika Harlan. (Foto: HNR/mainkekudus)

Baginya, mendampingi atlet usia remaja bukan sekadar memastikan jadwal berjalan sesuai rencana. Ia juga harus mampu menjaga komunikasi dan suasana hati para pemain selama menjalani kompetisi.

“Tantangan terbesarnya karena kita sebagai LO istilahnya ‘momong’ anak-anak tim ini ya. Jadi kita harus pintar-pintar menjaga mood sendiri demi bisa mendampingi dan menjaga mood mereka tetap baik,” tuturnya.

Meski aktivitas berlangsung dari pagi hingga malam, Cindi mengaku menikmati setiap proses tersebut.

“Kalau bagian melelahkan, bagi aku tidak ada. Kita nikmati saja, dibawa fun. Kedekatan dengan para atlet membuat semua momen menjadi berkesan dan bikin terharu. Pekerjaan ini penting banget karena kami adalah sarana komunikasi utama dari luar dengan yang ada di lapangan.”

Menurut Cindi, HYDROPLUS Soccer League All Stars 2026 menghadirkan ruang bagi atlet-atlet muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus melanjutkan perjalanan mereka di sepak bola putri. “Arti turnamen ini bagi aku sangat istimewa. Ini adalah kesempatan emas bagi atlet muda wanita untuk membuktikan diri dan tumbuh menjadi generasi penerus sepak bola putri Indonesia.”

Kelancaran kompetisi juga bergantung pada koordinasi yang dilakukan operator pertandingan. Tanggung jawab tersebut berada di tangan General Coordinator, Rohmansyah Setiawan.

Rochmansyah Setiawan, General Coordinator (CG) Hydroplus Soccer League. (Foto: HNR/mainkekudus)

Sejak sebelum kompetisi dimulai, ia bersama tim telah menyusun jadwal pertandingan, menggelar technical meeting, hingga Match Coordination Meeting (MCM) bersama seluruh manajer tim. Ketika pertandingan berlangsung, koordinasi terus dilakukan dari pagi hingga sore.

“Saat kompetisi berjalan, dari sisi pertandingan kita menyiapkan segala hal mulai dari laga dimulai sampai selesai. Ini terkait penugasan wasit dan hal-hal detail lainnya, termasuk memantau full activity tim yang dimulai dari locker room sampai mereka bertanding di lapangan. Karena turnamen ini running dari pagi sampai sore, benar-benar setiap detik waktu kita perhitungkan dengan ketat,” tegas Rohmansyah.

Baginya, pekerjaan tersebut dijalani dengan rasa senang karena berangkat dari kecintaan terhadap sepak bola.

“Kalau tantangan terberat, rasanya tidak ada. Sebagai operator, kita justru menikmati tugas ini. Yang paling kita jaga adalah kenyamanan bagi tim yang bertanding. Kebutuhan mereka kita layani dengan lancar. Karena sebagian besar dari kami di tim operator memang berangkat dari hobi sepak bola, jadi kita menjalaninya dengan senang hati.”

Pengalaman mendampingi perkembangan sepak bola putri sejak 2023 membuat Rohmansyah dapat menyaksikan perubahan para atlet dari waktu ke waktu. 

“Ada beberapa momen yang sangat berkesan. Melihat perkembangan atlet yang awalnya sama sekali tidak bisa main bola, sampai akhirnya bisa menendang bola dengan teknik yang bagus. Bahkan, beberapa di antaranya kini sudah ada yang mendapat panggilan dari tim nasional. Rasa lelah kami benar-benar terbayarkan. Kita cukup senang dan bangga melihat perkembangan dari pemain-pemain ini sampai bisa berada di level sekarang,” ungkapnya.

Pada akhirnya, HYDROPLUS Soccer League All Stars 2026 tidak hanya menghadirkan cerita tentang pertandingan dan persaingan di lapangan. Turnamen ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah kompetisi bergantung pada kerja sama banyak orang yang menjalankan perannya masing-masing, meski sebagian besar bekerja jauh dari sorotan.

Loker Pemain Putri JP Jakarta U 18 Sebelum Pertandingan. (Foto: DN/mainkekudus)

Setiap pertandingan yang berlangsung dengan lancar merupakan hasil dari rangkaian pekerjaan yang dimulai sejak dini hari hingga malam. Ada kitman yang memastikan seluruh perlengkapan dan kebutuhan logistik siap digunakan, sport terapis yang membantu pemulihan kondisi pemain, Liaison Officer yang mendampingi setiap aktivitas tim, hingga operator pertandingan yang menjaga seluruh agenda berjalan sesuai rencana.

Melalui dukungan Bakti Olahraga Djarum Foundation,  HYDROPLUS Soccer League All Stars 2026 turut menjadi bagian dari pembinaan sepak bola putri usia muda di Supersoccer Arena Kudus. Di balik setiap pertandingan yang tersaji, ada dedikasi banyak orang yang ikut membuka ruang bagi para atlet muda untuk terus berkembang dan melangkah ke jenjang berikutnya. (JMY/HNR/DN/mainkekudus)