Logo Kudus

Di Balik Seragam All Stars, Ada Mimpi, Pengorbanan, dan Perjalanan yang Tak Sama

27 Juni 2026Saldy Nurzaman

Kudus – Di lapangan, mereka mengenakan seragam yang sama. Mereka berlari mengejar bola, saling menyemangati, lalu berjuang untuk membawa tim melangkah sejauh mungkin di MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All Stars 2026. Namun, ketika peluit belum ditiup dan pertandingan belum dimulai, setiap pemain sesungguhnya sudah lebih dulu menempuh perjalanan yang berbeda.

Pelatih All Stars Surabaya, Sai Dong saat membakar semangat pemain jelang laga pertandingan pada perempat final. (Foto: JMY/re-touch edit photo: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Ada yang bertahan melewati latihan demi latihan, ada yang berusaha pulih dari cedera, ada yang tumbuh bersama dukungan orang tua yang tak pernah absen di tribun. Ada pula keluarga yang rela menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk melihat anaknya bermain beberapa puluh menit di lapangan.

Babak perempat final memang menjadi salah satu fase paling menentukan dalam turnamen. Namun, bagi para pemain muda ini, perjalanan menuju titik tersebut sudah lebih dulu dipenuhi kerja keras, disiplin, dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat dari bangku penonton.

Hal itu juga dirasakan para pemain All Stars Kudus. Menjadi salah satu tim yang melaju ke babak delapan besar bukan berarti perjalanan mereka berlangsung mudah. Setiap pertandingan mengajarkan bahwa kemenangan lahir dari kebersamaan yang dibangun sejak awal.

Gelandang bertahan Sabrina Dwi Listiana mengaku perjuangan timnya untuk mencapai fase tersebut terasa berat. Menurutnya, semangat saling menguatkan menjadi modal terbesar yang dimiliki seluruh pemain.

Gelandang bertahan All Stars Kudus Sabrina Dwi Listiana saat sesi wawancara jelang laga (Foto: ITN/mainkekudus)

“Perjuangannya sangat berat untuk bisa masuk perempat final. Teman-teman selalu saling menyemangati supaya tetap optimistis. Walaupun sebelumnya kami menang atas Tangerang di fase grup, kami tidak boleh meremehkan mereka. Kami harus saling mengingatkan dan bekerja keras,” ujar Sabrina.

Pemain yang mengidolakan Cristiano Ronaldo itu mengatakan, di balik semangatnya bermain, selalu ada doa dan dukungan orang tua yang menjadi penyemangat terbesar. Dukungan itulah yang membuatnya tetap percaya diri menjalani setiap pertandingan, selama seluruh pemain tetap disiplin mengikuti arahan pelatih.

Perasaan serupa juga dirasakan bek tengah All Stars Kudus, Hafiza Khairunalista. Baginya, mampu melangkah hingga babak perempat final menghadirkan rasa bangga sekaligus tanggung jawab yang lebih besar.

“Senang sekali bisa sampai sejauh ini. Motivasi terbesar saya adalah dukungan orang tua yang selalu memberikan semangat,” ucapnya.

Seperti pertandingan-pertandingan sebelumnya, Hafiza memilih menjalani persiapan dengan rutinitas yang sama. Pemanasan, menjaga fokus, lalu memasuki lapangan dengan keyakinan bahwa setiap lawan layak dihormati.

“Kami optimistis, tetapi tetap waspada karena lawan juga memiliki kualitas yang bagus,” katanya.

Di balik kesiapan para pemain, ada proses yang terus dijaga oleh tim pelatih. Pelatih All Stars Kudus, Yayat Hidayat, memilih tidak mengubah banyak hal menjelang pertandingan penting. Baginya, karakter permainan yang telah membawa tim melangkah sejauh ini justru harus tetap dipertahankan.

Pelatih All Stars Kudus, Yayat Hidayat saat sesi wawancara jelang laga perempat final MilkLife Soccer Challenge All Stars. (Foto: ITN/re-touch edit photo: Arpan Jayadi/mainkekudus)

“Anak-anak cukup siap. Saya selalu mengingatkan mereka untuk tetap bekerja keras dan disiplin. Tidak ada instruksi khusus, bermain seperti biasanya saja,” bebernya.

Disiplin itu tidak hanya diterapkan saat latihan. Yayat juga membiasakan seluruh pemain menjalani pola istirahat yang teratur agar kondisi fisik tetap terjaga.

“Setiap malam pukul 21.00, semua telepon genggam kami kumpulkan agar mereka bisa beristirahat dengan baik. Kami juga menjaga pola makan dan kondisi fisik. Target gol tidak ada, yang penting kalau ada peluang harus dimaksimalkan,” jelas Yayat.

Sementara itu, di kubu All Stars Tangerang, perjalanan menuju babak gugur menghadirkan pelajaran yang berbeda. Kekalahan dari Kudus pada fase grup justru menjadi bahan evaluasi untuk membangun kembali kepercayaan diri.

Pelatih Leonardo Sedubun mengatakan timnya datang dengan keyakinan baru. Baginya, pertandingan sistem gugur selalu membuka kesempatan yang sama bagi setiap tim.

Pelatih Tim All Stars Tangerang, Leonardo Sedubun saat sesi wawancara jelang laga perempat final MilkLife Soccer Challenge All Stars. (Foto: ITN/mainkekudus)

“Kekalahan kemarin menjadi motivasi kami. Ini babak gugur, jadi kami akan mengeluarkan kemampuan 100 persen. Yang paling penting pemain percaya pada diri sendiri, tetap fokus, dan menjaga kesehatan. Kami ingin memberikan kejutan,” ujarnya.

Optimisme itu juga dirasakan Angelina Saeralita Mongan. Ia menilai semangat tim lahir dari kebersamaan yang dibangun setiap hari, mulai dari doa bersama, pemanasan, hingga saling memberi dukungan sebelum pertandingan dimulai.

Pemain All Stars Tangerang, Angelina Saeralita Mongan saat sesi wawancara jelang laga perempat final MilkLife Soccer Challenge All Stars. (Foto: ITN/mainkekudus)

“Yang membuat kami semangat adalah pelatih dan teman-teman satu tim. Sebelum bertanding kami selalu berdoa, pemanasan, lalu saling menyemangati. Kami percaya diri menghadapi pertandingan ini,” katanya.

Namun, perjuangan di MilkLife Soccer Challenge All Stars tidak hanya berlangsung di dalam lapangan. Di balik setiap pemain, selalu ada keluarga yang ikut menjalani perjalanan yang sama.

Di tribun, Annas hampir tak pernah mengalihkan pandangannya dari lapangan. Setiap kali putrinya, Queisha Sava, penjaga gawang All Stars Kudus, menyentuh bola, suaranya terdengar memberikan semangat.

Bagi Annas, melihat putrinya mengenakan seragam All Stars merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani bersama keluarga.

Annas menyaksikan dari stadion. (Foto: ITN/re-touch edit photo: Arpan Jayadi/mainkekudus)

“Perjuangan anak saya ditempuh dengan berbagai cara, baik materi maupun moral. Saya selalu hadir setiap dia bermain untuk memberikan semangat dari tribun. Di luar lapangan saya selalu mengingatkan agar tetap haus belajar dan terus berkembang,” ujarnya.

Queisha mulai mengikuti MilkLife Soccer Challenge sejak duduk di kelas empat sekolah dasar. Kini, kesempatan tampil bersama skuad All Stars menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarganya.

“Harapan saya tentu dia bisa juara. Kalau nanti hasilnya berbeda, namanya pertandingan ada menang dan kalah. Tapi saya tetap optimistis,” katanya.

Cerita lain datang dari Melpi Aprianti, orang tua Kamelia Putri Aryanti, gelandang All Stars Bekasi. Demi mendampingi putrinya bertanding di Kudus, ia rela menempuh perjalanan darat hampir sembilan jam seorang diri dari Bekasi.

Baginya, mendukung anak bukan hanya hadir saat meraih kemenangan, tetapi juga menemani setiap proses yang dijalani.

Melpi Aprianti. (Foto:ITN/re-touch edit photo: Arpan Jayadi/mainkekudus)

“Semua demi anak. Waktu, tenaga, semuanya dikorbankan. Namanya orang tua pasti khawatir kalau anak cedera, apalagi dia perempuan. Tapi kalau melihat dia senang bermain sepak bola, kami juga ikut mendukung,” tuturnya.

Meski perjalanan All Stars Bekasi berakhir di fase grup, Melpi mengaku tetap bangga melihat perkembangan putrinya. Pengalaman yang diperoleh selama mengikuti turnamen menjadi bekal berharga untuk perjalanan berikutnya.

Perjuangan lain datang dari Annisa Nur, gelandang All Stars Surabaya. Menjelang pertandingan, ia sempat mengalami cedera kaki saat latihan setelah terinjak rekan setim. Kekhawatiran sempat muncul, tetapi perlahan menghilang setelah kondisinya kembali pulih.

Pemain All Stars Surabaya, Annisa Nur. (Foto: JMY/re-touch edit photo: Arpan Jayadi/mainkekudus)

“Saya cedera waktu latihan karena kaki terinjak teman. Sekarang sudah normal. Persiapan saya lebih menjaga pola makan, tidur lebih awal, dan menyiapkan semua kebutuhan sebelum pertandingan,” ucap gadis kelahiran Kota Pahlawan itu.

Pelatih All Stars Surabaya, Sai Dong, mengatakan tantangan terbesar menjelang babak gugur bukan hanya menjaga kebugaran pemain, tetapi juga mengembalikan rasa percaya diri setelah sempat mengalami kekalahan pada fase grup.

“Kami sudah membaca kelebihan dan kekurangan lawan, tetapi tetap bermain dengan karakter kami,” ucapnya.

Pelatih All Stars Surabaya, Sai Dong. (Foto: JMY/mainkekudus)

Ia menambahkan, beberapa pemain memang belum berada dalam kondisi seratus persen sehingga tim pelatih menyiapkan pemain pelapis.

“Yang terpenting adalah mental anak-anak kembali bangkit karena pertandingan hari ini berbeda. Kalau kalah, perjalanan selesai. Kami datang dengan target menang, bukan mempersiapkan diri untuk kalah,” tegasnya.

Pada akhirnya, MilkLife Soccer Challenge All Stars tidak hanya mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai daerah. Turnamen ini juga memperlihatkan bagaimana mimpi seorang atlet muda dibangun oleh latihan yang panjang, disiplin yang terus dijaga, pelatih yang mendampingi, teman-teman yang saling menguatkan, dan keluarga, supporter yang selalu hadir di setiap langkah. Di balik seragam yang tampak sama, tersimpan perjalanan yang berbeda-beda, tetapi semuanya bertemu pada satu tujuan yang sama: terus bertumbuh melalui sepak bola. (JMY/ITN/mainkekudus)