

Di Sela Turnamen, Wisata Kudus Melengkapi Pengalaman Para Atlet
Kudus – Bagi para atlet HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026, kemenangan mungkin berhenti di papan skor. Namun pengalaman mengenal Kudus justru terus hidup, bahkan setelah mereka meninggalkan kota ini.
Peluit panjang memang menandai berakhirnya sebuah pertandingan. Namun bagi ratusan atlet muda yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026, perjalanan mereka di Kudus tidak selesai ketika laga usai.

Di antara jadwal latihan, pertandingan, dan waktu pemulihan, mereka menemukan sisi lain dari kota yang menjadi tuan rumah. Bukan sekadar lapangan sepak bola, tetapi juga jejak sejarah yang masih terawat, cita rasa kuliner yang akrab di lidah, keramahan masyarakat, hingga percakapan-percakapan sederhana yang membuat kota ini terasa dekat.
Kudus perlahan hadir bukan hanya sebagai lokasi kompetisi, melainkan sebagai pengalaman yang ikut mereka bawa pulang. Olahraga memang menjadi alasan awal mereka datang. Namun selama beberapa hari berada di kota ini, para atlet diajak melihat wajah Kudus dari sudut yang berbeda.
Mereka mengunjungi Museum Kretek, Menara Kudus, Museum Jenang, PB Djarum, hingga Pusat Pembibitan Tanaman (PPT). Tempat-tempat itu memperlihatkan bahwa sebuah kota tidak hanya dikenali lewat fasilitas olahraganya, tetapi juga melalui sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakatnya.

Bagi sebagian atlet, kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertama mengenal identitas Kudus secara lebih dekat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Abdul Halil, menilai penyelenggaraan HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 memperlihatkan bagaimana olahraga mampu membuka ruang bagi berkembangnya sektor lain, terutama pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, kehadiran ribuan atlet, official, serta keluarga dari berbagai daerah memberikan dampak yang dirasakan langsung oleh banyak pelaku usaha.
“Event sports tourism seperti Hydroplus Soccer League All Stars meningkatkan citra Kabupaten Kudus karena membawa daerah ini menjadi pusat perhatian nasional. Secara otomatis juga mendatangkan kunjungan wisata yang memberikan multiplier effect terhadap perekonomian masyarakat,” ucapnya pada Kamis (9/7/2026).
Dampak itu terlihat di berbagai lini. Hotel dan homestay menerima tamu lebih banyak. Restoran dan pusat kuliner menjadi lebih ramai. Penyedia transportasi memperoleh tambahan penumpang. Sementara pusat oleh-oleh dan pelaku UMKM ikut menikmati meningkatnya arus kunjungan selama kompetisi berlangsung.
Namun bagi Halil, keberhasilan sebuah daerah sebagai destinasi sports tourism tidak berhenti pada angka kunjungan.
Yang jauh lebih penting adalah ketika para tamu memiliki alasan untuk datang kembali, bahkan ketika pertandingan telah lama selesai. “Sebuah kota dikatakan berhasil ketika para peserta ingin kembali lagi di luar jadwal pertandingan untuk berwisata, menikmati kuliner, berbelanja oleh-oleh, bahkan mengajak keluarga mereka datang ke Kudus,” katanya.
Harapan itu mulai terlihat dari cerita para atlet sendiri. Sebelum datang ke Kudus, Keysha Putri, pemain Arema FC Women U-18 (Malang), membayangkan kota ini hanya sebagai tempat bertanding. Gambaran itu berubah ketika ia memasuki Museum Kretek.


Di sana, ia melihat proses pelintingan rokok pada masa lampau, mengenal perjalanan industri kretek yang menjadi bagian dari identitas Kudus, sekaligus memahami sejarah yang sebelumnya belum pernah ia pelajari.

Baginya, pengalaman tersebut justru menjadi salah satu momen yang paling membekas selama mengikuti kompetisi. “Yang paling menarik buat saya Museum Kretek. Saya jadi tahu banyak hal baru tentang sejarah Kudus. Selain itu kami juga ke Menara Kudus, PB Djarum dan Oasis. Orang-orang Kudus juga ramah sekali. Kalau suatu saat kembali lagi, saya ingin mengajak keluarga datang ke Museum Kretek,” tutur Keysha.

Cerita serupa datang dari Hafiza Radatul Jannah, atlet Tangsel City U-15/18 (Tangerang Selatan). Ia mengaku menikmati kesempatan mengenal Kudus di luar lapangan. Salah satu pengalaman yang paling diingat adalah ketika mencicipi susu salted caramel di Kedai Susu Muria.

Di sela kegiatan, ia juga mencoba berbagai kuliner dan berbincang dengan masyarakat yang menyambutnya dengan ramah. “Di sini kulinernya banyak dan enak-enak. Saya juga baru pertama kali minum susu salted caramel yang ternyata enak sekali. Saya senang karena bisa mengenal Kota Kudus lebih jauh, dapat teman baru, dan tahu ternyata disini banyak tempat menarik,” bebernya.

Bagi pelaku usaha lokal, kehadiran para atlet juga membawa cerita tersendiri. Felicia Natali Yuwono, generasi keempat pengelola Kedai Susu Muria, melihat semakin banyak atlet dan keluarga peserta datang mencari minuman sehat setelah pertandingan usai.

Momentum seperti itu, menurutnya, memberi ruang bagi UMKM untuk memperkenalkan produk lokal kepada tamu dari berbagai daerah. “Kalau UMKM bisa menangkap momentum seperti ini, tentu sangat membantu meningkatkan pendapatan. Atlet biasanya mencari makanan dan minuman sehat. Kami menyediakan susu murni dari peternakan sendiri, tanpa campuran apa pun. Mereka sangat antusias mencoba berbagai varian rasa,” jelas Felicia.

Fenomena serupa juga terlihat di Museum Jenang Kudus. Guide Museum Jenang Kudus, Muhammad Saidun Arwani, mengatakan hampir setiap hari rombongan atlet datang berkunjung setelah menyelesaikan pertandingan. Yang paling sering ia temui bukan sekadar wisatawan yang ingin berfoto, melainkan anak-anak muda yang penuh rasa ingin tahu.
Mereka bertanya mengenai sejarah Kudus, tradisi masyarakat, hingga alasan mengapa Soto Kudus menggunakan daging kerbau. “Mereka kaget ketika tahu di Kudus tidak diperbolehkan menyembelih sapi, lalu bertanya kenapa Soto Kudus memakai daging kerbau. Mereka sangat antusias belajar sejarah dan budaya. Setelah berkeliling museum, biasanya mereka juga membeli oleh-oleh sebelum pulang,” katanya.

Menurut Saidun, rasa ingin tahu seperti itulah yang membuat sebuah perjalanan menjadi lebih bermakna. “Bukan hanya karena pertandingannya, tetapi karena mereka membawa pulang cerita. Mudah-mudahan nanti mereka datang lagi bersama keluarga untuk menikmati Kudus,” ujarnya.
Hari tanpa pertandingan juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk mengisi ulang semangat. Pelatih Arema FC Women U-15 (Malang), Nanang Habibi, sengaja mengajak para pemain keluar dari penginapan agar mereka tidak hanya berkutat dengan rutinitas latihan dan pertandingan.

Museum Kretek, Museum Jenang, serta kuliner khas Kudus menjadi bagian dari agenda yang menurutnya penting untuk menjaga kondisi mental para pemain.
Selain menjadi penyegar suasana, perjalanan itu juga memperkaya pengalaman mereka selama mengikuti kompetisi. “Kami ingin mereka tidak jenuh. Selain refreshing, mereka juga mendapat pengetahuan baru. Ternyata Kudus bukan hanya tempat sepak bola putri berkembang, tetapi juga memiliki sejarah, budaya, dan kuliner yang luar biasa,” ucap Nanang Habibi

Pada akhirnya, setiap kota memiliki cara sendiri untuk dikenang. Ada yang dikenang karena stadionnya. Ada yang diingat karena atmosfer pertandingannya. Ada pula yang melekat karena kemenangan yang pernah diraih di sana. Kudus tampaknya menawarkan sesuatu yang berbeda.
Melalui HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026, kota ini tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kompetisi, tetapi juga ruang perjumpaan antara olahraga, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat.

Ketika para atlet kembali ke daerah masing-masing, mereka memang membawa kenangan tentang pertandingan yang telah dijalani. Namun di antara koper, medali, dan perlengkapan bertanding, tersimpan pula cerita tentang Museum Kretek, Museum Jenang, Menara Kudus, segelas susu segar dari lereng Muria, kuliner khas yang mereka cicipi, serta keramahan orang-orang yang mereka temui.

Barangkali, justru cerita-cerita sederhana itulah yang membuat sebuah kota tetap hidup dalam ingatan. Sebab pertandingan memiliki batas waktu, sedangkan pengalaman mengenal sebuah tempat seringkali bertahan jauh lebih lama. (ITN/DNmainkekudus)