

Diikuti Delegasi Atlet dari 29 Provinsi, Kudus “Melting Pot” Olahraga Panahan
KUDUS – Ratusan atlet muda berdiri berjejer di garis tembak Supersoccer Arena Kudus. Di hadapan mereka, papan sasaran telah terpasang rapi. Di belakang mereka, tersimpan perjalanan panjang yang tidak semua orang lihat. Ada yang datang dengan pesawat dari Kalimantan dan Sulawesi, ada yang menghabiskan dua hingga tiga hari di dalam bus melintasi Sumatra dan Jawa, bahkan ada yang lebih dulu menyeberangi laut sebelum tiba di Kudus. Perjalanan itulah yang mempertemukan mereka dalam MilkLife Archery Challenge Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panahan Junior 2026.
Kejuaraan yang berlangsung pada 18–29 Juli 2026 tersebut diikuti 906 atlet dari 29 provinsi. Mereka hadir bukan hanya untuk mengejar hasil pertandingan, tetapi juga membawa harapan keluarga, daerah, serta hasil latihan yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan. Bagi sebagian peserta, inilah kesempatan pertama mengikuti kejuaraan nasional sekaligus bertemu atlet-atlet dari berbagai daerah di Indonesia.
Di arena inilah perjalanan panjang berubah menjadi pengalaman baru. Para atlet belajar beradaptasi dengan karakter lapangan, bertukar cerita dengan peserta dari provinsi lain, hingga menghadapi tantangan yang tidak selalu berasal dari lawan di sebelah mereka. Dalam panahan, kemampuan mengendalikan diri sering kali sama pentingnya dengan ketepatan membidik sasaran.

Belajar Mengalahkan Diri Sendiri
Di antara ratusan peserta yang menjalani pemanasan, Alfian Syahreza Nugroho tampak memeriksa kembali busur dan perlengkapannya sebelum memasuki sesi pertandingan. Atlet berusia 15 tahun asal Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, itu datang ke Kudus bersama 41 atlet lain yang mewakili provinsinya.

Perjalanan menuju Kudus memang ditempuh menggunakan pesawat sehingga tidak memakan waktu berhari-hari seperti beberapa kontingen lain. Namun, bagi Alfian, tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika ia berdiri di garis tembak.
Ia menilai lawan terberat dalam panahan bukanlah atlet dari daerah lain, melainkan dirinya sendiri. Menurutnya, seorang pemanah harus terus melatih teknik, menjaga kondisi fisik, sekaligus membangun mental agar tetap tenang setiap kali melepaskan anak panah. Ketiga hal itu menjadi bagian dari persiapan yang ia jalani selama sekitar satu bulan sebelum berangkat ke Kudus.
Di balik rutinitas latihan tersebut, ada konsekuensi yang harus diterima sebagai seorang pelajar. Alfian mengaku tidak mudah membagi waktu antara sekolah dan latihan karena olahraga panahan menuntut latihan yang dilakukan secara berkesinambungan. Meski demikian, kesempatan tampil di tingkat nasional menjadi pengalaman yang menurutnya sepadan dengan pengorbanan tersebut.
Keikutsertaan di Kejurnas juga memberinya kesempatan mengenal atlet dari berbagai provinsi. Pertemuan itu memperluas pergaulan sekaligus menghadirkan pengalaman yang tidak ia temukan ketika hanya berlatih di daerah asal.
Perjalanan Tiga Hari demi Pengalaman Baru
Jika Alfian datang menggunakan transportasi udara, perjalanan yang jauh lebih panjang dijalani Alhafiz Okta Ryano dari Kepulauan Riau. Atlet kategori Compound U-18 itu bersama kontingennya memilih menempuh perjalanan darat menggunakan bus selama tiga hari dua malam sebelum tiba di Kudus.

Sebelum keberangkatan, seluruh atlet lebih dahulu mengikuti pemusatan latihan dan berpamitan kepada keluarga. Doa orang tua menjadi bekal yang mereka bawa sepanjang perjalanan menuju Pulau Jawa.
Perjalanan panjang tersebut memang melelahkan, terlebih karena rombongan harus menghadapi kemacetan di sejumlah ruas jalan. Namun, Alhafiz justru melihat perjalanan itu sebagai bagian dari proses menuju kejuaraan nasional pertamanya.


Sesampainya di Kudus, perhatian Alhafiz tidak hanya tertuju pada pertandingan. Ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenal atlet-atlet dari berbagai daerah, bertukar pengalaman mengenai pola latihan, hingga belajar bagaimana membangun mental bertanding. Menurutnya, setiap daerah memiliki cara pembinaan yang berbeda sehingga pertemuan dalam Kejurnas menjadi ruang belajar yang tidak dapat diperoleh ketika berlatih di daerah masing-masing.
Baginya, pengalaman mengenal teman-teman baru dari berbagai provinsi sama berharganya dengan kesempatan berdiri di lapangan sebagai peserta Kejurnas.
Membawa Perlengkapan Melintasi Pulau
Cerita lain datang dari Jenny Shafira Said, atlet asal Sulawesi Selatan. Untuk mencapai Kudus, ia lebih dahulu terbang menuju Semarang sebelum melanjutkan perjalanan darat menggunakan mobil. Perjalanan tersebut bukan pengalaman pertamanya karena sebelumnya ia pernah mengikuti kejuaraan panahan di Kudus.

Meski sudah mengenal lokasi pertandingan, persiapan menuju Kejurnas tetap dilakukan secara serius. Selain menjalani latihan teknik selama sekitar satu bulan, Djenar juga harus memastikan seluruh perlengkapan bertanding tiba dalam kondisi baik.
Bagi atlet panahan, perjalanan lintas pulau tidak hanya berarti berpindah tempat. Busur, limb, stabilizer, anak panah, teropong, hingga perlengkapan pendukung lainnya harus dibawa dengan penanganan yang tepat agar tetap layak digunakan saat pertandingan. Djenar bersyukur seluruh perlengkapannya dapat tiba di Kudus tanpa kendala sehingga ia bisa langsung memusatkan perhatian pada pertandingan.
Setibanya di lapangan, tantangan baru kembali muncul. Menurutnya, karakter angin di Supersoccer Arena cukup kuat sehingga setiap atlet harus lebih cermat membaca kondisi sebelum melepaskan anak panah. Dalam panahan, perubahan arah angin dapat mempengaruhi titik jatuh anak panah sehingga ketenangan dan kemampuan membaca situasi menjadi bagian penting dari pertandingan.
Di balik kesibukannya sebagai atlet, Djenar tetap mempersiapkan masa depan di luar dunia olahraga. Ia berharap suatu hari dapat berkarir sebagai atlet panahan profesional sekaligus mewujudkan cita-citanya menjadi dokter gigi.
Belajar dari Arena dan Kota yang Baru
Perjalanan panjang juga dijalani Azma Dzakiyyah, atlet berusia 13 tahun asal Bengkulu. Bersama tiga atlet lainnya, ia menempuh perjalanan darat menggunakan mobil selama sekitar dua hari untuk mencapai Kudus. Waktu yang panjang di jalan sempat membuatnya merasa pusing, tetapi pengalaman itu tidak mengurangi semangatnya mengikuti Kejuaraan Nasional Panahan Junior.

Persiapan menuju Kejurnas telah ia jalani sejak Maret melalui latihan rutin. Konsistensi tersebut membawanya melangkah hingga babak final. Azma mengaku senang karena merasa penampilannya tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Baginya, hasil itu menjadi tanda bahwa latihan yang dijalani selama berbulan-bulan tidak sia-sia.
Di luar jadwal pertandingan, Azma memanfaatkan kesempatan mengenal Kudus melalui kuliner khas yang belum pernah ia cicipi. Soto Kudus, sate kerbau, lentog, hingga dimsum menjadi bagian dari pengalaman yang melengkapi kunjungannya ke Kudus.
Pengalaman bertanding di Supersoccer Arena Kudus juga meninggalkan kesan tersendiri. Menurutnya, karakter angin di lapangan menjadi tantangan terbesar karena arah tiupannya sulit diprediksi. Meski begitu, ia mengapresiasi kebersihan fasilitas pendukung, mulai dari ketersediaan air hingga kondisi toilet yang dinilainya terawat dengan baik.
Pengorbanan di Balik Kontingen
Perjalanan para atlet tidak terlepas dari peran pelatih dan official yang mendampingi mereka sejak keberangkatan. Bagi Salman, yang akrab disapa Bang Ical, keberhasilan membawa atlet sampai ke arena pertandingan sudah menjadi perjuangan tersendiri.

Sebagai official kontingen Kepulauan Riau, ia bersama tim memilih perjalanan menggunakan bus agar biaya keberangkatan tidak terlalu membebani orang tua atlet. Keputusan tersebut membuat seluruh rombongan harus menempuh perjalanan selama dua hari dua malam, tetapi menurutnya langkah itu menjadi pilihan paling realistis karena biaya transportasi udara jauh lebih besar.
Selama perjalanan, perhatian para official tidak hanya tertuju pada jadwal keberangkatan, tetapi juga kondisi fisik atlet agar tetap siap saat pertandingan dimulai. Setelah tiba di Kudus, tantangan berikutnya adalah membangun kepercayaan diri atlet untuk mengejar medali pertama bagi kontingen Kepulauan Riau setelah beberapa kali mengikuti Kejurnas belum berhasil naik podium.
Bang Ical juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengamati pola pembinaan dari daerah lain. Menurutnya, para atlet tidak hanya belajar teknik memanah, tetapi juga menyerap budaya disiplin, sikap terhadap pelatih, dan etos latihan yang diterapkan oleh kontingen lain. Pengalaman itu diharapkannya dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke daerah masing-masing.
Kecemasan yang Tidak Terlihat dari Pinggir Lapangan
Jika atlet harus mengendalikan ketegangan saat membidik sasaran, orang tua menghadapi tekanan yang berbeda. Mereka menyaksikan setiap anak panah dilepaskan tanpa dapat melakukan apa pun selain memberikan dukungan dari luar arena.
Rahmi Ningsih Putri merasakan pengalaman tersebut ketika mendampingi putranya, Alby Luthfi Alfakhri, yang datang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perjalanan menuju Kudus dimulai dengan kapal laut selama sekitar 18 jam menuju Surabaya sebelum dilanjutkan melalui jalur darat. Menurutnya, perjalanan panjang itu membuat atlet harus benar-benar menjaga kondisi fisik sekaligus mental sebelum memasuki pertandingan.

Sesampainya di arena, rasa cemas justru lebih banyak dirasakan oleh para pendamping. Rahmi bahkan mengaku sering kali tidak sanggup mengikuti perkembangan skor karena terlalu gugup melihat anaknya bertanding. Meski demikian, ia merasa bangga dapat mendampingi putranya tampil di ajang nasional.
Baginya, Kejurnas bukan hanya tempat mencari prestasi. Pertemuan dengan atlet-atlet dari berbagai provinsi membuka kesempatan bagi anak-anak untuk melihat kemampuan peserta lain, belajar dari mereka, sekaligus termotivasi meningkatkan kualitas latihan setelah kembali ke daerah masing-masing.
Di sela-sela pertandingan, Rahmi juga menyempatkan diri mencicipi sate dan pindang kerbau yang sebelumnya belum pernah ia temukan di daerah asalnya. Pengalaman sederhana itu melengkapi kunjungannya ke Kudus sebagai pendamping atlet.
Pembinaan yang Dimulai Sejak Usia Dini
Di balik ratusan atlet yang memenuhi lapangan tembak, terdapat proses pembinaan yang berlangsung bertahun-tahun. Abdul Razak, Wakil Ketua Umum II Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Panahan Indonesia (PB PERPANI) sekaligus Ketua Panitia MilkLife Archery Challenge Kejurnas Panahan Junior 2026, menjelaskan bahwa kejuaraan ini menjadi bagian dari pembinaan atlet usia dini.

Menurutnya, panahan merupakan cabang olahraga yang pembinaannya mengikuti kelompok umur sehingga setiap atlet bertanding sesuai kategori usianya, mulai U-10, U-13, U-15, hingga U-18. Sistem tersebut memberi kesempatan kepada atlet berkembang secara bertahap sesuai fase pembinaan yang dijalani.
Sebelum tiba di Kudus, seluruh peserta telah melewati proses seleksi di tingkat kabupaten dan provinsi. Mereka yang lolos kemudian dipercaya mewakili daerah masing-masing di tingkat nasional. Melalui proses itu, PB PERPANI berharap semakin banyak atlet muda mendapatkan pengalaman bertanding sehingga pilihan bibit atlet nasional semakin luas pada masa mendatang.
Perjalanan yang Membentuk Pengalaman

Bagi sebagian orang, Kejuaraan Nasional Panahan Junior mungkin hanya dipahami sebagai rangkaian pertandingan untuk menentukan juara. Namun, bagi ratusan atlet yang datang ke Kudus, perjalanan menuju arena menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mereka.
Ada yang meninggalkan bangku sekolah untuk sementara, ada yang menghabiskan dua hingga tiga hari di perjalanan, ada pula yang untuk pertama kalinya bertemu teman-teman dari berbagai provinsi. Semua pengalaman itu mempertemukan mereka dalam satu garis tembak dengan tujuan yang sama, yaitu menguji hasil latihan yang telah dijalani selama berbulan-bulan.
Di luar hasil pertandingan, Kejurnas menghadirkan ruang bagi para atlet untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan melihat bagaimana pembinaan panahan berkembang di berbagai daerah. Dari perjalanan panjang, percakapan antara kontingen, hingga tantangan membaca arah angin di lapangan, mereka membawa pulang pengalaman yang tidak tercatat di papan skor.
Ketika anak panah terakhir melesat, setiap peserta meninggalkan Kudus dengan membawa cerita yang berbeda. Ada yang pulang dengan medali, ada yang membawa evaluasi untuk latihan berikutnya. Namun semuanya memiliki satu kesamaan, yakni memperoleh pengalaman yang tak dapat diukur oleh hasil akhir pertandingan. Dari disiplin, daya juang, hingga keberanian mengejar mimpi, kejuaraan ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan panjang mereka sebagai atlet maupun pribadi yang terus bertumbuh. (JMY/mainkekudus)
