

Disiplin yang Dijalankan dan Proses Tak Terlihat di Luar Lapangan
Kudus – Sorak-sorai menggulung dari tribun Supersoccer Arena, Kudus. Di atas hamparan rumput hijau, para pemain saling berkejaran mengejar bola, menyusun serangan, bertahan, lalu kembali menyerang. Setiap umpan, tekel, dan gol disambut tepuk tangan yang tak putus-putus. Sejak bergulir pada 5 Juli 2026, HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 menghadirkan persaingan 16 tim putri kategori U-15 dan U-18 dari berbagai daerah. Setiap pertandingan menjadi panggung bagi talenta-talenta muda sepak bola putri Indonesia.

Namun, pertandingan hanya memperlihatkan satu bagian dari perjalanan mereka. Ketika peluit panjang berbunyi, penonton pulang membawa cerita tentang kemenangan, kekalahan, atau gol-gol indah yang tercipta. Sementara itu, para pemain justru memasuki babak lain yang jauh lebih panjang. Babak yang tidak disiarkan, tidak terdengar riuh, dan tidak pernah muncul dalam lembar statistik pertandingan.

Perjuangan itu berlangsung jauh dari lapangan. Di penginapan tempat para atlet beristirahat, rutinitas kembali dimulai. Mereka merapikan kamar, mencuci perlengkapan sendiri, mengatur waktu tidur, memastikan tubuh pulih, lalu bersiap menjalani latihan maupun pertandingan berikutnya. Di usia yang masih belia, mereka belajar mandiri sekaligus bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Sesekali, kerinduan kepada rumah datang begitu saja. Saat itulah layar telepon menjadi penghubung paling berarti. Sebuah panggilan video dari orang tua mampu menghapus lelah yang menumpuk setelah pertandingan. Obrolan singkat, senyum dari rumah, atau sekadar mendengar suara keluarga sering kali menjadi suntikan semangat sebelum hari berikutnya dimulai.

Rutinitas seperti itu telah menjadi bagian dari kehidupan Racheyla Delpiula, salah satu pemain Putri Tangsel City U-18. Baginya, pertandingan belum benar-benar selesai ketika wasit meniup peluit akhir. Ada tahapan pemulihan yang harus dijalani dengan disiplin agar tubuh kembali siap menghadapi tantangan berikutnya. “Setelah pertandingan, hal pertama yang aku lakukan adalah ice bath, mandi, lalu makan,” tutur Racheyla saat ditemui di Hotel Air Mancur Kudus, tempat penginapan tim Putri Tangsel City U-18 (Tangerang Selatan).
Ia mengaku, bagian yang paling menguras tenaga justru bukan pertandingan itu sendiri, melainkan latihan fisik yang terus dijalani dari waktu ke waktu. Di balik penampilan selama 70 menit di lapangan, ada berjam-jam latihan yang menuntut tenaga, disiplin, dan ketekunan.

Bagi Racheyla, menjaga pola makan dan pola tidur menjadi tantangan yang tidak kalah besar. “Tidurnya juga harus dijaga. Kita harus mempersiapkan diri dengan latihan yang cukup, tidur yang cukup, dan istirahat yang cukup,” ujarnya.
Tidak hanya fisik yang diuji, tetapi juga kemampuan mengendalikan emosi. Dalam situasi lelah, tekanan pertandingan, dan jadwal yang padat, menjaga suasana tetap baik bersama rekan setim menjadi bagian penting dari perjalanan sebagai atlet.

Baginya, ada kenyataan yang sering luput dari perhatian banyak orang. “Tidak semua perjuangan terjadi di lapangan karena kita harus menghadapi tantangan latihan, uji coba, dan segala macam di luar itu.”
Apa yang disampaikan Racheyla juga dirasakan Rebecca Margaretha. Rekan setimnya itu memandang proses pemulihan bukan sekadar mengembalikan kondisi tubuh, tetapi juga menjaga kebersamaan yang telah dibangun selama menjalani turnamen.
Ice bath yang mereka lakukan bersama menjadi ruang sederhana untuk saling menguatkan. Di tengah tubuh yang lelah, mereka tetap berbagi semangat agar bisa kembali tampil maksimal pada pertandingan berikutnya.
Di balik semua proses itu, dukungan keluarga tetap menjadi kekuatan yang tidak tergantikan. “Orang tua mendukung lewat telepon. Kalau menang, mereka minta kita tetap bersyukur; kalau kalah, kita harus lebih bangkit lagi,” ungkap Rebecca.

Di luar jadwal latihan, Rebecca juga berusaha menjaga pola makan dengan memperbanyak buah dan sayuran. Kebiasaan itu menjadi bagian dari usaha mempertahankan kondisi tubuh agar tetap prima selama mengikuti turnamen.
Perjalanan para pemain muda ini juga tidak lepas dari peran pelatih yang terus mendampingi mereka. Pelatih Putri Tangsel City, Coach Sahroni Bonte, melihat masih banyak orang yang hanya menyaksikan pertandingan tanpa mengetahui proses panjang yang telah dijalani para pemain hingga bisa tampil di tingkat nasional. “Proses mereka dari regional sampai lolos ke nasional, kerasnya berlatih dalam sesi setiap latihan, itu jarang diketahui penonton,” ujar Coach Sahroni.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya membentuk kemampuan bermain, tetapi juga membangun mental yang kuat. Karena itu, ia selalu mengingatkan para pemain agar tidak hanya mengejar kemenangan. “Nilai terbaik adalah menjaga nama baik tim, diri sendiri, dan keluarga. Jangan sampai citra kita di Tangerang Selatan ternoda di daerah orang,” tegasnya.
Bagi Coach Sahroni, hasil pertandingan memang penting. Namun, pengalaman yang diperoleh selama menjalani proses latihan dan berkompetisi akan menjadi bekal berharga bagi perjalanan para pemain di masa depan.

Kisah para pemain Putri Tangsel City U-18 (Tangerang Selatan) menjadi gambaran kecil dari kehidupan para atlet muda yang mengikuti HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026. Di balik pertandingan yang dinikmati penonton, ada rutinitas yang terus diulang setiap hari: berlatih, memulihkan tubuh, menjaga pola hidup, mengendalikan emosi, belajar mandiri, serta menahan rindu kepada keluarga.
Semua itu membentuk perjalanan yang jarang terlihat dari tribun. Sebab, sebuah gol memang tercipta di lapangan, tetapi proses yang melahirkannya berlangsung jauh sebelumnya dalam latihan yang panjang, kedisiplinan yang terus dijaga, dan dukungan orang-orang terdekat yang tak pernah berhenti menguatkan.
HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 menjadi ruang bagi para atlet muda untuk membawa seluruh proses itu ke level yang lebih tinggi. Turnamen ini tidak hanya mempertemukan tim-tim terbaik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana disiplin, karakter, dan ketangguhan tumbuh bersama setiap langkah yang mereka jalani, baik saat menjadi pusat perhatian di lapangan maupun ketika bekerja dalam sunyi di balik layar pertandingan. (JMY/ITN/mainkekudus)