Logo Kudus

HYDROPLUS Bupati Cup XX 2026 Pertemukan Atlet Berbagai Kelompok Usia

Diterbitkan: 18 Agustus 2026Penulis: Saldy Nurzaman

KUDUS – Suasana Djarum Arena Kaliputu, Kudus, terasa ramai pada Senin (17/8/2026). Suara shuttlecock yang dipukul dari beberapa lapangan terdengar bersahutan dengan arahan pelatih dan dukungan dari tepi lapangan. Di antara suasana tersebut, atlet-atlet muda menunggu giliran bertanding dengan perlengkapan yang sudah disiapkan.

Sebagian atlet datang bersama orang tua, sebagian lainnya didampingi pelatih dan rekan satu klub. Ada yang sudah beberapa kali mengikuti pertandingan, tetapi ada pula yang baru pertama kali merasakan kompetisi. Sebelum masuk lapangan, mereka memiliki tujuan masing-masing. Ada yang ingin menang, ada yang berharap mendapatkan piala, dan ada pula yang ingin mengetahui bagaimana rasanya menghadapi lawan dalam sebuah pertandingan resmi.

Suasana tersebut menjadi bagian dari HYDROPLUS Bupati Cup XX 2026 yang berlangsung pada 17-22 Agustus 2026. Turnamen bulu tangkis ini mempertemukan peserta dari berbagai kelompok usia, mulai usia dini, SenengMinton, taruna, dewasa hingga veteran.

Suasana penonton saat HYDROPLUS Bupati Cup XX 2026 di Djarum Arena Kaliputu, Kudus. (Foto: OEB/mainkekudus)

Persiapan Menuju Kejurprov

HYDROPLUS Bupati Cup XX 2026 menjadi bagian dari Kejurkab PBSI Kudus yang turut mendukung pembinaan atlet dan persiapan menuju Kejurprov. (Foto: OEB/mainkekudus)

HYDROPLUS Bupati Cup XX 2026 merupakan bagian dari Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) PBSI Kudus. Sekretaris PBSI Kudus Raventus Pongoh mengatakan pelaksanaan Kejurkab menjadi bagian dari agenda pembinaan sekaligus berkaitan dengan persiapan menuju Kejuaraan Provinsi (Kejurprov).

Raventus Pongoh, Sekretaris PBSI Kudus. (Foto: OEB/mainkekudus)

“Tujuannya karena salah satunya untuk ikut Kejurprov, harus melaksanakan Kejurkab. Makanya tajuknya Bupati Cup ini adalah Kejurkab, jadi Kejuaraan Kabupaten,” kata Raventus.

Pada penyelenggaraan tahun ini, jumlah peserta tercatat 621 orang sebelum menjadi 620 peserta. Mereka berasal dari berbagai kelompok usia dan nomor pertandingan. Untuk kategori dewasa, pertandingan mencakup nomor tunggal dan ganda.

Kategori SenengMinton menjadi salah satu nomor yang banyak diminati. Pesertanya antara lain berasal dari sekolah-sekolah yang menjadi binaan maupun telah bekerja sama dengan PBSI Kudus.

Keterlibatan peserta dari lingkungan sekolah membuat kompetisi memiliki ruang yang lebih luas bagi anak-anak yang sedang mengenal bulu tangkis. Mereka tidak hanya berlatih, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mencoba kemampuan ketika berhadapan dengan lawan dari luar lingkungan latihan sehari-hari.

Atlet usia dini mengikuti pertandingan untuk mengenal suasana kompetisi, menghadapi lawan berbeda, dan menambah pengalaman bertanding. (Foto: YSR/mainkekudus)

Bagi atlet usia dini, pertandingan seperti ini menjadi pengalaman awal untuk memahami suasana kompetisi. Mereka mulai berhadapan dengan aturan pertandingan, lawan yang berbeda, tekanan permainan, serta hasil yang tidak selalu sesuai dengan harapan.

Mengarahkan Potensi Atlet

Pertandingan menjadi bagian dari proses pembinaan atlet muda, sekaligus menguji hasil latihan saat menghadapi lawan. (Foto: YSR/mainkekudus)

Di mata pelatih, pertandingan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan. Latihan memberikan kesempatan bagi atlet untuk memperbaiki teknik, sedangkan kompetisi memperlihatkan bagaimana kemampuan tersebut digunakan ketika menghadapi lawan.

Asisten Pelatih Raja Badminton Club sekaligus Pelatih Langit Badminton Club, Angga Adinata Dwi Cahya, mengatakan turnamen usia dini juga dapat menjadi ruang untuk melihat potensi atlet.

Angga Adinata Dwi Cahya, Asisten Pelatih Raja Badminton Club. (Foto: FZ/mainkekudus)

Menurutnya, keterlibatan sekolah dalam kompetisi dapat membantu menemukan anak-anak yang memiliki kemampuan untuk kemudian diarahkan mengikuti pembinaan di klub.

“Karena ini kan Djarum mau turun ke sekolah-sekolah. Tujuannya supaya nanti sekolah lebih banyak berpartisipasi. Nanti bisa terlihat potensinya, bisa dikirim ke klub,” ujar Angga.

Dalam pertandingan, pelatih dapat melihat sejumlah aspek permainan, mulai teknik pukulan, langkah kaki, pola permainan hingga penempatan shuttlecock. Kemampuan tersebut tidak selalu terlihat secara lengkap ketika atlet hanya menjalani latihan bersama teman atau rekan satu klub.

Angga menilai kemampuan membaca permainan juga memiliki peran penting. Atlet dengan teknik yang belum sempurna tetap dapat menunjukkan kemampuan melalui cara membaca permainan dan menempatkan bola.

“Kadang atlet itu ada yang tekniknya kurang, tapi penempatannya bagus. Jadi memang itu butuh kecerdasan juga dalam penempatan bolanya,” jelasnya.

Lawan yang berbeda juga membuat atlet harus menyesuaikan permainan. Mereka tidak selalu menghadapi karakter lawan yang sama seperti saat berlatih. Dari situ, atlet mendapatkan pengalaman untuk membaca situasi dan menentukan cara bermain yang sesuai.

Target Berbeda Atlet Muda

Bagi atlet usia dini, tujuan mengikuti turnamen tidak selalu rumit. Muhammad Yanuar Wibowo, siswa kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kuryatul Fikri, Pasuruhan Lor, misalnya, datang dengan target membawa pulang piala.

Mohammad Yanuar Wibowo, atlet bulutangkis muda asal Raja Badminton Club. (Foto: FZ/mainkekudus)

Atlet muda berusia sembilan tahun ini sudah dua kali mengikuti lomba bulu tangkis. Ia datang bersama ibu dan kakaknya untuk mengikuti pertandingan. Ketika ditanya apa yang ingin didapat dari turnamen tersebut, jawabannya sederhana.

Momen interaksi antara Angga Adinata Dwi Cahya (Pelatih) dengan Mohammad Yanuar Wibowo (Atlet Muda). (Foto: FZ/mainkekudus)

“Mendapatkan piala,” katanya.

Pengalaman berbeda dimiliki Mohammad Abid Fadhil Abyan, siswa kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kudus yang tergabung dalam PB Elang Muria. HYDROPLUS Bupati Cup XX 2026 menjadi pengalaman pertamanya mengikuti lomba bulu tangkis.

Mohammad Abid Fadhil Abyan, siswa kelas 3 MIN Kudus sekaligus atlet muda PB Elang Muria, mengikuti HYDROPLUS Bupati Cup XX 2026 di Djarum Arena Kaliputu, Kudus. (Foto: YSR/mainkekudus)
Interaksi Mohammad Abid Fadhil Abyan dengan pelatih. (Foto: FZ/mainkekudus)

Abid mengaku senang bisa bertanding. Sebelum mengikuti kompetisi, ia juga menjalani latihan rutin dari Senin hingga Sabtu. Latihan tersebut menjadi persiapan untuk menghadapi pertandingan yang baru pertama kali ia rasakan.

Sementara itu, Muhammad Arsyad Diaurrohman, atlet berusia tujuh tahun dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Bae, juga mengikuti pertandingan dengan antusias. Ketika ditanya bagaimana rasanya mengikuti turnamen, ia menjawab singkat, “Seru.”

Muhammad Arsyad Diaurrohman, atlet berusia tujuh tahun dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Bae. (Foto: YSR/mainkekudus)

Jawaban anak-anak tersebut memperlihatkan bahwa pertandingan memiliki arti yang berbeda bagi setiap peserta. Ada yang mengejar hasil, ada yang ingin mencoba pengalaman baru, dan ada pula yang sekadar menikmati kesempatan untuk bertanding.

Keluarga dan Klub Mendampingi Proses

Di balik atlet yang bertanding di lapangan, terdapat orang tua dan pelatih yang ikut mendampingi perjalanan mereka. Kehadiran keluarga terlihat dari orang tua yang mengantar anak, menunggu pertandingan, hingga memberikan dukungan dari tepi lapangan.

Bagi atlet yang masih berusia dini, dukungan tersebut menjadi bagian dari pengalaman mengikuti kompetisi. Anak-anak tidak datang sendiri untuk menghadapi pertandingan. Mereka membawa proses latihan yang didampingi pelatih serta dukungan keluarga yang mengantarkan mereka ke arena.

Peran klub juga berkaitan dengan proses pembinaan. Atlet tidak hanya dipersiapkan untuk satu pertandingan, tetapi mengikuti latihan secara rutin agar kemampuan mereka terus berkembang.

Hilmawan Shubhi, pelatih sekaligus wali murid Muhammad Arsyad, melihat pengalaman bertanding sebagai bagian penting dalam perjalanan atlet muda. Menurutnya, kompetisi usia dini perlu memiliki ruang yang cukup agar anak-anak dapat lebih sering menguji kemampuan.

Hilmawan Shubhi, pelatih sekaligus wali murid Muhammad Arsyad. (Foto: FZ/mainkekudus)

Ia menilai pertandingan tidak seharusnya hanya dilihat dari piala yang diperoleh. Semakin banyak kesempatan bertanding, atlet memiliki lebih banyak pengalaman menghadapi lawan dengan kemampuan dan karakter permainan yang berbeda.

“Kalau untuk piala dan lain sebagainya itu nomor kesekian. Jadi pengalaman itu jauh lebih penting dari hal apapun itu,” kata Hilmawan.

Bagi pelatih, hasil pertandingan juga dapat menjadi bahan evaluasi. Dari permainan anak di lapangan, terlihat bagian yang sudah berkembang dan bagian yang masih membutuhkan latihan. Setelah pertandingan selesai, proses tersebut kembali dilanjutkan dalam sesi latihan berikutnya.

Bertemu Lawan Mengukur Kemampuan

Atlet dari berbagai tingkat pengalaman mengikuti HYDROPLUS Bupati Cup XX 2026 di Djarum Arena Kaliputu, Kudus, untuk menguji kemampuan dalam pertandingan bulu tangkis. (Foto: YSR/mainkekudus)

HYDROPLUS Bupati Cup XX 2026 mempertemukan atlet dengan latar belakang pengalaman yang berbeda. Ada peserta yang sudah beberapa kali bertanding dan ada yang baru mengenal kompetisi. Namun, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk masuk ke lapangan dan menguji kemampuan.

Bagi sebagian anak, pengalaman tersebut mungkin dimulai dari keinginan mendapatkan piala. Bagi yang lain, pertandingan pertama menjadi cara untuk mengetahui bagaimana rasanya berhadapan dengan lawan di luar sesi latihan.

Dari satu pertandingan, atlet dapat belajar tentang teknik, strategi, konsentrasi, keberanian, hingga cara menerima hasil. Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan yang berlangsung secara bertahap.

Karena itu, keberadaan kompetisi usia dini tidak hanya berkaitan dengan siapa yang keluar sebagai pemenang. Turnamen juga memberi ruang bagi atlet untuk bertemu lawan, mengukur kemampuan, menerima evaluasi, dan kembali berlatih.

Di arena seperti HYDROPLUS Bupati Cup XX 2026, kemenangan memang menjadi tujuan. Namun bagi atlet muda, setiap pertandingan juga menjadi kesempatan untuk mengetahui sejauh mana mereka telah berkembang dan apa yang masih harus dikejar. (OEB/YSR/FZ/mainkekudus)