Logo Kudus

HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 Bawa Dampak Ekonomi bagi Kudus

14 Juli 2026Saldy Nurzaman

Kudus – Selama sepekan, Supersoccer Arena Kudus dipenuhi pertandingan, sorak penonton, serta kedatangan ratusan atlet beserta pendamping dari berbagai daerah. Kini turnamen telah usai. Trofi telah dibawa pulang para juara, para peserta kembali ke kota masing-masing, dan arena kembali seperti sediakala. Namun bagi Kudus, HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 meninggalkan cerita yang masih terus terasa melalui aktivitas ekonomi dan pertemuan antar manusia yang tercipta selama penyelenggaraan turnamen. 

HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 yang berlangsung pada  5–12 Juli 2026 menghadirkan lebih dari sekadar pertandingan sepak bola usia muda. Kehadiran atlet, pelatih, official, hingga keluarga peserta ikut menggerakkan berbagai sektor pendukung, mulai dari hotel dan homestay hingga pelaku UMKM di sekitar arena pertandingan. 

Sports Tourism Menggerakkan Ekonomi Lokal

Sebanyak 16 tim kategori U-15 dan U-18 dari berbagai daerah bertanding di Supersoccer Arena Kudus selama sepekan. Arus kedatangan peserta dan pendamping menciptakan aktivitas yang dirasakan oleh berbagai pelaku usaha. Hotel, homestay, pusat kuliner, transportasi, hingga UMKM menjadi bagian dari ekosistem yang bergerak seiring berlangsungnya turnamen. 

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menilai penyelenggaraan HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurutnya, peningkatan aktivitas tidak hanya terlihat dari ramainya kawasan sekitar arena, tetapi juga dari berbagai sektor usaha yang melayani kebutuhan para tamu. 

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris. (Foto: ITN/mainkekudus)

“Dampaknya bukan hanya hotel yang penuh, tetapi juga homestay, pendamping tim, UMKM sampai masyarakat yang menjual makanan khas Kudus ikut merasakan manfaatnya. Ini meningkatkan pendapatan daerah. Terima kasih kepada HYDROPLUS Soccer League All Stars yang sudah berkali-kali mempercayai Kudus sebagai tuan rumah,” ujarnya, Minggu (12/7).

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta terus diperkuat agar semakin banyak ajang olahraga berskala nasional digelar di Kudus. Pemerintah daerah, katanya, berkomitmen memberikan kemudahan perizinan, dukungan keamanan, serta pendampingan kepada pelaku usaha agar mampu memberikan pelayanan terbaik bagi setiap tamu. 

“Yang penting kita mampu menciptakan multiplier effect dari sepak bola. Kami ingin sports tourism terus berkembang dan menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” katanya.

Homestay Menjadi Rumah Sementara Para Atlet

Salah satu dampak itu dirasakan Denisa Homestay di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati. Selama turnamen berlangsung, penginapan tersebut menjadi rumah sementara bagi para atlet yang datang bertanding di Kudus. 

Bagi pengelola Denisa Homestay, Sri Sugiyanti, kesan yang paling membekas bukan hanya meningkatnya tingkat hunian, tetapi juga hubungan yang terjalin bersama para tamu muda yang menginap selama beberapa hari.

Sri Sugianti pengelola Denisa Homestay. (Foto: DN/mainkekudus)

Menurutnya, para atlet menunjukkan sikap yang sopan, mudah bergaul, dan tidak sungkan membantu ketika berinteraksi dengan pengelola homestay. Kehangatan itu justru menjadi kenangan yang masih tertinggal setelah seluruh rombongan kembali ke daerah asalnya. 

“Yang paling saya ingat anak-anak itu ramah, mau ngobrol, bahkan membantu saya. Waktu mereka pulang rasanya jadi sepi. Semoga mereka sukses dan suatu hari nanti kembali menginap di sini lagi,” tuturnya.

Cerita tersebut memperlihatkan bahwa sebuah penginapan tidak hanya berfungsi sebagai tempat beristirahat selama kompetisi berlangsung. Dalam beberapa hari kebersamaan, tercipta hubungan yang meninggalkan kesan bagi pengelola maupun para tamu yang datang.

UMKM Menyambut Ramainya Aktivitas di Sekitar Arena

Keramaian turnamen juga dirasakan para pelaku UMKM di sekitar Supersoccer Arena. Selama pertandingan berlangsung, kawasan arena dipadati atlet, pelatih, official, keluarga, dan penonton yang datang silih berganti. 

Penjaga tenant kuliner, Riadlhotul Jannah, mengaku penjualannya meningkat sekitar 70 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Produk jeruk lokal tanpa tambahan gula menjadi salah satu minuman yang paling banyak dipilih atlet dan penonton setelah beraktivitas di sekitar arena pertandingan.

Riadlhotul Jannah penjaga tenant kuliner. (Foto: FZ/mainkekudus)

Namun, baginya, pengalaman yang paling membekas justru datang dari interaksi sederhana bersama para atlet.

“Yang paling membekas itu atlet-atlet sering ikut mempromosikan dagangan kami ke teman-temannya. Mereka baik-baik dan ramah. Harapan kami semoga event seperti ini ada setiap tahun,” katanya.

Tidak jauh dari sana, Debby yang menjual oppa coin dan minuman viral juga merasakan pengalaman serupa. Selama turnamen berlangsung, ia melayani pembeli dari berbagai kota dengan logat dan kebiasaan yang berbeda. Percakapan singkat saat melayani pelanggan menjadi pengalaman yang menurutnya sulit dilupakan.

Debby, pelaku UMKM. (Foto: FZ/mainkekudus)

“Yang paling berkesan melihat tim dari berbagai daerah dengan bahasa yang berbeda-beda datang membeli dagangan kami. Rasanya seru sekali. Kalau tahun depan ada lagi, kami pasti ikut lagi karena event seperti ini sangat membantu UMKM,” ujarnya.

Bagi para pelaku UMKM, keramaian turnamen bukan hanya menghadirkan tambahan pembeli, tetapi juga mempertemukan masyarakat lokal dengan tamu dari berbagai daerah melalui interaksi sederhana yang berlangsung setiap hari. 

Wisata dan Oleh-oleh

Selama penyelenggaraan HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026, perjalanan para atlet tidak berhenti di lapangan pertandingan. Di sela agenda kompetisi, sebagian peserta beserta keluarga dan official memanfaatkan waktu untuk mengenal berbagai destinasi di Kudus. Pengalaman itu membuat kunjungan ke kota ini tidak hanya diisi pertandingan, tetapi juga memberi kesempatan menikmati wisata, kuliner, hingga produk khas daerah.

Kawasan wisata religi seperti Menara Kudus menjadi salah satu tujuan yang banyak dikunjungi. Selain itu, sejumlah peserta juga menyempatkan diri menikmati suasana pusat kuliner dan mencari buah tangan sebelum kembali ke daerah masing-masing. Aktivitas tersebut memperpanjang interaksi para tamu dengan berbagai sektor ekonomi lokal, mulai dari pelaku usaha makanan, pusat oleh-oleh, hingga destinasi wisata.

Penjaga gawang Arema FC Women U18, Keysha Putri Dwi Arianti sedang memilih oleh-oleh di toko oleh-oleh Jenang Mubarok, Kudus, Jawa Tengah. (Foto dok.mainkekudus)

Bagi banyak keluarga atlet, kesempatan berada di Kudus dimanfaatkan untuk mencicipi beragam kuliner khas yang mudah dijumpai di berbagai sudut kota. Setelah pertandingan usai, sejumlah rombongan juga menyempatkan diri membeli jenang Kudus sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang. Tradisi membawa buah tangan menjadi bagian dari pengalaman perjalanan sekaligus memberi manfaat bagi pelaku usaha lokal yang melayani kebutuhan pengunjung selama turnamen berlangsung.

Pergerakan peserta, official, keluarga, dan penonton menunjukkan bahwa penyelenggaraan kompetisi olahraga tidak hanya menghadirkan aktivitas di arena pertandingan. Kehadiran mereka juga ikut menghidupkan sektor pendukung, mulai dari akomodasi, kuliner, pusat oleh-oleh, hingga destinasi wisata yang tersebar di berbagai kawasan Kudus. Dampak tersebut memperlihatkan bagaimana olahraga dapat berjalan berdampingan dengan pariwisata dan ekonomi lokal.

Cerita yang Tetap Tinggal di Kudus

Kini Supersoccer Arena kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Tribun tidak lagi dipenuhi sorak penonton, sementara para atlet telah kembali melanjutkan perjalanan mereka masing-masing. 

Meski demikian, penyelenggaraan HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 meninggalkan jejak yang masih terasa. Hotel dan homestay menjadi rumah sementara bagi para peserta, UMKM merasakan peningkatan pengunjung, sementara berbagai destinasi wisata hingga toko oleh-oleh di Kudus ikut menjadi tujuan yang dikunjungi atlet, ofisial, dan keluarga mereka di luar jadwal pertandingan. Kehadiran ratusan tamu dari berbagai daerah tidak hanya menghidupkan aktivitas ekonomi lokal, tetapi juga disambut dengan keramahan masyarakat Kudus yang menjadi bagian dari pengalaman mereka selama berada di kota ini. 

Bagi para atlet, Kudus menjadi salah satu persinggahan dalam perjalanan mengejar mimpi di dunia sepak bola. Sementara bagi masyarakat setempat, turnamen ini menjadi ruang bertemunya olahraga, ekonomi, dan hubungan antarmanusia yang terjalin melalui pengalaman sehari-hari. 

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan hanya daftar juara atau hasil pertandingan. Ada cerita yang lahir dari setiap tamu yang datang, setiap percakapan yang terjadi, dan setiap senyum yang dibagikan selama sepekan penyelenggaraan HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026. Cerita-cerita itulah yang terus hidup, bahkan setelah pertandingan berakhir. (JMY/FZ/ITN/DN/mainkekudus)