

HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 Berakhir, Perjalanan Atlet Muda Terus Berlanjut
KUDUS – Peluit panjang di Supersoccer Arena, Kudus, pada Minggu (12/7/2026), menandai berakhirnya HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026. Selama sepekan, turnamen ini mempertemukan 16 tim sepak bola putri kategori U-15 dan U-18 dari berbagai daerah dalam satu kompetisi nasional.
Sebagian tim menutup turnamen dengan mengangkat trofi juara. Sebagian lainnya harus menerima hasil yang belum sesuai harapan. Namun, seluruh peserta pulang membawa pengalaman yang sama berharganya. Mereka belajar menghadapi tekanan pertandingan, beradaptasi dengan karakter lawan yang berbeda, sekaligus menguji hasil latihan yang selama ini dijalani.
Partai puncak menghadirkan dua pertandingan yang berlangsung kompetitif. Pada kategori U-15, Goal Aksis menghadapi Cipta Cendekia FA Bogor. Sementara di kategori U-18, Akademi Persib Bandung bertemu Putri Garut untuk memperebutkan gelar juara.
Tribun stadion dipenuhi keluarga, pelatih, dan suporter yang memberikan dukungan sepanjang pertandingan. Tepuk tangan, sorak kegembiraan, hingga tangis haru mewarnai suasana ketika laga berakhir.
Bagi para pemain, final bukan hanya pertandingan terakhir di Kudus. Mereka tiba setelah melewati babak regional, menghadapi lawan dengan gaya bermain yang beragam, dan terus menyesuaikan diri sepanjang turnamen. Final menjadi penutup dari proses yang telah mereka jalani sejak awal kompetisi.
Proses Lebih Bermakna daripada Hasil Akhir
Bagi pemain Goal Aksis U-15, Bilqis Fatimah Az Zahra, trofi juara menjadi pengingat atas proses yang telah dijalani bersama seluruh anggota tim.
“Yang pastinya senang sekali tim Goal Aksis ini kan memiliki tujuan yang sama dari Bandung ke Kudus merubah warna silver menjadi emas,” ujarnya.

Target tersebut dibangun melalui persiapan yang tidak singkat. Bilqis menceritakan, timnya menjalani latihan intensif selama sekitar satu bulan dengan jadwal pagi dan sore untuk menghadapi kompetisi tingkat nasional.
“Arti trofi buat kami ini adalah hasil perjuangan kita selama satu bulan penuh, kita latihan setiap hari bahkan setiap pagi dan sore juga kita latihan,” ucapnya.

Baginya, trofi bukan hanya simbol kemenangan, tetapi juga pengingat atas seluruh proses yang telah dilalui bersama tim. Pengalaman tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk terus berkembang sebagai pesepak bola.
“Kalau lihat trofi juara ini mungkin kita pasti ingat prosesnya, karena prosesnya cukup berat. Harapan sendiri yang pasti aku pingin jadi pemain timnas Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, Putri Garut U-18 (Garut) harus puas mengakhiri turnamen sebagai runner-up. Meski gagal meraih gelar juara, perjalanan hingga partai final tetap menjadi pengalaman yang bernilai bagi tim.
Bagi pemain Putri Garut U-18 (Garut), Nazwa Bilbina, rasa kecewa setelah gagal meraih gelar juara tentu tidak dapat dihindari. Meski demikian, ia memilih memandang hasil tersebut sebagai bagian dari proses yang harus dijalani setiap atlet.

“Pastinya agak sedikit sedih karena gagal jadi juara 1, tentunya diri sendiri mungkin bisa tampil disini dan perkembangan tim meningkat, kalau selesai di Kudus tentunya akan terus berlatih, tentunya setiap pertandingan itu ada menang ada kalah dan itu bagian dari proses,” ungkap Nazwa.

Menurutnya, keberhasilan mencapai partai final menunjukkan perkembangan yang telah dicapai timnya selama mengikuti HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026. Kesempatan menghadapi tim-tim terbaik dari berbagai daerah menjadi pengalaman berharga yang melengkapi proses latihan yang selama ini mereka jalani.
Alih-alih larut dalam kekecewaan, Nazwa dan rekan-rekannya memilih menjadikan hasil tersebut sebagai motivasi untuk terus berlatih. Baginya, perjalanan di Kudus bukanlah akhir dari sebuah mimpi, melainkan bagian dari proses untuk membangun kemampuan dan kembali bertanding dengan persiapan yang lebih baik.
Filosofi yang dipegang Nazwa sederhana. Dalam sepak bola selalu ada kemenangan dan kekalahan. Keduanya sama-sama menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk karakter serta menambah pengalaman seorang atlet.
Terus Belajar dan Berlatih
Keberhasilan Goal Aksis meraih gelar juara turut menjadi kebanggaan bagi pelatih Budi Sufarlan. Meski demikian, ia menilai turnamen ini memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar hasil akhir.

Selama berada di Kudus, Budi mengaku banyak memperoleh pelajaran dari tim-tim peserta lain yang datang dengan gaya bermain serta pendekatan latihan yang berbeda.
“Yang paling berkesan itu saya belajar dari beberapa tim bagaimana cara mereka mengolah timnya, kemudian saya belajar karakter dari berbagai daerah mainnya seperti apa. Dan beberapa tim kebersamaan yang terlibat satu minggu ini,” jelasnya.
Menurutnya, keberagaman karakter permainan tersebut juga menjadi pengalaman berharga bagi para pemain yang harus beradaptasi di setiap pertandingan.
“Pembelajaran bagi atlet itu mereka juga belajar menanggapi karakter lawannya seperti apa secara individu maupun tim. Mereka belajar dari fase grup bertemu tim yang berbeda-beda, jadi itu menjadi pengalaman buat mereka yang terjadi di lapangan,” tuturnya.
Gelar Juara Bukan Alasan Berpuas Diri
Meski berhasil membawa pulang trofi, Budi mengingatkan anak asuhnya agar tetap menjaga semangat untuk berkembang. Ia berharap pencapaian di Kudus menjadi pijakan untuk menyiapkan target berikutnya, bukan menjadi alasan untuk merasa telah mencapai puncak.
“Kalau tanggapan buat atlet kalau bisa jangan jumawa banget sebagai atlet yang kita capai hari ini, jangan puas diri. Untuk target kedepan saya ingin mereka lampaui capaian mereka hari ini. Kalau gak terus belajar siap disalip dengan kemampuan orang lain,” pesannya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa proses pembinaan tidak berhenti setelah kompetisi selesai. Justru setelah memperoleh pengalaman bertanding, tantangan berikutnya adalah mempertahankan konsistensi dalam berlatih.
Kompetisi Menjadi Bagian dari Pembinaan
Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, melihat penyelenggaraan HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 sebagai bagian dari proses pembinaan sepak bola putri yang berlangsung secara bertahap.

penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge pada 2023.
“Melihat perkembangan sepak bola putri kita, kalau kita kilas balik MilkLife Soccer Challenge 2023 itu babat alas. Jadi melihat pergerakan turnamen ini berkembang jauh lebih pesat dari yang kita harapkan. Jadi seperti event HYDROPLUS Soccer League ini pondasinya sudah cukup kuat,” ujarnya.
Ia berharap fondasi tersebut dapat terus berkembang melalui penyelenggaraan kompetisi yang semakin luas jangkauannya, sekaligus membuka kesempatan lebih banyak bagi atlet muda untuk memperoleh pengalaman bertanding.
“Artinya ke depan mestinya akan semakin meriah dan prestasinya mudah-mudahan akan mengikuti baik itu internasional atau pengembangan HYDROPLUS Soccer League dan MilkLife Soccer Challenge semua akan berkembang lebih baik, mestinya menambah kota juga. Komitmen Bakti Olahraga Djarum Foundation jelas saat 2023 susah payah, sekarang makin baik,” jelasnya.
Pengalaman yang Dibawa Pulang Setiap Peserta
Berakhirnya HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 tidak hanya melahirkan daftar juara. Turnamen ini juga mempertemukan atlet-atlet muda dari berbagai daerah dalam satu arena kompetisi, tempat mereka saling belajar, bertukar pengalaman, dan mengenal karakter permainan yang beragam.
Selama turnamen berlangsung, seluruh peserta dipantau langsung oleh tim scouting yang terdiri atas Timo Scheunemann, Jacksen F. Tiago, dan Takumi Taniguchi. Hasil pemantauan tersebut menjadi bagian dari proses seleksi pemain yang berpeluang memperkuat dua tim Indonesia kategori U-16 pada Srikandi Merdeka Cup yang akan digelar pada 14–23 Agustus 2026 di Supersoccer Arena, Kudus. Kesempatan ini juga membuka peluang bagi para atlet untuk melangkah ke jenjang pembinaan yang lebih tinggi.
Bagi sebagian peserta, turnamen ditutup dengan raihan medali emas. Bagi yang lain, hasil pertandingan menjadi bahan evaluasi untuk mempersiapkan diri menghadapi kesempatan berikutnya. Namun, seluruh tim meninggalkan Kudus dengan pengalaman yang tidak kalah berharga, mulai dari menghadapi tekanan pertandingan, membangun kerja sama antarpemain, hingga menjalin pertemanan dengan atlet dari berbagai daerah.
Ketika lampu stadion dipadamkan dan setiap kontingen kembali ke kota masing-masing, perjalanan mereka di dunia sepak bola belum berakhir. Pengalaman yang diperoleh selama sepekan menjadi bekal untuk melanjutkan proses pembinaan di tempat latihan masing-masing sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan berikutnya.
Melalui komitmen pembinaan yang terus dijalankan Bakti Olahraga Djarum Foundation, HYDROPLUS Soccer League diharapkan tetap menjadi ruang kompetisi bagi pesepak bola putri usia muda. Setiap penyelenggaraan bukan sekadar menentukan tim terbaik, tetapi juga menjadi wadah bagi para atlet untuk mengembangkan kemampuan, menambah pengalaman bertanding, serta membuka peluang menuju jenjang pembinaan yang lebih tinggi.
(ITN/FZ/mainkekudus)