

Ibu Enyk Rela Numpang Truk 19 Jam Demi Mengawal Mimpi Sang Kiper All Stars Surabaya
KUDUS — Di tengah riuh sorak penonton yang memenuhi tribun Supersoccer Arena (SSA) Kudus, tersimpan kisah lain yang tak kalah menarik dari jalannya pertandingan MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All Stars 2026. Di balik setiap penyelamatan yang dilakukan penjaga gawang All Stars Surabaya, Ainur Fitriani, ada perjuangan seorang ibu yang rela menempuh perjalanan panjang demi memastikan putrinya merasakan dukungan keluarga secara langsung.

Ajang sepak bola putri tingkat nasional yang berlangsung pada 23–28 Juni 2026 itu bukan hanya menjadi ruang pembuktian kemampuan bagi para pesepak bola muda dari berbagai daerah. Kompetisi ini juga menghadirkan cerita tentang pengorbanan keluarga yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan seorang atlet dalam mengejar cita-cita.
Memasuki fase perempat final, atmosfer pertandingan di SSA Kudus semakin semarak. Namun, bagi Enyk Suharmanik (41), perhatian utamanya bukan semata hasil pertandingan. Ia datang untuk menyaksikan langsung putri ketiganya berdiri di bawah mistar gawang, menjaga harapan tim All Stars Surabaya.
Perjalanan menuju Kudus bukanlah perjalanan singkat. Dari kediamannya di Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, Enyk memilih cara yang sederhana agar tetap bisa hadir mendampingi sang putri. Bersama ibundanya yang telah lanjut usia serta dua anak lainnya, ia menumpang truk yang dikemudikan kakak kandungnya yang bekerja sebagai sopir.
“Berangkat Senin pukul 3 sore dari rumah, kami sampai di SSA hari Selasa jam 10 pagi. Total perjalanan sekitar 19 jam,” ungkap Enik saat ditemui di sela pertandingan.
Belasan jam berada di dalam kabin truk dengan beberapa kali berhenti untuk proses bongkar muat barang tidak mengurangi tekadnya. Baginya, perjalanan panjang tersebut merupakan bagian dari dukungan yang ingin ia berikan kepada Ainur.

“Ya, kebetulan kakak saya sopir truk dan memang lewat jalur Kudus. Sekalian saja, supaya menghemat ongkos agar bisa hadir langsung memberi dukungan untuk Ainur,” tambahnya dengan senyum tulus.
Perjuangan keluarga Ainur tidak berhenti setelah tiba di Kudus. Selama sepekan pelaksanaan turnamen, mereka menyewa rumah kos di sekitar lokasi pertandingan agar dapat menyaksikan seluruh penampilan Ainur tanpa terlewat.


“Setiap hari kami jalan kaki dari rumah kos ke stadion. Pokoknya jangan sampai kelewatan pertandingan Ainur. Kami ingin dia merasakan bahwa doa dan dukungan keluarga selalu ada di belakangnya,” ujar Enik.
Bagi Ainur Fitriani, kehadiran keluarga di tribun memberikan arti yang jauh lebih besar daripada sekadar dukungan moral. Kehangatan orang-orang terdekat menjadi sumber semangat yang membantunya tetap fokus menghadapi tekanan pertandingan.

“Iya, senang sekali ada keluarga di pinggir lapangan. Itu jadi penyemangat luar biasa bagi saya untuk bermain lebih fokus,” ujar putri pasangan Enyk Suharmanik dan Ribut Gunawan tersebut.
Perjalanan Ainur di dunia sepak bola dimulai sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler futsal. Meski tidak berasal dari keluarga atlet, ia tumbuh dengan dukungan penuh dari kedua orang tuanya yang selalu memberi ruang bagi putrinya untuk berlatih dan mengembangkan kemampuan.

Latihan bersama tim maupun latihan mandiri dijalani Ainur secara disiplin untuk terus meningkatkan teknik dan kemampuan fisiknya. Konsistensi tersebut membuahkan hasil ketika ia menjadi bagian dari tim sekolah yang menjuarai MilkLife Soccer Challenge Surabaya Seri 2 kategori usia 12 tahun. Pada ajang itu, Ainur juga dinobatkan sebagai Best Goalkeeper berkat sejumlah penyelamatan penting yang dilakukannya.
Performa tersebut mengantarkannya bergabung bersama All Stars Surabaya pada MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026. Di bawah mistar gawang, Ainur turut berkontribusi membawa timnya melangkah hingga babak perempat final.
Di balik pencapaian itu, perjuangan yang dilakukan keluarga menunjukkan bahwa perjalanan seorang atlet muda tidak pernah dijalani sendirian. Dukungan orang tua, keluarga terdekat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari waktu, tenaga, hingga pengorbanan perjalanan yang panjang demi berada di sisi anak ketika mereka berjuang di lapangan.


Kisah Enyk dan Ainur menjadi gambaran bahwa kompetisi usia dini tidak hanya melahirkan talenta-talenta sepak bola putri dari berbagai daerah, tetapi juga memperlihatkan peran keluarga sebagai fondasi penting dalam proses pembinaan atlet. Di setiap pertandingan yang berlangsung di MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026, terdapat cerita tentang harapan, kebersamaan, dan komitmen keluarga yang tumbuh seiring langkah para pemain mengejar mimpi di lapangan hijau. (JMY/mainkekudus)