Logo Kudus

Independence Futsal League, Asah Keterampilan Bertanding Para Pelajar di GOR Bung Karno Kudus

Diterbitkan: 27 Agustus 2026Penulis: Saldy Nurzaman

KUDUS – GOR Bung Karno Kudus menjadi lokasi berlangsungnya Independence Futsal League (IFL) 2026. Kompetisi ini mempertemukan pelajar kategori putra dan putri tingkat SMP/MTs serta SMA/MA/SMK dari berbagai sekolah di Kabupaten Kudus.

Sejak pertandingan dimulai, suasana di dalam GOR dipenuhi suara peluit, instruksi pelatih, dan dukungan dari siswa yang datang menyaksikan tim sekolahnya. Para pemain berusaha menjalankan strategi, sementara suporter mengikuti jalannya pertandingan dari tribun dan sisi lapangan.

(Foto: fz/mainkekudus)

Bagi peserta, IFL menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan melalui pertandingan resmi. Kompetisi juga memberi ruang bagi pemain untuk menerapkan latihan, membangun kerja sama tim, serta membiasakan diri menghadapi tekanan di lapangan.

Menjaga Fokus

Suasana pertandingan futsal antar sekolah di Gor Bung Karno Kabupaten Kudus (Foto: fz/mainkekudus)

Muhammad Fariz Maulana, pemain MTs Qudsiyyah, telah bermain futsal sejak 2023. Selama itu, ia sudah mengikuti lebih dari tujuh kompetisi, termasuk turnamen di Batam.

Meski sudah memiliki pengalaman bertanding, Fariz tetap antusias mengikuti IFL. Menurutnya, setiap turnamen memiliki tantangan dan suasana yang berbeda.

“Sangat mengagumkan dan sangat senang mengikuti kompetisi ini,” kata Fariz.

Muhammad Fariz Maulana, Pemain dari MTs Qudsiyyah Kudus. (Foto: ysr/mainkekudus)

Sebelum bertanding di GOR Bung Karno, Fariz dan rekan-rekannya menjalani latihan dua hingga tiga kali dalam sepekan. Persiapan tim tidak hanya berfokus pada teknik dasar, strategi, dan fisik, tetapi juga kesiapan mental pemain.

Fariz menilai mental bertanding menjadi bagian penting dalam futsal. Pemain harus mampu tetap tenang ketika menghadapi lawan, mengambil keputusan dalam waktu singkat, dan bermain di bawah perhatian penonton.

“Kalau kita membawa skill-skill doang tapi tidak ada mentalnya nanti grogi di lapangan,” ujarnya.

Menurut Fariz, pengalaman mengikuti kompetisi membantunya memahami situasi pertandingan dengan lebih baik. Kemampuan individu tetap diperlukan, tetapi pemain juga harus bisa membaca permainan, berkomunikasi dengan rekan satu tim, serta menjaga konsentrasi hingga peluit akhir.

Pada pertandingan hari itu, MTs Qudsiyyah berhasil meraih kemenangan. Fariz mengaku bangga dapat tampil mewakili sekolahnya dan membawa hasil positif bagi tim.

“Bangga bisa mewakili Qudsiyyah dan memenangkan pertandingan hari ini,” katanya.

GOR Ramai Pendukung

Suporter sekolah memberikan dukungan lewat teriakan dan nyanyian dari sisi lapangan saat pertandingan Independence Futsal League (IFL) 2026 di GOR Bung Karno Kudus. (Foto:ysr/mainkekudus)

Kehadiran suporter menjadi salah satu bagian yang menambah semarak pertandingan. Dari sisi lapangan, para siswa memberikan dukungan melalui teriakan, nyanyian, dan tepuk tangan untuk tim sekolah masing-masing.

Muhammad Al Fatih Zaidan merupakan salah satu siswa yang datang mendukung SMP 3 Kudus. Ia hadir bersama lima temannya, sementara puluhan siswa lain juga terlihat memberi dukungan kepada tim yang dikenal dengan sebutan Spega itu.

“Untuk mendukung Spega, biar menang,” katanya.

Bagi Fatih, menyaksikan teman sekolah bertanding secara langsung memberi pengalaman berbeda. Ia dapat melihat permainan timnya dari dekat sekaligus ikut memberi semangat selama pertandingan berlangsung.

Hari itu juga menjadi pengalaman pertamanya menjadi suporter dalam kompetisi seperti IFL. Ia datang bukan karena kegiatan wajib dari sekolah, melainkan atas keinginan sendiri untuk mendukung tim.

“Sangat seru,” ujarnya.

Suasana pertandingan futsal antar sekolah di Gor Bung Karno Kabupaten Kudus (Foto: ysr/mainkekudus)

Menurut Fatih, futsal menarik karena mampu mempertemukan banyak pelajar dalam satu kegiatan. Selain melihat pertandingan, para siswa dapat berkumpul dengan teman-teman dan menunjukkan dukungan untuk sekolah mereka.

Muhammad Al Fatih Zaidan, Supporter tim SMP 3 Kudus. (Foto: ysr/mainkekudus)

Bagi Fatih, futsal juga menarik karena mempertemukan banyak pelajar dalam satu kegiatan. Pertandingan menjadi kesempatan untuk bertemu teman, memberikan dukungan, dan melihat permainan secara langsung.

Pasukan Penabuh Drum

Suporter SMP 1 Kudus datang bersama dalam satu rombongan untuk mendukung tim sekolah di IFL 2026. (Foto: ysr/mainkekudus)
Kanaya Hebhziba Queen, Supporter SMP 1 Kudus. (Foto: ysr/mainkekudus)

Kanaya mengatakan, anggota Paspen biasanya memperoleh informasi jadwal pertandingan melalui grup khusus. Setelah mengetahui jadwal, mereka berkoordinasi untuk berkumpul dan datang bersama ke lokasi pertandingan. Alumni yang bergabung juga membuat jumlah pendukung lebih banyak.

“Seru banget, asik. Karena mungkin bisa mensupport teman-teman yang lain,” kata salah satu anggota Paspen.

Di GOR Bung Karno, dukungan Paspen terdengar melalui nyanyian dan iringan drum. Mereka mengikuti jalannya pertandingan sejak awal dan memberi respons setiap kali tim SMP 1 Kudus menciptakan peluang maupun mencetak gol.

Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan SMP 1 Kudus 3-0. Hasil itu disambut gembira oleh rombongan suporter yang berada di sisi lapangan.

Bagi Paspen, menjadi suporter bukan sekadar menunggu hasil pertandingan. Mereka melihat kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk hadir bagi teman-teman yang mewakili sekolah di lapangan.

Mereka juga menyampaikan pesan kepada para pemain yang bertanding.

“Keren. Tetap semangat,” ujar salah satu anggota Paspen.

Pembiasaan Mengikuti Kompetisi

Dari sisi tim, pelatih memiliki perhatian tersendiri terhadap jalannya pertandingan. Respons pemain terhadap instruksi, kesalahan yang terjadi, serta kemampuan menjaga ritme permainan menjadi bahan evaluasi selama kompetisi berlangsung.

Pelatih MTs Qudsiyyah, Nor Ahlis, mengatakan timnya telah menantikan pelaksanaan IFL 2026. Persiapan dilakukan melalui latihan dua kali dalam sepekan. Sejumlah pemain juga sudah dibiasakan mengikuti turnamen sejak kelas VII.

Nor Ahlis, Pelatih Futsal MTs Qudsiyyah.(Foto: ysr/mainkekudus)

Menurut Nor, pembiasaan mengikuti kompetisi penting bagi perkembangan pemain usia sekolah. Melalui pertandingan resmi, pemain dapat menghadapi situasi yang lebih beragam dibandingkan saat berlatih bersama tim sendiri.

“Sangat-sangat membantu. Adanya turnamen futsal seperti ini, minat mereka pun jadi semakin terasah. Mereka latihan itu tidak sia-sia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kompetisi memberi kesempatan kepada pemain untuk menguji hasil latihan secara langsung. Di lapangan, mereka dituntut untuk bekerja sama, mengikuti instruksi, menghadapi tekanan lawan, serta mempertahankan fokus sampai pertandingan selesai.

(Foto: ysr/mainkekudus)

Bagi pelatih, hasil pertandingan memang penting. Namun, pengalaman yang diperoleh pemain selama mengikuti turnamen juga menjadi bagian dari proses pembinaan. Pemain dapat mengetahui aspek permainan yang perlu ditingkatkan setelah menghadapi lawan dari sekolah lain.

Futsal Menjadi Ruang Bertemu Pelajar

(Foto: fz/mainkekudus)

IFL menunjukkan bahwa pertandingan futsal tingkat pelajar melibatkan lebih dari dua tim yang saling berhadapan. Ada pemain yang membawa hasil latihan dari sekolah, pelatih yang mendampingi proses pembinaan, guru pendamping, serta siswa yang hadir sebagai suporter.

Setiap pihak memiliki peran dalam membangun suasana kompetisi. Pemain bertanding di lapangan, pelatih memberikan arahan, dan suporter memberi dukungan untuk tim sekolah mereka.

Bagi Fariz, IFL menjadi tambahan pengalaman bertanding dan kesempatan memperkuat mental sebagai pemain. Bagi Fatih, kompetisi tersebut menjadi pengalaman pertama hadir sebagai suporter. Sementara bagi Paspen, pertandingan SMP 1 Kudus menjadi bagian dari kegiatan mereka dalam mendukung tim sekolah.

GOR Bung Karno pun tidak hanya digunakan sebagai tempat pertandingan, tetapi juga ruang pertemuan pelajar dari berbagai sekolah. Mereka datang untuk bertanding, mendampingi tim, maupun menyaksikan laga secara langsung.

(Foto: fz/mainkekudus)

Setelah pertandingan selesai, para pemain dan suporter meninggalkan GOR dengan pengalaman masing-masing. Ada tim yang membawa kemenangan, ada pemain yang mendapat bahan evaluasi, dan ada pula siswa yang pulang setelah memberi dukungan bagi sekolahnya.

IFL 2026 menjadi salah satu wadah bagi pelajar Kudus untuk berkompetisi, membangun pengalaman bertanding, dan memperkuat kegiatan olahraga antarsekolah. (OEB/YSR/FZ/mainkekudus)