Logo Kudus

Intip Keseruan Srikandi Fair, Semarakkan Turnamen Internasional Libatkan Warga Kudus

Diterbitkan: 21 Agustus 2026Penulis: Saldy Nurzaman

KUDUS – Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 tidak hanya menghadirkan pertandingan sepak bola putri di Kudus. Di sekitar rangkaian kompetisi, masyarakat juga mendapat ruang untuk berkumpul, menikmati hiburan, mencoba berbagai aktivitas, hingga mengenal produk lokal melalui Srikandi Fair.

Digelar di Lapangan Rendeng pada 17 Agustus – 23 Agustus 2026, Srikandi Fair menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang berlangsung bersamaan dengan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia. Area fair diisi 35 booth UMKM Kudus, berbagai permainan ketangkasan, wahana permainan anak, panggung hiburan, hingga layar besar untuk menyaksikan pertandingan Srikandi Merdeka Cup 2026.

Ada pula booth Bakti Olahraga Djarum Foundation yang menghadirkan berbagai merchandise olahraga, termasuk jersey dan produk lainnya. Kehadiran berbagai aktivitas tersebut membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk menikmati event, baik sebagai penonton pertandingan maupun sebagai pengunjung fair.

(Foto: SNS/mainkekudus)

Pembukaan Srikandi Fair diawali dengan kirab kebudayaan dari Alun-Alun Simpang Tujuh menuju Lapangan Rendeng. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dan Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton hadir bersama Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin serta Program Director Caffino Srikandi Merdeka Cup Teddy Tjahjono.

Kirab kebudayaan dari Alun-Alun Simpang Tujuh menuju Lapangan Rendeng. (Foto: AJ/mainkekudus)
Kirab kebudayaan dari Alun-Alun Simpang Tujuh menuju Lapangan Rendeng. Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris dan Wakil Bupati Kudus, Bellinda Birton bersama maskot Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026. (Foto: AJ/mainkekudus)
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris dan Wakil Bupati Kudus, Bellinda Birton bersama maskot Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026. (Foto: AJ/mainkekudus)
Maskot Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026, Kandi berinteraksi dengan para pelajar. (Foto: AJ/mainkekudus)
Peresmian Srikandi Fair di lapangan Rendeng, Kudus oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris dan Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton. (Sumber foto: jateng.antaranews.com)
Srikandi Fair pertemukan pelaku usaha UMKM dan Sports Tourism. (Foto: Istimewa)

Bagi Pemerintah Kabupaten Kudus, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat citra Kudus sebagai destinasi sports tourism sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Acara ini semakin menguatkan citra Kudus sebagai destinasi sport tourism, mengangkat ekonomi kerakyatan serta mengangkat prestasi putri bangsa melalui olahraga sepak bola bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia,” kata Sam’ani.

Teddy juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten dan masyarakat Kudus atas sambutan terhadap penyelenggaraan Srikandi Merdeka Cup 2026. Menurutnya, dukungan tersebut menunjukkan perkembangan ekosistem sepak bola putri di Kudus, yang memiliki pembinaan berjenjang dari usia dini hingga level tim nasional.

“Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten dan masyarakat Kudus atas dukungan untuk ikut mengembangkan sepak bola putri. Terlebih saat ini ada dua atlet asal Kudus yang memperkuat Timnas Indonesia. Sehingga menjadi hal yang membanggakan dan menjadi contoh pembinaan sepak bola putri yang diawali dari usia dini seperti MilkLife Soccer Challenge, HYDROPLUS Soccer League hingga level Timnas Putri U-16,” ucap Teddy.

Nonton Pertandingan Sambil Menikmati Festival Rakyat

Bagi pengunjung, Srikandi Fair menawarkan pengalaman yang berbeda dari area pertandingan. Masyarakat dapat berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, mulai dari mencicipi makanan, melihat produk lokal, mencoba permainan, menikmati musik, hingga menyaksikan pertandingan melalui layar besar.

Masyarakat Kudus nonton bareng (nobar) pertandingan timnas putri U-16 Indonesia di Srikandi Fair. (Sumber foto IG srikandimerdekacup)
Masyarakat Kudus nonton bareng (nobar) di Srikandi Fair. (Sumber foto IG srikandimerdekacup)
Masyarakat Kudus menyaksikan bersama (nobar) pertandingan Timnas Putri U-16 Indonesia melalui layar di Srikandi Fair. (Sumber: Instagram @srikandimerdekacup)

Nanda Dwi Fauziah, warga Kudus, datang dengan tujuan mengikuti pertandingan. Namun, keberadaan aktivitas lain di sekitar lokasi membuatnya penasaran untuk melihat Srikandi Fair.

“Di sebelah situ ada turnamen sepak bola, terus di sampingnya ada apaan nih, bikin penasaran. Event-nya bikin penasaran,” ujar Nanda.

Nanda Dwi Fauziah (kiri kerudung coklat). (Foto: DN/mainkekudus)

Rasa penasaran tersebut membawanya masuk ke area fair. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah pertunjukan musik yang berlangsung di panggung hiburan.

Live musiknya seru dengarnya, kayak mewah, meriah gitu,” katanya.

Bagi Nanda, keberadaan fair membuat kunjungan ke event olahraga memiliki aktivitas tambahan. Ia tidak hanya datang untuk menonton pertandingan, tetapi juga dapat menikmati suasana di sekitar lokasi.

Pengalaman lain yang berkesan baginya adalah melihat Supersoccer Arena Kudus menjadi tempat berlangsungnya kompetisi yang mempertemukan peserta dari tujuh negara. Menurut Nanda, Lapangan Rendeng yang selama ini dikenal sebagai tempat olahraga masyarakat menjadi bagian dari event internasional.

“Kita datang untuk pertandingan sama event Srikandi Fair-nya. Pertandingannya itu keren banget, kayak pemain-pemainnya wah banget. Kaget juga, biasanya Lapangan Rendeng ini jarang dipakai untuk event gede internasional kayak gini,” tuturnya.

Hadirkan UMKM Berbagai Produk

Jejeran stand makanan UMKM siap menyambut pengunjung di Srikandi Fair. (Sumber foto IG srikandimerdekacup)

Keramaian Srikandi Fair juga memberi ruang bagi pelaku UMKM Kudus untuk bertemu langsung dengan pengunjung. Salah satunya Yeti Yuniati, pemilik UMKM JV Hungry Queen yang akrab disapa Bu Vanessa.

Sejak 17 Agustus 2026, Yeti membuka lapak dengan membawa beberapa menu, mulai dari soto Betawi, rice bowl, hingga gorengan. Dari sejumlah pilihan tersebut, soto Betawi menjadi menu yang paling banyak diminati.

Yeti Yuniati atau Bu Vanessa, pemilik UMKM JV Hungry Queen, melayani pengunjung di Srikandi Fair. (Foto: DN/mainkekudus)

“Paling laris soto Betawi, karena jarang ada yang jual sama rasanya yang gurih,” kata Yeti.

Soto Betawi dijual Rp 25 ribu per porsi. Rice bowl dipatok Rp 15 ribu, sedangkan gorengan dijual Rp5 ribu untuk tiga buah.

Selama dua hari berjualan, sebagian besar pembelinya masih berasal dari Kudus dan daerah sekitar. Namun, ia juga mendapatkan pelanggan baru melalui interaksi selama fair.

Bagi Yeti, kesempatan bertemu konsumen secara langsung menjadi salah satu manfaat dari keikutsertaannya. Produk yang biasanya ditawarkan melalui usaha sehari-hari kini berada di tengah keramaian event yang didatangi masyarakat dengan kebutuhan berbeda.

“Ada sih pelanggan baru. Srikandi Fair ini tentu membuka peluang baru untuk dapat pelanggan baru. Rencana mungkin nanti mau buka warung sendiri,” ujarnya.

Keikutsertaan dalam event pun tidak hanya dinilai dari transaksi yang terjadi selama kegiatan. Bagi Yeti, pelanggan baru yang ditemui selama fair dapat menjadi peluang bagi perkembangan usahanya setelah event berakhir.

Nasi Jangkrik Perkenalkan Kuliner Khas Kudus

Aulia Farida menjual nasi jangkrik khas Kudus sebanyak 15 porsi habis terjual dalam sehari di Srikandi Fair. (Foto: DN/mainkekudus)

Cerita berbeda datang dari Aulia Farida yang membawa nasi jangkrik ke Srikandi Fair. Kuliner tersebut memiliki kaitan dengan tradisi masyarakat Kudus sehingga menjadi salah satu produk yang berbeda dari makanan lain di area fair.

Aulia Farida, penjual UMKM kuliner nasi jangkrik khas Kudus. (Foto: DN/mainkekudus)

Pada salah satu hari, 15 porsi nasi jangkrik yang disiapkan Aulia habis terjual. Pengunjung tidak hanya membeli, tetapi juga bertanya mengenai makanan tersebut karena namanya cukup menarik perhatian.

“Yang paling banyak dibeli itu nasi jangkrik, karena di sini beda sama UMKM lain. Apalagi nasi jangkrik kan biasanya adanya di saat tradisi buka luwur Sunan Kudus di Menara Kudus,” jelas Aulia.

Nasi jangkrik dijual Rp 12 ribu per porsi. Selain itu, Aulia menyediakan mie cup sekitar Rp10 ribu, es jelly ball Rp 10 ribu, serta jus buah dengan harga Rp6 ribu hingga Rp10 ribu.

Nasi jangkrik dikenal sebagai salah satu sajian khas Kudus yang biasa ditemui dalam tradisi buka luwur Sunan Kudus. Karena itu, kehadirannya di Srikandi Fair menjadi kesempatan untuk mengenalkan kuliner tersebut kepada pengunjung yang sebelumnya mungkin belum mengenalnya.

Aulia menggunakan daun jati sebagai alas di dalam wadah rice bowl. Menurutnya, cara tersebut membantu makanan tidak mudah tumpah sekaligus mempertahankan unsur khas dalam penyajian nasi jangkrik.

Sebagian besar pembelinya masih berasal dari masyarakat lokal. Namun, interaksi dengan pengunjung membuat Aulia melihat peluang untuk memperkenalkan produk tersebut kepada pasar yang lebih luas.

Aulia juga memiliki warung sendiri di rumah. Karena itu, keikutsertaannya dalam Srikandi Fair menjadi kesempatan membawa produk dari warungnya ke lingkungan yang berbeda.

“Harapannya ke depan bisa ikut lagi kalau ada event seperti ini, terus warung juga ramai, karena saya juga buka warung di rumah,” katanya.

Merchandise dan Aktivitas untuk Pengunjung

(Foto: Istimewa)

Selain kuliner, pengunjung juga dapat menemukan berbagai produk olahraga di booth Bakti Olahraga Djarum Foundation. Berbagai merchandise, termasuk jersey, menjadi bagian dari pilihan produk yang tersedia di area fair.

(Foto: SNS/mainkekudus)
(Foto: SNS/mainkekudus)

Kehadiran booth tersebut melengkapi aktivitas pengunjung yang ingin membawa pulang produk berkaitan dengan olahraga dan rangkaian Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026.

Sementara bagi pengunjung yang datang bersama keluarga, berbagai permainan ketangkasan dan wahana ramah anak memberikan pilihan aktivitas lain di luar pertandingan. Bianglala dan komidi putar menjadi bagian dari area permainan yang dapat dinikmati anak-anak.

(Foto: SNS/mainkekudus)

Komposisi tersebut membuat Srikandi Fair tidak hanya berisi aktivitas yang berkaitan langsung dengan pertandingan. Ada ruang untuk kuliner, permainan, belanja merchandise, hiburan, hingga menonton pertandingan dari layar besar.

Musisi Lokal Mendapat Panggung

Pertunjukan live music oleh band lokal Kudus menambah semarak suasana Srikandi Fair. (Foto: DN/MainKekudus)

Panggung hiburan menjadi bagian lain dari Srikandi Fair. Muhammad Taufiq Akbar atau Topar dari Muna Muni Band menjadi salah satu musisi yang tampil.

Sebagai musisi yang lahir di Kudus, kesempatan tampil dalam event yang mempertemukan peserta dari tujuh negara memberikan pengalaman tersendiri.

“Lebih luas, lebih internasional. Event ini event besar di Kudus. Saya sendiri lahir dari Kudus, di lereng Muria. Tampil di event ini dibanding event-event sebelumnya sangat berbahagia diberikan kesempatan untuk join,” ungkap Topar.

Topar (baju coklat topi merah) bersama personil band lainnya. (Foto: DN/mainkekudus)

Ia berharap penampilannya bersama Muna Muni Band dapat dinikmati masyarakat yang datang ke Srikandi Fair. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul dan menikmati hiburan bersama.

“Ini panggung rakyat, pesta rakyat. Saya pengen warga Kota Kudus pada datang ke sini, kita have fun bareng,” ujarnya.

Bagi Topar, hiburan memiliki hubungan yang erat dengan olahraga. Kompetisi dapat tetap menjadi fokus utama, sementara musik dan aktivitas lain memberikan pilihan bagi masyarakat selama berada di lokasi.

“Penting sekali, karena sport juga sportainment, hiburan pasti sangat berhubungan dengan olahraga. Di sebuah kompetisi kami di sini sifatnya menghibur, have fun bareng,” katanya.

Ia juga mengapresiasi kesempatan yang diberikan kepada musisi lokal untuk terlibat dalam event tersebut.

“Kami dari Muna Muni Musik sangat bangga dan terlibat dalam event Caffino Srikandi Merdeka Cup ini. Kami berterima kasih pada Djarum Foundation Bakti Olahraga yang telah memberikan tampilan olahraga yang berkelas internasional di Kudus,” tuturnya.

Olahraga, UMKM, dan Aktivitas Warga

Pengunjung menikmati Srikandi Fair dengan mengunjungi tenant kuliner dan hiburan di sela pertandingan Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026. (Foto: DN/mainkekudus)
(Foto: SNS/mainkekudus)

Srikandi Fair mempertemukan pertandingan, kuliner, UMKM, permainan, merchandise, dan hiburan dalam satu area. Pengunjung dapat menonton pertandingan, mencoba makanan, mengikuti permainan, membeli produk olahraga, atau menikmati penampilan musisi lokal.

Bagi pelaku usaha, keramaian fair menjadi kesempatan memperkenalkan produk dan menjangkau konsumen baru. Bagi musisi lokal, panggung Srikandi Fair membuka kesempatan tampil dalam event yang diikuti peserta dari tujuh negara. Sementara bagi masyarakat, beragam aktivitas tersebut memberi pilihan untuk menikmati rangkaian event di luar pertandingan.

Pengunjung berinteraksi dengan tenant Srikandi Fair sambil mengenal nasi jangkrik dan cerita di balik kuliner khas Kudus. (Foto: DN/mainkekudus)

Cerita Nanda, Yeti, Aulia, dan Topar menunjukkan bentuk keterlibatan yang berbeda. Nanda datang sebagai penonton dan menemukan aktivitas lain di fair. Yeti mendapatkan pelanggan baru untuk produknya, Aulia memperkenalkan nasi jangkrik yang terkait dengan tradisi Kudus, sedangkan Topar tampil bersama Muna Muni Band.

Kehadiran booth Bakti Olahraga Djarum Foundation dengan merchandise olahraga serta berbagai permainan ketangkasan dan wahana anak turut melengkapi aktivitas di lokasi.

(Foto: SNS/mainkekudus)

Rangkaian tersebut membuat Srikandi Fair menjadi bagian dari event olahraga yang juga memberi ruang bagi masyarakat dan pelaku lokal untuk terlibat. Pertandingan tetap menjadi bagian utama Caffino Srikandi Merdeka Cup, sementara aktivitas di sekitarnya mempertemukan pengunjung dengan produk, kuliner, hiburan, dan potensi lokal Kudus. (DN/mainkekudus)