

Karakter dan Mental Juara Dibentuk, Kemenangan Mengikuti
Kudus – Menjadi pesepak bola tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengolah bola atau menyusun strategi di lapangan. Ketika pertandingan dimulai, tantangan terbesar justru sering datang dari dalam diri sendiri. Rasa gugup, tekanan untuk tampil baik, hingga kemampuan bangkit setelah melakukan kesalahan menjadi bagian dari proses yang harus dipelajari setiap atlet sejak usia muda.
Proses itulah yang ikut dibangun dalam HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026. Turnamen sepak bola putri yang berlangsung di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, pada 5–12 Juli 2026 ini bukan hanya menghadirkan ruang bertanding bagi 16 tim kategori U-15 dan U-18 dari berbagai daerah di Indonesia. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang belajar bagi para pemain untuk mengenal disiplin, membangun kepercayaan diri, serta menyiapkan mental menghadapi setiap tantangan di lapangan.
Suasana tersebut terasa sepanjang penyelenggaraan turnamen. Ribuan penonton memadati tribun Supersoccer Arena, sementara pelaku UMKM, volunteer, dan petugas turut menciptakan atmosfer yang membuat pertandingan berlangsung dalam lingkungan yang hidup sekaligus tertata. Di tengah ramainya penyelenggaraan, para pemain muda menjalani proses yang mungkin tidak terlihat dari tribun: belajar mengendalikan emosi, menjaga fokus, dan tetap percaya pada kemampuan diri sendiri.
Karakter Sebelum Prestasi
Bagi Herry Susilo, pelatih Putri JP Jakarta U-18, pembinaan pemain usia muda tidak berhenti pada kemampuan teknis. Menurutnya, setiap turnamen merupakan kesempatan untuk membentuk karakter para pemain agar tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki sikap yang baik, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Ia melihat perubahan itu tumbuh seiring proses yang dijalani anak-anak asuhnya. Mereka belajar memahami arti tanggung jawab ketika mengenakan seragam tim, menghargai waktu, serta menjalankan setiap aturan yang telah disepakati bersama.
Dalam pandangannya, kesiapan mental memegang peranan yang sangat besar ketika pemain menghadapi pertandingan. Rasa minder saat bertemu lawan yang memiliki nama besar menjadi tantangan yang harus diatasi sejak awal. Karena itu, ia terus menanamkan keyakinan bahwa setiap pemain datang ke Kudus bukan sekadar untuk mengikuti turnamen, melainkan membawa kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang telah mereka bangun selama proses latihan.
Pembentukan karakter itu juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Para pemain dibiasakan bangun tepat waktu, menjaga kedisiplinan selama berada di luar lapangan, hingga menjalankan ibadah salat sesuai waktunya. Kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut, menurut Herry, ikut membentuk rasa percaya diri ketika para pemain memasuki pertandingan.
Baginya, pemain yang memiliki karakter kuat akan lebih siap menghadapi tekanan dibanding mereka yang hanya mengandalkan kemampuan teknis. Karena itu, pembinaan mental berjalan berdampingan dengan latihan fisik dan taktik selama turnamen berlangsung.
Setiap Orang Bertanggung Jawab untuk Bertumbuh
Proses membentuk mental pemain tidak hanya menjadi tanggung jawab pelatih. Di dalam sebuah tim, setiap orang memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang membuat para pemain berani belajar, mencoba, sekaligus bertumbuh bersama.
Hal itu dirasakan Fadhilah Raffi, official Putri JP Jakarta U-18 (Jakarta) yang telah mendampingi tim selama kurang lebih dua tahun sejak ajang Piala Pertiwi musim 2024 dan 2025.

Menurutnya, HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 menghadirkan sistem kompetisi yang tertata dan berjenjang sehingga memberi kesempatan bagi pemain-pemain muda dari berbagai daerah untuk berkembang menuju level yang lebih tinggi.
Namun, pengalaman yang paling berkesan baginya justru hadir dari dinamika yang tumbuh di dalam tim.
Raffi melihat Putri JP Jakarta bukan sekadar kumpulan pemain yang mengejar kemenangan. Di dalamnya, setiap orang belajar bersama. Para pemain terus mengasah kemampuan, sementara jajaran pelatih juga terbuka untuk memperbarui pengetahuan agar proses pembinaan berjalan lebih baik.
Selama mengikuti turnamen, berbagai tantangan tentu muncul. Meski demikian, komunikasi yang terbuka dan rasa saling memiliki membuat setiap persoalan dapat dihadapi bersama tanpa mengurangi semangat tim.
“Tantangannya sebenarnya lumayan banyak, tapi alhamdulillah semua tim, official, pemain, alhamdulillah bisa mengatasinya, masalahnya sama-sama,” tutur Fadhilah Raffi.
Menurutnya, suasana seperti itulah yang membantu para pemain berkembang, bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai pribadi yang mampu bekerja sama dan saling mendukung.
Disiplin Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Pandangan serupa juga disampaikan Ruly Hidayansyah, pelatih Cipta Cendikia FA U-15. Baginya, pembinaan karakter dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Di sela-sela persiapan menghadapi pertandingan, perhatian tim pelatih tidak hanya tertuju pada strategi atau evaluasi permainan lawan. Mereka juga memastikan para pemain menjaga pola tidur, mengatur pola makan, serta membatasi penggunaan telepon genggam, terutama menjelang pertandingan.
Kebiasaan tersebut diterapkan bukan sekadar untuk menjaga kondisi fisik, tetapi juga melatih disiplin dan tanggung jawab pemain terhadap diri sendiri.
“Harapan saya setelah kompetisi ini, teman-teman pemain tetap konsisten dengan value yang sudah kami tanamkan, terutama soal kedisiplinan,” ujar Coach Ruly. “Hal-hal kecil seperti menjaga pola tidur dan pola makan sangat membantu perkembangan pemain saat pertandingan.”
Bagi Coach Ruly, keberhasilan pembinaan tidak berhenti ketika turnamen usai. Nilai-nilai yang telah dipelajari selama mengikuti kompetisi diharapkan tetap melekat dalam keseharian para pemain dan menjadi bekal pada setiap jenjang karier yang akan mereka tempuh.
Belajar Mengendalikan Diri di Tengah Tekanan
Semua proses pembinaan itu akhirnya bermuara pada para pemain.
Bagi Keyssya Harun, bek Putri JP Jakarta U-18 (Jakarta), menjaga ketenangan sama pentingnya dengan menjaga lini pertahanan. Di tengah jadwal pertandingan yang padat dan lawan-lawan yang memiliki karakter permainan berbeda, ia belajar mengelola tekanan agar tetap fokus menjalankan tugasnya di lapangan.

Ketika kesempatan mengamati calon lawan secara langsung terbatas, tim memanfaatkan rekaman video dan siaran langsung pertandingan sebagai bahan evaluasi. Persiapan itu membuat setiap pemain memiliki gambaran mengenai peran yang harus dijalankan saat pertandingan dimulai.
Di luar latihan taktik, Keyssya juga memiliki cara sederhana untuk menenangkan diri. Sebelum memasuki lapangan, ia memilih membaca doa, berjalan sejenak, lalu meminta rekan setim menepuk pundaknya.
Rutinitas sederhana itu membantunya mengubah rasa gugup menjadi keyakinan. Bagi Keyssya, setiap pertandingan adalah kesempatan untuk menunjukkan hasil dari proses latihan yang telah dijalani bersama tim.
“Kita harus kasih yang terbaik semaksimal mungkin di pertandingan ini. Kalau nanti perjalanan ini berhenti, aku ingin dikenang sebagai pemain juara.”
Mengalahkan Lawan Pertama, Rasa Gugup
Bagi banyak atlet muda, lawan pertama sebelum memasuki lapangan bukanlah tim yang berada di seberang. Tantangan itu justru datang dari diri sendiri. Rasa gugup, cemas, hingga kekhawatiran melakukan kesalahan menjadi pengalaman yang hampir selalu menyertai setiap pertandingan.
Perasaan itu juga pernah dirasakan Yasmin Aprilianti, pemain Cipta Cendikia FA U-15 (Bogor). Ia mengaku sempat kesulitan mengendalikan ketegangan pada pertandingan-pertandingan awal. Namun seiring berjalannya waktu, pengalaman bertanding membantunya beradaptasi hingga rasa gugup perlahan berubah menjadi kepercayaan diri.

Proses tersebut tidak berlangsung tanpa tantangan. Selain menghadapi permainan lawan, Yasmin dan rekan-rekan setimnya juga harus beradaptasi dengan cuaca panas serta kondisi lapangan di Supersoccer Arena. Melalui komunikasi yang semakin baik, mereka belajar menghadapi situasi tersebut sebagai bagian dari proses berkembang bersama.
Di luar latihan, Yasmin memiliki cara tersendiri untuk menjaga ketenangan. Ia memilih mendengarkan musik bersama rekan-rekan setim sebelum pertandingan dimulai. Sementara itu, doa dari orang tua dan keluarga menjadi sumber semangat yang selalu menguatkannya. Sosok Cristiano Ronaldo yang dikaguminya juga menjadi pengingat untuk terus bekerja keras dalam setiap kesempatan.
Cara pandang Yasmin menunjukkan bahwa proses menjadi atlet tidak hanya tentang mengejar prestasi. Ada kerja keras, kedisiplinan, dan keinginan untuk terus berkembang yang menyertai setiap langkahnya bersama tim.
Bekal yang Dibawa Pulang
Setiap turnamen pada akhirnya memang akan berakhir. Akan tetapi, proses belajar yang dijalani para pemain tidak berhenti ketika peluit panjang dibunyikan.
Selama mengikuti HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026, para pemain tidak hanya memperoleh pengalaman bertanding. Mereka juga belajar mengelola tekanan, membangun rasa percaya diri, menjaga disiplin, menghargai kebersamaan, dan bertanggung jawab terhadap peran yang diemban di dalam tim. Nilai-nilai itu tumbuh melalui latihan, pertandingan, maupun kehidupan sehari-hari selama mengikuti turnamen.
Di sisi lain, penyelenggaraan HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 juga memperlihatkan bahwa pembinaan sepak bola putri tidak hanya berlangsung di dalam lapangan. Kehadiran pemain dari berbagai daerah, dukungan keluarga, keterlibatan volunteer, serta aktivitas pelaku UMKM di sekitar Supersoccer Arena menunjukkan bagaimana sebuah kompetisi mampu menghadirkan ruang belajar sekaligus memberi dampak bagi lingkungan sekitarnya.
Melalui penyediaan fasilitas olahraga berstandar internasional di Supersoccer Arena serta penyelenggaraan kompetisi usia muda yang berkelanjutan, Bakti Olahraga Djarum Foundation menyediakan ruang bagi para pesepak bola putri untuk berkembang sejak usia dini.
Pada akhirnya, kemampuan mengolah bola memang menjadi bekal penting bagi setiap pemain. Namun, pengalaman para atlet muda di HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 memperlihatkan bahwa ketenangan saat menghadapi tekanan, kedisiplinan dalam menjalani proses, serta karakter yang dibangun sejak dini menjadi fondasi yang tak kalah penting dalam perjalanan mereka sebagai pesepak bola. (JMY/ITN/SBR/mainkekudus)