

Kelancaran MilkLife Archery Challenge Kejurnas Panahan Junior 2026 Ditopang Banyak Tenaga Profesional
KUDUS – Ratusan atlet berdiri di garis tembak saat MilkLife Archery Challenge Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panahan Junior 2026 berlangsung di Supersoccer Arena Kudus pada 18–29 Juli 2026. Satu per satu pemanah muda mengambil posisi di garis tembak, mengangkat busur, menarik tali, lalu melepaskan anak panah menuju sasaran. Di tengah konsentrasi ratusan atlet, pertandingan tampak berjalan tenang. Sebanyak 906 atlet dari 29 provinsi datang untuk bersaing memperebutkan prestasi di tingkat nasional. Di balik jalannya pertandingan, puluhan petugas bekerja memastikan setiap sesi berlangsung sesuai aturan, aman, dan menghasilkan pencatatan skor yang akurat.
Perhatian penonton umumnya tertuju kepada atlet yang melepaskan anak panah menuju sasaran. Namun, kelancaran pertandingan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan para atlet.

Di balik setiap sesi perlombaan, puluhan petugas bekerja memastikan seluruh rangkaian pertandingan berlangsung sesuai aturan, aman, dan tertib. Mereka terdiri atas Ketua Komisi Wasit, wasit, tim pengolah hasil pertandingan, field crew atau kru lapangan, hingga Director of Shooting (DOS), yaitu petugas yang memimpin jalannya sesi penembakan sekaligus memastikan keamanan arena. Masing-masing menjalankan tugas yang berbeda, tetapi saling melengkapi untuk mendukung penyelenggaraan Kejurnas Panahan Junior 2026 hingga selesai.
Ketua Komisi Wasit Mengawal Penerapan Aturan Pertandingan
Sebelum anak panah pertama dilepaskan, pekerjaan perangkat pertandingan sebenarnya sudah dimulai. Briefing menjadi agenda awal untuk memastikan seluruh petugas memahami pembagian tugas, jadwal pertandingan, hingga mekanisme koordinasi selama kejuaraan berlangsung. Salah satu unsur yang memegang peran penting adalah Chief of Judge (COJ) atau Ketua Komisi Wasit, yang bertanggung jawab mengkoordinasikan seluruh wasit selama kejuaraan berlangsung.
Peran tersebut dijalankan Fauzul Muflih Darmawan. Selain membagi penugasan wasit, ia juga memastikan setiap pertandingan dipimpin sesuai ketentuan yang berlaku.

“Tugas utama dari dewan juri, kalau saya sebagai COJ atau Ketua Komisi Wasit, yaitu menugaskan wasit-wasit untuk memimpin di Kejurnas Junior kali ini. Dan juga yang terkait teknis perlombaan, itu nanti yang bertanggung jawab semuanya di COJ atau Ketua Komisi Wasit,” ujarnya saat ditemui di arena pertandingan.
Menurut Fauzul, seluruh pertandingan mengacu pada World Archery Rule, yaitu peraturan resmi yang menjadi pedoman penyelenggaraan kompetisi panahan internasional. Sebelum pertandingan dimulai, seluruh perangkat pertandingan terlebih dahulu mengikuti technical meeting atau rapat teknis untuk menyamakan pemahaman mengenai aturan yang akan diterapkan selama kejuaraan berlangsung.
Apabila terjadi sengketa di lapangan, penyelesaiannya dilakukan secara bertahap. Ketua Komisi Wasit menjadi pihak pertama yang mengambil keputusan. Jika persoalan belum dapat diselesaikan pada tahap tersebut, penanganannya akan diteruskan kepada Jury of Appeal, yaitu panel yang bertugas meninjau dan memutuskan keberatan atau sengketa selama pertandingan.
“Jadi, kalau kebetulan terjadi sengketa atau terjadi permasalahan, nanti pertama kali dari Ketua Komisi Wasit dulu yang bisa mengambil keputusan. Jika sampai Ketua Komisi Wasit belum mendapatkan keputusan hingga permasalahannya selesai, nanti akan dibantu oleh Jury of Appeal yang akan menyelesaikan permasalahan yang muncul,” katanya.
Menurut Fauzul, mekanisme tersebut diterapkan agar setiap persoalan dapat diselesaikan melalui prosedur yang telah ditetapkan, sehingga jalannya pertandingan tetap sesuai aturan dan memberikan kepastian bagi seluruh peserta.
Wasit Menjaga Penerapan Aturan bagi Atlet Junior
Saat pertandingan berlangsung, para wasit menjadi perangkat pertandingan yang paling dekat dengan atlet. Dari garis tembak, mereka memastikan setiap peserta mengikuti aturan yang sama, memperoleh perlakuan yang setara, serta mengawasi setiap proses penilaian hingga pertandingan selesai.
Wasit Nasional PERPANI (Persatuan Panahan Indonesia ), Eka Bayu Budi Ariesta, mengatakan tugas utama wasit adalah memastikan seluruh pertandingan berlangsung sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh World Archery.

“Untuk tugas wasit, kita memastikan bahwa kegiatan ini berjalan sesuai rule yang sudah disepakati bersama, yang mana rule itu sendiri sudah ditetapkan sebenarnya di internasional melalui World Archery, kita tinggal aplikasikan saja. Kemudian memastikan bahwa setiap atlet itu memiliki hak yang sama, termasuk memastikan bahwa skor-skor yang didapatkan atlet itu sesuai dengan perkenaan yang mereka tembak,” ujarnya.
Memimpin pertandingan kelompok usia junior, kata Eka, memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan kategori senior. Wasit tidak hanya dituntut tegas dalam menerapkan aturan, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan atlet maupun official atau pendamping tim agar setiap keputusan dapat dipahami dengan baik.
“Yang paling menantang kalau di kejurnas ini, yang jelas karena usianya masih junior, jadi kita perlu benar-benar hati-hati. Di satu sisi kita harus menegakkan aturan, di sisi lain kita juga harus menjaga perasaan atlet-atlet supaya tidak trauma. Gimana caranya kita komunikasi juga sama official supaya atletnya juga bisa aman dan terjaga perasaannya,” katanya.
Pendekatan tersebut dilakukan agar atlet memahami setiap keputusan wasit sebagai bagian dari proses belajar selama bertanding. Dengan demikian, penegakan aturan tetap berjalan tanpa mengurangi rasa percaya diri maupun kenyamanan atlet saat mengikuti kompetisi.
Tim Pengolah Data Memastikan Keakuratan Hasil Pertandingan
Usai setiap sesi penembakan, pekerjaan berlanjut ke tim pengolah data. Di tangan merekalah seluruh hasil pertandingan dikumpulkan, diperiksa, diolah, kemudian dipublikasikan sebagai hasil resmi yang menjadi acuan bagi para peserta.
Tugas tersebut dipimpin Wahyu Aryo Baskoro sebagai Result Manager yang membawahi tim Scoring & Timing, yaitu tim yang bertanggung jawab mengelola pencatatan skor dan waktu pertandingan.

“Saya membawahi di bagian tim pengolah data dan untuk registrasi peserta. Untuk pengolahan data itu nanti termasuk teman-teman scorer yang menuliskan skor dari para atlet. Nanti dari saya akan keluar dari juaranya,” ujarnya.
Proses pencatatan dimulai dari lembar pencatatan skor (score sheet) yang diserahkan setelah atlet menyelesaikan sesi penembakan. Data tersebut kemudian dimasukkan ke sistem digital menggunakan IANSEO, perangkat lunak resmi yang digunakan dalam kompetisi panahan untuk mengelola jadwal pertandingan, pencatatan skor, hingga hasil pertandingan.


Menurut Wahyu, tantangan terbesar muncul pada kategori usia U-10 dan U-13 karena sebagian atlet hanya mengisi nilai setiap tembakan tanpa menjumlahkan total skor.
“Tantangannya kalau untuk MilkLife Archery Challenge Kejuaraan Junior ini, karena banyak yang kelompok umur U-10, U-13, itu rata-rata atlet hanya mengisi skornya saja dan tidak dijumlahkan. Jadi untuk koreksinya juga agak susah,” ujarnya.
Karena itu, setiap data diperiksa kembali sebelum dipublikasikan agar hasil pertandingan sesuai dengan catatan di lapangan.
Field Crew Menyiapkan Arena dan Peralatan Pertandingan
Kelancaran pertandingan juga bergantung pada kesiapan arena. Tugas tersebut menjadi tanggung jawab field crew atau kru lapangan yang menangani penataan lapangan dan perlengkapan pertandingan.

Juwadi sebagai Field Crew Manager memimpin tim yang bertugas menyiapkan kebutuhan pertandingan sejak sebelum sesi dimulai hingga pertandingan selesai.

“Untuk tugas utama kita di penyelenggaraan ini menyiapkan lapangan dan kebutuhan-kebutuhan alat perlombaan,” katanya.
Pengalaman sebagai mantan atlet panahan membantu Juwadi memahami kebutuhan di lapangan. Ia menyebut nomor compound U-18 menjadi salah satu tantangan bagi timnya. Busur pada kategori ini memiliki daya dorong lebih besar sehingga anak panah kerap menembus bantalan sasaran. Saat kondisi itu terjadi, kru lapangan harus sigap melakukan penanganan agar pertandingan tetap berlangsung lancar tanpa mengganggu konsentrasi atlet.
Director of Shooting Mengatur Keamanan Pertandingan
Sementara pertandingan berlangsung, Director of Shooting (DOS) bertugas mengatur jalannya setiap sesi penembakan sekaligus memastikan aspek keselamatan di arena.
Farah Yumna mengatakan keselamatan menjadi prioritas utama sebelum aba-aba pertandingan diberikan.

“Yang paling utama memastikan safety lapangan. Karena memanah itu harus mengutamakan keselamatan. Kita memastikan di depan benar-benar tidak ada orang sebelum pertandingan dimulai. Kita juga memimpin jalannya perlombaan, mengoperasikan timer, sampai mengatur jalannya pertandingan,” ujarnya.

Dalam menjalankan tugasnya, DOS berkoordinasi menggunakan Handy Talky (HT), yaitu perangkat komunikasi radio yang menghubungkan petugas di berbagai titik arena. Sebelum memberikan aba-aba dimulainya pertandingan, DOS memastikan area di depan sasaran benar-benar steril serta sistem pengatur waktu (timer) telah siap digunakan sesuai nomor yang dipertandingkan. Ketelitian menjadi hal yang tidak bisa ditawar karena setiap keputusan yang diambil berkaitan dengan kelancaran pertandingan sekaligus keselamatan seluruh orang yang berada di arena.
Tak Berdiri di Garis Tembak, Tetapi Menentukan Jalannya Pertandingan
Kejuaraan panahan selalu menghadirkan cerita tentang atlet yang berlatih bertahun-tahun untuk mengejar prestasi. Namun, pertandingan tidak akan berlangsung hanya dengan kehadiran atlet dan pelatih.

Di balik setiap skor yang diumumkan, terdapat proses pemeriksaan data. Di balik setiap aba-aba mulai bertanding, ada petugas yang memastikan arena benar-benar aman. Di balik setiap keputusan wasit, ada aturan yang diterapkan secara konsisten. Sementara di sisi lapangan, kru terus bergerak menyiapkan perlengkapan agar pertandingan berikutnya dapat segera dimulai.
Sebagian besar pekerjaan itu berlangsung tanpa sorotan. Nama mereka tidak tercantum dalam daftar peraih medali, tetapi kehadiran mereka menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan Kejurnas Panahan Junior 2026. Melalui koordinasi, ketelitian, dan disiplin yang mereka jalankan sepanjang pertandingan, ratusan atlet dapat bertanding dalam arena yang tertata, aman, serta mengikuti aturan yang sama hingga anak panah terakhir dilepaskan. (JMY/mainkekudus)
