Logo Kudus

Kudus, Ini Kesan Pertama Tim Yordania, Singapura, dan Hong Kong, China

Diterbitkan: 15 Agustus 2026Penulis: Saldy Nurzaman

KUDUS – Kedatangan para pemain dan official dari tujuh negara ke Kudus membawa pengalaman baru bagi mereka yang baru pertama kali mengenal kota di Jawa Tengah ini. Sejak tiba, kesan tentang Kudus muncul dari hal-hal sederhana, mulai dari keramahan warga, suasana lingkungan, hingga interaksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 berlangsung pada 14–23 Agustus 2026 di Supersoccer Arena, Rendeng, Kudus. Ajang U-16 ini diikuti delapan tim dari tujuh negara Asia, dengan Indonesia menurunkan Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara.

Delapan tim dari tujuh negara Asia mengikuti Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 di Supersoccer Arena, Rendeng, Kudus, 14–23 Agustus 2026. (Foto: HNR/mainkekudus)

Bagi para peserta dari luar Indonesia, kesempatan berada di Kudus menjadi pengalaman untuk mengenal tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya. Mereka datang membawa kebiasaan dan cerita masing-masing, lalu menemukan kesan baru ketika tiba di kota ini. 

Kudus bagi Atlet Yordania, Nadine

Bagi Nadine Abu Salha, perjalanan ke Kudus sekaligus menjadi pengalaman pertamanya datang ke Indonesia. Gelandang Timnas Putri U-16 Yordania itu baru tiga hari berada di Kudus ketika menceritakan kesan yang ia rasakan. 

Nadine Abu Salha, Pemain Timnas Putri U-16 asal Yordania. (Foto: HNR/mainkekudus)

Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah sambutan masyarakat. Meski berada jauh dari Yordania dan berada di lingkungan yang berbeda, Nadine merasa tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi.

“Ini pertama kalinya saya di Kudus. Lingkungannya sangat menyambut dan hangat. Orang-orang di sini sangat ramah, dan rasanya seperti di rumah sendiri,” tutur Nadine.

Selain keramahan warga, lingkungan Kudus juga meninggalkan kesan tersendiri bagi pemain berusia 16 tahun tersebut. Pemandangan hijau yang ia temui menjadi salah satu hal yang paling ia ingat sejak kedatangannya.

“Saya ingat saat melihat alamnya, sungguh sangat indah. Di luar sana sangat hijau, dan saya sangat menyukainya,” ujarnya.

Perbedaan lingkungan juga membuat Nadine perlu menyesuaikan diri dengan cuaca Kudus yang lebih lembap dibandingkan Yordania. Namun, penyesuaian tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman baru yang ia rasakan selama berada di Indonesia.

Kesempatan berada di Kudus kemudian membuka pengalaman lain bagi Nadine, yaitu mengenal budaya dan bertemu dengan orang-orang dari negara berbeda.

“Sepak bola menyatukan kita semua, dan kami di sini juga untuk mempelajari kebudayaan lain. Keramahan orang-orang di sini luar biasa, kami merasa diperlakukan seperti bagian dari warga lokal,” kata Nadine.

Bagi Nadine, kesan pertama tersebut membuat Kudus memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan pertamanya ke Indonesia. Ia berharap pengalaman yang didapat selama berada di kota ini menjadi cerita yang menyenangkan ketika kembali ke Yordania.

“Semoga kami bisa membawa pulang kisah yang sangat membahagiakan, di mana kami pulang ke rumah sebagai juara.” 

Singapura Apresiasi Kesiapan Kudus

Kesan tentang Kudus juga datang dari Jeremy Chiang Wei Jian, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Singapura. Sebagai official tim, Jeremy melihat pengalaman berada di Indonesia dari sisi yang berbeda.

Chiang Wei Jian Jeremy, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Singapura bersama pemain Singapura Nur Auni Shellah Binte Nor Azri. (Foto: HNR/mainkekudus)

Sejak rombongannya tiba, ia memperhatikan bagaimana berbagai kebutuhan kontingen dipersiapkan. Perjalanan dari bandara hingga dukungan untuk kebutuhan media menjadi bagian dari pengalaman pertamanya bersama penyelenggara.

“Pertama-tama, saya ingin berterima kasih kepada PSSI dan panitia. Sejak kami mendarat di bandara, kita bisa melihat betapa profesionalnya segala sesuatu yang telah disiapkan mulai dari bus penjemputan hingga kesiapan media, semuanya sangat mengesankan,” ungkap Jeremy.

Timnas Putri Singapore. (Foto dok. srikandimerdekacup)
Timnas Putri Singapore. (Foto dok. srikandimerdekacup)

Perhatian tersebut membuat pengalaman berada di Kudus tidak hanya dirasakan oleh pemain. Official yang mendampingi tim juga berinteraksi dengan lingkungan baru selama mempersiapkan kebutuhan skuad. 

Jeremy bahkan sempat mencairkan suasana dengan berbicara mengenai bahasa. Interaksi dengan orang-orang Indonesia menjadi pengalaman tersendiri baginya, terutama ketika ia mencoba memahami cara berkomunikasi dalam lingkungan yang berbeda.

Candaan mengenai bahasa itu menunjukkan sisi lain dari kedatangan para kontingen. Di tengah agenda yang terikat jadwal, pertemuan dengan masyarakat dan panitia tetap memberi ruang untuk interaksi yang lebih santai.

Bagi Jeremy, pengalaman di Kudus juga menjadi kesempatan untuk membawa timnya keluar dari lingkungan yang biasa mereka kenal. Para pemain dapat bertemu dengan kelompok sebaya dari negara lain dalam satu tempat dan menjalani kegiatan bersama selama turnamen.

Tim Hong Kong, China Temukan Suasana Berbeda di Kudus

Wong Hiu Yau Hazel (jaket kuning) Kapten Timnas Putri u-16 Hong Kong bersama pelatih Chan Suk Chi. (Foto: HNR/mainkekudus)

Cerita berbeda datang dari Wong Hiu Yau Hazel, kapten Timnas Putri U-16 Hong Kong, China. Sebelum tiba di Kudus, Hazel dan rekan-rekan setimnya menjalani pemusatan latihan di Jepang. 

Pengalaman di Jepang menjadi bagian penting dari persiapan mereka. Di sana, para pemain tidak hanya mempersiapkan diri, tetapi juga membangun hubungan yang lebih kuat sebagai sebuah tim. 

“Saya pikir kami sudah memiliki persiapan yang matang dari kamp pelatihan terakhir kami di Jepang. Rekan-rekan setim saling mendukung, baik di dalam maupun di luar lapangan,” kata Hazel. 

Setelah meninggalkan Jepang dan tiba di Indonesia, pengalaman baru kembali dimulai. Kudus menjadi lingkungan berikutnya yang harus mereka kenali, sekaligus tempat bertemunya para pemain muda dari berbagai negara. 

Timnas putri Hong Kong (China) ketika tiba di Bandar Udara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah. (Sumber foto IG stories srikandimerdekacup)

Hazel dan timnya datang membawa cerita dari Jepang, lalu menemukan suasana yang berbeda di Kudus. Ia bertemu dengan pemain dari negara lain dan menjalani hari bersama timnya dalam lingkungan yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. 

Sebagai kapten, Hazel juga melihat pengalaman tersebut dari sisi kepemimpinan. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi memastikan rekan-rekan setim dapat menjalani perjalanan bersama dengan baik.

Pertemuan dengan pemain dari negara lain juga menjadi pengalaman berharga bagi para pemain muda Hong Kong, China. Interaksi lintas negara tersebut dapat menjadi bekal tambahan sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke agenda sepak bola berikutnya.

Supersoccer Arena Jadi Titik Pertemuan

Supersoccer Arena Kudus menjadi lokasi seluruh pertandingan Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 di Kudus. (Sumber foto dok. mainkekudus)

Supersoccer Arena menjadi tempat para peserta menjalani rangkaian kegiatan Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 di Kudus.

Bagi peserta dari luar Indonesia, arena tersebut menjadi salah satu tempat pertama yang mereka kenal di kota ini. Delapan tim dari Yordania, Singapura, Hong Kong, China, Thailand, Malaysia, Arab Saudi, serta dua tim Indonesia berada dalam satu lingkungan selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Pertemuan di satu tempat membuat para pemain muda dari berbagai negara memiliki kesempatan untuk saling mengenal. Mereka datang dengan bahasa, kebiasaan, dan latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki ruang yang sama untuk berinteraksi.

Di luar agenda utama, para peserta juga beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dari perjalanan, percakapan dengan panitia, hingga pertemuan dengan orang-orang baru, setiap aktivitas memberi pengalaman yang berbeda.

Nadine mengingat keramahan warga dan lingkungan hijau Kudus. Jeremy memperhatikan bagaimana penyelenggara menyambut kontingen sejak mereka tiba. Sementara Hazel dan timnya menemukan suasana baru di Indonesia.

Kesan mereka pun terbentuk dari hal-hal yang mereka alami sendiri. 

Kudus Dikenal Lewat Hal-Hal Sederhana

(Foto: HNR/mainkekudus)

Kesan tentang sebuah kota tidak selalu muncul dari tempat yang dikunjungi secara khusus. Bagi para peserta Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026, beberapa pengalaman justru hadir dari hal-hal yang mereka temui selama menjalani rutinitas sebagai kontingen.

Sapaan warga, perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, suasana lingkungan, komunikasi dengan panitia, serta pertemuan dengan pemain dari negara lain menjadi bagian dari pengalaman selama berada di Kudus.

Hal-hal sederhana tersebut memberi gambaran berbeda kepada setiap peserta. Mereka datang dengan latar belakang negara dan kebiasaan yang berbeda, tetapi berada dalam situasi yang sama sebagai tamu di sebuah kota yang baru mereka kenal.

Bagi Nadine, keramahan warga membuat Kudus terasa nyaman. Bagi Jeremy, kesiapan penyelenggaraan menjadi pengalaman yang terlihat sejak kedatangan. Sementara Hazel menjalani Kudus sebagai bagian dari perjalanan tim setelah melewati pemusatan latihan di Jepang.

Pengalaman itu kemudian berjalan berdampingan dengan agenda utama mereka. Pertandingan tetap menjadi tujuan kedatangan, tetapi hari-hari sebelum dan selama turnamen memberi ruang bagi peserta untuk mengenal tempat yang sebelumnya belum mereka kenal.

Peserta Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 membawa pengalaman baru dari Kudus, mulai dari pertemuan dengan warga hingga berinteraksi dengan pemain dari negara lain. (Sumber foto dok. srikandimerdekacup)

Ketika para peserta akhirnya meninggalkan Kudus setelah seluruh rangkaian turnamen selesai, yang dibawa pulang bukan hanya catatan hasil pertandingan. Ada pengalaman tentang kota yang baru pertama kali mereka datangi, orang-orang yang mereka temui, dan pemain dari negara lain yang menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Bagi pemain muda seperti Nadine, pengalaman pertama di Indonesia dapat menjadi cerita tersendiri ketika kembali ke Yordania. Begitu pula bagi pemain Singapura dan Hong Kong, China yang menjalani hari-hari di Kudus sebagai bagian dari perjalanan sepak bola mereka.

Kesan tersebut tidak harus datang dari sesuatu yang besar. Keramahan warga, lingkungan yang berbeda, percakapan singkat, suasana venue, dan pertemuan dengan teman baru dapat menjadi bagian yang justru mudah diingat.

Kudus, dalam pengalaman para tamunya, akhirnya dikenal melalui hal-hal yang mereka lihat dan rasakan sendiri. Sebelum pertandingan menentukan siapa yang menang dan siapa yang harus pulang lebih awal, kota ini lebih dulu memberi mereka pengalaman baru.

Dan ketika perjalanan mereka berlanjut ke negara masing-masing, cerita tentang Kudus ikut menjadi bagian dari perjalanan yang mereka bawa pulang. (HNR/mainkekudus)

KEGIATAN TERKAIT

Srikandi Merdeka Cup 2026

Srikandi Merdeka Cup 2026

14 - 23 Agustus 2026
Kudus, Ini Kesan Pertama Tim Yordania, Singapura, dan Hong Kong, China | Main ke Kudus