

Memupuk Semangat Bulu Tangkis di Hydroplus Bupati Cup XX 2026
KUDUS – Riuh pertandingan terakhir Hydroplus Bupati Cup XX 2026 perlahan mereda. Para atlet meninggalkan lapangan dengan hasil yang berbeda. Ada yang masih merasakan kegembiraan setelah memastikan gelar juara, ada pula yang harus menerima kekalahan di partai final. Namun, bagi keduanya, pertandingan terakhir bukan sekadar penentu posisi di podium.
Muhammad Ragil Fahrudin dari PB E’France Kudus menutup kompetisi dengan gelar juara pertama kategori tunggal putra taruna. Sementara Fakhriyan Zaidan Nabil, yang juga berasal dari klub yang sama, mengakhiri perjalanan sebagai juara kedua setelah kalah pada pertandingan final.
Hasil tersebut menjadi bagian kecil dari rangkaian perjalanan keduanya selama mengikuti kompetisi. Di balik pertandingan terakhir, ada latihan, menjaga kondisi, menghadapi lawan, dukungan keluarga, arahan pelatih, serta pengalaman yang akan dibawa kembali ketika mereka meninggalkan arena.
Ragil dan Gelar Juara Pertamanya

Bagi Ragil, kemenangan di Hydroplus Bupati Cup XX 2026 memiliki arti tersendiri. Ia tidak hanya pulang sebagai juara, tetapi juga merasakan untuk pertama kalinya berdiri di posisi tersebut dalam perjalanan kompetisinya.
“Senang bisa juara, bangga bisa jadi juara,” ujar Ragil.
Perjalanan menuju final tidak selalu berjalan mudah. Salah satu situasi yang paling menantang baginya justru terjadi ketika harus menghadapi lawan dari klub sendiri. Kedekatan sebagai rekan latihan tidak membuat pertandingan menjadi lebih sederhana. Ragil tetap harus menjaga permainan agar tidak kehilangan konsentrasi.
“Bagian tersulit itu menjaga konsistensi sama lawan teman klub sendiri,” katanya.
Menjaga kondisi fisik dan permainan menjadi bagian yang dilakukan Ragil hingga pertandingan terakhir. Pada saat yang sama, kehadiran keluarga menjadi dukungan tersendiri. Orang tua dan keluarga datang langsung menyaksikan pertandingan, mengikuti perjalanan Ragil dari luar lapangan.
Momen yang paling ia ingat kemudian datang ketika berhasil mencapai final. Babak tersebut menjadi pengalaman baru sekaligus membuka kesempatan untuk mendapatkan gelar juara pertamanya.
“Paling diingat bisa masuk final karena ini pertama kali juara,” tuturnya.
Setelah memastikan kemenangan, Ragil mempersembahkan gelar tersebut kepada orang tuanya. Bagi dirinya, pencapaian di lapangan tidak terlepas dari dukungan yang ia terima selama menjalani perjalanan sebagai atlet.
Fakhriyan Belajar dari Pertandingan Terakhir

Beberapa meter dari cerita kemenangan Ragil, Fakhriyan menjalani akhir kompetisi dengan hasil berbeda. Ia harus menerima kekalahan di final dan menempati posisi juara kedua.
Namun, perjalanan menuju pertandingan terakhir tetap menjadi pengalaman yang berarti. Fakhriyan sebelumnya telah menjalani latihan rutin sebagai persiapan menghadapi turnamen. Ketika pertandingan selesai, ia tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga mencoba mengenali bagian yang masih harus diperbaiki.

“Harus giat lagi latihan karena masih ada kekurangan biar dapat juara satu,” katanya.
Salah satu catatan yang ia bawa dari pertandingan terakhir adalah kondisi fisik. Fakhriyan mengakui stamina yang belum maksimal turut mempengaruhi penampilannya ketika menghadapi final.
“Terutama di fisik, tadi kalah karena fisik jelek masih kurang,” ujarnya.
Catatan tersebut kemudian menjadi pekerjaan berikutnya. Ia ingin kembali berlatih dan memperbaiki kondisi fisik agar lebih siap menghadapi pertandingan lain.
Meski tidak mendapatkan gelar juara pertama, Fakhriyan tetap merasa senang menjadi bagian dari kompetisi.
“Pengalaman ya senang meskipun nggak dapat juara satu,” katanya.
Baginya, kekalahan di final tidak menghapus perjalanan yang sudah dilalui sejak awal turnamen. Justru dari pertandingan terakhir itu ia mendapatkan gambaran mengenai bagian permainan yang masih perlu dikembangkan.
Motivasi Terus Diberikan
Di balik pertandingan yang dijalani Ragil dan Fakhriyan, ada pelatih yang mengikuti perkembangan mereka dari latihan hingga kompetisi. Nico Meysia Putra Pratama, pelatih PB E’France Kudus, mengatakan klubnya mengirimkan 16 atlet dalam beberapa kelompok usia, mulai dari anak-anak, pemula hingga taruna.

Selama turnamen, Nico melihat perkembangan pada sejumlah atlet, baik dari sisi mental, teknik, pukulan maupun kondisi fisik. Salah satu perkembangan yang ia lihat pada Ragil adalah kesiapan mental yang semakin terbentuk selama kompetisi.
“Perkembangan terutama dari mentalnya, lebih dapat mental juaranya, teknik, pukulan juga fisiknya juga meningkat,” jelasnya.
Menurut Nico, menjaga kondisi mental menjadi salah satu bagian yang tidak kalah penting dari persiapan teknik. Atlet muda dapat mengalami perubahan kepercayaan diri ketika menghadapi pertandingan dengan jumlah penonton yang banyak.
“Tantangan terbesar itu menjaga mental atlet, karena bertanding dengan penonton yang banyak kadang mental bertanding itu turun,” ujarnya.
Karena itu, motivasi terus diberikan selama pertandingan berlangsung. Atlet diarahkan untuk tetap memiliki semangat bertanding dan menjaga fokus hingga pertandingan selesai.
Pada partai final, Nico melihat semangat untuk memenangkan pertandingan menjadi salah satu hal yang membantu Ragil tampil sesuai persiapannya.
“Mungkin semangatnya ya, Mas, semangat untuk juara, semangat untuk menang ini jadi kunci di partai final,” kata Nico.
Setelah Hydroplus Bupati Cup XX 2026 berakhir, perjalanan para atlet PB E’France Kudus belum berhenti. Atlet pemula dipersiapkan untuk mengikuti turnamen lain, termasuk Sirnas C di Yogyakarta dan berbagai kejuaraan yang akan berlangsung di Kudus.
Dukungan Keluarga
Bagi seorang atlet muda, perjalanan menuju pertandingan juga berlangsung di luar arena. Keluarga menjadi salah satu pihak yang ikut mengikuti proses tersebut.
Dwi Ernawati, ibu Fakhriyan, sudah mendampingi putranya bertanding sejak ia duduk di kelas tiga sekolah dasar. Ia berusaha hadir ketika Fakhriyan mengikuti pertandingan, baik nomor tunggal maupun ganda.
“Memang saya selalu mendampingi anak, selalu datang mendukung anak saat bertanding di turnamen apa pun,” ujarnya.

Selama bertahun-tahun mengikuti pertandingan, Dwi melihat bagaimana Fakhriyan berusaha membangun mental bertanding. Kekalahan tidak membuat keinginan untuk kembali mencoba hilang. Ia justru sering menyampaikan kepada ibunya bahwa dirinya harus bisa.
“Perjuangannya dia sangat semangat, excited di setiap pertandingannya, saya harus bisa, mah, gitu bilangnya ke saya,” tutur Dwi.
Bagi Dwi, kebanggaan terhadap Fakhriyan tidak hanya muncul ketika sang anak menang. Setiap usaha dan poin yang diperjuangkan di lapangan juga menjadi bagian dari perjalanan yang ia ikuti.
Ia berharap Fakhriyan tetap mempertahankan semangat berlatih selama masih memiliki keinginan untuk berkompetisi di bulu tangkis.
Kehadiran keluarga tersebut memperlihatkan bahwa pertandingan yang berlangsung selama beberapa hari memiliki cerita yang lebih panjang. Di belakang seorang atlet, ada orang-orang yang mengikuti latihan, pertandingan, kemenangan, sekaligus kekalahan.
Harapan Munculnya Atlet-atlet Baru
Perjalanan para atlet menjadi bagian dari tujuan yang ingin dibangun melalui Hydroplus Bupati Cup XX 2026. Ketua Panitia, Widhoro Heriyanto, mengatakan kompetisi tersebut tidak hanya diarahkan untuk mencari pemenang, tetapi juga menjadi ruang bagi munculnya atlet baru.
“Dari event ini kita mengharapkan ada kader-kader lagi yang menggantikan seniornya, regenerasi,” katanya.

Bagi atlet usia dini, semakin banyak kesempatan bertanding berarti semakin banyak pengalaman yang dapat diperoleh. Mereka dapat menguji kemampuan yang selama ini dibangun dalam latihan ketika menghadapi lawan dan situasi pertandingan yang sebenarnya.
Pengalaman tersebut tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Ada atlet yang menemukan kekuatan permainannya, sementara atlet lain menemukan kekurangan yang harus diperbaiki. Keduanya tetap menjadi bagian dari proses pembinaan.
Kompetisi juga memberi pengalaman dalam menghadapi tekanan pertandingan, penonton, lawan, dan situasi yang tidak selalu bisa diprediksi ketika berlatih di klub.
Karena itu, hasil final tidak menjadi satu-satunya ukuran dari perjalanan atlet. Bagi penyelenggara, keberadaan kompetisi juga berkaitan dengan bagaimana atlet mendapatkan ruang untuk terus berkembang dan mempersiapkan diri menuju pertandingan berikutnya.
Peluang bagi UMKM

Selama kompetisi berlangsung, arena tidak hanya diisi atlet dan pelatih. Keluarga serta penonton turut hadir mengikuti pertandingan. Kehadiran mereka membuat suasana pada hari terakhir semakin ramai.
Aktivitas tersebut juga dirasakan oleh pelaku UMKM di sekitar lokasi. Heny Safitri, salah satu penjual makanan dan minuman, ikut berjualan selama kegiatan berlangsung.
Ia menawarkan sejumlah produk, mulai dari es jeruk lokal Kudus, roti bakar hingga mi. Menurut Heny, suasana pada hari final terasa lebih ramai dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Kalau hari biasa lumayan biasa saja, Mas. Kalau yang ini final lumayan ramai, udah dari pagi lumayan ramai,” katanya.

Roti bakar dan mi menjadi beberapa produk yang banyak dicari pengunjung. Sementara es jeruk berbahan jeruk lokal Kudus tetap memiliki pembeli, meskipun penjualannya relatif seperti hari biasa.
Bagi Heny, kehadiran dalam kegiatan olahraga juga memberikan kesempatan bagi UMKM untuk memperkenalkan produk kepada pengunjung.
“Ya karena mungkin untuk mengembangkan UMKM ya, Mas. Jualannya lumayan kalau di sini, bisa mengembangkan produk-produk kita, bisa dikenal sama orang lain,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan olahraga kembali digelar sehingga pelaku UMKM memiliki ruang untuk berjualan dan memperkenalkan produk mereka.
Perbaikan Diri

Ketika Hydroplus Bupati Cup XX 2026 berakhir, Ragil dan Fakhriyan meninggalkan kompetisi dengan hasil berbeda. Ragil membawa gelar juara pertama sekaligus pengalaman merasakan final dan kemenangan pertamanya. Fakhriyan membawa gelar juara kedua serta catatan mengenai kondisi fisik yang masih perlu diperbaiki.
Namun, perjalanan keduanya tidak berhenti pada posisi di podium.
Ragil masih memiliki latihan dan kompetisi lain yang menunggu. Fakhriyan juga memiliki pekerjaan untuk meningkatkan stamina dan memperbaiki kekurangan yang ia temukan dari pertandingan terakhir. Pelatih akan kembali mendampingi, sementara keluarga tetap menjadi bagian dari perjalanan di luar lapangan.
Di antara pertandingan, ada penonton yang datang memberikan dukungan dan pelaku UMKM yang ikut merasakan ramainya kegiatan. Semua berada dalam ruang yang sama, tetapi membawa pengalaman masing-masing.

Final memang menentukan siapa yang menjadi juara. Namun, ketika pertandingan selesai, setiap atlet pulang dengan cerita yang berbeda.
Ada yang membawa piala sebagai hasil dari pertandingan terakhir. Ada yang membawa evaluasi setelah mengetahui bagian permainan yang masih kurang. Keduanya sama-sama membawa pengalaman dari Kudus untuk kembali berlatih, menghadapi pertandingan berikutnya, dan melanjutkan perjalanan sebagai atlet. (DN/HNR/mainkekudus)