Logo Kudus

Mengenal Mereka yang Menjaga Kenyamanan Berlangsungnya Event Olahraga di Supersoccer Arena Kudus

11 Juli 2026Saldy Nurzaman

Kudus – Gemuruh tepuk tangan menggema dari tribun. Sorak-sorai penonton pecah setiap kali bola bergulir mendekati gawang. Kamera mengikuti setiap pergerakan para pesepak bola putri yang berjuang tanpa lelah di atas rumput hijau Supersoccer Arena Kudus.

Namun, di balik setiap gol, setiap penyelamatan, dan setiap selebrasi kemenangan pada HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 yang berlangsung pada 5–12 Juli 2026, ada kisah lain yang nyaris tak pernah masuk ke dalam bingkai kamera.

Turnamen yang mempertemukan 16 tim sepak bola putri kategori U-15 dan U-18 dari berbagai daerah itu memang menghadirkan pertandingan-pertandingan yang kompetitif. Akan tetapi, jalannya sebuah kompetisi sebesar ini tidak hanya ditentukan oleh para pemain, pelatih, ataupun wasit. Ada banyak tangan yang bekerja sejak sebelum matahari terbit hingga stadion kembali sunyi pada malam hari.

Mereka bukan pencetak gol. Mereka juga bukan sosok yang berdiri di podium saat piala diangkat tinggi. Meski demikian, tanpa pekerjaan mereka, pertandingan tak mungkin berlangsung dengan aman, nyaman, dan tertata.

Di Supersoccer Arena Kudus, ada Supangat yang memimpin pengamanan stadion, Bachtiar Arifin yang merawat setiap jengkal rumput lapangan, Indah Purnamasari yang memastikan seluruh area tetap bersih, Agung Kuncoro yang menjaga ketertiban di sisi lapangan.  Mereka bekerja jauh dari sorotan. Namun, dari tangan-tangan yang jarang terlihat itulah sebuah turnamen besar dapat berjalan dengan baik.

Menjaga Ribuan Orang dengan Pendekatan Humanis

Bagi Supangat, pertandingan sepak bola bukan hanya soal siapa yang menang dan kalah. Sebagai Kepala Sektor Security Supersoccer Arena Kudus, setiap hari ia memikul tanggung jawab atas keselamatan ratusan hingga ribuan orang yang datang ke stadion.

Supangat, Kepala Sektor Keamanan. (Foto: DN/mainkekudus)

Pengamanan dilakukan melalui dua shift kerja. Shift pertama berlangsung pukul 06.00–14.00 WIB, sedangkan shift kedua pukul 13.00–21.00 WIB. Masing-masing shift diisi 30 personel yang disebar di berbagai titik penting, mulai dari gerbang utama, pintu masuk sepeda motor, area parkir VIP dan pengunjung, hingga akses menuju locker room sisi utara dan selatan.

Namun, turnamen kelompok umur menghadirkan tantangan yang berbeda.

Mayoritas penonton merupakan anak-anak bersama keluarga mereka. Karena itu, pendekatan yang diterapkan bukan sekadar pengamanan, melainkan juga perlindungan yang mengedepankan sisi kemanusiaan.

Empat personel ditempatkan khusus di tribun untuk mengawasi anak-anak agar tidak bermain di dekat pagar pembatas yang relatif pendek. Pengamanan tersebut juga diperkuat oleh bantuan enam personel Polri, empat personel TNI, serta dua personel Satpol PP.

“Momen yang paling berkesan bagi kami adalah karena ini merupakan agenda untuk anak-anak. Sebagian besar penonton juga anak-anak, sehingga kami mengedepankan pendekatan yang lebih humanis. Kami tekankan kepada setiap personel di semua titik pengamanan agar melakukan pengawasan terhadap anak-anak dengan cara yang halus dan humanis,” ujar Supangat. 

Selama bertugas, Supangat menyaksikan berbagai ekspresi yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Ia melihat anak-anak menangis haru setelah mencetak gol, orang tua yang memeluk putrinya setelah pertandingan usai, hingga wajah-wajah yang tetap menyimpan harapan meski belum berhasil meraih kemenangan.

Baginya, setiap pertandingan menghadirkan cerita yang berbeda. Tim keamanan bukan hanya menjaga stadion, tetapi juga ikut menjaga ruang tumbuh bagi mimpi-mimpi para atlet muda.

“Para atlet ini masih anak-anak. Jadi ketika mereka bisa mencetak gol atau meraih kemenangan, rasa harunya benar-benar terlihat, bahkan ada yang sampai menangis. Begitu juga orang tua mereka. Sementara anak-anak yang belum berhasil pun tetap menyimpan harapan untuk menjadi yang terbaik,” pungkasnya. 

Ketika Rumput Menjadi Penjaga Keselamatan

Setiap umpan pendek yang mengalir mulus, setiap sprint tanpa terpeleset, hingga setiap tekel yang berlangsung aman, berawal dari pekerjaan yang dilakukan jauh sebelum peluit pertama dibunyikan.

Di balik lapangan hijau Supersoccer Arena, Bachtiar Arifin menjalankan perannya sebagai groundman.

Bachtiar Arifin, Groundman. (Foto: DN/mainkekudus)

Rutinitasnya dimulai dengan menyisir rumput, memastikan kondisi lapangan tetap rata, kemudian melakukan penyiraman setiap pukul 12.00 siang agar rumput tidak mengering di bawah cuaca Kudus.

Namun, pekerjaan itu ternyata jauh lebih rinci daripada yang dibayangkan banyak orang.

Ia harus memeriksa setiap bagian lapangan untuk memastikan tidak ada benda asing ataupun serpihan tajam yang dapat membahayakan pemain saat berlari maupun melakukan sliding tackle.

“Sebelum event dimulai, kami mempersiapkan lapangan. Rumput kami sisir, lalu disiram setiap pukul 12.00 supaya tidak terlalu kering. Kami juga mengantisipasi hal-hal kecil, seperti memastikan tidak ada benda-benda tajam yang tertinggal di lapangan agar tidak membahayakan pemain,” tutur Bachtiar. 

Para groundman melakukan pengecekan dan penyiapan lapangan pertandingan. (Foto: DN/mainkekudus)

Jam kerjanya secara resmi berlangsung pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Namun kenyataannya, ia kerap berada di stadion lebih lama mengikuti jadwal latihan maupun pertandingan yang masih berlangsung setelah sore hari.

Groundman membersihkan lapangan usai pertandingan. (Foto: DN/mainkekudus)

Baginya, pekerjaan baru benar-benar selesai ketika lapangan kembali siap digunakan.

“Kalau jam kerja kami pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Tapi, kadang kami masih bekerja lewat pukul 17.00 karena jadwal latihan biasanya berlangsung mulai pukul 15.30 sampai 17.30 WIB. Jadi, kami tidak selalu bisa pulang tepat pukul 17.00,” tambahnya sambil tersenyum. 

Stadion Bersih Sebelum Penonton Datang

Saat penonton memasuki stadion, tribun telah bersih, koridor tertata, dan toilet siap digunakan. Ketika pertandingan selesai, sebagian besar orang langsung pulang tanpa sempat melihat bagaimana arena kembali dipersiapkan untuk hari berikutnya.

Di balik rutinitas itu, ada Indah Purnamasari bersama tim cleaning service.

Indah Purnamasari, Leader Cleaning Service Supersoccer Arena Kudus. (Foto: DN/mainkekudus)

Sebagai leader cleaning service, ia mengatur pekerjaan dalam dua shift, yakni pukul 06.00–14.00 WIB dan 13.00–21.00 WIB. Mereka memastikan seluruh area stadion tetap bersih, mulai dari tribun, koridor, hingga fasilitas pendukung lainnya.

Pekerjaan itu dimulai jauh sebelum penonton hadir dan baru benar-benar selesai setelah stadion kosong.

Petugas kebersihan membersihkan sampah di area lapangan. (Foto: DN/mainkekudus)

“Penonton mungkin tidak tahu kalau kami datang lebih pagi untuk melakukan clear up area. Malam hari pun begitu. Setelah penonton pulang, kami kembali melakukan clear up agar area siap dan tetap steril untuk pertandingan besok,” ujar Indah. 

Bagi Indah, kebersihan bukan sekadar soal penampilan. Kebersihan menjadi bagian penting dari kenyamanan seluruh orang yang datang ke stadion, baik atlet, official, maupun penonton.

Petugas kebersihan membersihkan area Locker Room pemain. (Foto: DN/mainkekudus)

Karena itu, apresiasi sekecil apapun terhadap pekerjaan timnya menjadi penyemangat untuk terus memberikan pelayanan terbaik.

“Ya senang sekali, jadi kita sebagai cleaning service bisa dihargai. Karena kalau tidak ada cleaning service, area tidak bisa jadi nyaman dan bersih,” tegasnya.

Menjadi Penengah di Tengah Emosi Pertandingan

Di sisi lapangan, Agung Kuncoro menjalankan peran yang tak kalah penting sebagai steward.

Agung Kuncoro, Steward lapangan.(Foto: BRO/mainkekudus)

Posisinya berada tepat di batas antara lapangan pertandingan dan area luar. Dari tempat itulah ia memastikan pertandingan berlangsung sesuai prosedur sekaligus menghadapi situasi-situasi yang kerap dipenuhi emosi.

Salah satu tantangan terbesar datang ketika ofisial tim menyampaikan protes terhadap jalannya pertandingan.

Dalam kondisi seperti itu, Agung dituntut tetap tenang, memberikan penjelasan secara persuasif, serta menjalankan tugas sesuai Standard Operating Procedure (SOP).

“Salah satu tantangan adalah ketika ada official tim yang menyampaikan protes. Saat itu kami wajib memberikan penjelasan. Itu sudah menjadi tugas kami. Kami tetap menjalankan pengamanan sesuai SOP,” ujarnya. 

Di balik pekerjaannya, Agung menyimpan alasan yang sederhana namun bermakna. Ia ingin bekerja dengan sungguh-sungguh demi keluarganya sekaligus berharap turnamen seperti ini mampu memotivasi semakin banyak anak Indonesia untuk berprestasi melalui olahraga.

“Alhamdulillah, pekerjaan ini sangat bermakna bagi kami karena kami bisa bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menafkahi keluarga. Itu yang paling utama. Semoga apa yang kami lakukan juga bermanfaat bagi putra-putri kita, menambah semangat anak-anak usia dini untuk terus berprestasi. Harapannya, sepak bola putri Indonesia bisa semakin maju dengan adanya turnamen ini,” ungkapnya. 

Menyiapkan Panggung bagi Mimpi yang Lebih Besar

HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 tidak sekadar menjadi ajang pertandingan bagi para pesepak bola putri muda. Turnamen ini merupakan bagian dari perjalanan panjang dalam membangun ekosistem sepak bola putri Indonesia, yang ditopang oleh penyelenggaraan kompetisi secara berkelanjutan serta dukungan fasilitas yang memadai.

(Foto Dok.mainkekudus)

Supersoccer Arena Kudus pun tidak hanya dipersiapkan sebagai lokasi pertandingan. Arena ini dihadirkan sebagai ruang yang diharapkan menjadi bagian dari perjalanan kebangkitan sepak bola putri Indonesia, sebuah proses yang mulai bergulir sejak MilkLife Soccer Challenge pada 2023 batch pertama. Saat itu, kompetisi tersebut memulai langkahnya secara bertahap, namun mampu menjaring 712 pemain putri pada fase awal penyelenggaraan.

Seiring berkembangnya kompetisi, fasilitas dan atmosfer pertandingan pun terus ditingkatkan agar semakin mendekati standar internasional, sehingga para pemain putri Indonesia dapat memperoleh pengalaman bertanding yang lebih baik sejak usia dini.

Ketika Lampu Stadion Padam

Setelah peluit panjang dibunyikan dan piala berpindah ke tangan juara, orang akan mengingat gol-gol indah, penyelamatan gemilang, atau selebrasi kemenangan yang memenuhi lapangan.

Namun, di balik setiap momen yang tersimpan dalam ingatan penonton, ada pekerjaan yang berlangsung tanpa tepuk tangan.

Ada petugas keamanan yang menjaga ribuan orang tetap aman. Ada groundman yang memastikan setiap langkah pemain berada di atas lapangan yang layak. Ada tim kebersihan yang datang paling pagi dan pulang paling akhir. Ada steward yang menjaga pertandingan tetap tertib. Ada pula pengelola kawasan yang menyediakan fasilitas agar mimpi-mimpi besar dapat bertumbuh.

Mereka mungkin tidak pernah tercatat sebagai pencetak gol. Nama mereka juga tidak muncul di papan skor. Namun, melalui dedikasi yang dijalankan setiap hari, mereka menghadirkan panggung tempat para pesepak bola putri dapat mengejar impiannya.

Di balik gemuruh stadion, merekalah yang memastikan setiap pertandingan benar-benar bisa dimulai, berlangsung, dan berakhir dengan baik.  (JMY/DN/BRO/mainkekudus)

Mengenal Mereka yang Menjaga Kenyamanan Berlangsungnya Event Olahraga di Supersoccer Arena Kudus | Main ke Kudus