

Menjaga Mimpi Tetap Seimbang antara Lapangan Hijau dan Ruang Kelas
KUDUS — Peluit panjang menandai berakhirnya laga semifinal MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All Stars 2026 di Supersoccer Arena (SSA), Kudus, Sabtu (27/6/2026). Sejumlah pemain terduduk di lapangan. Ada yang saling menguatkan, ada pula yang berusaha menahan kecewa. Di antara mereka tampak Jesshica, siswi SDK Santa Maria Goretti Balikpapan yang dipercaya memperkuat All Stars Surabaya sebagai pemain tamu (guest star).
Sehari sebelumnya, gol yang ia cetak membawa All Stars Surabaya melangkah ke semifinal. Namun, perjalanan timnya harus terhenti setelah kalah dari All Stars Kudus. Jesshica pun tak mampu menyembunyikan air matanya saat menyadari perjuangan mereka di turnamen itu berakhir.
Kekalahan 2-1 dari tuan rumah All Stars Kudus memang menggagalkan impian melangkah ke partai puncak. Namun, bagi gadis berusia 12 tahun asal Balikpapan itu, perjalanan di turnamen ini tidak berhenti pada hasil akhir pertandingan. Ada pelajaran yang justru terasa lebih berharga daripada sekadar kemenangan.

“Lumayan sedih karena kalah. Tapi pelajaran terbesar setelah pertandingan ini adalah kami harus lebih semangat lagi, lebih kompak, dan memperbaiki komunikasi. Selama turnamen ini kami punya kekompakan dan mentalitas yang bagus,” ujar gadis yang mengidolakan Neymar Jr itu.

Cara Jesshica memandang kekalahan seolah menggambarkan bagaimana ia menjalani kesehariannya. Baginya, setiap proses selalu menyimpan ruang untuk belajar. Prinsip itu tidak hanya ia bawa saat bermain sepak bola, tetapi juga ketika menghadapi tantangan di bangku sekolah.

Di atas lapangan, Jesshica dikenal sebagai penyerang yang lincah, berani mengambil keputusan, dan tidak ragu menekan pertahanan lawan. Namun, di luar pertandingan, siswi SDK Santa Maria Goretti Balikpapan yang tergabung di dalam tim All Stars Surabaya itu memiliki dunia lain yang sama pentingnya.

Ia merupakan peraih medali Olimpiade Matematika dan hingga kini masih aktif mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional.
Bagi sebagian orang, sepak bola dan matematika mungkin terlihat seperti dua hal yang sulit dipertemukan. Jesshica justru melihat keduanya saling melengkapi.
“Sepak bola mengajarkan saya disiplin, matematika mengajarkan saya berpikir. Dua-duanya saling membantu,” katanya.
Perjalanan itu berawal dari lingkungan keluarga. Sang ayah dan adiknya sama-sama gemar bermain sepak bola. Dari kebiasaan sederhana itulah Jesshica mulai ikut bermain, kemudian berlatih lebih serius hingga akhirnya bergabung dengan SSB Mitra Teras Balikpapan.


Di tempat itu, ia berlatih bersama pemain laki-laki. Bukan tanpa alasan. Di Balikpapan, kelompok sepak bola putri seusianya memang belum tersedia sehingga ia harus beradaptasi dengan lingkungan latihan yang berbeda.
Sementara itu, kecintaannya terhadap matematika tumbuh sejak mengikuti les sempoa. Ketekunan berhitung kemudian membawanya mengikuti berbagai olimpiade hingga berhasil meraih prestasi di tingkat nasional.
Menjalani dua aktivitas yang sama-sama menuntut konsistensi tentu bukan perkara mudah. Jesshica harus membagi waktu dengan disiplin agar latihan dan pendidikan tetap berjalan beriringan.
Setiap Senin ia mengikuti les matematika. Selasa, Kamis, dan Sabtu menjadi jadwal latihan sepak bola. Ketika jadwal bertabrakan, ia akan menyesuaikan sesuai kebutuhan tim tanpa mengabaikan kewajiban belajar.
“Saya ingin membuktikan bahwa atlet juga bisa berprestasi di sekolah,” ucapnya.
Keinginan itu menjadi pesan yang lebih luas dari sekadar perjalanan pribadi. Kisah Jesshica menunjukkan bahwa prestasi olahraga dan pendidikan bukanlah dua pilihan yang harus dipertentangkan. Dengan pengelolaan waktu dan disiplin, keduanya dapat berjalan berdampingan.

MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026 pun menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Meski belum berakhir dengan trofi, turnamen ini memberinya pengalaman bertanding, kesempatan bertemu teman-teman baru dari berbagai daerah, sekaligus memperkaya bekal menuju cita-citanya menjadi pesepak bola putri berprestasi tanpa meninggalkan pendidikan.
“Menang atau kalah, saya selalu belajar dari setiap pertandingan dan setiap ujian,” bebernya.
Kalimat sederhana itu menjadi gambaran perjalanan Jesshica hingga hari ini. Di usia yang baru menginjak 12 tahun, ia terus belajar bahwa setiap pertandingan dan setiap pelajaran di sekolah sama-sama menghadirkan tantangan yang harus dihadapi dengan kesungguhan.
Di balik perjalanan tersebut, ada dukungan besar dari keluarga yang terus mengiringi setiap langkahnya.

Sang ayah, Efendi, mengaku rela meninggalkan pekerjaan selama hampir satu bulan demi mendampingi putrinya menjalani pemusatan latihan di Surabaya sebelum tampil pada MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026.
“Di Balikpapan belum ada kelompok putri seusia Jesshica, jadi dia berlatih bersama anak laki-laki. Setelah sering mengikuti kompetisi di Surabaya, akhirnya mendapat kesempatan bergabung dengan All Stars Surabaya. Kami bersyukur banyak pihak yang membantu perkembangan Jesshica,” tuturnya.
Bagi keluarga, dukungan tidak berhenti di lapangan latihan. Efendi mengatakan mereka juga menjaga agar pendidikan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan putrinya.
Selain mengantar latihan, keluarga ikut mengawasi jadwal belajar, waktu istirahat, hingga membatasi penggunaan gawai maksimal dua jam setiap hari. Menurutnya, kedisiplinan menjadi fondasi agar Jesshica mampu berkembang secara seimbang.
“Jesshica juga aktif mengikuti olimpiade matematika. Kami selalu mengingatkan bahwa sekolah tetap penting. Alhamdulillah keduanya bisa berjalan bersama,” ungkapnya.
Perjalanan Jesshica di MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026 memang berakhir di semifinal. Namun, kisah yang ia bawa pulang tidak berhenti pada hasil pertandingan. Ia membawa pengalaman, pelajaran, dan keyakinan bahwa kerja keras di lapangan hijau dapat berjalan seiring dengan ketekunan di ruang kelas. Di balik setiap gol yang dikejar dan setiap soal matematika yang diselesaikan, Jesshica terus membangun mimpinya langkah demi langkah, dengan disiplin, dukungan keluarga, dan semangat untuk terus belajar. (JMY/ITN/DN/mainkekudus)