

Misi ALTI Kudus Bangun Pembinaan Atlet Pelari Trail Berkelanjutan
KUDUS – Langkah kaki ratusan pelari akan menyusuri lereng Gunung Muria pada 1–2 Agustus 2026 dalam Muria Trail Run (MTR) 2026. Mereka akan melewati jalan setapak, menembus kawasan hutan, menghadapi tanjakan dan turunan curam, bahkan berlari hingga malam hari. Bagi para peserta, perlombaan ini menjadi ajang menguji daya tahan fisik dan mental. Namun, bagi Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Kudus, Muria Trail Run memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menentukan siapa yang tercepat mencapai garis finis.
Sedikitnya 450 pelari dijadwalkan mengikuti Muria Trail Run 2026 di kawasan Gunung Muria, Kabupaten Kudus. Mereka akan bersaing pada empat kategori, yakni 8 kilometer (Fun Trail Watu Payung) yang dirancang sebagai pengenalan bagi pelari pemula, 15 kilometer (Trail Natas Angin) bagi pelari yang ingin merasakan tantangan lintasan pegunungan dengan jarak menengah, 30 kilometer (Trail Sreni) untuk pelari yang telah memiliki pengalaman menghadapi lintasan alam yang lebih panjang dan teknikal, serta 45 kilometer (Ultra Trail Maha Muria) sebagai kategori terpanjang yang menguji daya tahan fisik, ketangguhan mental, serta kemampuan mengatur strategi selama berada di lintasan.

Panitia juga membuka kategori 30K Master dan 45K Master bagi peserta berusia 40 tahun ke atas agar tetap dapat berkompetisi sesuai kelompok usianya. Perlombaan dimulai secara bertahap sesuai tingkat kesulitan masing-masing kategori. Kategori 45K menjadi nomor pertama yang diberangkatkan pada Sabtu, 1 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB, disusul kategori 30K pada Minggu, 2 Agustus pukul 02.00 WIB, kategori 15K pukul 05.00 WIB, dan kategori 8K pukul 06.00 WIB.
Jadwal tersebut disusun agar setiap peserta dapat menyelesaikan lintasan sesuai karakter masing-masing nomor sekaligus mendukung pengaturan keselamatan dan operasional selama perlombaan.

Berbeda dengan road run yang berlangsung di jalan beraspal, trail running merupakan cabang olahraga lari yang memanfaatkan lintasan alami, seperti jalur pegunungan, hutan, tanah, bebatuan, maupun jalan setapak. Selain kemampuan berlari, olahraga ini menuntut peserta mampu menjaga keseimbangan, membaca karakter medan, mengatur ritme tenaga, serta beradaptasi dengan perubahan cuaca selama berada di alam terbuka.

Setiap kategori memiliki Cut Off Time (COT) atau batas waktu maksimal yang ditetapkan panitia untuk menyelesaikan perlombaan. Pada Muria Trail Run 2026, kategori 8K diberi waktu maksimal empat jam, 15K selama enam jam, 30K selama 12 jam, sedangkan 45K memiliki batas waktu 16 jam. Selain batas waktu hingga garis finis, kategori 30K dan 45K juga menerapkan batas waktu di sejumlah checkpoint atau cut off point. Apabila peserta tiba melewati waktu yang telah ditentukan, panitia berhak menghentikan perjalanan peserta sehingga dinyatakan did not finish (DNF) dan tidak dapat melanjutkan perlombaan.

Penerapan COT tidak hanya menjadi bagian dari regulasi kompetisi, tetapi juga bertujuan menjaga keselamatan peserta, memastikan seluruh pelari masih berada dalam rentang waktu yang aman untuk melintasi kawasan pegunungan, serta memudahkan koordinasi petugas medis, marshal, dan tim penyelamat hingga seluruh peserta menyelesaikan perlombaan. Aturan tersebut diterapkan sebagai bagian dari sistem keselamatan mengingat lintasan berada di kawasan pegunungan dengan medan yang berat, perubahan cuaca yang cepat, serta akses evakuasi yang lebih terbatas dibandingkan perlombaan di jalan raya.
Memasuki penyelenggaraan tahun kedua setelah edisi perdana digelar pada 2025, Muria Trail Run 2026 mengusung tema Eco-Green Sports Tourism melalui kampanye #StrideForSustainability. Konsep tersebut memadukan olahraga, pariwisata, dan kepedulian terhadap lingkungan dengan memanfaatkan bentang alam Pegunungan Muria sebagai arena perlombaan sekaligus memperkenalkan potensi wisata alam Kabupaten Kudus.
ALTI Kudus Kembali Aktif
Di balik penyelenggaraan Muria Trail Run, ALTI Kudus tengah menjalankan misi membangun pembinaan olahraga trail running di Kabupaten Kudus. Organisasi yang menaungi cabang olahraga ini kembali aktif setelah sempat vakum selama kurang lebih tiga tahun.
Ketua ALTI Kudus Valian Hafid Jayvico atau Jay menjelaskan, ALTI Kudus sebenarnya telah berdiri sejak Maret 2017. Namun, aktivitas organisasi sempat terhenti karena tidak adanya kepengurusan maupun atlet yang aktif.

“ALTI Kudus baru aktif lagi tahun ini setelah kurang lebih tiga tahun vakum. Kebetulan trail running juga mulai berkembang lagi, jadi kami berusaha membentuk kepengurusan baru dan mulai melakukan pembinaan,” ujarnya.
Menurut Jay, fokus ALTI bukan hanya membantu penyelenggaraan event. Organisasi tersebut ingin membangun sistem pembinaan atlet yang berkelanjutan sehingga pelari di Kudus tidak lagi berlatih secara mandiri tanpa pendampingan.
Ia menilai potensi pelari trail di Kudus cukup besar. Namun, masih banyak yang belum memahami metode latihan yang tepat sehingga berisiko mengalami cedera ketika menghadapi medan pegunungan.
“Di Kudus potensi atlet trail itu banyak sekali. Yang menjadi kendala, mereka latihannya masih asal-asalan. Kami ingin ada pembinaan supaya tahu bagaimana latihan yang benar, bagaimana mengatur nutrisi, sampai mempersiapkan fisik sebelum turun ke lintasan,” katanya.
Sebagai langkah awal, ALTI Kudus berencana menggelar seleksi atlet pada Agustus atau September 2026 sebagai persiapan menghadapi kejuaraan tingkat daerah. Dalam jangka panjang, pembinaan tersebut diharapkan mampu melahirkan atlet yang dapat bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
“Harapannya nanti atlet dari Kudus bisa sampai PON, bahkan suatu saat bisa bersaing di level Asia,” ujar Jay.
Tantangan Lintasan Gunung Muria

Gunung Muria memiliki ketinggian sekitar 1.606 meter di atas permukaan laut. Meski tidak setinggi sejumlah gunung lain di Pulau Jawa, karakter lintasannya menghadirkan tantangan tersendiri bagi pelari trail.
“Banyak orang meremehkan Muria. Dikiranya karena tidak terlalu tinggi jadi mudah. Padahal setelah mencoba sendiri, mereka baru tahu kalau medannya berat. Jangan meremehkan Muria,” kata Jay.
Menurutnya, tingkat kesulitan lintasan tidak hanya ditentukan oleh ketinggian gunung. Perubahan elevasi yang rapat, tanjakan dan turunan curam, jalur sempit, akar pohon, bebatuan, hingga permukaan tanah yang dapat berubah licin ketika hujan menjadi tantangan yang harus dihadapi peserta.

Dalam dunia trail running, kondisi tersebut dikenal sebagai jalur teknikal, yaitu lintasan yang menuntut konsentrasi tinggi, keseimbangan, ketepatan pijakan, dan kemampuan mengatur ritme agar pelari dapat melewati setiap rintangan dengan aman.

Karena itulah, aspek keselamatan menjadi perhatian utama penyelenggara. Berbeda dengan lomba lari di jalan raya yang relatif mudah dijangkau kendaraan, penyelenggaraan trail running harus memperhitungkan akses menuju lokasi-lokasi yang berada jauh di kawasan pegunungan.
Menurut Jay, salah satu tantangan terbesar adalah menentukan posisi water station, checkpoint, tim medis, hingga personnel rescue. Water station merupakan titik penyedia air minum dan makanan ringan untuk membantu peserta memenuhi kebutuhan cairan dan energi selama perlombaan. Sementara checkpoint berfungsi sebagai titik pencatatan perjalanan peserta sekaligus memastikan setiap pelari tetap berada di jalur yang telah ditetapkan panitia.
“Di gunung aksesnya tidak mudah. Kami harus benar-benar memikirkan posisi water station, checkpoint, tim medis sampai rescue. Risiko seperti hipotermia maupun kecelakaan tetap harus diantisipasi,” jelasnya.
Hipotermia merupakan kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal akibat paparan udara dingin dalam waktu lama. Risiko tersebut menjadi perhatian karena cuaca di kawasan pegunungan dapat berubah dengan cepat. Sementara itu, tim rescue disiapkan untuk memberikan pertolongan dan melakukan evakuasi apabila peserta mengalami cedera, tersesat, atau menghadapi kondisi darurat selama berada di lintasan.
Selain itu, petugas juga ditempatkan di sejumlah percabangan jalur dan titik rawan agar peserta tidak keluar dari rute perlombaan.
Dari Road Run ke Trail Running

Semangat mengembangkan trail running juga dirasakan Muhammad Yusron, anggota ALTI Kudus yang tahun ini akan menjalani debutnya pada Muria Trail Run.
Sebelum mengenal trail running, Yusron merupakan pelari road run atau lari jalan raya. Ketertarikannya terhadap olahraga lintas alam bermula ketika seorang teman mengajaknya mencoba berlari di kawasan pegunungan pada Desember 2025. Berbeda dengan road run yang berlangsung di atas jalan beraspal, blok beton, atau lintasan stadion yang relatif datar, trail running memanfaatkan lintasan alami seperti jalur pegunungan, hutan, tanah, bebatuan, akar pohon, hingga jalan setapak.
Perbedaan tersebut membuat tuntutan fisik kedua cabang olahraga ini juga berbeda. Pelari road run lebih berfokus menjaga kecepatan (pace), efisiensi langkah, dan memperbaiki catatan waktu di lintasan yang stabil. Sementara itu, trail running menuntut kemampuan yang lebih beragam, mulai dari menjaga keseimbangan, memperkuat otot kaki secara menyeluruh, hingga mengatur tenaga ketika menghadapi tanjakan dan turunan yang terus berubah sepanjang lintasan.

Perbedaan karakter lintasan juga mempengaruhi perlengkapan yang digunakan. Pelari road run umumnya mengenakan sepatu dengan bantalan yang lebih empuk, ringan, dan memiliki sol datar agar nyaman digunakan di permukaan keras. Sebaliknya, pelari trail running membutuhkan sepatu khusus dengan pola tapak (grip atau lug) yang lebih tebal sehingga mampu mencengkram permukaan tanah, bebatuan, maupun jalur yang licin akibat hujan. Karena itulah, trail running tidak hanya menguji kecepatan, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap kondisi alam yang terus berubah selama perlombaan.
“Awalnya saya pelari road. Diajak teman naik ke gunung, ternyata rasanya asyik. Akhirnya ketagihan dan mulai ikut trail,” katanya.
Bagi Yusron, suasana alam menjadi alasan utama yang membuatnya terus kembali ke jalur pegunungan. Selain menghadirkan pengalaman berlari yang berbeda, lintasan alam juga memberikan tantangan baru yang tidak ditemui ketika berlari di jalan raya.
“Kalau road pemandangannya ya begitu-begitu saja. Kalau di gunung suasananya lebih segar, pemandangannya bagus, dan saya juga dapat banyak teman baru,” ujarnya.
Pada Muria Trail Run 2026, Yusron memilih turun di kategori 30 kilometer. Meski menjadi trail race pertamanya, ia tetap memasang target realistis, yakni mampu menyelesaikan perlombaan dengan kondisi sehat dan terhindar dari cedera.
“Yang paling penting sebenarnya bisa finish dengan selamat, sehat, tidak cedera, lalu kalau bisa masuk 10 besar,” katanya sambil tersenyum.
Persiapan dilakukan jauh sebelum hari perlombaan. Dua kali dalam sepekan ia menjalani latihan road run untuk meningkatkan endurance atau daya tahan tubuh agar mampu mempertahankan performa dalam aktivitas berdurasi panjang. Sementara setiap akhir pekan dimanfaatkan untuk berlatih langsung di jalur pegunungan agar tubuh terbiasa menghadapi perubahan elevasi, karakter lintasan, serta medan teknikal yang menjadi ciri khas trail running.
Menurutnya, salah satu bagian paling menantang berada di jalur Natas Angin menuju Sreni.
“Jalurnya sempit, hanya cukup dilewati satu orang. Di sampingnya jurang dan medannya sangat teknikal. Itu salah satu bagian yang paling menantang,” ungkapnya.
Beda Lintasan Beda Sepatu

Beralih dari road run ke trail running bukan hanya soal mengganti lintasan, tetapi juga menyesuaikan perlengkapan yang digunakan. Bagi pembaca yang belum mengetahui perbedaannya, sepatu untuk road run dan trail running dirancang dengan karakteristik yang berbeda karena disesuaikan dengan kondisi medan yang akan dilalui. Perbedaan karakter lintasan, mulai dari jalan beraspal hingga jalur pegunungan yang dipenuhi tanah, bebatuan, dan akar pohon, membuat kedua jenis olahraga ini membutuhkan sepatu dengan desain, daya cengkeram, serta tingkat perlindungan yang berbeda agar tetap nyaman dan aman digunakan.
Sepatu road run dirancang untuk permukaan yang rata dan keras, seperti aspal atau beton. Karena itu, bagian sol (outsole) dibuat lebih datar dan halus agar menghasilkan pijakan yang efisien saat berlari di jalan raya. Material bagian atas umumnya menggunakan kain mesh yang ringan dan memiliki sirkulasi udara baik sehingga kaki tetap nyaman saat berlari dalam waktu lama. Bantalan (cushion) juga dibuat lebih empuk untuk meredam benturan yang terjadi secara berulang di permukaan keras.

Sementara itu, sepatu trail running dikembangkan untuk menghadapi jalur alam yang penuh variasi, mulai dari tanah, bebatuan, akar pohon, hingga lumpur. Sol bagian bawah memiliki pola tapak (lug) yang lebih dalam dan kasar sehingga mampu mencengkeram permukaan licin. Material sepatu dibuat lebih kuat dan biasanya dilengkapi pelindung tambahan pada bagian depan untuk mengurangi risiko benturan jari kaki dengan batu atau akar pohon. Konstruksinya juga lebih kokoh agar kaki tetap stabil ketika berpijak di medan yang miring atau tidak rata, sehingga membantu mengurangi risiko cedera saat melintasi jalur pegunungan.
Trail Running Membutuhkan Persiapan

Baik Jay maupun Yusron sepakat bahwa trail running tidak cukup dijalani hanya dengan kemampuan berlari. Persiapan fisik, teknik, serta pemahaman terhadap kondisi alam menjadi bagian penting sebelum mengikuti perlombaan.
Yusron menyarankan pelari pemula membangun fondasi daya tahan terlebih dahulu sebelum meningkatkan kecepatan.
“Bangun dulu endurance. Biasakan lari berdurasi, lalu rutin latihan di gunung supaya tubuh beradaptasi dengan medannya. Setelah pondasinya kuat, baru masuk latihan speed,” jelasnya.
Jay menambahkan, latihan kekuatan atau strength training diperlukan untuk memperkuat otot kaki, inti tubuh, serta menjaga keseimbangan sehingga dapat mengurangi risiko cedera ketika menghadapi tanjakan maupun turunan. Selain itu, pelari juga perlu memahami pengaturan nutrisi karena jarak antar water station cukup jauh.

Kemampuan membaca rute juga tidak kalah penting. Meskipun lintasan telah diberi penanda, setiap peserta tetap dituntut memiliki kemampuan navigasi dasar agar tidak keluar dari jalur perlombaan.
“Yang pertama harus tahu batas kemampuan diri. Setelah itu belajar teknik trail, rutin strength training, mengatur nutrisi karena jarak antara water station cukup jauh, dan jangan sampai buta navigasi atau rute,” ujarnya.

Bagi ALTI Kudus, membangun ekosistem trail running tidak berhenti pada penyelenggaraan perlombaan. Upaya tersebut juga mencakup pembinaan atlet, edukasi mengenai teknik berlari yang aman di alam terbuka, peningkatan kualitas latihan, serta penyelenggaraan kompetisi secara berkelanjutan.

Ketika ratusan pelari mulai menapaki jalur Gunung Muria pada awal Agustus nanti, yang dipertaruhkan bukan hanya catatan waktu menuju garis finis. Di balik penyelenggaraan Muria Trail Run, ALTI Kudus tengah membangun fondasi pembinaan yang diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pelari trail dari Kabupaten Kudus sekaligus memperkenalkan karakter Gunung Muria kepada masyarakat melalui olahraga. (OEB/mainkekudus)
