Logo Kudus

Mubarok Food Table Tennis Competition 2026, Saat Tenis Meja Menyatukan Prestasi, Silaturahmi, dan Menggerakkan Ekonomi Lokal

6 Juli 2026Saldy Nurzaman

KUDUS — Bunyi bola yang beradu dengan bet tenis meja bersahut-sahutan memenuhi GOR Tenis Indoor Balai Jagong, Kudus, Minggu (5/7/2026). Di dalam arena, ratusan atlet saling menguji kemampuan untuk meraih prestasi. Sementara di luar lapangan, cerita lain ikut tumbuh. Pedagang melayani pembeli tanpa henti, keluarga atlet bercengkrama menunggu jadwal pertandingan, dan masyarakat menikmati akhir pekan dengan menyaksikan pertandingan sembari berburu kuliner. 

Suasana pertandingan Mubarok Food Table Tennis Competition 2026 di GOR Tenis Indoor Balai Jagong, Kudus. (Foto SS Dok.mainkekudus/photo retouched: Arpan Jayadi)

Mubarok Food Table Tennis Competition 2026 menghadirkan lebih dari sekadar kompetisi olahraga. Kejuaraan ini menjadi ruang bertemunya atlet lintas daerah, wadah pembinaan generasi tenis meja, sekaligus membawa dampak sosial dan ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat sekitar.

Sebanyak 154 peserta dari berbagai kategori usia dan kelas pertandingan ambil bagian dalam kejuaraan tersebut. Sejak babak awal, atmosfer kompetisi terasa hidup. Sorak dukungan dari tribun berpadu dengan semangat para atlet yang berusaha menampilkan permainan terbaiknya.

Puncak Mubarok Food Table Tennis Competition 2026 menghadirkan persaingan yang berlangsung sengit hingga pertandingan terakhir. Setiap pemain menunjukkan kemampuan terbaiknya untuk memperebutkan posisi juara, sekaligus membuktikan hasil dari latihan yang telah dijalani.

Dari rangkaian pertandingan tersebut, Suharjanto Purhartono atau Tono dari Dekom 88 Semarang berhasil mengamankan gelar juara. Posisi kedua diraih Rama dari Wedak Adem Semarang, diikuti rekan setimnya Huda di peringkat ketiga, sementara Kevin dari Benli Semarang menempati posisi keempat.

Kehadiran atlet tuan rumah juga memberi warna tersendiri melalui penampilan Daka dari Nusantara Kudus di peringkat kelima, Zidna dari GPS Kudus di posisi keenam, Kiki dari Spinlab di urutan ketujuh, serta Agung dari Peci Kudus yang melengkapi delapan besar.

Deretan nama tersebut menjadi gambaran bahwa turnamen ini bukan sekadar menentukan pemenang, melainkan juga mempertemukan para atlet dari berbagai klub dalam sebuah panggung kompetisi yang menjunjung sportivitas, mempererat jejaring antar pemain, dan menjadi ruang untuk saling menguji kemampuan.

Suasana pertandingan Mubarok Food Table Tennis Competition 2026 di GOR Tenis Indoor Balai Jagong, Kudus. (Foto SS Dok.mainkekudus)

Namun, denyut kehidupan tidak hanya berlangsung di meja pertandingan. Di area sekitar GOR, aktivitas ekonomi ikut bergerak mengikuti ramainya pengunjung yang datang silih berganti sepanjang hari.

Ketika Event Olahraga Menghidupkan Warung Kecil

Bagi Masrofah Noviantika, penyelenggaraan turnamen olahraga selalu membawa harapan baru.

Sebagai pedagang minuman di sekitar Balai Jagong, ia merasakan sendiri bagaimana sebuah kompetisi mampu mengubah suasana kawasan yang biasanya tenang menjadi ramai oleh atlet, keluarga peserta, official, hingga masyarakat yang datang untuk menonton.

“Kalau tidak ada event biasanya sepi, kalau ada event seperti ini lumayan ramai,” ujarnya.

Masrofah Noviantika, pedagang minuman di GOR  Tenis Indoor Balai Jagong, Kudus. (Foto SS Dok.mainkekudus/photo retouched: Arpan Jayadi)

Cuaca yang hangat membuat minuman dingin menjadi buruan utama para pengunjung. Atlet yang baru menyelesaikan pertandingan, orang tua yang mendampingi anaknya, hingga penonton memilih berhenti sejenak untuk melepas dahaga.

“Yang paling banyak dicari minuman es. Kalau air mineral kan sudah disediakan di dalam, jadi pembeli lebih banyak mencari es teh ataupun es kopi,” katanya.

Bagi Masrofah, semakin banyak kompetisi olahraga digelar di Kudus, semakin besar pula peluang usaha kecil berkembang.

“Kalau sering ada event seperti ini kan jadi ramai, penjualan juga meningkat,” harapnya.

Harapan serupa dirasakan Nadiatul Faiqoh, pemilik warung yang berada tidak jauh dari lokasi pertandingan.

Ia mengaku jumlah pembeli meningkat cukup signifikan dibandingkan hari-hari biasa. Bahkan sebagian besar pelanggan merupakan wajah-wajah baru yang diduga datang dari luar daerah untuk mengikuti maupun menyaksikan turnamen.

“Di sini jadi ramai, banyak orang datang, jadi omzet otomatis meningkat,” ujarnya.

“Kurang tahu ya mas, tapi wajah-wajahnya jarang kelihatan main di sekitar sini,” tambahnya.

Cerita para pedagang itu menunjukkan bahwa sebuah event olahraga tidak hanya menghadirkan persaingan di lapangan, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang langsung menyentuh pelaku usaha mikro di sekitar lokasi kegiatan.

Dari Tribun, Tumbuh Kebersamaan

Suasana penonton dan atlet di tribun. (Foto SS Dok.mainkekudus/photo retouched: Arpan Jayadi)

Bagi para pengunjung, turnamen ini juga menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Siti Marfuah, salah seorang penonton, mengaku menikmati suasana pertandingan yang dipadukan dengan berbagai pilihan kuliner di sekitar arena. “Sangat menarik. Kita tadi bisa nonton atlet main, selain itu juga banyak jajanan,” ujarnya.

Menurutnya, kenyamanan lokasi turut membuat pengalaman menonton semakin menyenangkan. “Kotanya bersih, lalu tempat parkirnya dekat, jadi mudah diakses,” katanya.

Suasana seperti ini memperlihatkan bahwa olahraga mampu menjadi ruang pertemuan masyarakat. Orang-orang datang dengan tujuan berbeda bertanding, mendukung keluarga, berjualan, atau sekadar menonton namun semuanya berbagi ruang yang sama dalam suasana yang hangat dan penuh interaksi.

Bukan Sekadar Mengejar Gelar Juara

Di balik kemeriahan tersebut, Mubarok Food Table Tennis Competition 2026 tetap memegang tujuan utamanya sebagai ajang pembinaan atlet.

Ketua Panitia, Joko Mulyono, mengatakan total peserta tahun ini mencapai 154 atlet dari berbagai daerah dan kategori pertandingan. “Kalau pesertanya keseluruhan ada 154 orang, dari berbagai daerah dan juga kelas,” ujarnya.

Joko Mulyono, Ketua Panitia Mubarok Food Table Tennis Competition 2026. (Foto SS Dok.mainkekudus/photo retouched: Arpan Jayadi)

Menurutnya, nilai terpenting dari kejuaraan ini bukan hanya menentukan siapa yang berdiri di podium juara. “Pertama silaturahmi, lalu kemudian untuk menjaring pemain yang bagus untuk dibina di pertandingan yang lebih besar lagi,” katanya.

Ia menjelaskan penyelenggaraan turnamen juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari ulang tahun Mubarok Food. “Ya karena ini untuk hari ulang tahun Mubarok Food,” ungkapnya.

Joko berharap kejuaraan tersebut dapat terus digelar secara berkelanjutan. “Semoga event ini ada terus di Kabupaten Kudus,” harapnya.

Kesempatan Belajar dari Atlet Berpengalaman

Ketua PTMSI Kudus, Hj. Heni Sandra Nurwati, menilai kehadiran atlet-atlet berpengalaman menjadi nilai tambah bagi perkembangan tenis meja di daerah.

Hj. Heni Sandra Nurwati, Ketua PTMSI Kudus. (Foto: BRO/mainkekudus)

Menurutnya, sejumlah pemain nasional turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut. “Banyak pemain bagus yang ikut, mulai dari Daka, ada juga Ayuka yang merupakan pemain nasional juga turun pada kompetisi ini,” ujarnya.

Bagi atlet-atlet muda, kesempatan melihat langsung permainan para pemain nasional menjadi pengalaman berharga yang tidak selalu bisa diperoleh dalam latihan sehari-hari.

Heni menambahkan Kudus selama ini memiliki tradisi pembinaan olahraga yang kuat, termasuk melalui sejumlah klub tenis meja seperti PTM Sukun. Karena itu, kolaborasi antara organisasi olahraga dan dunia usaha dinilai penting agar kompetisi dapat terus berlangsung secara berkelanjutan. “Semoga saja event ini dapat menjadi event tahunan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kompetisi yang rutin digelar akan mempermudah proses pemetaan prestasi atlet dari tingkat daerah hingga nasional. “Event ini penting sekali untuk melihat prestasi yang ada di Kudus, Jawa Tengah, dan di Indonesia.”

Menurutnya, pembinaan usia dini harus dilakukan secara konsisten melalui banyak pertandingan. “Untuk dapat menjaring atlet-atlet nasional di kelasnya masing-masing,” pungkasnya.

Motivasi bagi Generasi Muda

Bagi atlet unggulan asal Semarang, Suharjanto Purhartono atau yang akrab disapa Tono, kembali bertanding di kota kelahirannya selalu menghadirkan makna tersendiri.

Peraih juara pertama Mubarok Food Table Tennis Competition 2026 itu mengaku bersyukur dapat ambil bagian dalam turnamen tenis meja yang diselenggarakan oleh produsen jenang, Mubarok Food. Baginya, keikutsertaan dalam ajang tersebut bukan hanya tentang mengejar prestasi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan generasi berikutnya.

Selain berusaha memberikan penampilan terbaik di atas meja pertandingan, Tono berharap kehadirannya dapat memotivasi para atlet muda agar terus mengembangkan kemampuan. “Event ini sangat bagus untuk para atlet muda,” ujarnya.

Suharjanto Purhartono, Atlet tenis meja asal Semarang. (Foto: BRO/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Bagi Tono, kehadirannya bukan sekadar mengejar prestasi, tetapi juga berbagi semangat dan menginspirasi generasi berikutnya. Ia pun meyakini setiap turnamen selalu menjadi ruang untuk menguji kemampuan sekaligus menjaga api semangat berkompetisi.

Pengalaman baru juga dirasakan pemain nasional asal Semarang, Ayuka Pratiwi. Keikutsertaannya dalam Mubarok Food Table Tennis Competition menjadi momen perdana yang memberikan kesan tersendiri.

“Ini menjadi pengalaman pertama ikut dalam event Mubarok Food,” ujarnya.

Ayuka Pratiwi. Atlet tenis meja asal Semarang. (Foto: BRO/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Bagi Ayuka, antusiasme peserta dan penonton selalu menjadi energi yang menghidupkan setiap pertandingan. Keramaian di arena dan semangat yang ditunjukkan para peserta menciptakan suasana kompetisi yang hangat sekaligus penuh gairah. “Pesertanya ramai, antusiasnya tinggi, semua merata jadi ini nanti seru,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Pelatih tim Semarang, Mahyudin. Menurutnya, penyelenggaraan turnamen menjadi bagian dari budaya olahraga yang telah lama tumbuh di Kudus. Kota ini dinilainya memiliki tradisi kuat dalam melahirkan berbagai ajang olahraga yang terus menghidupkan semangat kompetisi dan pembinaan atlet. “Kudus dulu sentranya olahraga hingga sekarang,” ujarnya.

Mahyudin, pelatih tenis meja Semarang. (Foto: BRO/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Baginya, semakin banyak kompetisi digelar, semakin luas kesempatan atlet muda memperoleh pengalaman bertanding yang akan membentuk mental sekaligus meningkatkan kualitas permainan mereka.

Kolaborasi yang Memberi Manfaat Lebih Luas

Di balik penyelenggaraan kejuaraan, dukungan dunia usaha menjadi salah satu faktor penting yang membuat kompetisi dapat terselenggara.

Direktur Utama Mubarok Food, H. Muhammad Helmi, mengatakan keterlibatan perusahaan merupakan bentuk dukungan terhadap pembinaan tenis meja sekaligus memperkuat kolaborasi antara dunia usaha dan insan olahraga. 

Direktur Utama Mubarok Food, H. Muhammad Helmi. (Foto: BRO/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Menurutnya, kehadiran booth Mubarok Food selama penyelenggaraan juga menjadi sarana memperkenalkan produk kepada peserta yang datang dari berbagai daerah.

“Di sini juga kami menyediakan booth sehingga dapat menjadikan brand Mubarok lebih dikenal, apalagi banyak peserta yang datang dari luar kota,” ujarnya.

Namun, Helmi menegaskan tujuan utama perusahaan bukan semata memperkenalkan produk.

“Bagaimana kita dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan para pecinta tenis meja,” katanya.

Ia menambahkan, komitmen perusahaan terhadap dunia olahraga akan terus berlanjut melalui kolaborasi dalam berbagai kegiatan lain, termasuk Muria Trail Run 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 1–2 Agustus mendatang.

Melalui sinergi antara dunia usaha, organisasi olahraga, atlet, dan masyarakat, Helmi berharap semakin banyak event olahraga dapat digelar di Kudus sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, baik bagi pembinaan atlet maupun pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

“Semoga kerja sama yang lebih harmonis dapat terus terjalin dan memberikan manfaat, khususnya bagi perkembangan olahraga tenis meja,” pungkasnya.

Kejuaraan ini akhirnya menunjukkan bahwa nilai sebuah turnamen tidak hanya diukur dari siapa yang menjadi juara. Di Balai Jagong, tenis meja menghadirkan ruang belajar bagi atlet muda, mempererat silaturahmi antar komunitas, membuka peluang usaha bagi pedagang kecil, serta menghidupkan interaksi sosial yang menjadikan olahraga benar-benar dekat dengan kehidupan masyarakat. (BRO/mainkekudus)

Mubarok Food Table Tennis Competition 2026, Saat Tenis Meja Menyatukan Prestasi, Silaturahmi, dan Menggerakkan Ekonomi Lokal | Main ke Kudus