Logo Kudus

Muria Trail Run 2026, Berlari dengan Konsep Wisata Olahraga Ramah Lingkungan

Diterbitkan: 2 Agustus 2026Penulis: Saldy Nurzaman

KUDUS – Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, Balai Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, dipenuhi peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka belum berdiri di garis start atau menaklukkan tanjakan Gunung Muria. Hari pertama Muria Trail Run 2026 justru menjadi awal pertemuan antara para pelari, masyarakat desa, relawan, dan panitia sebelum perlombaan dimulai.

Di area registrasi, para peserta bergantian mengambil race pack, memeriksa perlengkapan wajib, sekaligus saling berbagi cerita. Ada yang menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Makassar, Batam, dan Kalimantan. Ada pula pelari yang baru pertama kali datang ke Muria, sementara sebagian lainnya kembali setelah merasakan karakter lintasan pada penyelenggaraan perdana tahun 2025. Kehadiran dua peserta dari Kolombia dan Vietnam semakin menunjukkan bahwa Gunung Muria mulai dikenal di kalangan pelari trail dari berbagai negara.

Suasana registrasi peserta Muria Trail Run 2026. (Foto: ITN/mainkekudus)

Sebanyak 478 peserta mengikuti Muria Trail Run 2026 yang berlangsung pada 1–2 Agustus di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Mereka terbagi dalam empat kategori, yakni 8 kilometer Watu Payung (Fun Trail), 15 kilometer Natas Angin (Trail), 30 kilometer Sreni (Trail), dan 45 kilometer Maha Muria (Ultra Trail). Penyelenggara juga membuka kategori 30K Master dan 45K Master bagi pelari berusia 40 tahun ke atas. Setiap kategori dirancang untuk tingkat pengalaman yang berbeda, mulai dari Watu Payung 8K yang menjadi lintasan pengenalan bagi pelari pemula dan rekreasional, Natas Angin 15K untuk pelari tingkat menengah, Sreni 30K bagi pelari berpengalaman yang siap menghadapi medan lebih teknis, hingga Maha Muria 45K yang ditujukan bagi pelari ultra trail dengan pengalaman menempuh jarak jauh dan lintasan berelevasi tinggi.

Seluruh kategori memulai dan mengakhiri perlombaan di Balai Desa Rahtawu. Kategori 45 kilometer menjadi yang pertama diberangkatkan pada Sabtu pukul 22.00 WIB dengan batas waktu penyelesaian selama 16 jam. Selanjutnya, kategori 30 kilometer dilepas pada Minggu pukul 02.00 WIB dengan cut off time 12 jam, disusul kategori 15 kilometer pada pukul 05.00 WIB dengan batas waktu enam jam, serta kategori 8 kilometer pada pukul 06.00 WIB yang dirancang sebagai lintasan pengenalan dengan batas waktu empat jam. Masing-masing kategori menawarkan karakter medan yang berbeda, mulai dari jalur dengan elevasi sedang hingga lintasan ultra yang menuntut daya tahan fisik, kemampuan membaca medan, dan strategi mengatur ritme sepanjang perjalanan.

Sports Tourism yang Melibatkan Masyarakat

Memasuki penyelenggaraan kedua, Muria Trail Run mengusung konsep Eco-Green Sports Tourism melalui tema Stride for Sustainability. Konsep tersebut tidak hanya menghadirkan pengalaman berlari di alam terbuka, tetapi juga menghubungkan olahraga dengan pemberdayaan masyarakat dan kepedulian terhadap lingkungan Pegunungan Muria.

Suasana itu sudah terasa sejak hari pertama. Balai Desa Rahtawu berubah menjadi pusat aktivitas. Warga membantu proses registrasi, pemuda desa bersiap menjadi marshal, rumah-rumah penduduk menerima tamu dari luar daerah, sementara warung makan dan kedai kopi mulai ramai melayani peserta beserta keluarga mereka.

Race Director Muria Trail Run 2026, Irwandani, mengatakan keterlibatan masyarakat memang menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan tahun ini. Menurutnya, peserta diharapkan tidak hanya mengenal lintasan Gunung Muria, tetapi juga kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Irwandani, Race Director Muria Trail Run. (Foto: ITN/mainkekudus)

“Semua yang terlibat kami usahakan berasal dari masyarakat sekitar. Vendor, petugas water station, sampai konsep venue kami sesuaikan dengan budaya Desa Rahtawu. Kami ingin peserta benar-benar merasakan bahwa Muria Trail Run adalah bagian dari Rahtawu dan Kudus,” ujarnya.

Baginya, Muria Trail Run bukan sekadar agenda olahraga tahunan. Penyelenggara ingin menghadirkan kegiatan yang memberi ruang bagi masyarakat desa untuk terlibat secara langsung sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari kedatangan ratusan peserta.

Menjaga Karakter Alami Gunung Muria

Gerbang Start dan Finish Muria Trail Run dengan latar belakang lereng Gunung Muria yang berlangsung 1-2 Agustus 2026. (Foto: ITN/mainkekudus)

Persiapan lintasan dilakukan jauh sebelum hari perlombaan. Pengecekan rute terakhir berlangsung sekitar tiga pekan sebelum pelaksanaan, sedangkan pemasangan penanda jalur dilakukan selama tiga hari berturut-turut agar peserta dapat mengikuti rute dengan aman.

Lintasan Muria Trail Run membawa pelari melewati perkebunan kopi, jalan setapak, batuan alam, tanjakan terjal, hingga kawasan Watu Payung dan Natas Angin yang menjadi ikon jalur Gunung Muria. Pada beberapa titik dengan tingkat kesulitan tinggi, panitia memasang tali pengaman untuk membantu peserta melintasi medan yang lebih teknis.

Ilustrasi peserta Muria Trail Run menyusuri jalan setapak. (Foto istimewa/muria_trailrun)
Ilustrasi peserta Muria Trail Run menaiki jalan bebatuan. (Foto istimewa/muria_trailrun)

Irwandani menjelaskan penyelenggara sengaja mempertahankan karakter alami jalur tersebut. Menurutnya, sebagian besar lintasan tetap memanfaatkan jalan tanah dan jalur pegunungan agar pengalaman trail running di Muria tetap terasa.

“Karakter Muria memang sangat variatif. Kami berusaha mengurangi jalur cor dan lebih banyak memakai jalan tanah, batu, dan jalur alami supaya pengalaman trail running benar-benar terasa,” katanya.

Meninggalkan Jejak untuk Kelestarian Alam

Ilustrasi peserta Muria Trail Run. Tema Stride for Sustainability jadi bagian yang tidak dipisahkan dari penyelenggaraan Muria Trail Run tahun ini. (Foto istimewa/muria_trailrun)

Komitmen terhadap lingkungan menjadi bagian yang tidak dipisahkan dari penyelenggaraan Muria Trail Run tahun ini. Melalui tema Stride for Sustainability, panitia menghubungkan partisipasi peserta dengan upaya penghijauan kawasan Pegunungan Muria.

Setiap peserta yang memenuhi ketentuan lomba akan memperoleh satu pohon yang ditanam oleh panitia. Setelah proses penanaman dilakukan, peserta akan menerima informasi lokasi pohon tersebut sehingga dapat melihat perkembangannya ketika kembali mengikuti Muria Trail Run pada tahun-tahun berikutnya.

Bupati Kudus, Dr. Ars. Sam’ani Intakoris, S.T., M.T, saat memberikan satu pohon kepada salah satu perwakilan peserta Muria Trail Run. (Sumber foto SS IG stories muria_trailrun)

Program ini menjadi salah satu cara penyelenggara menjaga keseimbangan antara kegiatan olahraga dan kelestarian kawasan yang menjadi lintasan perlombaan.

Kembali karena Tantangan Lintasannya

Bagi Desi Rahayuningsih, pelari asal Cirebon sekaligus juara putri Muria Trail Run 2025, daya tarik utama Muria terletak pada karakter lintasannya. Selama lima tahun menekuni trail running, ia mengaku selalu menikmati tantangan yang memadukan kemampuan fisik dengan pembacaan medan.

Desi Rahayuningsih, pelari Muria Trail Run asal Cirebon. (Foto: ITN/mainkekudus)

Menurut Desi, jalur Gunung Muria memiliki bentuk yang berbeda dibanding lintasan trail lain yang pernah ia lewati.

“Gunung Muria itu teknikal sekali. Jalurnya seperti naga, berkelok-kelok di punggungan. Kalau melihat ke belakang, bentuknya benar-benar seperti naga. Itu yang membuat Muria berbeda dibanding gunung lain,” tuturnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Desi menjalani latihan kebugaran secara rutin di pusat kebugaran, latihan trail sedikitnya dua kali setiap pekan, serta long run sekitar 15 kilometer. Persiapan fisik dan pengaturan nutrisi, menurutnya, menjadi syarat penting sebelum memasuki lintasan pegunungan.

Persiapan fisik dan pengaturan nutrisi menjadi syarat penting sebelum memasuki lintasan pegunungan. (Foto: ITN/mainkekudus)

“Harus latihan yang benar. Nutrisinya juga harus cukup karena ini bukan gunung biasa,” katanya.

Ia juga melihat perkembangan trail running di Indonesia terus meningkat. Berbagai ajang kini mampu menarik ratusan hingga ribuan peserta dari berbagai daerah, sekaligus memperkenalkan destinasi-destinasi baru melalui olahraga.

Berlari untuk Daerah Sendiri

Semangat berbeda dibawa Arief Hartawan, peserta asal Kudus yang baru pertama kali mengikuti Muria Trail Run. Baginya, mengikuti perlombaan di daerah sendiri menjadi kesempatan untuk mendukung pengenalan potensi wisata alam Kudus kepada peserta dari luar daerah.

Arief Hartawan, peserta Muria Trail Run asal Kudus. (Foto: ITN/mainkekudus)

“Saya ingin ikut menyemarakkan Muria Trail Run supaya pariwisata Kudus semakin dikenal. Mudah-mudahan makin banyak orang datang ke sini,” ujarnya.

Arief mengaku sudah cukup mengenal kawasan Gunung Muria meski belum pernah mengikuti lintasan resmi Muria Trail Run. Ia memperkirakan musim kemarau tahun ini akan menghadirkan tantangan berupa cuaca yang lebih panas sehingga peserta harus mampu mengatur tenaga sejak awal perlombaan.

Menjelang hari lomba, ia memilih menjaga kondisi tubuh dengan berolahraga secara rutin. Menurutnya, siapa pun yang ingin mencoba trail running perlu mempersiapkan kebugaran fisik sebelum menghadapi jalur pegunungan.

Relawan Menjaga Lintasan Tetap Aman

Relawan lokal bekerja memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman. (Sumber foto SS IG stories muria_trailrun)

Kesibukan Muria Trail Run tidak hanya terlihat di area registrasi maupun lintasan. Di balik jalannya perlombaan, puluhan relawan lokal bekerja memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman. Mereka bertugas sebagai marshal, membantu komunikasi antar titik, hingga bersiaga apabila ada peserta yang membutuhkan pertolongan.

Salah satunya adalah Suharno, warga asli Rahtawu yang telah lama aktif membantu berbagai kegiatan di desanya. Menurutnya, penyelenggaraan Muria Trail Run membawa perubahan yang langsung dirasakan masyarakat.

Suharno, warga lokal yang berpartisipasi dalam kegiatan MTR 2026 dengan radio komunikasinya. (Foto: ITN/mainkekudus)

“Desa jadi ramai. Banyak rumah yang dipakai untuk menginap. Anak-anak muda juga ikut terlibat menjaga lintasan. Dampaknya positif untuk ekonomi masyarakat,” katanya.

Selain manfaat ekonomi, Suharno melihat keterlibatan pemuda desa dalam penyelenggaraan menjadi pengalaman yang berharga. Mereka tidak hanya mengenal dunia trail running, tetapi juga belajar bekerja sama dalam sebuah kegiatan berskala nasional.

Sebagai relawan, ia mengaku selalu siaga. Radio komunikasi terus menyala untuk memantau kondisi peserta di berbagai titik lintasan. Begitu ada laporan mengenai pelari yang mengalami kesulitan atau cedera, relawan segera bergerak menuju lokasi.

“Yang penting semua peserta aman. Itu yang paling utama,” ucapnya.

Menaklukkan Lintasan Muria Sekaligus Peduli Lingkungan

Hari pertama Muria Trail Run belum menghadirkan persaingan menuju garis finis. Namun, dari suasana registrasi hingga persiapan menjelang pelepasan kategori 45 kilometer pada Sabtu malam, terlihat bahwa penyelenggaraan ini melibatkan lebih banyak pihak daripada para pelari yang akan memasuki lintasan.

(Sumber foto SS IG stories Muria Trail Run)

Peserta datang untuk menghadapi tantangan Gunung Muria. Masyarakat Rahtawu membuka rumah mereka sebagai penginapan, menghidupkan warung-warung kecil, dan terlibat sebagai panitia maupun relawan. Di saat yang sama, penyelenggara menghubungkan olahraga dengan upaya menjaga kelestarian alam melalui program penanaman pohon dan pemanfaatan sumber daya lokal.

(Sumber foto SS IG stories Muria Trail Run)

Ketika malam mulai turun di Rahtawu dan lampu kepala para pelari kategori 45 kilometer mulai menyala satu per satu, Muria Trail Run 2026 memasuki babak perlombaannya. Sebelum langkah pertama menapaki jalur Gunung Muria, hari pertama telah lebih dahulu menunjukkan bahwa sebuah ajang trail running dapat menjadi ruang pertemuan antara olahraga, masyarakat desa, alam, dan kepedulian untuk menjaga kawasan Pegunungan Muria agar tetap lestari bagi perjalanan-perjalanan berikutnya. (FZ/mainkekudus)

KEGIATAN TERKAIT

Muria Trail Run 2026

Muria Trail Run 2026

1 - 2 Agustus 2026
Muria Trail Run 2026, Berlari dengan Konsep Wisata Olahraga Ramah Lingkungan | Main ke Kudus