

Muria Trail Run Menggabungkan Olahraga, Konservasi, dan Pemberdayaan Warga
Kudus – Kabut pagi yang menyelimuti Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, selalu menghadirkan suasana berbeda bagi siapa pun yang datang ke lereng Gunung Muria. Jalur tanah, hutan pinus, perkebunan, hingga deretan puncak yang mengelilingi kawasan ini selama bertahun-tahun menjadi bagian dari aktivitas warga sekaligus tujuan para pecinta alam.
Pada 1-2 Agustus 2026, lanskap tersebut kembali menjadi lintasan Muria Trail Run 2026. Namun, penyelenggaraan tahun ini tidak hanya menghadirkan kompetisi lari lintas alam. Sejak awal, panitia merancang kegiatan ini sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-477 Kabupaten Kudus yang menggabungkan olahraga, budaya, pelestarian lingkungan, serta keterlibatan masyarakat desa.
Konsep itu membuat Muria Trail Run tidak berhenti sebagai agenda olahraga. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar peserta juga mengenal karakter Gunung Muria, budaya lokal, hingga kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Konsep Hajatan Membawa Nuansa Berbeda
Muria Trail Run memasuki penyelenggaraan kedua. Dibandingkan edisi sebelumnya, panitia menghadirkan konsep yang berbeda melalui tema hajatan desa.
Race Director Muria Trail Run 2026, Irwandani, mengatakan seluruh area kegiatan akan dikemas menyerupai suasana pesta rakyat. Balai Desa Rahtawu dipilih sebagai pusat kegiatan dengan dekorasi berbahan bambu, ornamen tradisional, serta gunungan jenang yang menjadi salah satu identitas kuliner Kudus.

“Kami mengusung konsep hajatan. Venue akan dihiasi pernak-pernik bambu, gunungan jenang, dan berbagai unsur budaya lokal. Kami juga bekerja sama dengan Jenang Mubarok sehingga suasananya berbeda dari event lari pada umumnya,” ujarnya.
Konsep tersebut tidak hanya menjadi elemen dekoratif. Kehadiran budaya lokal sejak peserta tiba di lokasi diharapkan menjadi bagian dari pengalaman mengikuti Muria Trail Run.
Mulai dari proses registrasi, area start dan finish, hingga berbagai sudut kegiatan disiapkan untuk memperlihatkan identitas Desa Rahtawu sebagai tuan rumah.
Jalur untuk Berbagai Tingkat Kemampuan Pelari
Gunung Muria dikenal memiliki karakter lintasan yang beragam. Jalur tanah, bebatuan, tanjakan panjang, turunan teknikal, hingga kawasan hutan menjadi tantangan yang berbeda di setiap kategori lomba.

Untuk mengakomodasi kemampuan peserta yang beragam, panitia menyediakan empat kategori jarak, yakni 8 kilometer, 15 kilometer, 30 kilometer, dan 45 kilometer.
Kategori 8K disiapkan bagi peserta yang baru mencoba trail run. Sementara kategori 15K hingga 45K diperuntukkan bagi pelari yang telah memiliki pengalaman menghadapi lintasan pegunungan.
Irwandani menjelaskan setiap kategori menawarkan karakter jalur yang berbeda.
“Muria identik dengan puncak-puncaknya, terutama Puncak 29 dan Puncak Natasangin. Jalurnya variatif dan teknikal. Dari beberapa titik peserta dapat melihat bentang alam hingga laut di wilayah Jepara. Untuk kategori 45K bahkan melewati kawasan hutan pinus di lereng Sreni,” jelasnya.

Karakter lintasan tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi peserta yang ingin merasakan pengalaman berlari di kawasan pegunungan dengan kontur yang beragam.
Keamanan Menjadi Bagian Penting Penyelenggaraan

Medan pegunungan memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, aspek keselamatan menjadi perhatian utama penyelenggara.
Panitia menyiapkan sistem pengamanan dengan menempatkan personel di sejumlah titik yang dinilai memiliki tingkat risiko lebih tinggi. Pengamanan dilakukan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), dan relawan yang akan bersiaga sepanjang jalur perlombaan.
Dengan elevasi lintasan yang mencapai sekitar 3.600 meter, kesiapan tim penyelamat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan kegiatan.
Menjelang penutupan pendaftaran pada 18 Juli 2026, lebih dari 450 peserta telah mendaftarkan diri dari target 509 peserta. Angka tersebut menunjukkan minat peserta terhadap Muria Trail Run terus bertambah sejak pertama kali digelar.
Konservasi Menjadi Bagian dari Pengalaman Peserta

Selain lintasan pegunungan, Muria Trail Run membawa tema Stride For Sustainability sebagai bagian dari penyelenggaraan.
Tema tersebut diwujudkan melalui berbagai langkah yang berfokus pada upaya menjaga lingkungan di kawasan Gunung Muria.
Joel, panitia yang menangani konsep sustainability, menjelaskan bahwa setiap peserta nantinya akan memiliki keterkaitan dengan program penghijauan yang dilakukan setelah kegiatan selesai.

“Kami bekerja sama dengan komunitas pecinta alam Peka Muria. Kami menyediakan bibit pohon, tetapi bukan peserta yang menanam secara langsung. Pohon-pohon tersebut akan ditanam oleh tim dengan menggunakan nama peserta yang berhasil finish,” kata Joel.
Melalui cara tersebut, peserta memiliki kesempatan kembali ke Muria pada tahun berikutnya untuk melihat perkembangan pohon yang ditanam atas nama mereka.
Program penghijauan menjadi salah satu bentuk kontribusi kegiatan terhadap kawasan lereng Gunung Muria yang menjadi lokasi perlombaan.
Pengelolaan Sampah Disiapkan Sejak Awal
Upaya menjaga lingkungan juga diterapkan melalui pengelolaan sampah selama kegiatan berlangsung. Panitia mengurangi penggunaan material berbahan plastik dengan memanfaatkan anyaman bambu sebagai bagian dari perlengkapan kegiatan.
Di setiap water station, sistem pemilahan sampah juga telah disiapkan agar limbah yang dihasilkan peserta dapat dikelola sesuai jenisnya. Joel mengingatkan bahwa menjaga kebersihan lintasan merupakan tanggung jawab bersama.
“Pesan kami kepada peserta, jangan meninggalkan sampah di area lintasan. Pengelolaan sampah plastik di water station sudah disiapkan dan terintegrasi dengan sistem pengelolaan sampah di Rahtawu,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya agar aktivitas olahraga tidak meninggalkan dampak yang tidak diinginkan bagi kawasan pegunungan.
Warga Desa Turut Menjadi Bagian Penyelenggaraan
Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu unsur yang dibangun dalam Muria Trail Run. Tidak hanya menyediakan lokasi kegiatan, warga juga dilibatkan dalam berbagai kebutuhan selama acara berlangsung.
Irwandani menjelaskan sejumlah vendor di area start dan finish, penyedia konsumsi, hingga sajian di water station berasal dari pelaku usaha lokal. Peserta nantinya dapat menikmati berbagai hidangan khas daerah, seperti Soto Kudus, kopi Muria, hingga sirup parijoto yang disiapkan oleh masyarakat setempat.
Dengan pola tersebut, penyelenggaraan kegiatan tidak hanya berpusat pada perlombaan, tetapi juga memberi ruang bagi warga untuk berpartisipasi sesuai bidang usahanya.
“Mulai dari venue, vendor, hingga sajian di water station, semuanya melibatkan masyarakat lokal. Kami ingin event ini menjadi bagian dari masyarakat,” kata Irwandani.
Harapan bagi Desa Rahtawu
Pemerintah Desa Rahtawu melihat penyelenggaraan Muria Trail Run sebagai kesempatan untuk memperkenalkan potensi desa kepada lebih banyak pengunjung.
Pj Kepala Desa Rahtawu, Ibnu Hajar, berharap kegiatan ini dapat mendorong semakin banyak orang mengenal kawasan wisata di lereng Muria.

Ia juga menilai kehadiran peserta dari berbagai daerah membawa aktivitas bagi pelaku usaha yang berada di desa.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada panitia. Harapannya wisata Desa Rahtawu semakin dikenal, sehingga dapat mendukung perkembangan desa. Kehadiran tamu dari berbagai daerah juga membuat homestay dan penginapan terisi. Kami mendukung kegiatan ini,” ujar Ibnu Hajar.
Selain penginapan, kehadiran peserta dan pendamping berpotensi meningkatkan aktivitas di warung makan, kedai kopi, hingga usaha kecil lainnya yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Menjaga Kawasan Hutan Bersama

Dukungan terhadap penyelenggaraan Muria Trail Run juga datang dari pengelola kawasan hutan.
Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Ternadi, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Muria Pati Ayam, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati, Teguh Jumadi Yanto, mengatakan kegiatan olahraga di kawasan hutan tetap dapat berlangsung seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan, selama seluruh pihak mematuhi aturan yang berlaku.

Ia mengingatkan peserta untuk mempersiapkan kondisi fisik karena sebagian lintasan berada di jalan setapak kawasan hutan.
“Selain memperkenalkan kawasan wisata di petak 61, peserta juga dapat mengenal jalur menuju Puncak 29, Puncak Argopiloso, dan Bukit Pandang. Kami berharap peserta tetap menjaga kondisi fisik serta ikut menjaga kawasan hutan selama kegiatan berlangsung,” katanya.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat yang diusung penyelenggara, yakni menjadikan kawasan pegunungan sebagai ruang olahraga sekaligus ruang yang tetap dijaga keberlanjutannya.
Sports Tourism yang Melibatkan Alam dan Masyarakat
Muria Trail Run 2026 memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan olahraga dapat dirancang dengan melibatkan berbagai unsur di luar perlombaan itu sendiri.

Lintasan pegunungan menjadi ruang bagi peserta untuk mengenal karakter Gunung Muria. Konsep hajatan menghadirkan budaya lokal ke dalam pengalaman berlari. Program penghijauan memperpanjang kontribusi peserta setelah garis finish, sementara keterlibatan warga membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk ikut mengambil bagian.
Kolaborasi antara penyelenggara, pemerintah, masyarakat, komunitas pecinta alam, dan pengelola kawasan hutan membentuk penyelenggaraan yang tidak hanya berfokus pada kompetisi.
Ketika peserta melintasi jalur-jalur Gunung Muria nanti, mereka tidak hanya menghadapi tanjakan, turunan, dan lintasan teknikal. Mereka juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan olahraga, pelestarian lingkungan, budaya lokal, dan kehidupan masyarakat Desa Rahtawu dalam satu perjalanan. (JMY/mainkekudus)