

Orang-orang yang Menemani Para Srikandi Selama di Kudus
KUDUS – Selama Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 berlangsung, perhatian banyak tertuju pada para pemain yang berjuang di lapangan. Namun, keseharian mereka di Kudus juga diisi oleh pertemuan dengan orang-orang yang tidak ikut bertanding.
Ada yang bertugas mendampingi tim sejak tiba di kota ini, membantu ketika pemain membutuhkan penanganan medis, menyiapkan makanan di hotel, hingga berinteraksi dengan para pemain dalam rutinitas sehari-hari.
Pertemuan itu awalnya berlangsung karena tugas. Namun, waktu yang dijalani bersama membuat sebagian hubungan berkembang lebih akrab. Sapaan di lobby, percakapan singkat, candaan, hingga kebiasaan kecil para pemain menjadi bagian dari cerita yang ikut terbentuk selama turnamen.
Salah satunya dialami Muhammad Nazrey Firmani.
Sebagai liaison officer (LO), Firmani awalnya mengenal rombongan Malaysia sebagai orang-orang yang harus ia dampingi selama berada di Kudus. Tugasnya memastikan kebutuhan pemain dan official terpenuhi, sehingga komunikasi pada hari-hari pertama lebih banyak berkaitan dengan jadwal, koordinasi, dan berbagai keperluan tim.

Namun, delapan hari bersama membuat hubungan itu berkembang secara alami.
Firmani mulai mengenali kebiasaan para pemain. Salah satunya ketika ia mengetahui bahwa beberapa pemain Malaysia cukup sering memutar lagu Indonesia dari ponsel mereka.
“Yang mencengangkan adalah mereka mendengarkan lagu Indonesia, ‘Tabola Bale’ sama ‘Garam dan Madu’,” kata Firmani.
Hal kecil seperti itu menjadi salah satu tanda bahwa hubungan mereka tidak lagi sebatas urusan pekerjaan. Firmani mulai mengenali orang-orang yang setiap hari ditemuinya, sementara para pemain pun semakin akrab dengan orang yang mendampingi mereka selama berada di Kudus.
Sapaan dari Lantai Tiga
Kedekatan itu tidak lahir dari satu percakapan panjang. Justru pertemuan-pertemuan singkat yang berulang membuat Firmani dan rombongan Malaysia semakin saling mengenal.
Suatu ketika, Firmani sedang berkumpul bersama beberapa official di lobby hotel. Dari lantai tiga, para pemain Malaysia melihat mereka dan kemudian menyapa. Sapaan itu disertai candaan dan tawa.
“Para pemain dari lantai tiga menyapa kita yang ada di bawah, terus sambil bercanda, cengengesan. Dari situ sudah kenal baik,” ujar Firmani.
Tidak ada urusan pekerjaan yang perlu dibicarakan saat itu. Para pemain hanya menyapa orang-orang yang selama beberapa hari telah mereka kenal.
Dari banyak orang yang ditemui selama mendampingi rombongan, Firmani mengaku ada satu atau dua orang dari official maupun tim yang kini terasa seperti teman sendiri.
Bagi Firmani, justru pertemuan yang berlangsung biasa-biasa saja itulah yang membuat hubungan terbentuk. Tidak ada agenda khusus untuk menjadi dekat. Ada rutinitas yang mempertemukan mereka berulang kali, sampai nama dan wajah yang awalnya asing menjadi familiar.
Cerita dari Ruang Medis
Jika Firmani mengenal pemain melalui rutinitas pendampingan, dr. Rizal bertemu dengan mereka dalam situasi yang berbeda.
Sebagai volunteer medis dari Rumah Sakit Mardi Rahayu, dr. Rizal bersama tim perawat bertugas menangani pemain dan official yang membutuhkan pelayanan medis. Pertemuan mereka terjadi ketika pemain mengalami benturan setelah pertandingan, batuk, pusing, atau keluhan lainnya.

Di ruang medis, komunikasi menjadi bagian penting dari penanganan. Tim perlu memahami kondisi pemain, sementara pemain harus memahami penjelasan mengenai tindakan yang diberikan.
Perbedaan bahasa dan kultur pun menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
“Yang bisa saya pelajari di sini paling penting adalah tentang komunikasi. Terjadi perbedaan bahasa, terjadi perbedaan kultur dan juga bagaimana cara kita berinteraksi,” ujar dr. Rizal.

Pengalaman tersebut mempertemukan tim medis dengan pemain dari berbagai negara, termasuk Timnas Indonesia.
“Pengalaman yang kami dapatkan justru pengalaman yang memang sulit dilupakan karena kita bakal ketemu dan melayani pemain-pemain yang bisa dari luar negeri atau bahkan dari Timnas kita sendiri,” katanya.
Menjelang akhir turnamen, dr. Rizal mulai menyadari bahwa yang akan tersisa setelah para peserta pulang bukan hanya catatan pekerjaan medis yang telah dilakukan.
“Yang saya rindukan suatu saat nanti kalau event ini sudah selesai adalah tentang bagaimana euforia yang terjadi di event kali ini,” ujarnya.

Nama-nama yang Tidak Lagi Asing

Interaksi yang berbeda berlangsung di hotel. Bagi peserta yang tinggal selama lebih dari satu minggu di Kudus, hotel menjadi salah satu tempat yang mempertemukan mereka dengan pekerja lokal hampir setiap hari.
Di Hotel Sapphire Kudus, Andri Santoso selaku F&B Manager sudah berkoordinasi dengan PIC dan LO sebelum rombongan peserta tiba. Setelah datang, para tamu disambut dengan welcome drink dan diarahkan menuju kamar.

Mereka kemudian diperkenalkan dengan ruang makan yang disiapkan untuk masing-masing negara, termasuk Arab Saudi, Singapura, dan Indonesia.
Setelah penyambutan selesai, koordinasi justru terus berlangsung. Andri perlu memastikan kebutuhan makan para peserta terpenuhi setiap hari, mulai dari sarapan, makan siang hingga makan malam.
Pertemuan yang berulang membuat nama dan wajah para official perlahan menjadi bagian dari rutinitas.
Rombongan Arab Saudi menjadi salah satu yang memberikan pengalaman berbeda. Tim tersebut membawa chef sendiri dari Arab Saudi. Tidak semua anggota rombongan menggunakan bahasa Inggris, sehingga dalam beberapa situasi dibutuhkan bantuan penerjemah.

“Yang paling menarik pasti dengan tim Arab karena dari bahasa mereka pengennya bahasa Arab. Kalau untuk bahasa Inggris paling hanya beberapa, terutama PIC-nya,” tutur Andri.
Selama lebih dari satu minggu, nama seperti Miss Sahar, Mr. Mohammed, Chef Mohammad Ali, dan Chef Ibrahim menjadi nama yang tidak lagi asing bagi Andri.
Hubungan tersebut terbentuk bukan melalui satu pertemuan khusus, melainkan dari kebutuhan yang sama-sama dijalankan setiap hari. Dari urusan makanan, komunikasi berkembang menjadi percakapan dan berbagai interaksi kecil selama para peserta berada di hotel.
Anak Magang Berinteraksi dengan Atlet

Di Hotel Sapphire, interaksi juga terjadi antara pemain dan anak-anak magang yang bekerja di sana.
Sebagian peserta masih berusia remaja. Di sisi lain, hotel memiliki anak magang dengan rentang usia yang tidak jauh berbeda. Kesamaan usia membuat mereka memiliki ruang untuk berinteraksi di luar hubungan formal antara tamu dan pekerja hotel.
“Dari player yang masih remaja, kebetulan di Hotel Sapphire ini ada anak magang jadi mereka bisa berinteraksi dengan seumuran mereka,” jelas Andri.

Percakapan yang muncul tidak selalu berkaitan dengan sepak bola. Ada rasa ingin tahu mengenai bahasa dan budaya Indonesia, juga berbagai kejadian kecil yang membuat suasana selama mereka tinggal di Kudus lebih cair.
“Kejadian kecil yang diingat pasti ada, seperti kelucuan-kelucuan dari tiap negara,” kata Andri.
Bagi para pekerja hotel, peserta yang awalnya datang sebagai tamu perlahan menjadi bagian dari keseharian selama turnamen. Bagi pemain, orang-orang yang mereka temui di hotel menjadi wajah lain dari pengalaman mereka selama berada di Kudus.
Kudus dari Sudut Pandang Tamu
Hubungan yang terbentuk selama turnamen juga dapat dilihat dari sisi peserta.
Mohammad Hazwan Nizam Fazil, official Tim Malaysia U-17, cukup sering berinteraksi dengan Firmani sebagai LO. Ia juga mengenal Toni, chef yang berada dalam rombongan tim.
Namun, pengalaman Hazwan di Kudus tidak hanya berlangsung di sekitar pertandingan dan hotel. Ia sempat berziarah ke Makam Sunan Kudus, yang menjadi salah satu pengalaman paling berkesan baginya.

“Paling berkesan saya pergi melawat makam Sunan Kudus,” kata Hazwan.
Ia juga mulai mengenali suasana Kudus melalui aktivitas sehari-hari. Pada malam hari, misalnya, Hazwan merasakan perbedaan suasana kota dibandingkan Jakarta.
“Kalau malam kotanya agak sepi, itulah sebab kenapa saya nyaman. Jadi saya suka di sini daripada di Jakarta karena di sini lebih merasa tenang dan aman,” ujarnya.
Bagi Hazwan, Kudus akhirnya tidak hanya menjadi lokasi pertandingan. Orang-orang yang ditemuinya, tempat yang dikunjungi, dan suasana kota ikut menjadi bagian dari pengalaman selama berada di Indonesia.

Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 berakhir. Para pemain dan official kembali ke negara masing-masing, sementara orang-orang yang mendampingi mereka kembali pada aktivitas sehari-hari.
Selama beberapa hari, mereka yang sebelumnya tidak saling mengenal berbagi ruang, rutinitas, dan pengalaman di Kudus. Tidak semua pertemuan berlanjut menjadi pertemanan, tetapi nama, wajah, dan cerita dari turnamen tetap menjadi bagian dari pengalaman yang dibawa pulang.
Pertandingan pun selesai, tetapi bagi orang-orang yang terlibat di luar lapangan, pertemuan selama turnamen meninggalkan cerita tersendiri tentang Kudus.

Bagi orang-orang di Kudus yang terlibat dalam keseharian turnamen, para peserta yang semula datang sebagai orang asing perlahan menjadi bagian dari cerita mereka. Kedekatan itu tumbuh dari pertemuan yang berulang, percakapan sederhana, dan aktivitas sehari-hari yang dijalani bersama.
Pada akhirnya, Srikandi Merdeka Cup 2026 tidak hanya mempertemukan mereka di lapangan. Di luar pertandingan, orang-orang yang awalnya bertemu karena tugas dan kepentingan masing-masing mulai saling mengenal, lalu membawa pulang cerita tentang satu sama lain dari Kudus. (OEB/YSR/FZ/mainkekudus)