Logo Kudus

Penginapan di Rahtawu Tumbuh Bersama Wisata Desa di Lereng Gunung Muria

Diterbitkan: 12 Agustus 2026Penulis: Saldy Nurzaman

KUDUS – Perjalanan menuju Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, membawa wisatawan memasuki kawasan kaki Gunung Muria. Jalan yang berkelok, deretan pegunungan, tebing, serta aliran sungai menjadi bagian dari perjalanan sebelum akhirnya sampai di kawasan desa wisata.

Bagi wisatawan yang ingin tinggal lebih lama, pilihan tempat bermalam menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Di Rahtawu, penginapan tidak hanya hadir sebagai tempat untuk beristirahat. Sejumlah penginapan dibangun dengan karakter yang menyesuaikan lingkungan sekitar, sementara sebagian warga mulai membuka rumah sebagai homestay.

Perkembangan itu berjalan bersama perubahan Rahtawu dari kawasan yang sebelumnya lebih dikenal melalui wisata religi dan pendakian menjadi desa dengan beragam aktivitas wisata. Sungai, kuliner, penginapan, tradisi, hingga jalur pendakian kini menjadi bagian dari pengalaman yang dapat ditemukan dalam satu kawasan.

Septian, wisatawan asal Semarang, datang ke Rahtawu bersama istri dan buah hatinya. Sebelum berangkat, ia mencari informasi mengenai penginapan melalui internet hingga akhirnya memilih Lembah Rahtawu Homestay.

Septian, wisatawan asal Semarang. (Foto: JMY/mainkekudus)

Setibanya di lokasi, ia menemukan kamar yang luas, udara yang nyaman, area parkir yang luas, serta lokasi yang mudah dicari melalui Google. Harga kamar juga menjadi salah satu pertimbangannya.

Namun, hal yang paling ia rasakan adalah suasana di sekitar penginapan. Lembah Rahtawu Homestay berada di dekat sungai sehingga suara aliran air terdengar dari kawasan tempatnya menginap.

Bagi Septian, suara sungai memberikan suasana berbeda dari kehidupan sehari-hari di Semarang. Ia dapat beristirahat dengan suasana yang jauh dari kebisingan perkotaan.

Pengalaman tersebut membuat Lembah Rahtawu Homestay menjadi salah satu pilihan yang kembali ia pertimbangkan apabila berkunjung ke Rahtawu pada kesempatan berikutnya.

Rahtawu di Kaki Gunung Muria

Pemandangan Rahtawu menyuguhkan tebing dan kawasan pegunungan. (Foto: JMY/mainkekudus)

Rahtawu berada sekitar 20 kilometer dari Kota Kudus. Kawasan ini dikelilingi deretan pegunungan dan memiliki aliran sungai yang masih jernih. Mata air Kali Gelis juga berasal dari kawasan Rahtawu.

Karakter alam tersebut membuat perjalanan menuju desa menjadi bagian dari pengalaman wisata. Setelah melewati gapura selamat datang, wisatawan akan menemukan tebing di salah satu sisi jalan dan kawasan yang lebih curam di sisi lainnya.

Rahtawu berada sekitar 20 kilometer dari Kota Kudus, dikelilingi pegunungan dan aliran sungai yang menjadi bagian dari kawasan hulu Kali Gelis. (Foto: JMY/mainkekudus)

Di sepanjang perjalanan terdapat sejumlah titik yang dapat dikunjungi. Salah satunya adalah Kedung Gong, pemandian alami yang menawarkan aliran air dengan suhu dingin dan segar.

Bagi wisatawan yang menyukai aktivitas luar ruang, Rahtawu juga menjadi salah satu titik awal menuju Puncak 29 dan Natas Angin. Sementara bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan dengan lebih santai, sungai dan kuliner menjadi pilihan lain.

Nama Rahtawu Memiliki Cerita dari Masyarakat

Di balik lanskap pegunungannya, Rahtawu juga memiliki cerita mengenai asal-usul nama desa.

Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, nama Rahtawu berkaitan dengan peristiwa kelahiran Abiyoso, anak Sakri. Saat itu, istri Sakri melahirkan seorang anak laki-laki dan mengeluarkan banyak darah yang terus mengalir.

Sakri kemudian berusaha menawu, atau menguras, darah yang keluar tersebut. Dari peristiwa itu muncul nama Rah-Tawu yang kemudian berkembang menjadi Rahtawu.

Cerita tersebut menjadi salah satu bagian dari pengetahuan dan kisah masyarakat yang hidup berdampingan dengan perkembangan wisata desa.

Selain cerita mengenai asal-usul nama, terdapat sejumlah petilasan yang menggunakan nama leluhur Pandawa, seperti Eyang Sakri, Pikulun Naradha, dan Abiyasa. Meskipun menggunakan nama tokoh pewayangan, masyarakat setempat juga memegang kepercayaan bahwa pertunjukan wayang tidak digelar di Desa Rahtawu.

Lembah Rahtawu Homestay Dibangun Saat Pandemi

Lembah Rahtawu Homestay memanfaatkan limbah kayu dari usaha mebel sebagai bagian dinding dan interior bangunan yang dirintis Sukari sejak 2020. (Foto: JMY/mainkekudus)

Perkembangan penginapan di Rahtawu juga memiliki cerita tersendiri. Lembah Rahtawu Homestay dirintis Sukari, warga Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, pada 2020 ketika pandemi Covid-19 berdampak pada berbagai sektor pekerjaan.

Sebelum mengembangkan penginapan, Sukari memiliki usaha mebel dan bekerja sebagai kontraktor. Kondisi pandemi membuat aktivitas konstruksi ikut terdampak. Pada masa tersebut, ia juga melihat para pekerja dari berbagai daerah yang terpaksa dirumahkan.

Sukari, pemilik Lembah Rahtawu Homestay. (Foto: JMY/mainkekudus)

Gagasan membangun penginapan kemudian dijalankan di Rahtawu. Pengalaman Sukari sebagai pengusaha mebel ikut mempengaruhi bentuk bangunan.

Limbah kayu dari workshop miliknya digunakan sebagai bagian dari dinding dan interior. Bangunan dibuat dengan konsep industrial etnik dan tidak menggunakan pendingin ruangan. Udara kawasan pegunungan dimanfaatkan sebagai bagian dari kenyamanan pengunjung.

Lembah Rahtawu Homestay memiliki lima kamar single bed, lima kamar double bed, serta satu gazebo. Tersedia pula restoran yang menghadap sungai, free wifi, musala, parkir sepeda motor, dan lahan parkir mobil.

Salah satu tipe kamar yang ditawarkan Lembah Rahtawu Homestay. (Foto: JMY/mainkekudus)

Harga kamar berada pada kisaran Rp250.000 hingga Rp350.000, bergantung pada pilihan kamar. Pengunjung juga dapat bermain air atau berendam di sungai yang berada di sekitar penginapan.

Abiyoso Inn Membawa Suasana Rumah

Abiyoso Inn mempertahankan konsep perkampungan dengan pilihan kamar dan makanan bergaya rumahan. (Foto: JMY/mainkekudus)

Selain Lembah Rahtawu Homestay, Abiyoso Inn menjadi pilihan penginapan lain di kawasan tersebut. Penginapan yang dikelola Sumiyanto atau Yanto ini mempertahankan suasana perkampungan.

Abiyoso Inn memiliki 11 kamar dan satu unit tambahan. Tarifnya berada pada kisaran Rp 250.000 hingga Rp 350.000 per malam dengan pilihan fasilitas yang berbeda, termasuk kamar dengan AC atau bathtub.

Salah satu kamar yang ditawarkan Abiyoso Inn. (Foto: JMY/mainkekudus)
Fasilitas kamar mandi yang ada di Abiyoso Inn. (Foto: JMY/mainkekudus)

Namun, sebagian tamu justru memilih kamar tanpa pendingin ruangan. Mereka ingin merasakan udara pegunungan secara langsung.

Menurut Yanto, pemandangan gunung yang mengelilingi kawasan menjadi salah satu hal yang diperhatikan tamu. Konsep penginapan dibuat lebih dekat dengan suasana rumah, bukan seperti akomodasi perkotaan.

Sumiyanto, pengelola Abiyoso Iin. (Foto: JMY/mainkekudus)

Makanan yang disediakan juga mengikuti konsep tersebut. Nasi goreng kampung dan ayam kampung menjadi contoh menu yang disajikan dengan pendekatan makanan rumahan.

Menikmati Kuliner dan Alam

Pengalaman wisata di Rahtawu tidak hanya berlangsung di penginapan. Wisatawan dapat menikmati kuliner berbahan enthog, atau itik manila, sambil berada di tepi sungai.

Kuliner enthog goreng menjadi pilihan wisatawan untuk dinikmati di tepi sungai kawasan Rahtawu. (Sumber foto: Info Seputar Kudus – ISK)

Pilihan tersebut mempertemukan dua aktivitas yang berbeda dalam satu tempat. Wisatawan dapat menikmati makanan sekaligus melihat suasana pegunungan dan aliran air di sekitarnya.

Fasilitas pendukung di kawasan wisata juga berkembang. Area parkir, musala, kamar mandi atau MCK, tempat istirahat, rumah makan, serta rumah penginapan tersedia untuk menunjang kebutuhan wisatawan.

Untuk wisatawan yang datang menggunakan kendaraan umum, perjalanan dapat dilanjutkan dari Terminal Kecamatan Gebog menggunakan ojek atau kendaraan lain menuju Rahtawu. Sementara wisatawan dari luar daerah dapat menggunakan kendaraan pribadi dan memanfaatkan aplikasi peta digital untuk mencari rute.

Wisatawan dari Luar Kudus Mulai Mengenal Rahtawu

Ilustrasi maps dari google maps

Arief Wismoyono, pelancong asal Bandung, datang ke kawasan Rahtawu menggunakan sepeda motor. Sebelum berangkat, ia mencari informasi melalui Google dan TikTok.

Menurut pengalamannya, perjalanan menuju kawasan tersebut dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua. Jalannya berkelok, tetapi ia menilai perjalanan masih relatif aman jika dilakukan dengan kecepatan santai.

Arief Wismoyono, wisatawan asal Bandung. (Foto: JMY/mainkekudus)

Setelah tiba di penginapan, Arief memperhatikan kebersihan kamar, suasana hijau di sekitarnya, serta area parkir yang luas. Lingkungan yang jauh dari kebisingan kota membuat waktu beristirahat menjadi lebih nyaman.

(Foto: JMY/mainkekudus)

Kehadiran wisatawan dari luar daerah menunjukkan bahwa Rahtawu tidak hanya menjadi tujuan warga Kudus dan daerah sekitar. Menurut Pemerintah Desa Rahtawu, wisatawan yang datang banyak berasal dari Kudus, Jepara, dan Pati, tetapi ada pula pengunjung dari kota lain hingga mancanegara.

Wisata Tumbuh, Potensi Desa dan Tradisi Tetap Terjaga

Yuli Muhammad Rif’an, Staf Kesejahteraan Pemerintah Desa Rahtawu, menjelaskan bahwa perkembangan wisata berjalan seiring dengan perubahan cara masyarakat melihat potensi wilayahnya.

Yuli Muhammad Rif’an, Staf Kesejahteraan Pemerintah Desa Rahtawu. (Foto: JMY/mainkekudus)

Rahtawu sebelumnya lebih dikenal sebagai kawasan wisata religi dan jalur pendakian. Seiring waktu, masyarakat mulai mengembangkan potensi sungai, lanskap pegunungan, kuliner, dan penginapan.

Media sosial ikut membantu memperkenalkan lokasi-lokasi tersebut. Tempat yang muncul dalam konten kemudian menarik perhatian orang untuk datang dan melihat langsung.

Perkembangan wisata juga mendorong sebagian warga memperluas usaha. Warung kecil mulai dilengkapi fasilitas lain, termasuk kolam renang dan area wisata sungai. Sebagian masyarakat juga menawarkan paket wisata secara mandiri.

Penginapan pun tidak hanya dibangun oleh pelaku usaha. Sejumlah warga mulai membuka rumah mereka sebagai homestay, sehingga pilihan tempat tinggal wisatawan bertambah sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Aktivitas wisata di Rahtawu berjalan berdampingan dengan tradisi masyarakat. Salah satunya adalah Sedekah Bumi yang menjadi bentuk rasa syukur atas hasil bumi.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat menggelar selamatan dengan memotong seekor kerbau yang kemudian dibagikan kepada penduduk desa.

Ada pula Gebyar Langen Beksan Tayuban yang dilaksanakan setiap tahun. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tradisi syukur masyarakat atas hasil bumi melalui kesenian Tayub yang dikenal dalam budaya Pantura.

Keberadaan tradisi tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan wisata tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas. Kehidupan sosial dan kebiasaan masyarakat tetap menjadi bagian dari karakter desa.

Panorama Rahtawu menjadi bagian dari tantangan pengembangan wisata yang membutuhkan peningkatan layanan, SDM, dan pengelolaan. (Foto: JMY/mainkekudus)

Pertumbuhan wisata membawa kebutuhan baru bagi Rahtawu. Pemerintah Desa melihat perlunya peningkatan standar operasional, kualitas sumber daya manusia, serta kemampuan pelaku wisata mengikuti perubahan kebutuhan wisatawan.

Pada saat yang sama, lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas wisata. Sungai, pegunungan, udara sejuk, dan jalur pendakian menjadi alasan wisatawan datang.

Karena itu, perkembangan penginapan dan usaha wisata perlu berjalan bersama dengan pengelolaan lingkungan dan kehidupan masyarakat. Pengalaman Sukari memanfaatkan limbah kayu dari usaha mebel menjadi salah satu contoh bagaimana usaha dapat menggunakan sumber daya yang tersedia di sekitarnya.

Rahtawu kini memiliki lebih banyak alasan bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama. Ada penginapan yang berada di tepi sungai, suasana kampung, kuliner enthog, pemandian alami, jalur pendakian, petilasan, serta tradisi yang masih dijalankan masyarakat.

Bagi wisatawan, perjalanan ke Rahtawu dapat berarti menghabiskan waktu di kawasan pegunungan tanpa harus meninggalkan kenyamanan tempat bermalam. Bagi warga, perkembangan tersebut membuka ruang untuk mengembangkan usaha dari potensi yang ada di sekitar rumah.

Dari sungai yang mengalir hingga rumah warga yang berubah menjadi homestay, perkembangan wisata Rahtawu berlangsung melalui banyak aktivitas. Penginapan menjadi salah satu bagian dari proses itu, sementara alam dan kehidupan masyarakat tetap menjadi unsur yang membuat perjalanan ke desa ini memiliki pengalaman berbeda. (JMY/mainkekudus)