Logo Kudus

Pentingnya Melestarikan Hutan Muria, Daya Tarik Wisata Alam Kudus yang Menopang Kehidupan Masyarakat

15 Juli 2026Saldy Nurzaman

Kudus – Gunung Muria selama ini dikenal sebagai kawasan wisata alam dan religi. Jalur pendakian, sungai yang mengalir di lereng pegunungan, hingga udara sejuknya menjadi alasan wisatawan datang silih berganti setiap tahun.

Namun, Muria menyimpan peran yang jauh lebih besar dari sekadar destinasi wisata. Kawasan yang membentang di Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara ini menjadi penyangga kehidupan masyarakat. Hutan menjaga ketersediaan air, lahan pertanian menopang mata pencaharian, sementara ekosistemnya menjadi rumah bagi beragam flora dan satwa.

Di tengah berbagai manfaat tersebut, Muria juga menghadapi tantangan. Penggiat Konservasi (PEKA) Muria mencatat sekitar 9.000 hektare hutan mengalami kerusakan akibat pembalakan liar. Berbagai upaya pemulihan terus dilakukan, mulai dari restorasi mata air, penanaman pohon, perlindungan satwa liar, hingga edukasi kepada masyarakat agar pemanfaatan kawasan tetap berjalan seiring dengan upaya konservasi.

Muria Menopang Kehidupan Warga

Bagi masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Muria, hutan bukan sekadar bentang alam. Kawasan ini menyediakan air, mendukung pertanian, sekaligus menjadi sumber aktivitas ekonomi melalui sektor wisata.

Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Ternadi, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Muria Pati Ayam, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati, Teguh Jumadi Yanto, mengatakan pemanfaatan kawasan hutan harus selalu diimbangi dengan upaya pelestarian agar manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat.

“Peran kawasan gunung untuk wilayah hutan ini biasanya dikerjakan untuk bisa wisata, pertanian, sama-sama mendapatkan keuntungan dari hal tersebut untuk bisa mendapatkan ekonomi yang lebih baik supaya melestarikan hutan.”

Teguh Jumadi Yanto, KRPH Ternadi BKPH Muria Pati Ayam KPH Pati. (Foto: JMY/mainkekudus)

Menurut Teguh, keseimbangan antara wisata, pertanian, dan konservasi menjadi kunci agar fungsi ekologis maupun manfaat ekonomi Muria dapat terus berjalan berdampingan.

Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Ternadi, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Muria Pati Ayam, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati, Teguh Jumadi Yanto, mengatakan pengelolaan kawasan hutan memerlukan kolaborasi antara petugas, masyarakat, pengelola wisata, hingga para pengunjung.

“Petugas tidak mungkin melindungi kawasan hutan yang luas ini sendirian. Karena itu, pelestarian hutan harus melibatkan banyak pihak. Kondisi medan yang ekstrem, lembah yang curam, perubahan cuaca, dan aktivitas wisata di kawasan gunung membuat semua pihak perlu ikut menjaga kelestarian hutan.”

Menurut Teguh, kegiatan wisata dan konservasi tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama pemanfaatan kawasan dilakukan secara bertanggung jawab.

“Wisata dan konservasi harus saling mendukung. Kalau ingin memanfaatkan kawasan hutan untuk kegiatan wisata, kita juga harus ikut menjaganya, misalnya dengan menanam pohon dan berkoordinasi dengan pengelola kawasan.”

Rahtawu Merawat Alam dan Tradisi

Desa Rahtawu menjadi salah satu wajah Gunung Muria yang memperlihatkan hubungan erat antara alam dan kehidupan masyarakat. Selain dikenal sebagai destinasi wisata alam, desa ini juga masih menjaga tradisi, sejarah, dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Penjabat Kepala Desa Rahtawu, Ibnu Hajar, mengatakan masyarakat memandang Muria sebagai bagian dari identitas desa yang harus dijaga.

Pj Kepala Desa Rahtawu, Ibnu Hajar. (Foto: JMY/mainkekudus)

“Arti Muria bagi masyarakat bisa memelihara lingkungan adat istiadat, ragam, dan kepercayaan seperti makam Sunan Kudus dan Sunan Muria, dan masih ada puncak 29 sebagai kepercayaan.”

Kesadaran tersebut juga tercermin dalam aktivitas pertanian. Sebagian warga mulai beralih dari tanaman palawija ke kopi karena dinilai lebih mampu membantu menjaga kestabilan tanah di kawasan yang rawan longsor.

Menurut Ibnu, langkah tersebut turut membantu menjaga kestabilan tanah di kawasan yang memiliki potensi longsor.

“Tradisi yang masih terjaga itu lingkungan kehidupan supaya tetap hijau dan lestari karena masih rawan longsor. Sekarang beralih ke kopi dari palawija, sehingga menahan tanah dan suhu udara.”

Wisata Alam Menggerakkan Ekonomi Warga

Perkembangan wisata di Rahtawu menghadirkan aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak warga. Mulai dari pengelola wisata, pelaku kuliner, petani kopi, hingga peternak lokal memperoleh peluang dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

Ibnu menjelaskan bahwa potensi tersebut tumbuh bersama daya tarik wisata alam yang dimiliki desa.

“Perkembangan wisata alam manfaatnya itu dengan harapan masyarakat Desa Rahtawu seperti bercocok tanam kopi. Di sini banyak ditujukan wisata alam, air, makanan, dan juga ternak entog yang menjadi ciri khas warga sekitar juga ikut membantu seperti masak, sehingga meningkatkan roda perekonomian.”

Di sisi lain, tradisi seperti sedekah bumi, tayub, dan suronan tetap dipertahankan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Bagi warga Rahtawu, pelestarian budaya berjalan berdampingan dengan upaya menjaga alam.

Ekosistem Muria Menyimpan Keunikan

Ketua Penggiat Konservasi (PEKA) Muria, Teguh Budi Wiyono, menjelaskan bahwa Muria memiliki karakter ekologi yang berbeda dibanding kawasan pegunungan lainnya.

Teguh Budi Wiyono, Ketua Peka (Pegiat Konservasi) Muria. (Foto: Istimewa)

Menurutnya, sejarah geologi Gunung Muria membentuk keanekaragaman hayati yang masih dapat dijumpai hingga sekarang, termasuk keberadaan satwa liar yang hidup di kawasan hutan lindung.

“Keunikan masih ada dua desa yang dulu waktu Gunung Muria pas belum meletus. Kondisi alamnya sekarang mungkin dulu ada Selat Muria jadi terpisah. Jadi di lereng masih ada macan tutul Muria, masih ada binatang-binatang yang lain. Dihuni, ada keunikan dengan kondisi sekarang yang mungkin hutan lindungnya 32 persen masih lumayan bagus untuk bertahan satwa yang dilindungi.”

Keberadaan kawasan hutan lindung menjadi salah satu faktor yang mendukung habitat satwa dan tumbuhan yang hidup di Muria.

Pemandangan lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. (Foto: JMY/mainkekudus)

Ia juga mengingatkan adanya tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari kerusakan hutan akibat pola tanam yang tidak terkendali, potensi longsor, hingga pemanfaatan sumber mata air.

“Ancaman lingkungan yang dihadapi kerusakan hutan akibat penanaman kopi yang tidak terkontrol, longsor di beberapa tempat kawasan desa pinggir hutan Muria dan eksploitasi air sumber mata air.”

Pengunjung Diajak Menghormati Alam

Meningkatnya aktivitas wisata membawa tanggung jawab yang lebih besar bagi setiap pengunjung. Teguh Budi mengingatkan agar wisatawan maupun peserta Muria Trail Run tetap mengikuti jalur yang telah ditentukan dan tidak merusak vegetasi yang ada.

Penggiat Konservasi (PEKA) Muria sedang melakukan penanaman bibit pohon. (Foto: Istimewa)

Teguh Budi Wiyono mengingatkan wisatawan maupun peserta kegiatan di Gunung Muria untuk selalu mengikuti jalur yang telah ditentukan dan mematuhi arahan petugas. Selain mempertimbangkan kondisi medan, langkah tersebut juga penting untuk mengurangi risiko bertemu satwa liar yang masih hidup di kawasan hutan.

“Wisatawan maupun peserta dari luar Kudus sebaiknya mengikuti petunjuk yang ada dan tetap berhati-hati. Di kawasan ini masih terdapat satwa liar. Selain itu, jangan merusak tanaman karena bisa saja merupakan flora endemik Muria. Ada sekitar 50 jenis tanaman yang sebagian di antaranya diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun.”

Penggiat Konservasi (PEKA) Muria sedang melakukan penanaman bibit pohon. (Foto: Istimewa)

Ia juga menegaskan bahwa budidaya kopi tetap dapat dilakukan selama tidak mengubah fungsi kawasan hutan maupun merusak kondisi lingkungan.

“Masyarakat ingin menanam kopi, itu tidak salah. Yang menjadi persoalan adalah jika penanamannya sampai merusak lahan atau kawasan hutan. Menanam kopi boleh, tetapi jangan sampai merusak hutan. Yang terpenting, sumber air tetap terjaga dan kondisi hutannya tidak berubah.”

Luasnya kawasan Gunung Muria membuat upaya pelestarian tidak dapat mengandalkan petugas kehutanan semata. Medan yang terjal, perubahan cuaca yang cepat, serta keterbatasan personel membuat perlindungan kawasan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Muria Menjadi Penyangga Air Tiga Kabupaten

Bebatuan dan aliran air dari sungai di kawasan wisata Desa Rahtawu Kecamatan Gebog, Kudus. (Foto: JMY/mainkekudus)

Di balik keindahannya, Gunung Muria juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Pakar psikologi sosial Universitas Muria Kudus (UMK), Dr. Mochamad Widjanarko, menjelaskan bahwa keberadaan Muria memiliki fungsi yang jauh melampaui kawasan wisata.

Dr. Mochamad Widjanarko, Pakar psikologi sosial Universitas Muria Kudus (UMK). (Foto: Istimewa)

Menurutnya, Muria merupakan daerah tangkapan air yang menopang kebutuhan masyarakat di tiga kabupaten.

“Ekosistem Muria itu unik, dulu pernah menjadi pulau yang terlepas dari Jawa. Kawasan Muria menjadi penting karena sebagai spon atau penyangga air di tiga kabupaten yaitu Kudus, Pati, dan Jepara.”

Menurut Widjanarko, menjaga kawasan Muria membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari masyarakat, Perhutani, pemerintah desa, pemerintah daerah, hingga komunitas yang bergerak di bidang lingkungan.

“Menjaga konservasi dengan cara kerja sama banyak pihak seperti masyarakat yang ada di desa pinggir hutan Muria, Perhutani KPH Pati, pemerintah desa dan pemerintah kabupaten di tiga wilayah, dan organisasi lingkungan yang peduli Muria.”

Sports Tourism Membawa Pesan Menjaga Muria

Kolaborasi tersebut juga diwujudkan melalui penyelenggaraan Muria Trail Run. Event ini bukan hanya menghadirkan kompetisi lari lintas alam, tetapi juga memperkenalkan pentingnya menjaga kawasan Gunung Muria sebagai bagian dari keberlanjutan sports tourism.

Sepanjang lintasan, peserta diajak menyaksikan bagaimana hutan, mata air, lahan pertanian, dan kehidupan masyarakat saling terhubung dalam satu bentang alam.

Bagi pelari, pengalaman yang didapat bukan hanya menaklukkan tanjakan dan turunan. Mereka juga melihat secara langsung bahwa jalur yang dilalui merupakan ruang hidup masyarakat, habitat flora dan fauna, sekaligus kawasan yang menjaga ketersediaan air bagi ribuan warga.

Ilustrasi pelari Trail Run. (Foto: Istimewa)

Di sisi lain, penyelenggaraan Muria Trail Run turut menggerakkan ekonomi lokal. Kehadiran peserta membuka peluang bagi pelaku wisata, pengelola homestay, rumah makan, transportasi, hingga UMKM yang menjual produk khas daerah.

Melalui Muria Trail Run 2026 yang akan berlangsung pada 1-2 Agustus di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, peserta akan mengikuti kategori 8K, 15K, 30K, dan 45K. Namun, pengalaman yang mereka bawa pulang tidak hanya soal menyelesaikan perlombaan, melainkan juga pemahaman bahwa alam yang mereka nikmati perlu dijaga bersama. (JMY/mainkekudus)


Pentingnya Melestarikan Hutan Muria, Daya Tarik Wisata Alam Kudus yang Menopang Kehidupan Masyarakat | Main ke Kudus