Logo Kudus

Peran Pelatih Panahan Membentuk Karakter Atlet Sejak Dini

Diterbitkan: 4 Agustus 2026Penulis: Saldy Nurzaman

KUDUS – Tepuk tangan selalu mengiringi setiap anak panah yang menancap tepat di sasaran. Nama atlet dipanggil naik ke podium, medali dikalungkan, lalu prestasi menjadi cerita yang dibawa pulang. Namun, di balik setiap pencapaian itu, ada sosok yang lebih sering berdiri beberapa meter di belakang garis tembak. Perannya tidak selalu terlihat, tetapi menjadi bagian penting dari proses yang mengantarkan seorang atlet berkembang.

Di olahraga panahan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh ketepatan membidik sasaran. Proses pembinaan dimulai jauh sebelum seorang atlet mengikuti pertandingan. Teknik dasar, disiplin, konsentrasi, hingga kemampuan mengendalikan emosi dipelajari melalui latihan yang berlangsung secara bertahap. Di balik proses itu, pelatih menjadi pendamping yang membantu atlet bertumbuh, tidak hanya sebagai pemanah, tetapi juga sebagai pribadi.

Salah satu sosok yang menjalankan peran tersebut adalah Ahmad Abdul Aziz Muslim. Pria berusia 38 tahun asal Desa Klumpit, Kabupaten Kudus, itu sehari-hari bekerja sebagai staf administrasi di Dinas Sosial Kabupaten Kudus. Selepas menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara, ia menghabiskan waktunya di lapangan panahan untuk mendampingi puluhan anak yang sedang belajar olahraga yang mengutamakan ketenangan, ketepatan, dan konsentrasi.

Dalam panahan diajarkan tentang norma, sopan santun, dan bagaimana menghargai teman. Coach Aziz mengajarkan cara memanah kepada atlet binaannya. (Foto: FZ/mainkekudus)

Bagi Aziz, menjadi pelatih bukan sekadar mengajarkan cara menarik busur dan melepaskan anak panah. Ia meyakini pembinaan atlet juga harus diiringi dengan pembentukan karakter sejak usia dini.

Abdul Aziz, pelatih panahan Senior. (Foto: FZ/mainkekudus)

“Yang pertama kami ajarkan bukan langsung cara memanah, tetapi norma, sopan santun, dan bagaimana menghargai teman. Anak-anak harus belajar saling mendukung, bukan saling meremehkan,” ujarnya.

Berawal dari Rasa Penasaran Hingga Mengantongi Lisensi

Semua anak punya kesempatan belajar panahan. Coach Azis dan atlet muda panahan. (Foto: FZ/mainkekudus)

Perjalanan Aziz mengenal panahan bermula pada 2016. Berawal dari rasa penasaran terhadap olahraga tersebut, ia kemudian aktif membangun komunitas panahan tradisional di Kudus. Bersama rekan-rekannya, ia mengenalkan panahan kepada masyarakat hingga menyelenggarakan kejuaraan panahan tradisional tingkat Pulau Jawa pada 2017 yang diikuti sekitar 250 peserta dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Aziz juga pernah meraih Juara II pada kejuaraan panahan tradisional di Sragen pada 2018. Meski demikian, pengalaman sebagai atlet justru memperkuat keyakinannya bahwa keberhasilan di lapangan tidak dapat dipisahkan dari proses pembinaan yang berlangsung setiap hari.

Saat itu, jumlah pelatih panahan di Kudus masih terbatas. Kondisi tersebut mendorong Aziz mengikuti pendidikan kepelatihan hingga memperoleh lisensi dari Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (Fespati) Jawa Tengah. Sejak 2022, ia aktif melatih di Klub Panahmu dan sejumlah sekolah di Kudus.

Motivasinya sederhana, yakni membuka kesempatan lebih luas bagi anak-anak untuk mengenal olahraga panahan.

“Semua anak sebenarnya punya kesempatan belajar panahan. Yang penting mereka mengenal teknik yang benar sejak awal dan belajar mandiri dalam merawat peralatannya,” katanya.

Pendekatan Latihan Disesuaikan dengan Karakter Atlet

Coach Aziz mengajarkan cara memanah kepada atlet binaannya. Karena setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda. (Foto: FZ/mainkekudus)

Saat ini Aziz membina sekitar 40 atlet, mulai dari usia sekolah dasar hingga dewasa. Menurutnya, setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda sehingga tidak bisa dilatih dengan pendekatan yang sama.

Sebelum menentukan metode latihan, ia lebih dahulu mengamati kepribadian setiap atlet. Anak yang terlalu bergantung pada temannya, misalnya, akan dipisahkan jadwal latihannya agar belajar mandiri. Mereka juga didorong mengikuti berbagai turnamen untuk melatih keberanian menghadapi suasana pertandingan dan lawan dari daerah lain.

Dalam panahan kekuatan fisik dan mental harus dibangun. (Foto: FZ/mainkekudus)

“Setiap anak punya potensi berbeda. Ada yang kuat secara fisik, ada yang mentalnya perlu dibangun lebih dulu. Tugas pelatih adalah menemukan cara terbaik agar potensi itu muncul,” jelasnya.

Evaluasi juga menjadi bagian penting dalam pembinaan. Setiap sesi latihan ditutup dengan pencatatan hasil melalui buku skor. Dari catatan tersebut, perkembangan atlet dipantau secara berkala.

Jika hasil latihan menurun, Aziz tidak langsung menilai kemampuan atlet menurun. Ia lebih dahulu mencari penyebabnya, apakah berasal dari teknik, konsentrasi, kondisi fisik, atau faktor psikologis. Dengan cara itu, setiap atlet memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya.

Keteladanan Menjadi Bagian dari Latihan

Dalam olahraga panahan, disiplin juga berkaitan dengan keselamatan. (Foto: FZ/mainkekudus)

Bagi Aziz, disiplin tidak dibangun melalui hukuman. Ia memilih memberikan contoh terlebih dahulu sebelum meminta atlet melakukan hal yang sama.

Ia selalu berusaha datang lebih awal, mengenakan seragam dengan rapi, dan menjalankan aturan yang berlaku di lapangan.

“Kalau pelatih saja terlambat, bagaimana anak-anak mau disiplin?” katanya.

Dalam olahraga panahan, disiplin juga berkaitan dengan keselamatan. Setiap atlet harus mematuhi aba-aba ketika berada di garis tembak maupun saat mengambil anak panah di area sasaran. Kesalahan kecil dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Agar suasana latihan tetap menyenangkan, Aziz sesekali mengubah pola latihan menjadi permainan. Sasaran dibuat berbeda dan disertai tantangan sederhana dengan hadiah kecil bagi atlet yang berhasil mencapainya. Cara tersebut membantu menjaga semangat anak-anak untuk terus berlatih.

Kebiasaan Positif Diterapkan di Rumah dan Sekolah

Pendekatan yang diterapkan Aziz dirasakan langsung oleh salah satu atlet binaannya, Ahmad Maulana Umar Al Fatih. Menurutnya, latihan panahan bukan hanya mengajarkan teknik membidik sasaran, tetapi juga membangun kebiasaan positif.

Ahmad Maulana Umar Al Fatih salah satu atlet binaan pelatih Ahmad Abdul Aziz Muslim yang berprestasi. (Foto: FZ/mainkekudus)

“Yang paling saya pelajari adalah bagaimana tetap konsisten, disiplin, dan fokus. Saat latihan sering ada challenge, kalau berhasil biasanya dapat hadiah,” ujarnya.

Fatih mengatakan pelatih selalu mengingatkan agar tidak cepat puas ketika meraih prestasi. Pesan tersebut kemudian ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sekarang saya jadi lebih fokus dan disiplin, bukan hanya saat latihan, tetapi juga di rumah dan di sekolah,” katanya.

Perubahan itu juga dirasakan orang tua Fatih, Ahmad Noor Fajrin. Ia memilih mempercayakan putranya berlatih kepada Aziz karena melihat pengalaman dan sertifikasi kepelatihan yang dimiliki, selain komunikasi yang terjalin selama proses pembinaan.

Ahmad Noor Fajrin (paling kanan) orangtua atlet Ahmad Maulana Umar Al Fatih. (Foto: FZ/mainkekudus)

“Awalnya anak kurang semangat. Setelah merasakan hasilnya dan mulai juara, sekarang justru lebih bersemangat latihan. Komunikasi dengan pelatih juga sangat lancar,” tuturnya.

Kualitas Pelatih Menjadi Faktor Penting Regenerasi Atlet

Kualitas pelatih menjadi salah satu faktor penting dalam regenerasi atlet. (Foto: FZ/mainkekudus)

Proses pembinaan yang dilakukan Aziz mulai terlihat melalui pencapaian sejumlah atlet binaannya. Fatih kembali memperoleh kesempatan mengikuti Kejuaraan Nasional di Malang. Atlet lain, seperti Mikyal, pernah meraih Juara III Kejuaraan Nasional. Sementara Devan, Safea, Shanum, Santi, dan Zainal juga berhasil mencatatkan prestasi pada berbagai kejuaraan tingkat regional maupun nasional.

Meski demikian, Aziz mengingatkan bahwa setiap prestasi merupakan bagian dari proses belajar yang harus terus dijaga.

“Setiap tahun selalu muncul atlet-atlet baru yang lebih hebat. Karena itu saya selalu mengingatkan mereka agar tetap rendah hati, terus berlatih, dan terus mengevaluasi diri,” katanya.

Ketua Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kabupaten Kudus, Bambang Widjanarko, menilai kualitas pelatih menjadi salah satu faktor penting dalam regenerasi atlet. Menurutnya, pelatih bukan hanya menyusun program latihan, tetapi juga merancang tahapan pembinaan mulai dari pengenalan peralatan, latihan fisik, penguasaan teknik, pembentukan mental bertanding, hingga penanaman karakter.

Bambang Widjanarko, Ketua Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kabupaten Kudus. (Foto: FZ/mainkudus)

“Anak tidak bisa langsung disuruh menembak. Mereka harus mengenal alat, memahami teknik, membangun disiplin, kesabaran, dan mental bertanding secara bertahap,” ujarnya.

Ia mengakui pembinaan panahan di Kudus sempat menghadapi tantangan setelah wafatnya pelatih senior Hadi Sunaryo. Kini, regenerasi mulai berjalan melalui hadirnya sejumlah pelatih yang telah mengantongi lisensi nasional. Pelatihan bagi guru olahraga yang difasilitasi Djarum Foundation juga turut memperluas pembinaan panahan di sekolah.

Di sisi lain, penyelenggaraan MilkLife Archery Challenge yang berlangsung dua kali setiap tahun ikut meningkatkan minat anak-anak untuk menekuni olahraga panahan. Bertambahnya peserta tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru karena kebutuhan pelatih bersertifikat terus meningkat.

Ilustrasi pelatih dan atlet panahan. (Sumber foto: IG indonesia.archery)

Di tengah kondisi itu, Aziz tetap menjalankan rutinitasnya di lapangan. Ia mengamati satu per satu atlet menarik busur, memperbaiki posisi tubuh, mengingatkan teknik dasar, sekaligus memberi semangat ketika hasil latihan belum sesuai harapan.

Baginya, latihan panahan tidak semata-mata bertujuan menghasilkan nilai tinggi di papan target atau mengumpulkan medali. Proses yang dijalani setiap hari juga menjadi kesempatan menanamkan disiplin, kesabaran, tanggung jawab, dan sikap rendah hati kepada para atlet.

Proses latihan yang dijalani setiap hari menjadi bagian dari pembentukan karakter atlet, mulai dari disiplin, kesabaran, tanggung jawab, hingga sikap rendah hati. . (FZ/mainkekudus)

Ketika suatu hari nanti mereka meninggalkan arena pertandingan, nilai-nilai itulah yang diharapkan tetap melekat dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, bagi seorang pelatih, keberhasilan pembinaan bukan hanya diukur dari prestasi yang diraih atlet, tetapi juga dari karakter yang tumbuh selama menjalani proses tersebut. (FZ/mainkekudus)

KEGIATAN TERKAIT

MilkLife Archery Challenge Kejuaraan Nasional Panahan Junior 2026

MilkLife Archery Challenge Kejuaraan Nasional Panahan Junior 2026

22 - 29 Juli 2026
Peran Pelatih Panahan Membentuk Karakter Atlet Sejak Dini | Main ke Kudus