

Ramainya Kejuaraan di Kudus, Meningkatkan Kebutuhan Sport Massage
KUDUS – Pertandingan hanya berlangsung dalam hitungan menit, tetapi dampaknya pada tubuh atlet bisa bertahan lebih lama. Tubuh yang baru saja dipaksa bekerja dalam intensitas tinggi masih menyimpan kelelahan, ketegangan otot, hingga risiko cedera yang tidak selalu langsung terasa. Di balik kemenangan maupun kekalahan, ada satu tahap yang kerap luput dari perhatian publik, yakni proses pemulihan.
Kesadaran terhadap pentingnya recovery semakin terlihat seiring ramainya penyelenggaraan berbagai kejuaraan olahraga di Kabupaten Kudus. Kota yang belakangan rutin menjadi tuan rumah kompetisi regional hingga nasional ini tidak hanya menghadirkan arena pertandingan, tetapi juga memunculkan kebutuhan akan layanan pendukung yang membantu atlet menjaga kondisi tubuh. Salah satunya adalah terapi fisik atau sport massage, yang kini menjadi bagian dari ekosistem olahraga modern.
Metode Terapi Disesuaikan dengan Kebutuhan Atlet

Bagi sebagian orang, pijat masih identik dengan cara melepas penat setelah beraktivitas. Namun bagi atlet, terapi pemulihan memiliki fungsi yang jauh lebih spesifik. Penanganan dilakukan untuk membantu memperlancar sirkulasi darah, mengurangi kekakuan otot, mempercepat proses pemulihan setelah latihan maupun pertandingan, serta menekan risiko cedera yang dapat mengganggu program latihan berikutnya.
Kebutuhan akan layanan pemulihan tersebut semakin terasa seiring meningkatnya penyelenggaraan berbagai kejuaraan olahraga di Kabupaten Kudus. Tidak sedikit atlet yang datang menjalani terapi setelah mengikuti pertandingan, baik atlet lokal maupun peserta dari berbagai daerah yang berlaga di Kota Kretek.
Di tengah berkembangnya ekosistem olahraga tersebut, Nakamura The Healing Touch Kudus menjadi salah satu tempat yang banyak didatangi masyarakat maupun atlet untuk menjalani terapi fisik. Beroperasi sejak 2018, klinik yang berlokasi di Jalan Letkol Tit Sudono, Wergu Kulon, ini melayani berbagai keluhan muskuloskeletal melalui pendekatan akupresur dan terapi fisik yang disesuaikan dengan kondisi setiap pasien.

Supervisor Nakamura The Healing Touch Kudus, Riza Pratama, menjelaskan bahwa setiap metode terapi memiliki tujuan dan pendekatan yang berbeda. Teknik akupresur dilakukan hanya dengan tangan tanpa menggunakan alat maupun obat, sedangkan sport massage memanfaatkan minyak terapi dan dilakukan di ruang perawatan khusus. Menurutnya, penanganan terhadap atlet tidak dapat disamaratakan karena setiap cabang olahraga memberikan beban yang berbeda pada tubuh.

Perbedaan karakter olahraga membuat area tubuh yang diterapi juga menyesuaikan kebutuhan masing-masing atlet. Atlet bulu tangkis, misalnya, lebih sering mengalami keluhan pada bahu akibat gerakan pukulan yang dilakukan berulang, sedangkan atlet yang banyak berlari umumnya membutuhkan penanganan pada kaki karena otot dan sendi di bagian tersebut menerima beban lebih besar selama latihan maupun pertandingan. Pendekatan yang spesifik inilah yang membedakan sport massage dari pijat relaksasi pada umumnya.
Untuk menjaga kualitas pelayanan, setiap terapis di Nakamura wajib menjalani pelatihan intensif selama satu hingga tiga bulan. Selama masa tersebut, mereka mempelajari titik-titik meridian tubuh secara mendalam sebagai bekal memberikan terapi sesuai standar operasional yang telah ditetapkan.

Pilihan layanan yang tersedia pun beragam, mulai dari Seitai Jepang yang berfokus pada area pundak dan tangan, Bubun Seitai untuk penanganan bagian tubuh tertentu seperti leher atau pundak, Mixed Treatment yang mengkombinasikan beberapa teknik terapi, hingga Terapi Seluruh Tubuh (TST). Durasi perawatan berkisar antara 60 hingga 120 menit dengan pilihan ruang reguler, eksekutif, dan VIP yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta tingkat privasi pasien. Kisaran biaya terapi mulai sekitar Rp110.000 hingga Rp280.000, bergantung pada jenis perawatan, lama sesi, dan pilihan ruangan.
Pada ruang reguler tarif layanan berkisar antara Rp110.000 hingga Rp200.000, sedangkan ruang eksekutif berada pada kisaran Rp185.000 hingga Rp240.000. Sementara itu, ruang VIP yang menawarkan ruang terapi tertutup dengan privasi lebih memiliki kisaran tarif Rp220.000 hingga Rp280.000. Seluruh layanan telah mencakup perlengkapan terapi tanpa biaya tambahan, dan setiap pasien juga disuguhi wedang jahe hangat setelah sesi perawatan selesai.
Recovery Tidak Bisa Instan

Di tengah meningkatnya kebutuhan pemulihan, Riza mengingatkan bahwa terapi bukanlah solusi yang memberikan hasil seketika untuk semua kondisi.
Cedera maupun gangguan otot memerlukan proses yang bertahap. Lama penanganan bergantung pada kondisi pasien, tingkat keluhan, serta kepatuhan menjalani terapi sesuai prosedur. Karena itu, atlet tidak disarankan menganggap satu kali terapi cukup untuk mengatasi semua masalah.
Durasi terapi sendiri berkisar antara satu hingga dua jam, bergantung pada metode yang digunakan. Untuk menjaga kebugaran, atlet dianjurkan menjalani terapi pemeliharaan secara berkala agar kekakuan sendi dan otot dapat diminimalkan sebelum berkembang menjadi cedera yang lebih serius.
Pemulihan Tubuh Menjadi Hal Penting Untuk Atlet
Dalam beberapa waktu terakhir, Kudus menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai kompetisi olahraga, termasuk rangkaian kejuaraan di Supersoccer Arena. Aktivitas tersebut turut memengaruhi meningkatnya kunjungan ke layanan terapi fisik.
Riza mengatakan banyak atlet datang setelah menyelesaikan pertandingan dengan keluhan yang hampir serupa. Pada atlet sepak bola, misalnya, rasa nyeri lebih sering muncul pada area pinggang hingga kaki akibat tingginya intensitas berlari selama pertandingan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan pendukung olahraga tidak berhenti pada tersedianya lapangan pertandingan. Kehadiran fasilitas pemulihan juga menjadi bagian penting agar atlet dapat kembali berlatih maupun bertanding dalam kondisi yang lebih baik.
Mendengarkan Keluhan, Memahami Tubuh Atlet
Bagi Bilal Muhammad Firmansyah, fisioterapis yang telah bekerja selama empat tahun di Nakamura Kudus, pekerjaannya bukan hanya memberikan terapi.

Setiap hari ia bertemu pasien dengan latar belakang berbeda. Ada atlet yang datang setelah mengikuti pertandingan, pegiat kebugaran yang mengalami cedera saat latihan, hingga masyarakat umum yang mengalami gangguan pada sistem gerak.
Menurut Bilal, proses pemulihan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas olahraga. Intensitas latihan yang tinggi akan memberikan beban besar kepada otot. Tanpa waktu pemulihan yang cukup, risiko cedera akan meningkat.
Dalam praktiknya, perhatian lebih sering diberikan pada bagian tubuh yang menjadi pusat aktivitas atlet, seperti pergelangan tangan, telapak kaki, betis, lutut, bahu, hingga pinggang bawah. Area tersebut merupakan bagian yang paling sering menerima tekanan selama latihan maupun pertandingan. Selain terapi, ia juga mengingatkan pentingnya pemanasan dan peregangan sebelum berolahraga sebagai langkah sederhana untuk mengurangi kemungkinan cedera.

Ketika Tubuh Kembali Siap Bertanding
Manfaat terapi tidak hanya dijelaskan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga dirasakan langsung oleh atlet yang menjalaninya.
Mumu Muzayyan, atlet futsal amatir, mengaku rutin menjalani terapi setelah bermain karena sering merasakan pegal pada kedua kaki. Ia mengenal layanan tersebut melalui ulasan di internet dan telah menjalani terapi secara berkala selama beberapa bulan terakhir.

Baginya, perubahan yang paling terasa bukan hanya berkurangnya rasa pegal, tetapi juga kualitas istirahat setelah menjalani terapi. Tubuh menjadi lebih rileks sehingga tidur terasa lebih nyaman dan aktivitas berikutnya dapat dijalani tanpa gangguan berarti.
Pengalaman tersebut membuatnya menjadikan pemulihan sebagai bagian dari rutinitas menjaga kebugaran, bukan sekadar dilakukan ketika rasa sakit sudah muncul.
Setiap Cabang Olahraga Memiliki Pendekatan Berbeda
Pandangan serupa juga disampaikan Fitra Wibowo Kusuma, pelatih Kontingen Jawa Tengah yang mendampingi atlet dalam ajang MilkLife Archery Challenge Kejurnas Panahan Junior 2026 di Supersoccer Arena Kudus.

Menurutnya, setiap pelatih pasti memasukkan program pemulihan ke dalam perencanaan latihan. Bentuknya dapat berupa terapi air dingin, berendam es, berenang, maupun metode lain sesuai kebutuhan atlet dan karakter cabang olahraga.
Ia menekankan bahwa penanganan atlet panahan tidak bisa disamakan dengan cabang olahraga yang mengandalkan benturan atau gerakan eksplosif. Otot yang bekerja pada atlet panahan memiliki karakter berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih spesifik. Karena itu, pemilihan metode pemulihan harus mempertimbangkan jenis aktivitas yang dilakukan atlet selama latihan maupun pertandingan.
Bagi Fitra, mengabaikan fase pemulihan sama artinya membuka peluang munculnya cedera yang pada akhirnya akan mempengaruhi performa atlet dalam jangka panjang.
Terapi Sport Massage Dukung Keberlanjutan Performa Atlet

Perkembangan olahraga di Kudus tidak hanya terlihat dari semakin banyaknya kejuaraan yang digelar. Di balik setiap pertandingan, perlahan tumbuh pula berbagai layanan yang mendukung perjalanan atlet, mulai dari tempat latihan, fasilitas pertandingan, hingga layanan pemulihan fisik.
Terapi bukan lagi dipandang sebagai pelengkap setelah bertanding, melainkan bagian dari proses menjaga keberlanjutan performa. Ketika latihan, pertandingan, dan pemulihan berjalan beriringan, atlet memiliki kesempatan lebih baik untuk kembali ke arena dalam kondisi yang siap menghadapi tantangan berikutnya.
Di tengah geliat olahraga yang terus berkembang, kesadaran terhadap pentingnya recovery menjadi pengingat bahwa prestasi tidak hanya dibangun saat berlatih atau bertanding. Ia juga lahir dari kemampuan tubuh untuk pulih, beradaptasi, lalu kembali bergerak menuju pertandingan selanjutnya. (JMY/DN/HNR/mainkekudus)