Logo Kudus

Rela Tutup Warung Mie Ayam, Perjuangan Orang Tua Antar Mimpi Pesepak Bola Putri ke Lapangan

28 Juni 2026Saldy Nurzaman

Kudus – Riuh tepuk tangan dan sorak-sorai memenuhi tribun Supersoccer Arena, Kudus, Sabtu (27/6/2026). Di atas lapangan, para pemain MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All Stars berjuang memperebutkan tiket menuju partai final. Namun, di balik setiap tekel, umpan, dan penyelamatan, ada cerita lain yang tak kalah berarti. Cerita tentang keluarga yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan mata pencaharian demi menemani anak-anak mereka mengejar mimpi.

Ekpresi Pemain All Stars Jakarta Usai Pertandingan Melawan All Stars Yogyakarta (Foto: DN/retouch photo: arpan jayadi/mainkekudus)

Salah satu kisah itu datang dari tribun pendukung All Stars Jakarta. Di sana, Marno tak henti-hentinya menyemangati putrinya, Siti Hawa Faadiyah, bek kiri andalan tim yang tampil penuh semangat sepanjang pertandingan. Suaranya menjadi salah satu yang paling lantang terdengar dari bangku penonton.

Marno Saat Menyaksikan Pertandingan di Stadion Supersoccer Arena Kudus.  (Foto: DN/retouch photo: arpan jayadi/mainkekudus)

Perjalanan Marno menuju Kudus bukan sekadar perjalanan antarkota. Ia datang dari Depok dengan sebuah keputusan yang tak sederhana. Demi menyaksikan langsung putrinya bertanding, pria yang sehari-hari berjualan mie ayam itu memilih menutup warungnya selama empat hari.

Warung mie ayam milik Marno orang tua Hawa pemain All Stars Jakarta. (Foto: Istimewa/retouch photo: arpan jayadi/mainkekudus)

Baginya, kesempatan melihat Hawa berjuang di lapangan jauh lebih berharga daripada tetap membuka usaha seperti biasanya. Dukungan orang tua, menurutnya, menjadi bagian penting dari perjalanan seorang anak yang sedang mengejar cita-cita.

“Saya ke sini sejak hari Kamis kemarin. Di rumah, usaha jualan mie ayam saya tutup dulu selama empat hari. Memang fokusnya sekarang mendukung anak agar tampil maksimal di lapangan,” ujar Marno dengan mata berbinar.

Perjalanan itu juga tidak dilakukan sendirian. Marno mengajak keluarga besarnya ikut ke Kudus. Nenek hingga paman Hawa hadir di tribun untuk memberikan dukungan secara langsung. Kehadiran mereka menghadirkan suasana hangat di tengah sengitnya persaingan babak semifinal, sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan seorang atlet muda sering kali menjadi perjuangan bersama seluruh keluarga.

Bagi Marno, perubahan yang dialami Hawa sejak menekuni sepak bola jauh lebih berarti daripada sekadar hasil pertandingan. Siswi kelas 5 SD Mampang 1 itu, menurutnya, tumbuh menjadi pribadi yang lebih disiplin dan memiliki rutinitas yang lebih teratur.

Ia melihat kebiasaan tidur Hawa menjadi lebih tertib, sementara waktu bermain gadget juga berkurang cukup banyak karena lebih banyak digunakan untuk berlatih dan beristirahat.

Marno Pedagang Mie Ayam, Orang Tua Pemain All Stars Jakarta. (Foto: DN/retouch photo: arpan jayadi/mainkekudus)

“Saya lihat MLSC ini wadah yang sangat top. Mulai dari pencarian bakat hingga tingkat nasional seperti ini sangat bagus untuk anak-anak. Sejak fokus di sepak bola, anak saya jadi lebih disiplin, tidurnya tepat waktu, dan intensitas bermain gadget berkurang drastis. Wah, pokoknya banyak perubahan bagus,” tambahnya.

Perubahan itulah yang membuat Marno semakin yakin mendukung pilihan putrinya. Ia juga menaruh harapan terhadap masa depan sepak bola putri Indonesia yang dinilainya semakin memiliki arah. Menurutnya, pembinaan yang berkelanjutan dari Bakti Olahraga Djarum Foundation memberi optimisme bahwa anak-anak yang memiliki bakat kini mempunyai kesempatan untuk berkembang melalui jenjang yang lebih jelas.

Siti Hawa Faadiyah ( Jersey Oren ) bersama Sang Ayah. (Foto: DN/retouch photo: arpan jayadi/mainkekudus)

Sementara itu, Hawa yang baru berusia 11 tahun juga merasakan arti penting kehadiran keluarganya di tribun. Sebagai pemain termuda di skuad All Stars Jakarta, ia mengaku dukungan orang tua selalu menjadi penyemangat setiap kali memasuki lapangan.

 (Foto: DN/retouch photo: arpan jayadi/mainkekudus)

Usai memastikan timnya melaju ke babak final, Hawa mengaku masih mengingat jelas suara ayahnya yang terus memberikan semangat sepanjang pertandingan.

“Tadi di lapangan, saya bisa dengar suara ayah paling kencang sendiri. Senang banget rasanya ada orang tua di sini. Sebelum bertanding, saya selalu minta doa dan restu agar diberikan kelancaran dan kemenangan,” tutur Hawa dengan bangga.

Bagi Hawa, perjalanan jauh yang ditempuh keluarganya menuju Kudus menjadi bentuk kasih sayang yang tak bisa diukur dengan apa pun. Karena itu, kemenangan di babak semifinal ia persembahkan sebagai balasan atas dukungan dan pengorbanan yang telah diberikan orang-orang terdekatnya.

Siti Hawa Faadiyah ( Jersey Oren ) bersama Sang Ayah dan Ibu di Stadion SSA Kudus. (Foto: DN/retouch photo: arpan jayadi/mainkekudus)

Meski telah mengamankan tempat di partai final, Hawa memilih tetap menatap langkah berikutnya. Ia ingin terus belajar, berlatih lebih keras, dan memberikan penampilan terbaik bersama rekan-rekannya.

“Harapan saya tentu ingin memberikan yang terbaik. Saya ingin terus berlatih keras, bermain lebih bagus lagi, supaya nanti di final tim kami bisa juara. Terima kasih untuk semua dukungan yang sudah diberikan,” tutupnya dengan penuh optimisme.

Kisah Marno dan Hawa menunjukkan bahwa perjalanan seorang atlet muda tidak pernah dijalani sendirian. Di balik setiap pertandingan, ada keluarga yang ikut berjuang dengan caranya masing-masing. Ada usaha yang sementara ditinggalkan, perjalanan panjang yang ditempuh, hingga waktu yang dikorbankan demi hadir memberikan semangat dari tribun.

Dukungan seperti inilah yang menjadi bagian penting dalam tumbuhnya ekosistem sepak bola putri Indonesia. Ketika pembinaan, kesempatan bertanding, dan peran keluarga berjalan beriringan, setiap langkah kecil yang lahir dari lapangan bukan hanya melahirkan prestasi, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, serta harapan baru bagi generasi pesepak bola putri masa depan. (JMY/DN/mainkekudus)

Rela Tutup Warung Mie Ayam, Perjuangan Orang Tua Antar Mimpi Pesepak Bola Putri ke Lapangan | Main ke Kudus