

Sebelum Lampu Dipadamkan, Mereka Menulis Doa untuk Orang Tua
KUDUS – Malam di Mountain View Residence (MVR), Kecamatan Bae, perlahan menjadi tenang ketika aktivitas para tamu mulai mereda. Di saat sebagian orang memilih beristirahat, para pemain Putri JP U-18 Regional Jakarta justru menjalani sebuah rutinitas yang tidak terlihat dari pinggir lapangan.
Bukan latihan fisik tambahan ataupun rapat taktik menjelang pertandingan. Setiap pukul 20.00 WIB, mereka berkumpul untuk menulis pesan singkat kepada ayah dan ibu di rumah. Beberapa kalimat sederhana berisi permohonan doa restu menjadi penutup hari sebelum telepon genggam dikumpulkan oleh official dan seluruh pemain beristirahat.

Kebiasaan itu menjadi bagian dari pembinaan karakter yang diterapkan Pelatih Putri JP U-18 Jakarta, Hery Susilo, selama tim mengikuti Hydroplus Soccer League All Stars 2025/2026 di Kudus.
Setelah surat selesai ditulis, setiap pemain memotret tulisan tangan mereka dan mengirimkannya kepada orang tua masing-masing. Barulah telepon genggam disimpan dan malam ditutup dengan waktu istirahat yang telah ditentukan.

Bagi Hery, aturan tersebut bukan sekadar membatasi penggunaan gawai. Di balik rutinitas yang tampak sederhana itu, ia ingin menanamkan kebiasaan menghormati orang tua, membangun disiplin, serta mengingatkan para pemain bahwa setiap perjuangan di lapangan selalu disertai doa keluarga.
“Main HP boleh, tetapi ada batas waktunya. Jam delapan malam semua wajib berkumpul. Sebelum HP dikumpulkan, mereka harus mengirim pesan kepada orang tua, meminta doa restu untuk pertandingan besok. Itu bagian dari pendidikan karakter,” ujar Hery saat ditemui di MVR Bae, Kudus, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, karakter seorang atlet tidak dibentuk hanya melalui latihan teknik atau strategi pertandingan. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten justru menjadi pondasi untuk membangun rasa tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari maupun saat berada di lapangan.
“Kedisiplinan itu lahir dari kebiasaan kecil. Dari belajar bertanggung jawab atas waktu, menghargai orang lain, sampai berani mengakui kesalahan sendiri ketika salah memberi umpan di lapangan,” jelasnya.
Apa yang diajarkan Hery dirasakan langsung oleh para pemain. Kapten tim Putri JP U-18 Jakarta, Rengganis Wijanarto, mengaku kegiatan mengirim pesan kepada orang tua setiap malam kini bukan lagi sekadar kewajiban tim. Rutinitas itu berubah menjadi momen yang selalu ia nantikan.
“Kami setiap jam delapan menulis surat untuk dikirim ke Papa sama Mama. Coach mengajarkan kami supaya disiplin, jadi setelah itu tidak ada lagi main HP dan jam sembilan malam kami semua sudah harus tidur,” tutur Rengganis.

Selama berada jauh dari rumah, sosok Hery juga menghadirkan rasa kedekatan bagi para pemain. Di mata Rengganis, pelatihnya tidak hanya membimbing mereka dalam pertandingan, tetapi juga mendampingi kehidupan sehari-hari layaknya seorang ayah.
“Coach sudah kami anggap seperti ayah sendiri,” katanya.
Nilai-nilai yang ditanamkan di dalam tim itu ternyata tidak berhenti pada urusan disiplin. Kepedulian terhadap sesama juga menjadi bagian dari perjalanan Putri JP U-18 Jakarta selama mengikuti HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026.
Berbagi Kebahagiaan di Tengah Perjalanan Bertumbuh
Di sela-sela kompetisi, tim tersebut menunaikan nazar yang telah mereka buat sejak menjalani babak regional. Mereka menyelenggarakan santunan kepada puluhan anak yatim di Kabupaten Kudus di penginapan Mountain View Residence (MVR) Bae, Kudus, Selasa (7/7).

Dana santunan berasal dari penyisihan hadiah yang diterima tim setelah berhasil lolos dari babak regional Jabodetabek menuju putaran nasional HYDROPLUS Soccer League.
Hery menjelaskan, sejak awal seluruh anggota tim telah berkomitmen menyisihkan 2,5 persen dari hadiah apabila berhasil melangkah ke putaran berikutnya. Janji itu akhirnya diwujudkan ketika mereka berada di Kudus.
“Ini memang nazar kami. Setelah lolos regional, kami berkomitmen menyisihkan 2,5 persen dari hadiah untuk anak-anak yatim. Alhamdulillah hari ini akhirnya bisa terlaksana di Kudus,” ujarnya.
Menurut Hery, santunan semula direncanakan dilaksanakan ketika tim masih berada di Jakarta. Namun padatnya agenda persiapan menuju putaran nasional membuat kegiatan tersebut baru dapat direalisasikan saat seluruh rombongan berada di Kudus.

Sekitar 20 hingga 25 anak yatim dari lembaga pengasuhan di wilayah Kudus menerima bantuan tersebut. Bagi Hery, keberhasilan di lapangan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap masyarakat. “Kami ingin keberhasilan di lapangan juga membawa manfaat bagi masyarakat,” bebernya.
Kepedulian itu mendapat sambutan hangat dari lembaga penerima santunan. Pengasuh Pondok Pesantren Al Achsaniyyah sekaligus perwakilan penerima santunan, Sofi’i, mengapresiasi langkah para pemain dan pelatih Putri JP U-18 Jakarta yang tetap menyempatkan berbagi di tengah padatnya agenda kompetisi.
Di tengah persaingan HYDROPLUS Soccer League All Stars yang memasuki fase-fase penentuan, perjalanan Putri JP U-18 Jakarta memperlihatkan bahwa pembinaan atlet tidak hanya berlangsung saat peluit pertandingan dibunyikan. Ada kebiasaan menulis doa kepada orang tua sebelum lampu dipadamkan, ada komitmen berbagi kepada anak yatim setelah sebuah target tercapai, dan ada proses membentuk karakter yang berjalan berdampingan dengan upaya mengejar prestasi. Nilai-nilai itulah yang terus menyertai mereka, jauh melampaui apa yang tercatat di papan skor. (ITN/mainkekudus)