Logo Kudus

Setiap Sajian di Kudus Menguatkan Langkah Para Atlet

6 Juli 2026Saldy Nurzaman

KUDUS — Pertandingan memang berlangsung di lapangan hijau. Namun, bagi para atlet HYDROPLUS Soccer League (HPSL) All Stars 2025/2026, perjalanan mereka di Kudus juga dimulai dari cita rasa dan sajian yang menguatkan langkah mereka.

(Foto ilustrasi: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Di sela jadwal latihan, pertandingan, hingga waktu istirahat yang padat, para pemain dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan mengenal Kudus lewat kuliner khasnya. Ada yang baru pertama kali mencicipi soto kerbau, ada pula yang memulai hari dengan seporsi lentog tanjung sebelum kembali menjalani aktivitas di arena pertandingan.

Pengalaman sederhana itu ternyata menghadirkan cerita lain di luar sepak bola. Kehadiran ratusan atlet, official, keluarga, hingga suporter selama turnamen bukan hanya menghidupkan atmosfer pertandingan, tetapi juga membawa dampak bagi pelaku usaha kuliner dan sektor perhotelan di Kota Kretek.

Salah satu yang merasakan perubahan tersebut adalah Nina Khasanah, penjual lentog tanjung di Kudus. Sejak HYDROPLUS Soccer League berlangsung, warungnya lebih ramai dibandingkan hari-hari biasa.

“Alhamdulillah ada peningkatan sekitar 30 persen sejak ada Hydroplus Soccer League,” ucapnya pada Minggu (5/7/2026).

Menurut Nina, lentog tanjung menjadi menu yang paling banyak dicari oleh tamu dari luar kota. Banyak di antara mereka yang sengaja datang karena penasaran ingin mencoba makanan khas Kudus tersebut.

Penjual lentog tanjung, Nina Khasanah saat menyiapkan lentog untuk disantap. (Foto: ITN/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Lentog tanjung sendiri merupakan sajian berisi lontong, sayur tewel, tahu, serta telur bacem yang disiram kuah gurih bercita rasa khas. Untuk melayani pembeli yang ingin sarapan sebelum memulai aktivitas, warung miliknya bahkan sudah buka sejak pukul 04.00 WIB.

“Rasanya memang berbeda dengan makanan daerah lain. Itu yang membuat banyak tamu penasaran,” katanya.

Bagi Nina, penyelenggaraan ajang olahraga seperti ini memberikan dampak yang terasa bagi usahanya. “Adanya event olahraga seperti ini sangat penting bagi kami karena penjualan meningkat cukup terasa,” ujarnya.

Tak hanya lentog tanjung, kuliner khas Kudus lainnya juga menjadi pengalaman baru bagi para atlet. Kapten tim Samba Persada, Khalishah Safitri, mengaku baru pertama kali mencicipi soto kerbau selama berada di Kota Kretek. “Kalau makanan khas Kudus yang sudah saya coba baru soto kerbau,” bebernya.

Menurut Khalishah, soto kerbau memiliki cita rasa yang gurih sekaligus berbeda dengan makanan yang biasa ia nikmati di daerah asalnya. “Isinya daging kerbau, kecambah, dan telur. Saya asli Jawa Timur, jadi memang ada sedikit perbedaan dibanding soto ayam yang biasa saya makan di rumah,” ungkapnya.

Kapten tim Putri U-18 Samba Persada, Khalishah Safitri.  (Foto: ITN/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Baginya, pengalaman tersebut bukan sekadar menikmati makanan khas daerah. Menu yang disantap juga membantu memenuhi kebutuhan energi selama mengikuti turnamen.

“Banyak proteinnya juga, jadi lumayan membantu menambah tenaga setelah latihan dan sebelum pertandingan,” ucapnya.

Khalishah menilai, mencicipi makanan khas setempat menjadi bagian dari pengalaman bertanding di kota baru karena setiap daerah memiliki budaya yang dapat dikenali melalui kulinernya.

Perhatian terhadap makanan juga menjadi bagian penting selama para atlet menjalani kompetisi. Di hotel tempat mereka menginap, setiap menu disiapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi atlet muda agar tetap bugar sepanjang turnamen.

(Foto: SS Dok. mainkekudus)

Executive Chef Hotel Sapphire Kudus, Ali Mustawa, mengatakan menu yang disajikan memang berbeda dengan tamu pada umumnya. Selain menghindari makanan bercita rasa terlalu pedas, setiap hidangan dirancang agar kebutuhan gizi atlet tetap terpenuhi.

“Karena mayoritas atlet masih usia anak-anak, kami membuat menu yang tidak pedas. Kami selalu menyediakan dua pilihan protein, biasanya ayam dan ikan fillet tanpa tulang,” jelas Ali pada Minggu (5/7/2026).

Ali Mustawa, Executive Chef Hotel Sapphire Kudus. (Foto: DN/mainkekudus)

Ia menjelaskan, setiap sajian juga dilengkapi sayuran, bubur, aneka umbi kukus, buah-buahan, hingga hidangan penutup. “Yang penting kebutuhan karbohidrat, protein, dan serat mereka tetap terpenuhi,” imbuhnya.

Meski menu disesuaikan dengan kebutuhan atlet, Hotel Sapphire tetap memperkenalkan ragam kuliner khas Kudus kepada para tamunya. “Soto Kudus, pindang ayam, pindang daging, hingga soto kerbau menjadi beberapa menu lokal yang diperkenalkan kepada para tamu dari berbagai daerah,” sebutnya.

Ali mengungkapkan, menu yang paling banyak diminati atlet justru hidangan sederhana berupa nasi dengan lauk ayam dan buah segar.

(Foto: SS Dok. mainkekudus/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

“Anak-anak olahraga makannya memang lebih banyak. Mereka paling suka menu utama yang lengkap dengan lauk ayam, kemudian buah-buahan segar. Tantangan kami justru memastikan makanan selalu tersedia tepat waktu karena jadwal mereka sangat padat dan proses refill harus cepat,” ucap Ali Mustawa, Executive Chef Hotel Sapphire Kudus

Ramainya penyelenggaraan turnamen juga dirasakan oleh pihak hotel. Executive Housekeeper Hotel Sapphire, Sahid Bawono, mengatakan tingkat okupansi meningkat sejak para peserta dan official mulai berdatangan ke Kudus. “Event ini memberikan dampak yang sangat positif terhadap okupansi hotel,” ucapnya.

Executive Housekeeper Hotel Sapphire, Sahid Bawono.  (Foto: ITN/photo retouched: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Selain kamar yang terisi, berbagai fasilitas hotel juga dimanfaatkan para atlet untuk menunjang aktivitas selama kompetisi.

“Selain kamar terisi, berbagai fasilitas kami juga dimanfaatkan atlet, mulai dari area terbuka untuk jogging, stretching, hingga kolam renang sebagai sarana relaksasi setelah bertanding. Dengan meningkatnya jumlah tamu, kami juga menambah tenaga kerja sehingga membuka peluang lapangan pekerjaan baru,” bebernya.

Hotel yang memiliki 93 kamar tersebut juga menyesuaikan pelayanan bagi rombongan atlet dan ofisial melalui pembagian kamar yang lebih teratur serta memastikan seluruh fasilitas dapat menunjang kebutuhan selama turnamen.

Bagi para pemain, asupan makanan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kebugaran sekaligus mempercepat pemulihan setelah menjalani latihan maupun pertandingan. Hal itu juga dirasakan Kapten tim Samba Persada, Khalishah Safitri, yang menilai menu makanan yang disajikan hotel cukup mendukung kebutuhan para atlet.

“Tadi pagi saya makan nasi goreng dan bubur ayam. Hotelnya nyaman, makanannya juga enak. Yang paling saya suka bubur ayam,” ujar Khalishah.

Meski demikian, ia berharap menu yang disediakan ke depan dapat semakin menyesuaikan kebutuhan atlet, terutama dari sisi kandungan protein.

“Ke depan mungkin proteinnya bisa lebih banyak lagi supaya pemulihan setelah bertanding lebih cepat,” tambah Khalishah.

Cerita para atlet selama berada di Kudus akhirnya tidak hanya diisi oleh pertandingan dan persaingan di lapangan. Di balik setiap jadwal latihan dan pertandingan, ada pengalaman mengenal cita rasa daerah, ada pelaku usaha yang merasakan bertambahnya pelanggan, dan ada hotel yang menyesuaikan layanan demi mendukung kebutuhan para peserta. Dari meja makan itulah, perjalanan mereka di Kota Kretek ikut membentuk pengalaman yang melengkapi kompetisi. (ITN/mainkekudus)

Setiap Sajian di Kudus Menguatkan Langkah Para Atlet | Main ke Kudus