

Sirop Parijoto, Saat Warisan Lereng Muria Menemukan Wajah Baru dalam Segelas Minuman
Kudus – Di lereng Gunung Muria, perjalanan menuju kawasan makam Sunan Muria tak hanya menghadirkan udara pegunungan yang sejuk dan pemandangan hutan yang masih terjaga. Di antara rimbunnya pepohonan, tumbuh buah-buah kecil berwarna merah keunguan yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Buah itu adalah parijoto.
Bagi warga Muria, parijoto bukan sekadar tanaman hutan. Buah ini hidup bersama cerita yang diwariskan lintas generasi, mulai dari sejarah penyebaran Islam, tradisi masyarakat, hingga berbagai nilai filosofis yang melekat dalam budaya lokal. Selama bertahun-tahun, parijoto lebih dikenal sebagai buah yang tumbuh alami di lereng gunung dan hadir dalam berbagai cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
Kini, cerita itu memasuki babak baru.
Melalui tangan-tangan kreatif masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, parijoto tidak lagi hanya dinikmati sebagai buah musiman. Ia diolah menjadi beragam produk pangan, dan salah satu yang paling dikenal adalah sirop parijoto. Dari sebuah buah liar yang dahulu hanya dipetik saat musim tiba, kini lahir minuman khas yang membawa nama Kudus ke berbagai daerah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lereng Gunung Muria.
Warisan Alam yang Tumbuh Bersama Sejarah
Parijoto (Medinilla speciosa) merupakan tanaman yang tumbuh alami di kawasan pegunungan dengan tanah yang lembab. Di Kabupaten Kudus, habitatnya sangat lekat dengan kawasan lereng Gunung Muria, terutama di Desa Colo, Kecamatan Dawe. Buahnya berbentuk bulat kecil, bergerombol rapat menyerupai untaian anggur mini, dengan warna merah keunguan ketika matang.

Dalam tradisi masyarakat Muria, keberadaan parijoto tidak dapat dipisahkan dari sosok Sunan Muria. Tutur masyarakat menyebut tanaman ini telah dikenal sejak masa penyebaran Islam di kawasan tersebut. Parijoto dipercaya menjadi salah satu tanaman yang ditanam dan diperkenalkan kepada masyarakat sebagai bagian dari kehidupan di lereng Muria.

Nama “parijoto” juga dikaitkan dengan tembang Jawa yang mengandung pesan moral tentang pentingnya mengendalikan hawa nafsu, amarah, dan keserakahan. Nilai-nilai tersebut membuat buah ini memiliki makna yang melampaui fungsi sebagai hasil hutan.
Di sisi lain, masyarakat juga mengenal parijoto melalui berbagai kepercayaan yang berkembang selama ratusan tahun. Salah satu yang paling populer adalah keyakinan bahwa ibu hamil yang mengkonsumsi buah parijoto akan melahirkan anak yang sehat dan berparas rupawan. Kepercayaan tersebut masih menjadi bagian dari tradisi masyarakat hingga kini, meskipun manfaatnya dari sisi ilmiah masih terus diteliti.
Dari Buah Sepat Menjadi Minuman Kekinian
Meski kaya cerita, parijoto bukan buah yang mudah dinikmati secara langsung.
Rasa alaminya cenderung sepat, asam, dan sedikit kelat. Karakter rasa itu membuat buah ini lebih sering dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional atau dikonsumsi pada momen-momen tertentu dibanding menjadi buah konsumsi sehari-hari.
Perubahan mulai terjadi ketika masyarakat mencoba mengolahnya menjadi produk pangan yang lebih mudah diterima.
Sirop menjadi salah satu inovasi yang paling berhasil.
Melalui proses pengolahan dengan tambahan gula, rasa sepat khas parijoto berubah menjadi minuman yang manis dan segar tanpa menghilangkan sentuhan rasa asam yang menjadi ciri khas buah tersebut.
Inovasi itu menghadirkan perubahan yang lebih luas. Parijoto tidak lagi hanya dijual sebagai buah segar ketika musim panen, tetapi juga hadir sebagai produk olahan yang memiliki masa simpan lebih panjang. Kehadirannya membuat buah khas Muria dapat dinikmati sepanjang tahun sekaligus menjadi salah satu oleh-oleh yang identik dengan Kudus.
Berawal dari Kegelisahan Melihat Buah yang Terbuang
Perjalanan sirop parijoto tidak lahir dari sebuah industri besar. Semuanya berawal dari keprihatinan melihat potensi lokal yang belum termanfaatkan secara optimal.
Salah satu pelopor pengolahan sirop parijoto adalah Triyanto R. Sutardjo, pelaku UMKM asal Desa Wisata Colo, Kecamatan Dawe.

Sekitar tahun 2015, ia melihat banyak buah parijoto terbuang ketika musim panen karena pemanfaatannya masih sangat terbatas. Bersama sang istri, ia mulai melakukan berbagai percobaan sederhana di rumah untuk mengolah buah tersebut menjadi sirop yang lebih mudah dinikmati masyarakat.
Percobaan demi percobaan akhirnya membuahkan hasil. Sirop parijoto mendapat sambutan positif dan perlahan mulai dikenal sebagai produk khas lereng Gunung Muria.
Perjalanan itu terus berkembang. Pada 2017, Triyanto mendirikan rumah produksi dan mulai mengembangkan berbagai produk berbahan dasar parijoto melalui UMKM miliknya yang dikenal dengan merek Seleksi Alam Muria (Alammu).

Tidak hanya menghasilkan sirop, rumah produksi tersebut juga mengembangkan teh parijoto, keripik, permen, selai, hingga minuman fermentasi kombucha. Produk-produk itu kemudian dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Dari Lereng Muria Hingga Menjadi Oleh-Oleh

Seluruh proses produksi dilakukan di Desa Colo, kawasan yang sekaligus menjadi habitat alami tanaman parijoto.
Buah yang baru dipanen terlebih dahulu dicuci hingga bersih. Setelah itu buah dihaluskan dan diperas untuk diambil sarinya. Sari buah kemudian dimasak bersama gula pasir selama beberapa jam hingga mencapai kekentalan yang diinginkan. Setelah melalui proses penyaringan, sirop dikemas ke dalam botol sebelum dipasarkan.
Proses tersebut menjadi cara untuk memperpanjang masa simpan buah yang sebelumnya hanya tersedia pada musim tertentu.
Di balik setiap botol sirop, tersimpan proses panjang yang dimulai dari hasil panen masyarakat lereng Muria hingga menjadi produk siap konsumsi yang dapat dibawa pulang sebagai buah tangan khas Kudus.
Ketika Inovasi Menghadirkan Peluang Baru

Berkembangnya usaha pengolahan sirop parijoto tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat sekitar.
Dalam proses produksinya, usaha yang dirintis Triyanto melibatkan warga Desa Colo, mulai dari pemetikan buah, pengolahan, hingga proses pengemasan.
Keterlibatan masyarakat tersebut memperlihatkan bagaimana komoditas lokal yang sebelumnya hanya dimanfaatkan secara terbatas mampu membuka peluang ekonomi baru melalui inovasi berbasis potensi daerah.

Seiring berkembangnya produk olahan parijoto, berbagai kelompok masyarakat, pelaku usaha mikro, hingga perguruan tinggi juga mulai mengembangkan inovasi serupa. Selain sirop, kini tersedia teh, selai, keripik, permen, hingga produk fermentasi yang memperluas pilihan olahan berbahan dasar parijoto.
Diversifikasi tersebut membuat buah yang melimpah pada musim tertentu tetap memiliki nilai jual sepanjang tahun sekaligus memperkuat identitas parijoto sebagai salah satu kekayaan hayati khas Kudus.
Potensi yang Masih Terus Diteliti

Selain dikenal dalam tradisi masyarakat, parijoto juga semakin banyak dikaji dari sisi ilmiah.
Berbagai penelitian menunjukkan buah ini mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, polifenol, serta antioksidan yang cukup tinggi. Kandungan tersebut menjadi dasar berbagai penelitian mengenai potensi manfaatnya bagi kesehatan.
Dalam pemanfaatan tradisional, parijoto telah lama dipercaya masyarakat membantu menjaga daya tahan tubuh, membantu meredakan sariawan, serta dikenal dalam berbagai tradisi yang berkaitan dengan kehamilan.
Meski demikian, berbagai manfaat tersebut masih memerlukan penelitian klinis lebih lanjut agar khasiatnya dapat dipastikan secara ilmiah.
Oleh-Oleh dengan Beragam Pilihan Harga
Kini, sirop parijoto mudah ditemukan di berbagai pusat oleh-oleh di Kudus maupun di kawasan wisata lereng Gunung Muria.
Produk ini tersedia dalam berbagai ukuran kemasan. Di pasaran, harga sirop parijoto bervariasi tergantung ukuran botol dan merek.
Kemasan kecil berukuran sekitar 100 hingga 250 mililiter umumnya dijual dengan harga sekitar Rp 15.000 hingga Rp 45.000. Untuk kemasan sedang berukuran sekitar 350 mililiter, kisaran harganya berada pada Rp 30.000 hingga Rp 63.000. Sementara itu, kemasan besar sekitar 500 mililiter dipasarkan mulai Rp 55.000 hingga Rp 95.000 per botol.
Keberagaman ukuran dan harga membuat sirop parijoto dapat dijangkau oleh berbagai kalangan, baik sebagai oleh-oleh khas Kudus maupun untuk konsumsi sehari-hari.
Di sejumlah pusat oleh-oleh, produk ini juga kerap dicari oleh konsumen yang mengenal parijoto melalui tradisi masyarakat Muria maupun berbagai informasi mengenai potensi manfaatnya. Namun, berbagai klaim mengenai manfaat kesehatan parijoto masih memerlukan penelitian klinis lebih lanjut agar dapat dipastikan secara ilmiah.
Menjaga Cerita, Menambah Nilai
Sirop parijoto menunjukkan bahwa sebuah warisan lokal tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu.
Melalui inovasi masyarakat, buah yang dahulu lebih dikenal karena tradisi dan cerita yang mengiringinya kini hadir dalam bentuk yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari. Di dalam setiap botol sirop tersimpan jejak alam lereng Gunung Muria, kearifan budaya masyarakat, kreativitas pelaku UMKM, hingga proses panjang yang mengubah hasil hutan menjadi produk bernilai tambah.
Perjalanan parijoto menjadi sirop juga memperlihatkan bahwa pelestarian kekayaan lokal tidak selalu dilakukan dengan mempertahankan bentuk lamanya. Ketika tradisi berjalan berdampingan dengan inovasi, warisan yang tumbuh di lereng Gunung Muria itu tetap dapat dikenal oleh generasi berikutnya, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya.
Sumber artikel: https://tourism.kuduskab.go.id/id/olahan-parijoto/ , https://muria.tribunnews.com/2024/04/04/kisah-triyanto-jatuh-bangun-racik-sirup-parijoto-penyubur-kandungan-dari-lereng-muria , https://muria.suaramerdeka.com/muria-raya/0713068563/berawal-dari-mitos-buah-parijoto-diolah-menjadi-berbagai-produk-turunan