

Sports Tourism di Kudus Tumbuh Seiring dengan Ekosistem Sepak Bola Putri
KUDUS – Peluit panjang memang menandai berakhirnya pertandingan. Namun bagi ratusan pesepak bola putri yang berkumpul di Kudus selama MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All Stars 2026, momen itu justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Selama sepekan, lapangan hijau tak hanya dipenuhi persaingan antar tim. Di sana, anak-anak perempuan dari berbagai daerah datang membawa mimpi yang sama: bermain sepak bola, berkembang, dan suatu hari mengenakan seragam tim nasional. Di saat yang bersamaan, denyut olahraga itu ikut menggerakkan banyak hal di luar lapangan mulai dari hotel, pelaku UMKM, hingga sektor pariwisata di Kabupaten Kudus.
Final MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026 yang berlangsung pada Minggu (28/6) sore menjadi penutup yang penuh tensi. All Stars Kudus dan All Stars Jakarta bermain imbang 1-1 hingga waktu normal usai. Pertandingan pun berlanjut ke babak adu penalti, yang akhirnya dimenangkan tuan rumah, Kudus.

Kemenangan tersebut bukan sekadar menghadirkan trofi bagi tim juara. Lebih dari itu, pertandingan ini menjadi penanda tumbuhnya generasi baru sepak bola putri Indonesia yang sedang dipersiapkan untuk melangkah ke level yang lebih tinggi.

Ajang MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026 sendiri bukan berdiri sebagai turnamen tunggal. Kompetisi ini menjadi bagian dari Women’s Soccer Trilogy, sebuah rangkaian pembinaan yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026. Setelah MilkLife Soccer Challenge All Stars digelar pada 23–28 Juni, perjalanan akan berlanjut melalui Hydroplus Soccer League All Stars pada 5–12 Juli, sebelum mencapai puncaknya di Srikandi Merdeka Cup, turnamen yang mempertemukan tim-tim putri dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Bagi Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, atmosfer yang tercipta sepanjang turnamen menjadi gambaran bahwa proses pembinaan mulai menunjukkan hasil.

“Ini adalah proses jangka panjang yang menunjukkan progres nyata. Jika kita bandingkan dengan tahun lalu, kualitas permainan meningkat drastis, begitu pula kuantitas pesertanya. Kami sangat optimistis masa depan sepak bola putri Indonesia akan jauh lebih cerah,” ungkap Teddy saat jumpa pers usai pertandingan.
Menurut Teddy, pembangunan ekosistem sepak bola putri tidak berhenti pada peningkatan kemampuan teknik para pemain. Mental bertanding dan pengalaman internasional juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Karena itu, pemain-pemain terbaik akan memperoleh kesempatan mengikuti The SingaCup di Singapura sebagai bagian dari pembinaan lanjutan.
“Tujuannya memberikan jam terbang internasional, menumbuhkan kepercayaan diri, dan mematangkan teknik permainan mereka di level yang lebih tinggi,” imbuhnya.
Di balik riuh sorak penonton dan ketatnya persaingan di lapangan, penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026 juga memperlihatkan bagaimana olahraga mampu menggerakkan aktivitas ekonomi sebuah daerah.

Selama sepekan pelaksanaan turnamen, aktivitas masyarakat meningkat. Kehadiran atlet, pelatih, keluarga, official, hingga penonton dari berbagai daerah ikut memberi dampak terhadap sektor perhotelan, kuliner, dan pelaku usaha lokal.
Bagi Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, kolaborasi antara Bakti Olahraga Djarum Foundation dan Pemerintah Kabupaten Kudus telah menghadirkan dampak yang melampaui lapangan pertandingan. Manfaatnya, menurut dia, ikut dirasakan oleh masyarakat luas.

“Pertandingan hari ini luar biasa. Ini adalah prestasi kita bersama. Dampak ekonomi bagi masyarakat sangat terasa, pajak hotel dan kas daerah meningkat. Inilah warisan (legacy) yang ingin kita tinggalkan, membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan, di mana kemajuan pariwisata berbanding lurus dengan kesejahteraan warga,” tegas Sam’ani.
“When Sports Move, The City Moves” menjadi gambaran dari dampak yang mulai dirasakan di Kudus. Berbagai event olahraga tidak hanya menghadirkan pertandingan di lapangan, tetapi juga menggerakkan aktivitas sports tourism yang ikut mendorong perekonomian daerah. Dampaknya, PDB Kudus tercatat mencapai tiga kali lipat dibanding kota lain berkat aktivitas sports tourism tersebut.
Sam’ani Intakoris, Bupati Kudus juga mengapresiasi perhatian Bakti Olahraga Djarum Foundation terhadap pembinaan usia dini, yang dinilainya menjadi pondasi penting bagi masa depan sepak bola putri Indonesia.
“Saya terkesan mereka sangat peduli ke tingkat usia paling bawah. Pesan saya kepada adik-adik, jangan takut cetak gol dan beranilah tampil di kancah internasional. Mari kita rawat ekosistem sepak bola perempuan ini bersama-sama,” ajaknya.
Bagi anak-anak perempuan yang memenuhi tribun maupun menyaksikan pertandingan dari pinggir lapangan, turnamen ini menghadirkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar tontonan. Mereka melihat pemain-pemain seusia mereka berlari mengejar bola, saling menyemangati, dan merayakan setiap gol dengan penuh kegembiraan.
Pemandangan itulah yang menurut Teddy diharapkan mampu menumbuhkan mimpi-mimpi baru.

“Kepada adik-adik, teruslah berlatih. Bagi yang belum bermain sepak bola, lihatlah kegembiraan dan kesenangan yang terpancar dari teman-teman kalian di lapangan hari ini. Jadikan itu magnet untuk mulai mengenal sepak bola lebih lanjut,” ujarnya.
Women’s Soccer Trilogy kemudian hadir bukan hanya sebagai rangkaian kompetisi, melainkan sebagai upaya membangun ekosistem sepak bola putri secara berkelanjutan. Di dalamnya terdapat ruang bagi pembinaan atlet muda, kesempatan menambah pengalaman bertanding, hingga terciptanya dampak ekonomi melalui sports tourism.
Di Kudus, seluruh proses itu berjalan berdampingan. Di satu sisi, anak-anak perempuan memperoleh panggung untuk mengejar cita-cita di lapangan hijau. Di sisi lain, aktivitas olahraga ikut menghidupkan pergerakan ekonomi masyarakat. Dari satu pertandingan, lahir lebih dari sekadar pemenang muncul harapan bahwa pembinaan sepak bola putri dapat terus tumbuh, sekaligus memberi manfaat yang lebih luas bagi daerah dan generasi yang akan datang. (JMY/mainkekudus)