

Street Coffee, Tren Ngopi Pinggir Jalan Menambah Khas Kuliner Malam Kudus
KUDUS – Langit mulai menggelap ketika lampu-lampu jalan di pusat Kota Kudus menyala satu per satu. Deru kendaraan masih terdengar di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Simpang Tujuh, hingga Jalan Sunan Kudus. Namun, ketika jarum jam mendekati pukul 19.00 WIB, suasana perlahan berubah. Di atas trotoar yang mulai ramai, gerobak-gerobak kopi membuka lapaknya. Aroma kopi memenuhi udara, kursi-kursi lipat ditata berjajar, sementara obrolan hangat mengalir di antara pengunjung yang datang silih berganti.
Fenomena inilah yang dikenal sebagai street coffee, konsep penjualan kopi di ruang publik seperti tepi jalan atau trotoar dengan memanfaatkan gerobak, booth kecil, maupun kendaraan bermotor. Selain menawarkan harga yang relatif terjangkau, street coffee menghadirkan ruang berkumpul yang sederhana dan mudah dijangkau berbagai kalangan.

Malam menjadi awal aktivitas bagi street coffee Kudus. Kawasan ini bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi, tetapi ruang publik yang mempertemukan pelaku usaha, komunitas, hingga wisatawan dalam satu denyut kehidupan kota. Di balik gelas-gelas kopi yang tersaji, tersimpan kisah tentang keberanian anak-anak muda membuka usaha, pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan, serta ruang kota yang perlahan menemukan wajah baru sebagai destinasi wisata malam.

Fenomena ini tumbuh dari kreativitas para pelaku usaha kopi jalanan yang memanfaatkan keramaian pusat kota pada malam hari. Kini, sekitar 77 tenant kopi beroperasi di sejumlah ruas jalan protokol, di antaranya Jalan Ahmad Yani, Simpang Tujuh, Jalan Sunan Kudus, dan Jalan dr. Loekmonohadi. Aktivitas mereka berlangsung mulai pukul 19.00 WIB hingga sekitar pukul 24.00 WIB, ketika lalu lintas kota mulai lengang dan trotoar berubah menjadi ruang perjumpaan.

Perkembangannya tidak lepas dari perhatian pemerintah daerah. Di satu sisi, street coffee dinilai membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Di sisi lain, aktivitas di atas trotoar juga harus tetap menjaga fungsi ruang publik bagi pejalan kaki. Pemerintah Kabupaten Kudus pun memilih pendekatan penataan dan pembinaan agar pelaku usaha tetap dapat berjualan tanpa mengabaikan ketertiban kawasan. Melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima, aktivitas pedagang di sejumlah ruas jalan diatur beserta ketentuan waktu operasional dan perizinannya. Pendekatan tersebut dilakukan agar ruang publik tetap nyaman digunakan masyarakat sekaligus memberi ruang bagi UMKM untuk berkembang.
Tinemu, Titik untuk Bertemu

Di antara puluhan gerobak yang berjajar, Tinemu coffee menjadi salah satu yang mudah dikenali. Nama “Tinemu” merupakan akronim dari “titik untuk bertemu”, sebuah filosofi sederhana yang menggambarkan harapan agar secangkir kopi mampu mempertemukan banyak orang dengan cerita yang berbeda.
“Kalau teman-teman saya mau nongkrong, ya saya arahkan ke kedai-kedai kami. Makanya kami kasih nama Tinemu supaya punya ciri khas sebagai tempat bertemu,” ujar pemiliknya, Haidar Kamal.
Usaha itu tidak lahir begitu saja. Haidar sebelumnya mengelola sebuah kedai kopi di kawasan Ngembalrejo. Ketika masa sewa berakhir dan biaya operasional semakin besar, ia memilih menutup kedainya. Peralatan yang sebelumnya digunakan di dalam ruangan dipindahkan ke sebuah gerobak sederhana. Keputusan tersebut menjadi titik balik yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Berbekal pengalaman meracik kopi dan perlengkapan dari kedai lama, ia membuka satu gerobak di pusat Kota Kudus. Respons masyarakat ternyata cukup baik. Dalam waktu sekitar satu tahun, usahanya berkembang menjadi tiga titik street coffee dan satu coffee shop di kawasan Megawon.
Menurut Haidar, pusat kota memiliki karakter yang berbeda dibanding lokasi lain. Aktivitas kendaraan yang padat pada siang hari justru berubah menjadi peluang ketika malam tiba.
“Kalau siang memang padat kendaraan, tetapi malam justru menjadi tempat yang nyaman. Lokasinya dekat Alun-Alun Simpang Tujuh sehingga banyak orang lewat setelah beraktivitas,” katanya.
Pengunjung yang datang pun sangat beragam. Mahasiswa, pekerja kantoran, keluarga muda, komunitas sepeda motor, hingga wisatawan yang sedang singgah di Kudus silih berganti memenuhi kursi-kursi lipat setiap malam. Meski gerobak mulai buka pukul 19.00 WIB, suasana biasanya mencapai puncaknya antara pukul 19.30 hingga sekitar pukul 21.00 WIB.
Cita Rasa Biji Kopi Muria

Di balik setiap gelas kopi yang disajikan, Haidar berupaya menjaga keterhubungan dengan rantai ekonomi lokal. Seluruh kopi yang digunakan berasal dari biji kopi Muria yang dipasok melalui roastery lokal. Baginya, keputusan tersebut bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga bentuk dukungan terhadap petani kopi di lereng Gunung Muria.
“Kebijakan pemerintah daerah mendorong kami memakai kopi lokal. Artinya, secara tidak langsung kami ikut membeli hasil panen petani kopi Muria. Jadi manfaatnya bukan hanya untuk kami, tetapi juga sampai ke petani,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Kudus sendiri terus mendorong pengembangan Kopi Muria sebagai salah satu produk unggulan daerah. Budidaya kopi di lereng Gunung Muria telah berlangsung secara turun-temurun sejak akhir abad ke-19 dan kini menjadi salah satu komoditas yang terus dipromosikan melalui berbagai kegiatan UMKM. Kawasan perkebunan kopi di lereng Muria yang mencapai ratusan hektare menjadi sumber pasokan bagi berbagai pelaku usaha kopi lokal, termasuk gerai-gerai street coffee.

Menu yang paling sering dipesan di Tinemu coffee adalah kopi susu dengan harga Rp13 ribu per gelas.
“Kami tidak pernah mengklaim kopi kami paling enak. Tetapi yang paling sering dipesan memang kopi susu karena dengan harga segitu pelanggan merasa sepadan,” tutur Haidar.
Selain kualitas kopi, harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu alasan banyak anak muda memilih menikmati malam di kawasan ini. Dengan belasan ribu rupiah, mereka dapat menikmati minuman yang diracik menggunakan biji kopi lokal sambil menghabiskan waktu bersama teman-teman di ruang terbuka.
Ngobrol dengan Pelanggan yang Menjadi Teman Baru
Di balik setiap gelas kopi yang berpindah ke tangan pelanggan, ada proses belajar yang berlangsung setiap malam. Shafira Ramadhani menjadi salah satu wajah yang turut menghidupkan suasana street coffee. Perempuan yang telah dua tahun berkecimpung di dunia kopi itu baru empat bulan bergabung di Tinemu coffee, tetapi ia merasa menemukan pengalaman yang berbeda dibanding bekerja di kedai kopi konvensional.

Menurutnya, menjadi barista di ruang terbuka bukan sekadar meracik minuman. Hampir setiap malam ia bertemu orang-orang baru dengan latar belakang yang beragam. Ada pelanggan yang hanya singgah beberapa menit sebelum pulang, ada pula yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbincang bersama teman-temannya. Bahkan, beberapa wisatawan dari luar daerah masih menjalin komunikasi dengannya setelah saling bertukar media sosial.
“Yang paling saya suka itu bisa ketemu teman baru. Hampir setiap malam ngobrol dengan orang-orang yang berbeda, jadi banyak dapat pengalaman,” katanya.
Bagi Shafira, setiap pelanggan juga menjadi ruang belajar. Tidak jarang ia berdiskusi mengenai karakter kopi yang disukai pengunjung. Jika permintaan tersebut masih memungkinkan dibuat dengan bahan yang tersedia, ia berusaha memenuhinya meski menu itu belum tercantum dalam daftar minuman.

“Saya masih terus belajar. Kadang saya tanya pelanggan mereka sukanya kopi seperti apa. Kalau memang bisa dibuat meski tidak ada di menu, ya kami usahakan,” ujarnya.
Interaksi semacam itu menjadi warna tersendiri yang sulit ditemukan di tempat lain. Hubungan antara barista dan pelanggan tidak berhenti pada transaksi jual beli, melainkan berkembang menjadi percakapan yang akrab dari malam ke malam.
Kuliner Ikut Hidup Menemani Saat Ngopi
Ramainya street coffee juga membawa manfaat bagi pelaku usaha lain di sekitarnya. Tidak jauh dari gerobak kopi, aroma nasi uduk dan ayam penyet mengundang pengunjung yang mulai mencari makan setelah menikmati secangkir kopi.

Shofa menjadi salah satu pedagang yang merasakan perubahan tersebut. Selama lima tahun terakhir ia menggantungkan penghasilannya dari berjualan makanan di kawasan street coffee. Berbeda dengan sebagian besar tenant yang menawarkan minuman, ia memilih menyajikan makanan berat karena melihat peluang yang belum banyak digarap.
“Kalau di coffee street kan kebanyakan kopi. Orang habis ngopi biasanya cari makan berat, jadi mereka mampir ke sini,” katanya.
Menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai ayam penyet, bebek penyet, lele, telur penyet, hingga nasi uduk. Kehadiran berbagai pilihan makanan membuat pengunjung tidak perlu berpindah tempat ketika ingin melanjutkan obrolan sambil makan malam.

Bagi Shofa, malam akhir pekan selalu menjadi waktu yang paling dinanti. Jumlah pengunjung biasanya meningkat karena lebih banyak anak muda dan keluarga memilih menghabiskan waktu di pusat kota.
“Kalau malam Minggu anak-anak muda banyak keluar, jadi penjualan naik. street coffee sangat membantu perkembangan usaha kami,” ujarnya.

Meski demikian, cuaca tetap menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Ketika hujan turun, jumlah pengunjung berkurang sehingga aktivitas perdagangan ikut melambat.
“Kalau hujan ya penjualan turun. Mau bagaimana lagi, itu di luar kendali kami,” katanya.
Tidak hanya pedagang makanan, geliat street coffee juga membuka peluang bagi pelaku UMKM lain. Di sepanjang kawasan, pengunjung dapat menemukan angkringan, penjual tahu bulat, kucingan, pecel lele, camilan, hingga minuman tradisional. Dengan kisaran harga sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu, kawasan ini menjadi pilihan yang mudah dijangkau berbagai kalangan.
Menikmati Kota dari Atas Trotoar
Bagi Joni Kamal, street coffee memiliki daya tarik yang berbeda dibanding cafe di dalam ruangan. Hampir setiap pekan ia datang untuk menikmati suasana malam sambil menyeruput kopi.

“Saya suka suasananya. Duduk santai sambil melihat kendaraan lewat itu sudah menyenangkan,” katanya.
Menurutnya, ruang terbuka menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan kota.
“Kalau di sini lebih menyatu dengan suasana kota. Anginnya terasa, orang lalu-lalang, jadi lebih hidup,” ungkapnya.
Pendapat serupa juga terlihat dari ramainya berbagai komunitas yang menjadikan kawasan ini sebagai titik berkumpul. Komunitas otomotif, pesepeda, fotografer, hingga musisi jalanan memanfaatkan ruang publik tersebut untuk bertemu setelah menyelesaikan aktivitas masing-masing. Sesekali alunan gitar akustik terdengar mengiringi percakapan para pengunjung, menambah hangat suasana malam di pusat Kota Kudus.

Keberadaan street coffee juga mendapat dorongan dari berbagai kegiatan berskala nasional yang berlangsung di Kudus. Menurut Haidar, setiap kali kota menjadi tuan rumah kejuaraan olahraga, konser, atau kegiatan besar lainnya, jumlah pengunjung cenderung meningkat pada malam hari karena peserta maupun penonton mencari tempat untuk bersantai setelah acara selesai.

Meski demikian, ia berharap penataan kawasan terus disempurnakan agar aktivitas ekonomi dapat berjalan berdampingan dengan fungsi trotoar sebagai ruang publik.
“Kalau bisa ditata lagi. Misalnya dibuat seperti Malioboro dengan jalur yang lebih rapi sehingga nyaman untuk pejalan kaki maupun pengunjung,” harapnya.
Harapan tersebut sejalan dengan langkah Pemerintah Kabupaten Kudus yang memilih pendekatan penataan dibanding penertiban secara represif. Pemerintah mendorong aktivitas UMKM tetap berkembang, namun tetap mengedepankan kenyamanan pejalan kaki, kebersihan kawasan, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku bagi pedagang kaki lima.
Interaksi yang Terhubung karena Segelas Kopi

Menjelang pukul 24.00 WIB, satu per satu gerobak mulai menutup layanan. Kursi-kursi lipat kembali disusun, peralatan seduh dibersihkan, dan lampu-lampu kecil di atas gerobak perlahan dipadamkan. Trotoar yang beberapa jam sebelumnya dipenuhi percakapan kembali menjadi ruang yang tenang.
Setiap malam, rutinitas itu terus berulang. Ada barista yang pulang membawa pengalaman baru, pedagang makanan yang menghitung hasil penjualan, petani kopi Muria yang hasil panennya terserap melalui roastery lokal, hingga pelanggan yang membawa pulang kenangan sederhana dari obrolan bersama teman.

street coffee pada akhirnya bukan hanya menghadirkan pilihan menikmati kopi di ruang terbuka. Kehadirannya menunjukkan bagaimana ruang kota dapat menjadi tempat bertemunya aktivitas ekonomi, interaksi sosial, dan kreativitas masyarakat. Di atas hamparan trotoar yang setiap hari dilalui ribuan orang, secangkir kopi menjadi penghubung banyak cerita, sementara malam di Kota Kudus terus menemukan denyut kehidupannya melalui orang-orang yang memilih berkumpul, berbagi, dan menjemput rezeki hingga larut malam. (ITN/mainkekudus)