

Tak Semua Lolos, Namun Tetap Bertumbuh dan Belajar dari Kegagalan
Kudus – Peluit panjang berbunyi di Supersoccer Arena Kudus pada Jumat (10/7/2026). Beberapa pemain Scorpion FC U-15 (Kudus) tampak menundukkan kepala. Ada yang saling menepuk bahu, ada pula yang mencoba menguatkan rekannya. Di sisi lapangan, suasana hening sesaat setelah papan skor menunjukkan angka 0-2 untuk kemenangan Cipta Cendikia FA (Bogor).

Mimpi melangkah ke semifinal HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 memang harus berhenti di fase Grup B U-15. Namun, bagi para pesepak bola putri yang masih berada pada usia pembinaan, sore itu bukan sekadar tentang pertandingan yang kalah. Itu adalah hari ketika mereka belajar menerima kenyataan, mengelola emosi, dan memahami bahwa perjalanan menjadi atlet tidak selalu berjalan sesuai harapan.


Dalam dunia sepak bola usia muda, kemenangan memang menghadirkan kegembiraan. Namun, kekalahan seringkali memberikan pelajaran yang jauh lebih panjang umurnya. Dari lapangan inilah para pemain belajar bahwa proses tidak berhenti ketika kesempatan lolos menghilang. Justru setelah pertandingan usai, ruang untuk bertumbuh kembali terbuka.

Salah satu pemain Scorpion FC U-15 (Kudus), Putri Lian Maulida, merasakan sendiri beratnya momen tersebut. Rasa sedih tidak bisa dihindari.

Meski demikian, Putri tidak ingin membiarkan kekecewaan menjadi akhir dari ceritanya. Ia memilih melihat pertandingan itu sebagai bagian dari perjalanan yang telah membawanya melewati persaingan tingkat regional Kudus hingga tampil di ajang nasional.

Selama mengikuti turnamen, ia merasa mampu menjaga kepercayaan dirinya berkat dukungan pelatih, rekan setim, dan kapten tim. Dukungan itu membuatnya tetap yakin bahwa hasil hari ini bukan penentu masa depan.
“Pasti sedih. Tapi saya berharap tahun depan bisa tampil lebih baik. Kekalahan ini menjadi pelajaran untuk memperbaiki kesalahan, meningkatkan permainan, dan tetap tenang saat bertanding,” ungkap Putri Lian Maulida selepas pertandingan.
Kalimat sederhana itu menggambarkan cara seorang atlet muda memandang kekalahan. Bukan untuk disesali terlalu lama, melainkan dijadikan bahan evaluasi. Putri menyadari masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki, mulai dari meningkatkan intensitas permainan hingga menjaga ketenangan ketika bertanding.
Di bangku cadangan, Pelatih Scorpion FC U-15 (Kudus), Roni Listiono, memandang pertandingan itu dari sudut yang lebih luas. Baginya, tugas seorang pelatih tidak selesai ketika wasit meniup peluit akhir. Justru setelah pertandingan usai, peran pelatih semakin penting untuk memastikan mental para pemain tetap terjaga.
Sesaat setelah tim dipastikan tereliminasi, Roni langsung mengumpulkan anak-anak asuhnya. Tidak ada kemarahan. Tidak ada penyesalan yang berlarut-larut. Yang ia sampaikan adalah motivasi agar para pemain tetap melihat kekalahan sebagai bagian dari proses belajar.
“Saya kasih motivasi ke anak-anak tetap semangat. Pembelajaran dari kekalahan ini supaya kedepan lebih bagus lagi. Masih banyak kekurangan dari tim kita dan memang harus diakui lawan bermain lebih baik,” ujar Roni.

Bagi Roni, pembinaan sepak bola usia muda memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengejar trofi. Ia percaya, keberhasilan seorang pemain dibentuk melalui latihan yang konsisten, pengalaman bertanding, dan kemampuan bangkit ketika menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan.
Filosofi itulah yang terus ditanamkan kepada para pemain Scorpion FC U-15 (Kudus).
“Karena kita itu untuk pembinaan tidak bisa terus berharap juara. Juara itu berdasarkan proses mereka latihan. Hasilnya ya, bonus. Yang kita tanamkan buat mereka jangan merasa kalah dulu. Yang penting mereka bisa mengambil pelajaran dari kekalahan hari ini agar kedepan menjadi lebih baik lagi,” tambahnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan atlet muda tidak hanya berorientasi pada hasil pertandingan. Yang dibangun adalah karakter, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, serta keberanian untuk kembali mencoba setelah mengalami kegagalan.
HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 menjadi ruang bagi para pemain muda untuk merasakan atmosfer kompetisi sekaligus menguji hasil latihan yang selama ini mereka jalani. Tidak semua tim berhasil melangkah hingga babak akhir, tetapi setiap peserta membawa pulang pengalaman yang berbeda.
Bagi Scorpion FC U-15 (Kudus), perjalanan di turnamen ini memang selesai lebih cepat. Namun, pengalaman menghadapi tekanan pertandingan, menerima kekalahan secara sportif, dan mengevaluasi kemampuan sendiri menjadi bekal yang akan terus mereka bawa dalam proses pembinaan berikutnya.
Di balik skor 0-2 yang tercatat pada pertandingan melawan Cipta Cendikia FA (Bogor), tersimpan kisah tentang sekelompok atlet muda yang memilih untuk tidak berhenti bermimpi. Mereka pulang tanpa tiket semifinal, tetapi membawa sesuatu yang tidak tercantum di papan skor: pengalaman, kedewasaan, dan keyakinan bahwa setiap langkah yang tertunda tetap menjadi bagian dari perjalanan menuju pemain yang lebih baik.
Penyelenggaraan HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026 juga menjadi wujud komitmen Bakti Olahraga Djarum Foundation dalam mendukung pembinaan sepak bola putri Indonesia. Melalui kompetisi yang berkelanjutan, para atlet muda mendapatkan ruang untuk berkembang, mengasah kemampuan, sekaligus membangun karakter yang akan menjadi pondasi dalam perjalanan mereka di dunia sepak bola. (JMY/ITN/mainkekudus)