

Timnas Malaysia dan Hong Kong, China Terkesan dengan Jenang dan Batik Kudus
KUDUS – Timnas Putri U-16 dari tujuh negara berada di Kudus untuk mengikuti Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026. Di sela turnamen,Timnas Putri U-16 Hong Kong, China mengunjungi Museum Jenang dan Gusjigang, sedangkan Timnas Putri U-16 Malaysia berkunjung ke rumah produksi dan gallery Batik Alfa Shoofa pada Rabu (19/8/2026).
Kunjungan Timnas Putri U-16 Hong Kong, China dimulai dengan pengenalan jenang di Museum Jenang dan Gusjigang. Para pemain dan official melihat koleksi museum serta mendapat penjelasan mengenai sejarah jenang, proses pembuatannya, dan kaitannya dengan budaya Kudus.




Tim Hong Kong, China mengenal sejarah dan proses pembuatan jenang hingga mencicipinya. Sementara Tim Malaysia melihat proses pembuatan Batik Kudus dan mencoba membatik secara langsung.
Jenang, Warisan Budaya Takbenda

Kunjungan Timnas Putri U-16 Hong Kong, China dimulai dengan pengenalan jenang di Museum Jenang dan Gusjigang. Para pemain dan official melihat koleksi museum serta mendapat penjelasan mengenai sejarah jenang, proses pembuatannya, dan kaitannya dengan budaya Kudus.
Bagi masyarakat Kudus, jenang merupakan bagian dari sejarah kuliner dan tradisi daerah. Makanan berbahan dasar beras ketan, gula merah, dan kelapa tersebut telah berkembang bersama kehidupan masyarakat Kudus dan berkaitan dengan tradisi sejak masa Sunan Kudus.
Jenang Kudus juga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2022.
Salah satu sejarah yang diperkenalkan di museum adalah perjalanan Jenang Mubarok yang dirintis oleh H. Mabruri dan Hj. Alawiyah pada 1910. Usaha tersebut bermula dari industri rumahan dengan penjualan di sekitar Pasar Bubar Menara Kudus.
Sejarah tersebut ditampilkan melalui koleksi museum, termasuk peralatan memasak dari masa lalu, berbagai koleksi, dan diorama yang berkaitan dengan sejarah Kudus.
Hesti Tri Hartanto, Kepala Museum Jenang dan Gusjigang Kudus, mengatakan museum tidak hanya menampilkan jenang sebagai makanan khas, tetapi juga mengenalkan sejarah, budaya, dan kearifan lokal.

“Jenang sudah melekat sebagai makanan khas Kota Kudus. Kami ingin masyarakat luas, termasuk tamu internasional, bisa mengenal sejarah, budaya, dan kearifan lokal melalui koleksi yang kami suguhkan,” ujar Hesti.
Menurut Hesti, koleksi museum membantu pengunjung melihat perjalanan jenang sekaligus kaitannya dengan sejarah dan budaya Kudus.
“Ketika berkeliling, para pengunjung bisa belajar tentang perjalanan sejarah jenang itu sendiri, serta terkait sejarah, budaya, dan kearifan lokal Kabupaten Kudus melalui koleksi-koleksi yang kami suguhkan,” paparnya.
Selain Museum Jenang, para pemain juga menyusuri Galeri Gusjigang yang menyimpan koleksi berkaitan dengan sejarah penyebaran agama Islam di Kudus serta perkembangan kehidupan masyarakatnya.
Atlet Hong Kong, China Mencicipi Jenang

Bagi Timnas Putri U-16 Hong Kong, China, kunjungan tersebut menjadi pengalaman baru. Mereka melihat langsung proses produksi makanan tradisional yang jarang mereka temui di Hong Kong, China.
Wong So Han, Asisten Coach Timnas Putri U-16 Hong Kong, China, mengatakan suasana dan budaya yang mereka lihat berbeda dari yang biasa ditemui di negara asalnya.

“Ini budaya yang bagus bagi kami, karena di Hong Kong, China jarang ada hal semacam ini. Di sini terasa lebih tradisional, dan sangat menarik mempelajari proses produksinya,” ujarnya.
Wong juga tertarik dengan koleksi museum yang menggambarkan sisi religius dalam sejarah Kudus.
“Kotak-kotak pameran di sana cukup mengesankan bagi saya. Itu menggambarkan sisi religius Indonesia yang sangat kuat, dan itu cukup mengejutkan sekaligus mengagumkan,” tambahnya.
Sementara itu, Danielle Leung, salah satu pemain Hong Kong, China, memperhatikan proses pembuatan jenang. Menurutnya, proses tersebut membutuhkan usaha dan ketekunan.

“Satu hal yang mengejutkan saya adalah ternyata butuh banyak usaha dan dedikasi bagi setiap orang untuk membuat makanan serta menjaga budayanya,” tutur Danielle.
Setelah melihat koleksi dan proses produksi, para pemain mendapat kesempatan mencicipi jenang.
Hesti mengatakan para atlet memberikan respons positif. Mereka menyebut jenang memiliki rasa manis dan lezat. Salah seorang peserta bahkan memberikan nilai delapan untuk pengalaman mencicipinya.
Bagi para pemain, mencicipi jenang menjadi bagian dari kunjungan setelah mereka mengenal sejarah dan proses pembuatannya.

Batik Kudus Kembali Diperkenalkan

Pada hari yang sama, Timnas Putri U-16 Malaysia mengunjungi rumah produksi dan gallery Batik Alfa Shoofa.
Sebelum melihat proses produksi, para pemain dan official mendapat penjelasan mengenai sejarah Batik Kudus. Batik Kudus memiliki sejarah panjang dengan pengaruh berbagai budaya, termasuk China dan Arab.
Sejak abad ke-17 hingga era 1940-an, motif batik dengan pengaruh berbagai budaya tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat Kudus. Namun, memasuki era 1980-an hingga 2000-an, Batik Kudus semakin ditinggalkan dan lebih banyak dikenal sebagai artefak budaya.
Sejumlah motif yang pernah berkembang pun nyaris punah.

Alfa Shoofa kemudian menghadirkan kembali Batik Kudus melalui kain autentik dan busana siap pakai. Motif serta warna yang menjadi karakter Batik Kudus diperkenalkan dalam bentuk busana yang menyesuaikan gaya masa kini.
Fike, salah seorang pengelola rumah produksi dan gallery Batik Alfa Shoofa, mengatakan pengenalan langsung penting untuk menjelaskan proses dan keterampilan di balik sebuah kain batik.
“Kalau mereka datang dan melihat langsung prosesnya, mereka jadi tahu bahwa batik itu bukan sekadar kain bermotif. Ada proses, ada keterampilan, dan ada cerita budaya yang perlu dijaga,” ujar Fike.
Alfa Shoofa juga menerima kunjungan edukasi, termasuk dari pelajar dan peserta magang, untuk mengenalkan proses batik tulis dan batik cap.
Dari Sketsa hingga Pewarnaan

Setelah mendapat penjelasan mengenai sejarah Batik Kudus, Tim Malaysia melihat proses pembuatannya.
Rangkaian dimulai dari membuat pola atau sketsa. Pola tersebut menjadi dasar sebelum motif dituangkan ke permukaan kain.
Para pemain kemudian melihat penggunaan canting dan malam. Canting digunakan untuk menorehkan malam pada kain mengikuti pola yang telah dibuat.

Malam berfungsi sebagai perintang warna. Bahan tersebut menutup bagian tertentu pada kain agar warna tidak masuk ke area tersebut saat proses pewarnaan.
Bagi peserta yang baru pertama kali melihat proses membatik, penggunaan canting dan malam menunjukkan bahwa pembuatan motif membutuhkan teknik dan ketelitian.
Rombongan kemudian melihat teknik cap. Berbeda dengan canting yang dilakukan secara manual, teknik ini menggunakan alat cap untuk membentuk pola pada kain.

Tahapan berikutnya adalah pewarnaan. Kain yang telah melalui proses pembentukan pola kemudian diberi warna.
Dengan demikian, para pemain melihat proses pembuatan batik mulai dari membuat sketsa, menggunakan canting dan malam, teknik cap, hingga pewarnaan.
Tim Malaysia Mencoba Membatik

Tim Malaysia tidak hanya melihat proses tersebut. Seluruh kontingen mendapat kesempatan mencoba membatik sendiri.
Para pemain menggunakan peralatan membatik dan mengikuti arahan dari pengelola. Mereka berinteraksi langsung dengan kain, canting, malam, serta pola yang harus dibuat secara perlahan.
Bagi Lim You, penyerang sekaligus top scorer Timnas Putri U-16 Malaysia, kegiatan tersebut merupakan pengalaman baru.

“Saya pikir itu sangat menyenangkan dan saya benar-benar menikmatinya. Ini juga berbeda karena saya belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya,” ujar Lim You.
Pengalaman tersebut membuat para pemain melihat langsung tingkat ketelitian yang diperlukan dalam membatik. Garis dan pola pada kain yang terlihat sederhana membutuhkan proses pengerjaan secara manual.

Pengalaman tersebut membuat Lim You ingin mengajak orang-orang di negaranya untuk datang ke Kudus.
“Ayo kunjungi Kudus untuk bersenang-senang,” ujarnya.
Kudus, Menurut Tim Malaysia

Kunjungan ke Alfa Shoofa juga membuat para pemain Malaysia memiliki kesan tersendiri terhadap Kudus.
Lim You menggambarkan Kudus dalam tiga kata, yaitu kreatif, berbeda, dan unik.
Sementara itu, Isabella Saffia O Luanaigh, gelandang Timnas Putri U-16 Malaysia, mengatakan belajar budaya baru merupakan pengalaman yang menyenangkan.

“Saya pikir belajar budaya baru sangat menyenangkan. Ini juga menjadi pengalaman untuk melihat hal-hal yang berbeda, karena menunjukkan bahwa masih banyak yang harus dipelajari,” ujar Isabela.
Ketika diminta menggambarkan Kudus dalam tiga kata, Isabella menyebut indah, luar biasa, dan mengagumkan.
Ia juga berencana menceritakan pengalamannya kepada teman-teman setelah kembali ke negaranya.
“Nanti saya akan ceritakan kepada teman-teman saya, betapa indahnya tempat ini,” katanya.

Olahraga Menjadi Pintu Mengenalkan Budaya

Kunjungan Timnas Putri U-16 Hong Kong, China dan Malaysia menunjukkan bagaimana kegiatan olahraga dapat membuka akses untuk memperkenalkan budaya lokal kepada peserta dari berbagai negara.
Para pemain datang ke Kudus untuk mengikuti Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026. Di sela pertandingan, mereka mengunjungi tempat yang memperkenalkan produk dan budaya lokal.
Tim Hong Kong, China mengenal jenang melalui sejarah, koleksi museum, proses produksi, dan pengalaman mencicipinya. Tim Malaysia mempelajari sejarah Batik Kudus, melihat proses pembuatannya, kemudian mencoba membatik.
Fike, salah seorang pengelola rumah produksi dan gallery Batik Alfa Shoofa, menilai kegiatan olahraga yang menghadirkan peserta dari berbagai daerah dan negara dapat memperluas kesempatan bagi budaya Kudus untuk dikenal.

“Event olahraga membuat orang datang ke Kudus. Ketika mereka kemudian berkunjung dan mengenal batik, ada kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan budaya Kudus secara langsung,” katanya.
Menurut Fike, pengalaman melihat proses membatik hingga mencobanya sendiri dapat menjadi pengetahuan yang dibawa peserta setelah kembali ke daerah atau negara asal.

Sementara itu, Hesti, Kepala Museum Jenang dan Gusjigang Kudus, melihat kehadiran peserta dari berbagai daerah dan negara sebagai peluang untuk mengenalkan wisata edukasi dan kuliner Kudus.
“Event ini sangat berdampak pada banyak bidang, baik kuliner maupun wisata edukasi. Kami berharap dari tahun ke tahun, turnamen atau event internasional rutin diadakan di Kabupaten Kudus, sehingga akan berdampak positif bagi kami selaku tuan rumah dan potensi wisata daerah,” ujarnya.
Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 tidak hanya mempertemukan tim dari tujuh negara di lapangan. Kehadiran mereka juga membuka kesempatan bagi pelaku budaya dan usaha lokal untuk memperkenalkan Kudus secara langsung kepada tamu mancanegara.

Kunjungan ke Museum Jenang dan Alfa Shoofa memperluas pengalaman para pemain selama berada di Kudus. Dari mengenal jenang hingga mencoba membatik, mereka melihat langsung budaya lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kudus.

Bagi pelaku budaya dan usaha lokal, kehadiran peserta dari berbagai negara menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi Kudus secara langsung. Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 pun tidak hanya mempertemukan tujuh negara melalui olahraga, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk mengenal budaya dan potensi lokal Kudus. (JMY/REDMKK/mainkekudus)