Logo Kudus

Warisan Caffino Srikandi Merdeka Cup untuk Kudus dan Sepak Bola Putri Indonesia

Diterbitkan: 26 Agustus 2026Penulis: Saldy Nurzaman

KUDUS – Trofi telah diserahkan. Para pemain yang sejak hari pertama datang ke Kudus untuk bertanding mulai bersiap meninggalkan hotel dan kembali ke negara masing-masing. Lapangan yang selama sepuluh hari dipenuhi pertandingan, sorak penonton, dan aktivitas tim perlahan kembali seperti semula.

Namun, pengalaman Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 tidak selesai bersama pertandingan terakhir. Tujuh negara telah datang ke Kudus, membawa pemain-pemain muda, pelatih, official, dan cerita masing-masing. Mereka bertanding, tinggal bersama, bertemu masyarakat, mengenal lingkungan sekitar, dan menjalani aktivitas di luar lapangan.

Timnas Garuda Pertiwi di podium kemenangan. Garuda Pertiwi berada diposisi kedua setelah dikalahkan timnas Thailand 0-1 pada laga final Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026. (Foto: jmy/itn/maikekudus)

Ketika mereka pulang, ada hal-hal yang ikut dibawa. Bagi pemain, pengalaman menghadapi lawan dari negara lain menjadi bagian dari perjalanan mereka sebagai atlet muda. Bagi masyarakat Kudus, kehadiran tim dari tujuh negara memberi kesempatan untuk melihat sepak bola putri internasional secara langsung. Sementara bagi Kudus, penyelenggaraan ini menjadi pengalaman untuk melihat sejauh mana sebuah kabupaten dapat menjadi tempat berlangsungnya kompetisi olahraga internasional sekaligus bagian dari aktivitas sports tourism.

Pemain Membawa Pulang Cerita dari Kudus

Bagi Nur Qalaysha Qaisara, perjalanan bersama Timnas U-16 Malaysia tidak hanya berisi pertandingan. Bek tengah bernomor punggung 2 itu mengingat kebersamaan yang terbentuk selama hampir dua pekan berada di Kudus.

Ada perjalanan menggunakan bus yang diisi nyanyian bersama, waktu makan bersama, hingga kesempatan mengenal kegiatan budaya lokal. Salah satunya ketika para pemain mencoba membuat batik secara langsung.

Nur Qalaysha Qaisara, timnas putri U-16 Malaysia. (Foto: itn/mainkekudus)

Aktivitas tersebut berlangsung di sela agenda kompetisi. Bagi pemain muda yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk latihan dan pertandingan, pengalaman di luar lapangan menjadi bagian yang ikut membentuk kenangan perjalanan.

“Kami tim Malaysia. Kami sudah melakukan banyak hal bersama-sama, bertanding bersama. Makan bersama-sama. Bagi saya memori ini sulit untuk dilupakan,” kenang Qalaysha.

Cerita yang dibawa pulang pemain Yordania berbeda. Alma Odai Yousef Alsaify, penyerang Timnas Putri U-16 Yordania, lebih banyak mengingat sambutan masyarakat selama berada di Indonesia.

Program diet yang dijalani tim membuat Alma dan rekan-rekannya memiliki keterbatasan untuk mencoba makanan lokal. Meski demikian, pengalaman bertemu masyarakat dan berada di Indonesia tetap meninggalkan kesan baginya.

Alma Odai Yousef Alsaify, timnas putri U-16 Yordania. (Foto: itn/mainkekudus)

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para penggemar di sini dan orang-orang di Indonesia. Jujur saja, Indonesia adalah tempat yang ingin saya kunjungi kembali untuk liburan resmi,” ujar Alma.

Kawinthida Kikuntod dari Timnas Putri U-16 Thailand juga memiliki cerita sendiri. Di tengah agenda pertandingan, ia sempat mengunjungi sebuah supermarket di Kudus dan mencoba ayam goreng lokal.

Kawinthida Kikuntod, kapten timnas Putri U-16 Thailand. (Foto: itn/mainkekudus)

Pengalaman sederhana seperti itu menjadi bagian dari perjalanan yang tidak ditemukan dalam catatan pertandingan. Para pemain datang sebagai peserta kompetisi, tetapi selama tinggal di Kudus mereka juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di kota tempat turnamen berlangsung.

Bertanding dengan Negara Lain Membentuk Pemain

Pengalaman tersebut berjalan beriringan dengan tujuan utama turnamen, yakni memberikan ruang bagi pemain muda untuk menghadapi lawan dari negara berbeda.

Fadilla, striker Timnas Putri U-16 Indonesia asal Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, merasakan langsung pengalaman tersebut. Setelah menjalani pertandingan melawan tim-tim dari luar Indonesia, ia merasa mendapatkan tambahan pengalaman bermain dan belajar bersikap lebih tegas ketika berada di lapangan.

Fadilla, striker timnas U-16 Indonesia asal Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. (Foto: itn/mainkekudus)

“Perasaannya sangat senang kami sudah berusaha yang terbaik untuk official dan pelatih. Di sini tambah pengalaman bermainnya tambah kaya, lebih tegas ke kawan. Saya sangat bangga membawa nama Indonesia sampai di titik ini,” ungkap Fadilla.

Pengalaman seperti itu penting bagi pemain yang masih berada dalam tahap pembinaan. Mereka tidak hanya berhadapan dengan kemampuan teknis lawan, tetapi juga situasi pertandingan, tekanan, komunikasi, dan karakter permainan yang mungkin berbeda dari kompetisi yang biasa mereka ikuti.

Pelatih Timnas U-16 Malaysia, Fairuz Montana Zainal Abidin, berharap pengalaman di Kudus dapat menjadi bekal bagi pemainnya setelah kembali ke Malaysia. Ia mengingatkan para pemain untuk menjadikan pengalaman tersebut sebagai motivasi dan tetap menjaga sikap.

Fairuz Montana Zainal Abidin, Pelatih Timnas U-16 Malaysia. (Foto: itn/mainkekudus)

“Turnamen yang akan datang, semoga bawa pengalaman di Kudus di sini sebagai motivasi, sebagai benda yang positif untuk maju ke hadapan. Karena mereka masing-masing masih muda,” pesan Fairuz.

Bagi Timnas Putri U-16 Thailand, turnamen di Kudus juga menjadi bagian dari persiapan menuju agenda berikutnya. Pelatih Thidarat Wiwasukhu menyebut timnya akan menjalani pemusatan latihan untuk menghadapi kualifikasi AFC U-17.

Thidarat Wiwasukhu, pelatih Timnas Putri U-16 Thailand. (Foto: itn/mainkekudus)

“Tentu kami akan bersiap untuk kualifikasi AFC U-17 yang akan diadakan di Thailand nanti. Kami akan memulai Training Center (TC) bulan depan. Target selanjutnya kami akan fokus mempersiapkan diri untuk Piala Dunia,” ungkap Thidarat.

Setiap tim akhirnya pulang dengan kebutuhan yang berbeda. Ada yang membawa catatan teknis, ada yang membawa pengalaman menghadapi lawan internasional, dan ada pula yang membawa kenangan tentang kota tempat mereka bertanding.

Pembinaan Tidak Berhenti di Turnamen

Bagi Indonesia, pengalaman menghadapi tujuh negara menjadi bagian dari pembicaraan yang lebih besar tentang pembinaan sepak bola putri.

Pelatih Timnas Putri U-16 Indonesia, Garuda Pertiwi, Timo Scheunemann, melihat perkembangan pemain perlu dibangun melalui kompetisi yang berjenjang. Pemain harus memiliki kesempatan bermain sejak usia dini sebelum melanjutkan ke sekolah sepak bola dan kompetisi dengan tingkat persaingan yang lebih tinggi.

Timo Scheunemann, Pelatih Timnas U-16 Indonesia. (Foto: itn/mainkekudus)

“Jadi, semakin banyak yang main ya semakin bagus, dan yang penting juga berjenjang. Jadi ada turnamennya antar-SD, kemudian setelah itu kita dorong mereka untuk cari SSB,” jelas Timo.

Menurut Timo, pengalaman bermain juga perlu berjalan bersama pembentukan karakter. Ia menilai para pemain Indonesia menunjukkan mentalitas untuk terus berjuang dalam setiap pertandingan dan tidak menempatkan diri sebagai pemain bintang.

Bagi pemain muda, pengalaman di Srikandi Merdeka Cup dengan demikian tidak berdiri sendiri. Turnamen menjadi salah satu bagian dari proses panjang yang membutuhkan kompetisi rutin, pembinaan di klub dan sekolah, serta kesempatan untuk bertemu lawan dengan tingkat dan karakter permainan yang berbeda.

Di sinilah nilai sebuah kompetisi internasional bagi pembinaan menjadi lebih luas daripada hasil akhir pertandingan. Pemain memperoleh kesempatan untuk mengukur kemampuan mereka dalam situasi yang berbeda dan membawa pengalaman tersebut ke tahap berikutnya.

Kudus Mendapat Pengalaman Menjadi Tuan Rumah

(Foto: aj/mainkekudus)

Srikandi Merdeka Cup juga memberikan pengalaman bagi Kudus sebagai tuan rumah. Selama sepuluh hari, kota ini menjadi tempat tinggal dan aktivitas bagi tim dari tujuh negara Asia.

Program Director Caffino Srikandi Merdeka Cup, Teddy Tjahjono, menyebut penyelenggaraan tersebut sebagai puncak dari rangkaian Women’s Soccer Trilogy. Ia juga menyoroti dukungan masyarakat yang hadir di tribun selama pertandingan.

Teddy Tjahjono, Program Director Caffino Srikandi Merdeka Cup. (Foto: itn/mainkekudus)

“Caffino Srikandi Merdeka Cup ini adalah puncak dari trilogi Women’s Soccer yang memang kita sudah rencanakan. Kami berterima kasih kepada dukungan masyarakat yang selalu memenuhi tribun penonton,” kata Teddy.

Antusiasme tersebut menjadi salah satu pengalaman yang diterima para peserta selama berada di Kudus. Pertandingan sepak bola putri internasional tidak hanya berlangsung di hadapan tim dan perangkat pertandingan, tetapi juga disaksikan langsung masyarakat setempat.

Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Bidang Olahraga Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus, Widoro Heriyanto, melihat kedatangan tamu dari luar negeri membawa dampak pada beberapa sektor sekaligus.

Widoro Heriyanto, Kepala Bidang Olahraga Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus. (Foto: itn/mainkekudus)

“Dari satu sisi, mungkin ini pertama kali di Kabupaten Kudus, di Jawa Tengah, mungkin atau di Indonesia, turnamen yang berskala internasional. Jadi, kedatangan tamu-tamu dari luar negeri, saya kira sangat-sangat berdampak luas sekali, dalam hal dunia prestasi, UMKM, dan tourism,” ungkap Widoro.

Penyelenggaraan tersebut memperlihatkan hubungan antara olahraga dan aktivitas lain di daerah. Pemain dan official membutuhkan tempat tinggal, makanan, transportasi, serta berbagai layanan selama berada di Kudus. Di sisi lain, masyarakat memperoleh kesempatan untuk menyaksikan pertandingan dan berinteraksi dengan peserta.

Tujuh Negara Membuka Pengalaman Baru bagi Masyarakat

Kehadiran tujuh negara juga membuat pertandingan sepak bola putri internasional lebih dekat dengan masyarakat Kudus. Anak-anak yang selama ini mungkin hanya mengenal sepak bola putri melalui layar dapat melihat pemain seusia mereka bertanding secara langsung.

Timnas putri U-16 Yordania ketika menyapa penggemar Indonesia. (Foto dok. mainkekudus)

Pengalaman itu penting karena olahraga tidak hanya tumbuh melalui pemain yang sudah berada di dalam sistem pembinaan. Minat juga dapat tumbuh dari anak-anak yang datang menonton, mengenal pemain, melihat pertandingan, kemudian memiliki keinginan untuk mencoba bermain.

Di sekitar pertandingan, ekosistem yang lebih luas juga ikut bergerak. Atlet dan pelatih berada di satu ruang dengan official, volunteer, pengelola venue, masyarakat, sekolah, klub, hingga pelaku UMKM.

Pertemuan tersebut membuat sebuah kompetisi memiliki kehidupan di luar lapangan. Para pemain membutuhkan dukungan untuk menjalani pertandingan, penonton membutuhkan ruang untuk menyaksikan, sementara pelaku usaha mendapatkan kesempatan beraktivitas ketika keramaian berlangsung.

Pemain Timnas U-16 Indonesia Skuad Garuda Pertiwi saat jumpa fans di Supersoccer Arena Kudus. (Foto: itn/mainkekudus)

Bagi Kudus, pengalaman ini menjadi bahan untuk melihat apa yang dapat dikembangkan apabila kegiatan olahraga internasional kembali digelar. Penyelenggaraan satu event dapat menjadi pengalaman awal, tetapi keberlanjutannya membutuhkan kompetisi yang konsisten, pembinaan atlet, kesiapan fasilitas, keterlibatan masyarakat, serta hubungan yang terus dibangun antara olahraga dan sektor lain.

Setelah Tujuh Negara Meninggalkan Kudus

Warisan Srikandi Merdeka Cup tercermin dari pengalaman pemain, pelajaran pelatih, inspirasi bagi anak-anak, dan pengalaman Kudus menjadi tuan rumah sepak bola putri internasional. (Foto dok. mainkekudus)

Ketika para pemain kembali ke negara masing-masing, tidak semua yang tertinggal dapat dihitung melalui hasil pertandingan.

Qalaysha membawa kenangan tentang kebersamaan tim dan pengalaman membuat batik. Alma membawa kesan terhadap masyarakat Indonesia dan keinginan untuk kembali. Kawinthida membawa cerita tentang aktivitas sederhana di Kudus. Fadilla membawa tambahan pengalaman sebagai pemain muda Indonesia. Para pelatih membawa catatan untuk persiapan berikutnya.

Masyarakat Kudus mendapatkan pengalaman menyaksikan pemain putri dari tujuh negara bertanding secara langsung. Anak-anak mendapatkan kesempatan melihat pertandingan internasional dari dekat. Pelaku usaha dan orang-orang yang terlibat dalam penyelenggaraan mendapatkan pengalaman bekerja dalam sebuah event dengan peserta dari berbagai negara.

Sementara itu, Kudus memperoleh pengalaman sebagai tuan rumah kompetisi sepak bola putri internasional dan kesempatan untuk melihat hubungan antara olahraga, pariwisata, masyarakat, serta ekonomi lokal.

Warisan Srikandi Merdeka Cup pada akhirnya bukan sesuatu yang selesai dihitung ketika trofi diserahkan. Ia berada pada pengalaman yang dibawa pulang pemain, pelajaran yang diteruskan pelatih, inspirasi yang diterima anak-anak, serta pengetahuan yang diperoleh Kudus setelah menjadi bagian dari perjalanan sepak bola putri internasional.

Pertandingan terakhir menutup kompetisi, tetapi pengalaman selama sepuluh hari tetap berjalan bersama orang-orang yang terlibat di dalamnya. Para pemain membawa pulang pengalaman internasional, masyarakat mendapatkan kesempatan menyaksikan sepak bola putri dari berbagai negara, dan Kudus memiliki satu pengalaman baru dalam perjalanan membangun olahraga sekaligus sports tourism.

Apa yang dilakukan setelahnya akan menentukan apakah pengalaman tersebut berhenti sebagai cerita satu turnamen atau menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. (JMY/ITN/mainkekudus)