

KUDUS – Ratusan pelari dari berbagai daerah hingga mancanegara memadati jalur pendakian Gunung Muria dalam ajang Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026 pada 3–4 Oktober. Selama dua hari, sebanyak 570 peserta, menantang diri menaklukkan medan naik-turun yang membentang dari kawasan Colo hingga lereng pegunungan.
Pusat kegiatan dipusatkan di D’Tjolo Eco Park, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, sebagai titik awal dan akhir untuk empat kategori perlombaan: 7, 15, 30, dan 50 kilometer.
Setiap kategori menawarkan bentang alam yang beragam. Peserta jarak 7 kilometer menyusuri kawasan Montel, sementara kategori 15 kilometer mengarah ke Ternadi hingga kawasan Becici sebelum kembali ke Colo.
Untuk lintasan yang lebih menantang, kategori 30 kilometer melewati Ternadi, Natas Angin, dan Semliro. Adapun kategori terpanjang, 50 kilometer, membawa pelari menyeberang hingga Tempur di Jepara, lalu kembali melintasi Puncak 29 dan Semliro menuju garis akhir di Colo.

Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) turut membawa misi pelestarian alam dalam perhelatan Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026 melalui program penanaman dan penyerahan bibit pohon.
Deputy Program Manager BLDF, Redi Joko Prasetyo, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan kelanjutan dari komitmen jangka panjang lembaganya di kawasan Gunung Muria.

“Selama ini kami punya perhatian besar untuk kawasan Muria. Yang sudah kami kerjakan antara lain penanaman dan konservasi macan tutul serta elang Jawa. Tujuannya bukan hanya konservasi, tetapi juga agar masyarakat bisa mendapatkan manfaat,” ujarnya.
Program rehabilitasi ini telah menjangkau sejumlah wilayah di Kudus seperti Desa Colo dan Desa Rahtawu, serta mulai merambah ke Kabupaten Jepara meliputi Desa Tempur dan Sumanding. Ke depan, cakupan kegiatan ditargetkan meluas hingga wilayah Pati.
Dalam pelaksanaannya, BLDF menekankan pentingnya partisipasi warga untuk merawat tanaman hingga tumbuh produktif.
“Program rehabilitasi di kawasan Muria ini melibatkan partisipasi masyarakat. Jadi kami ajak masyarakat tidak sekadar datang dan menanam, tetapi ikut merawat hingga memastikan tanaman ini bisa memberikan kontribusi ekonomi,” katanya.
Keterlibatan masyarakat tersebut membuat penanaman tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan dalam rangkaian event, tetapi terhubung dengan program penghijauan yang telah berjalan di kawasan Muria.

Aspek kelestarian lingkungan selama UTMM 2026 juga diterapkan melalui pengelolaan sampah yang melibatkan Program Kudus Asik(Apik Resik). Program tersebut menangani pengumpulan, pemilahan, sekaligus edukasi kepada peserta dan pengunjung selama event berlangsung.
Sampah yang terkumpul dikelompokkan menjadi dua kategori utama, yakni organik dan anorganik. Sampah organik selanjutnya dibawa ke Pusat Pengolahan Organik (PPO) milik Djarum Foundation untuk diolah menjadi kompos.
Program Associate Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Josephine Laura, mengatakan edukasi pemilahan sampah dilakukan di sejumlah titik selama perlombaan. Sebanyak 10 papan informasi atau signing dipasang untuk menjelaskan jenis sampah, sementara tempat sampah terpilah disediakan di titik water station.

“Kami memasang 10 signing terkait penjelasan jenis sampah serta tempat sampah terpilah di titik water station. Harapannya, dapat membantu peserta mengenali sampah sesuai kategori serta mendorong kebiasaan membuang sampah yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Selain pengelolaan sampah, kontribusi terhadap lingkungan dalam rangkaian UTMM 2026 juga diwujudkan melalui penyaluran 11.603 bibit pohon, terutama jenis kopi dan alpukat. Pemilihan kedua jenis tanaman tersebut tidak hanya untuk mendukung penghijauan, tetapi juga mempertimbangkan nilai ekonominya agar dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar kawasan.
Josephine mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat menghubungkan aktivitas selama event dengan upaya menjaga kawasan dalam jangka lebih panjang. Pengelolaan sampah menjadi salah satu bagian yang dilakukan selama perlombaan, sementara bibit pohon menjadi bagian dari upaya penghijauan kawasan.

Edukasi mengenai sampah juga dilakukan melalui booth Kudus Asik (Apik Resik). Pelari dapat menyerahkan sampah yang mereka bawa atau temukan sepanjang rute, mulai dari botol air mineral, kulit buah, hingga kemasan gel energi. Sampah tersebut kemudian dipilah sesuai jenisnya.

Sampah yang terkumpul juga dapat ditukarkan dengan merchandise seperti tumbler, tote bag, dan lunch box sesuai ketentuan yang berlaku. Seluruh sampah kemudian ditimbang sebagai bagian dari evaluasi kegiatan dan hasilnya direncanakan dipublikasikan melalui media sosial Kudus Asik(Apik Resik).
Pengelolaan lingkungan juga menjadi bagian dari tanggung jawab panitia terhadap jalur yang digunakan selama perlombaan.
Event Director UTMM 2026, Yusrul Huda, menuturkan bahwa karakter medan yang naik-turun dan kering di musim kemarau menuntut kehati-hatian ekstra agar aktivitas olahraga selaras dengan upaya perlindungan alam.

“Trail run ini kan rutenya di alam. Kami tidak mau merusak alam, tetapi ingin menikmati keindahan alam. Karena itu, kami menjaga kebersihan sampah dan nanti panitia bersama Kudus ASIK juga akan melakukan penanaman pohon setelah event ini,” katanya.
Peserta diwajibkan membawa sampah pribadi masing-masing selama berada di jalur. Tempat sampah juga disediakan di sejumlah pos. Sebelum perlombaan, peserta mendapatkan briefing mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama melintasi rute.
Setelah perlombaan berakhir, panitia melakukan pengecekan kembali terhadap kondisi jalur. Tanda dan rambu yang dipasang untuk kebutuhan perlombaan juga diperiksa agar tidak tertinggal di kawasan alam.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya panitia memastikan fasilitas dan perlengkapan event yang digunakan selama perlombaan tidak tertinggal setelah peserta menyelesaikan rute.
Kerja sama dengan BLDF dan Kudus ASIK melengkapi langkah tersebut melalui kegiatan penanaman, pengelolaan sampah, dan edukasi lingkungan selama penyelenggaraan Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026.
Bagi peserta, kondisi alam menjadi bagian dari pengalaman ketika mengikuti trail running. Jalur yang bersih membuat perjalanan lebih nyaman sekaligus menjaga kawasan yang digunakan sebagai lintasan perlombaan.
Hal tersebut dirasakan langsung oleh Sina Lotfahmadi, pelari asal Kanada yang turun di kategori 15K. Ini merupakan kali kedua baginya kembali mengikuti ajang trail run di kawasan Gunung Muria.

Sina memilih mendirikan tenda di area D’Tjolo Eco Park karena penginapan dan homestay di sekitar lokasi Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026 telah penuh.
Menurut Sina, keindahan Gunung Muria dan keramahan masyarakat menjadi bagian dari pengalaman selama mengikuti perlombaan.
“Gunungnya cantik banget, semua orang friendly, welcoming banget. Seru event di sini, semua menyapa,” ujarnya.
Sina Sefelap menggarisbawahi bahwa kebersihan jalur memegang peranan vital bagi kenyamanan sekaligus kelangsungan kegiatan di masa mendatang.

“Kalau trail run, jalurnya harus bersih. Lebih enak dan lebih bagus, jangan buang sampah di alam,” katanya.
Ia selalu berupaya membawa kembali sampah pribadinya karena meyakini setiap pelari memikul tanggung jawab moral yang sama terhadap kelestarian lingkungan.
“Setiap orang yang ikut trail run harus turut menjaga alam. Kalau nanti alamnya tidak cantik atau rusak, tidak ada yang mau ikut. Kalau di sini alamnya indah banget,” ujarnya.
Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026 berhasil mempertemukan hobi berolahraga dengan kecintaan pada alam yang menjadi latar utama perlombaan. Sepanjang menempuh jarak 7 hingga 50 kilometer, para peserta tidak hanya menikmati keelokan lanskap Gunung Muria, tetapi juga memikul tanggung jawab nyata untuk menjaga kelestariannya.
Berbagai langkah nyata telah dijalankan, mulai dari penanaman bibit pohon, pemilahan sampah, edukasi pelari, hingga penyisiran jalur selepas lomba. Bahkan setelah para peserta meninggalkan garis finis, komitmen merawat kawasan ini pun terus berlanjut melalui pohon-pohon yang dipelihara dan sampah yang dikelola secara berkelanjutan. (DN/mainkekudus)