Logo Kudus

Asyifa Sholawa Farizqi, Pesepak Bola Putri Kudus yang Mengukir Pengalaman Bersama Timnas U-17 dan Program Latihan di Prancis

18 Juni 2026

KUDUS – Nama Asyifa Sholawa Farizqi mulai dikenal di kalangan sepak bola putri usia muda setelah mendapat kesempatan mengikuti pemusatan latihan bersama Tim Nasional Indonesia Putri U-17 di Prancis. Bagi remaja kelahiran 5 Desember 2012 berusia 13 tahun asal Kudus ini, pengalaman tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan yang dimulai dari lapangan-lapangan sepak bola di daerah tempat tinggalnya.

(Foto: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Siswi SMP Negeri 3 Kudus yang akrab disapa Syifa itu kini bermain untuk tim Spegaku yang berbasis di SMP Negeri 3 Kudus serta klub Balistha. Di usianya yang masih muda, ia menjalani keseharian yang dipenuhi aktivitas sekolah dan latihan sepak bola hampir tanpa jeda sepanjang pekan. Kesempatan bergabung bersama Timnas Indonesia Putri U-17 dan berlatih di Prancis menjadi pengalaman yang memperluas wawasan serta menambah pelajaran baru tentang sepak bola dan kedisiplinan.

Berawal dari Ajakan Kakak

(Foto: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Perjalanan Syifa di dunia sepak bola bermula ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, kakaknya lebih dulu mengikuti kegiatan sekolah sepak bola (SSB). Awalnya ia tidak memiliki ketertarikan khusus untuk ikut bermain.

Namun rasa penasaran membuatnya mencoba bergabung. Dari aktivitas yang semula hanya sekadar mencoba, sepak bola kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Syifa mulai menekuni olahraga tersebut sejak kelas dua sekolah dasar. Seiring waktu, latihan rutin, pertandingan, dan interaksi dengan rekan setim membentuk pengalaman yang semakin memperkuat minatnya terhadap sepak bola.

Menurutnya, sepak bola tidak hanya mengajarkan teknik bermain di lapangan, tetapi juga memberikan pelajaran tentang kemandirian, kedewasaan, pertemanan, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.

(Foto: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Kemampuan bermain di beberapa posisi menjadi salah satu karakteristiknya sebagai pemain muda. Syifa dapat dimainkan sebagai gelandang, penyerang, pemain sayap, maupun penjaga gawang sesuai kebutuhan tim.

Meski kesehariannya lekat dengan lapangan sepak bola, Syifa ternyata memiliki hobi lain. Ia menyukai atletik, khususnya lari, yang menjadi salah satu aktivitas favoritnya untuk menjaga kebugaran sekaligus mengisi waktu luang. 

Menjalani Sekolah dan Latihan Setiap Hari

(Foto dok.mainkekudus)

Sebagai pelajar sekaligus atlet muda, Syifa menjalani rutinitas yang cukup padat. Aktivitas sekolah berlangsung pada pagi hari hingga sekitar pukul 13.00 WIB. Setelah beristirahat dan mempersiapkan diri, ia kembali beraktivitas di lapangan.

(Foto dok.mainkekudus)

Latihan biasanya dimulai sekitar pukul 16.30 WIB hingga waktu Magrib. Jadwal tersebut dijalani hampir setiap hari sepanjang pekan.

Konsistensi menjalani latihan selama tujuh hari dalam seminggu menjadi bagian dari proses yang harus dilalui untuk meningkatkan kemampuan bermain. Di tengah padatnya jadwal, dukungan dari keluarga, pelatih, teman-teman, dan lingkungan sekolah menjadi faktor penting yang membantu menjaga semangatnya.

SMP Negeri 3 Kudus juga memberikan ruang bagi para atlet melalui program Kelas Khusus Olahraga (KKO). Program tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan sekolah terhadap siswa yang menjalani aktivitas olahraga secara intensif.

Meski demikian, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mudah. Syifa mengaku pernah mengalami kelelahan fisik dan sempat merasa tidak kuat menjalani ritme latihan yang padat.

Dorongan dari orang tua dan pelatih menjadi sumber motivasi yang membuatnya kembali bangkit dan melanjutkan proses latihan.

Kabar yang Datang Lewat Pesan Pribadi

(Foto: Arpan Jayadi/mainkekudus)

Salah satu momen yang paling diingat Syifa adalah ketika mendapat kabar mengenai pemanggilan untuk mengikuti kegiatan bersama Timnas Indonesia Putri U-17.

Informasi tersebut diterimanya melalui pesan pribadi yang disampaikan oleh manajer tim nasional. Saat pertama kali menerima kabar itu, ia mengaku merasa terkejut sekaligus bangga.

Kesempatan bergabung dengan skuad nasional menjadi pengalaman baru bagi pemain yang sehari-hari berlatih di Kudus tersebut. Selain bertemu pemain dari berbagai daerah di Indonesia, ia juga mendapat kesempatan mengikuti program latihan di luar negeri.

(Foto: Arpan Jayadi/mainkekudus)

“Perasaannya kaget dan bangga. Saya tidak menyangka bisa mendapatkan kesempatan itu,” ujarnya.

Bagi Syifa, pemanggilan tersebut menjadi pengalaman yang membuka jalan menuju lingkungan sepak bola yang lebih luas dibandingkan yang selama ini ia jalani.

Sepekan Menimba Ilmu di Prancis

Syifa ketika mengikuti program pelatihan di The Clairefontaine Academy, Prancis. (Foto dok.pribadi Syifa)

Pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan sepak bola Syifa terjadi ketika mengikuti program bersama Timnas Indonesia Putri U-17 di Clairefontaine, Prancis.

Syifa bersama Della, rekan satu timnya di Spegaku Balistha, terpilih mengikuti program pelatihan sepak bola di Prancis yang diselenggarakan melalui kerja sama Fédération Française de Football (FFF) dan PSSI. Kegiatan ini diikuti para pemain Timnas Putri U-17 Indonesia serta sejumlah atlet yang berasal dari MilkLife Soccer Challenge dan Hydroplus Soccer League. Selama berada di Prancis, para peserta menjalani berbagai sesi latihan dan pengembangan kemampuan sepak bola dengan pendampingan pelatih Timnas Putri U-17 Indonesia, Timo Scheunemann.

Selama kurang lebih sepekan, ia menjalani berbagai aktivitas latihan dan internal game bersama rekan-rekan setimnya. Awalnya terdapat rencana pertandingan uji coba, namun agenda tersebut tidak terlaksana sehingga kegiatan lebih banyak diisi dengan pertandingan internal.

Syifa ketika mengikuti program pelatihan di The Clairefontaine Academy, Prancis. (Foto dok.pribadi Syifa)

Meski singkat, pengalaman berada di negara yang memiliki tradisi sepak bola kuat memberikan banyak pelajaran baru baginya.

Syifa mengaku sempat merasa tidak percaya dapat berlatih di Eropa pada usia yang masih sangat muda.

“Senang sekali. Rasanya seperti mimpi bisa bermain bola di benua yang berbeda,” ungkapnya.

Di Prancis, ia juga berkesempatan berlatih bersama pemain-pemain yang lebih senior di lingkungan tim nasional. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang paling berkesan selama mengikuti program latihan.

Awalnya ia merasa canggung karena berada di tengah pemain yang usianya lebih tua. Namun suasana tim yang terbuka membuat proses adaptasi berjalan lebih mudah.

Ia kemudian menjalin pertemanan dengan sejumlah pemain dari berbagai daerah. Pengalaman bertemu teman baru menjadi salah satu hal yang paling diingat selain aktivitas latihan di lapangan.

Belajar Detail Teknik Dasar

Syifa ketika mengikuti program pelatihan di The Clairefontaine Academy, Prancis. (Foto dok.pribadi Syifa)

Salah satu pelajaran yang paling banyak diperoleh Syifa selama berada di Prancis berkaitan dengan metode latihan.

Menurutnya, terdapat perbedaan penekanan latihan antara yang ia rasakan di Indonesia dan di Prancis. Jika latihan yang biasa dijalani di Indonesia cenderung lebih beragam, program di Prancis banyak berfokus pada detail teknik dasar.

Latihan presisi umpan, kecepatan mengalirkan bola, dan kualitas passing menjadi aspek yang mendapat perhatian khusus.

Fokus terhadap detail teknis tersebut memberikan pengalaman baru yang kemudian berusaha ia terapkan setelah kembali ke Indonesia.

Selain aspek teknik, ia juga melihat pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari atlet. Pengaturan waktu istirahat, pola makan, dan kebiasaan sehari-hari menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan pemain.

Pelajaran tersebut kemudian coba ia bagikan kepada rekan-rekannya di klub setelah kembali ke Kudus.

“Di sana saya belajar banyak hal baru, termasuk teknik dasar, disiplin, dan pola makan,” katanya.

Adaptasi dengan Lingkungan Baru

Berada di negara yang berbeda tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satu hal yang paling dirasakan Syifa adalah perbedaan cuaca.

Jika sehari-hari terbiasa dengan suhu hangat di Indonesia, ia harus beradaptasi dengan suhu yang jauh lebih rendah selama berada di Prancis. Saat itu, suhu udara disebut mencapai sekitar enam derajat Celcius.

Meski sempat terkejut, ia mengaku mampu menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.

Kendala bahasa juga tidak menjadi hambatan besar karena selama program berlangsung tersedia penerjemah yang membantu proses komunikasi.

Selain pengalaman latihan, terdapat pula sejumlah pengalaman ringan yang masih diingatnya hingga kini. Salah satunya ketika tanpa sengaja meninggalkan kunci kamar hotel di dalam kamar sehingga harus meminta bantuan untuk membuka pintu menggunakan kartu cadangan.

Pengalaman lain yang menarik baginya adalah mencoba berbagai makanan selama berada di Prancis. Ayam, yoghurt, buah-buahan, dan telur menjadi beberapa menu yang sering dikonsumsi.

Namun ada satu makanan yang belum sepenuhnya sesuai dengan seleranya, yakni croissant. Menurutnya, tekstur roti khas Prancis tersebut terasa berbeda dari yang biasa ia konsumsi di Indonesia.

Kudus sebagai Rumah dan Sumber Motivasi

Di balik pengalaman internasional yang diperoleh, Syifa tetap memandang Kudus sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Baginya, kota tempat ia tumbuh memiliki makna sebagai rumah, sumber dukungan, dan motivasi untuk terus berkembang.

Dukungan keluarga, pelatih, sekolah, serta lingkungan sepak bola di Kudus menjadi fondasi yang membantunya mencapai berbagai pengalaman yang kini dijalani.

Ia mengaku bangga dapat membawa nama daerahnya dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika mendapat kesempatan mengikuti program bersama tim nasional.

Pengalaman tersebut juga memperkuat keyakinannya untuk terus mengembangkan kemampuan bermain sepak bola di masa mendatang.

Menjaga Mimpi Tetap Menyala

Meski telah merasakan pengalaman berlatih di Eropa, Syifa menilai perjalanan tersebut masih merupakan satu langkah dalam proses yang lebih panjang.

Ia masih menyimpan impian untuk kembali bermain di Eropa pada masa depan. Ketertarikannya terhadap sepak bola Eropa juga dipengaruhi oleh pemain favoritnya, Federico Valverde, yang menurutnya memiliki kemampuan tendangan yang kuat.

Bagi Syifa, pengalaman di Prancis bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari proses belajar yang terus berlanjut.

Ia berharap dapat terus berkembang sebagai pemain dan membawa manfaat bagi tim yang dibelanya.

Kepada anak-anak yang memiliki mimpi serupa, Syifa berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

(Foto: Arpan Jayadi/mainkekudus)

“Tetap semangat dan jangan pernah menyerah sampai mencapai tujuan. Paris adalah salah satu langkah, masih ada mimpi yang lebih besar untuk Indonesia,” ujarnya.

Perjalanan Asyifa Sholawa Farizqi menunjukkan bagaimana proses pembinaan, dukungan lingkungan, dan konsistensi latihan dapat membuka kesempatan bagi atlet usia muda untuk memperoleh pengalaman di tingkat yang lebih luas. Dari lapangan latihan di Kudus hingga pusat pelatihan sepak bola di Prancis, Syifa masih melanjutkan langkahnya sebagai pemain muda yang terus belajar dan mengejar cita-cita yang ingin diraih di masa depan. (sns/mkk)

PROFIL TERKAIT

Asyifa Sholawa Farizqi

Asyifa Sholawa Farizqi