


KUDUS — Sebanyak 670 penari menampilkan Tari Lajur Caping Kalo secara kolosal di halaman Pendopo Kabupaten Kudus, Sabtu (26/9/2026). Pertunjukan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Kudus ke-477 itu kemudian tercatat dalam rekor MURI.
Para penari mengenakan kostum dan atribut Caping Kalo, penutup kepala tradisional perempuan yang menjadi bagian dari busana adat Kudus. Di tengah berbagai agenda yang membawa masyarakat dan pengunjung datang ke Kudus, termasuk event olahraga, kekhasan budaya seperti Caping Kalo turut membentuk pengalaman mereka mengenal kota ini.
Caping Kalo masih dibuat secara manual oleh perajin lokal. Salah satunya Kamto dari Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Kamto bukan orang pertama dalam keluarganya yang membuat Caping Kalo. Keterampilan tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan kini diteruskan hingga generasi keempat.
“Caping Kalo ini warisan dari simbah buyut, berarti saya generasi keempat. Sejak kapan saya kurang tahu, yang penting sudah turun-temurun, kurang lebih 130-an tahun yang lalu,” ujar Kamto.
Ia mulai benar-benar meneruskan pembuatan Caping Kalo ketika sang ayah sudah tidak mampu lagi mengerjakannya.

Ada pesan dari keluarganya agar Kamto tetap melanjutkan pembuatan Caping Kalo supaya kerajinan tersebut tidak hilang. Bagi Kamto, Caping Kalo juga merupakan bagian dari kelengkapan pakaian adat Kudus.
Karena itu, ia tetap mengerjakannya di sela aktivitas sehari-hari. Ketika memiliki waktu pada pagi atau sore hari, bambu kembali diolah menjadi bagian dari Caping Kalo.
Bentuk Caping Kalo bulat dan pipih, berbeda dengan caping yang biasa digunakan petani sebagai pelindung kepala. Bahan, teknik pembuatan, hingga fungsi budayanya juga berkaitan erat dengan busana adat Kudus.
Bentuknya menyerupai kalo, alat tradisional untuk menyaring santan. Dalam pemaknaan budaya, bentuk lingkaran tersebut dikaitkan dengan kepasrahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Anyaman bambu yang rapat dan halus dimaknai sebagai kerukunan, kebersamaan, dan gotong royong. Sementara kerangka bambu dikaitkan dengan keteguhan jiwa, kejujuran, dan keterbukaan.

Sekitar 90 persen material Caping Kalo berasal dari bambu. Bahan lainnya berupa daun rembuyan atau kesulo serta tali.
Dahulu, tali yang digunakan berasal dari ijuk. Kamto kemudian menggantinya dengan tali plastik karena penggunaan ijuk membuat proses pengerjaan lebih lama.

Sekitar 90 persen material Caping Kalo berasal dari bambu. Bahan lainnya berupa daun rembuyan atau kesulo serta tali.
Dahulu, tali yang digunakan berasal dari ijuk. Kamto kemudian menggantinya dengan tali plastik karena penggunaan ijuk membuat proses pengerjaan lebih lama.

Selain bambu, perajin menggunakan daun rembuyan yang juga dikenal sebagai rembulung atau gedobos. Di sejumlah daerah, terutama Pati dan wilayah Jawa Tengah lainnya, tanaman tersebut dikenal dengan sebutan kesulo atau resulo.
Dalam penggunaan lokal, rembuyan dan kesulo merujuk pada tanaman yang sama atau tanaman yang sangat berkerabat dekat. Tumbuhan ini memiliki batang berukuran besar dengan bagian dalam yang empuk seperti gabus.

Daunnya secara tradisional dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan. Pada masa lalu, daun tersebut digunakan untuk dianyam menjadi welit atau atap rumah tradisional. Di Desa Gulang, daun rembuyan atau kesulo masih digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan Caping Kalo.
Sebelum digunakan, daun dipersiapkan agar lebih lentur. Setelah anyaman bambu terbentuk, lapisan daun dipasang untuk melengkapi bentuk dan susunannya.
Selain daunnya, bagian batang tanaman tersebut juga memiliki pemanfaatan tradisional. Bagian dalam batang yang empuk pernah digunakan masyarakat pedesaan untuk membuat kerangka layangan atau kandang burung.
Setelah anyaman bambu dan lapisan daun terpasang, bagian-bagian Caping Kalo dirakit secara bertahap. Di antaranya terdapat rangkepan, jalon, iker-iker, dan gapit.

Bagian tersebut kemudian dijahit dan diperkuat menggunakan bilah bambu tipis yang disebut seleret.
Seluruh proses membutuhkan waktu beberapa hari.
“Kalau rata-rata pembuatannya tiga sampai empat hari,” kata Kamto.
Pengerjaan dilakukan secara bertahap menyesuaikan waktu yang dimiliki. Jika seluruh bahan sudah siap dan pekerjaan dapat dilakukan sejak pagi hingga malam, satu Caping Kalo dalam kondisi tertentu dapat diselesaikan dalam sehari.
Untuk produk kerajinan asli, Kamto menyebut harga Caping Kalo saat ini sekitar Rp475 ribu per buah. Sementara produk tiruan dapat ditemukan dengan harga sekitar Rp90 ribu.
Pembeli Caping Kalo berasal dari sejumlah instansi dan sekolah, terutama menjelang peringatan Hari Jadi Kudus. Penggunaan pakaian adat Kudus setiap tanggal 23 juga menjadi salah satu kesempatan Caping Kalo kembali digunakan.

Keberlanjutan pembuatan Caping Kalo menghadapi persoalan regenerasi. Menurut Kamto, pekerjaan tersebut membutuhkan ketekunan, keterampilan, dan waktu, sementara generasi muda memiliki pilihan pekerjaan lain.
“Anak-anak zaman sekarang itu lebih suka kerja pabrik, kerja bulanan,” ujarnya.
Kamto merupakan salah satu perajin yang masih mempertahankan keterampilan membuat Caping Kalo secara turun-temurun. Berdasarkan informasi dari pemerintah desa, saat ini terdapat sekitar lima perajin Caping Kalo di Desa Gulang, termasuk Kamto.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa keterampilan membuat Caping Kalo masih bergantung pada perajin yang terbatas.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Arief Zuli Tanjung, mengatakan Caping Kalo memiliki posisi penting sebagai bagian dari busana adat perempuan Kudus.

Menurut Arief, keunikan bentuk, bahan, teknik pembuatan, dan cara pemakaiannya menjadi pembeda dengan penutup kepala tradisional dari daerah lain. Caping Kalo juga mencerminkan nilai ketekunan, ketelitian, kesantunan, dan kreativitas masyarakat Kudus.
Kekhasan inilah yang membuat Caping Kalo memiliki nilai lebih luas ketika Kudus menerima pengunjung dari luar daerah. Bagi wisatawan yang datang untuk mengikuti atau menyaksikan event olahraga, misalnya, kerajinan lokal memberi sisi lain dari kota yang dapat mereka kenal di luar arena pertandingan.
Pemerintah Kabupaten Kudus melakukan sejumlah upaya untuk mempertahankan keberadaan Caping Kalo. Upaya tersebut antara lain pengusulan Caping Kalo sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, pendokumentasian sejarah dan teknik pembuatan, inventarisasi data maestro dan perajin, serta pengembangan kegiatan budaya untuk memperkenalkannya kepada generasi muda.
Penggunaan Caping Kalo dalam kegiatan resmi juga menjadi bagian dari upaya tersebut.
Pemkab Kudus mendorong penggunaan pakaian adat Kudus bagi aparatur sipil negara atau ASN setiap tanggal 23. Kebijakan tersebut sekaligus membuka ruang penggunaan Caping Kalo dalam kegiatan pemerintahan.
Selain melalui busana adat, Caping Kalo diperkenalkan lewat kegiatan seni dan budaya. Salah satunya Tari Lajur Caping Kalo.

Tari Lajur Caping Kalo mengambil inspirasi dari proses pembuatan Caping Kalo. Gerakannya menggambarkan sejumlah tahapan, mulai dari menyiapkan bahan, menganyam, hingga merangkai anyaman menjadi penutup kepala.
Penari Lajur Caping Kalo, Sherly Jessy Ratna Safitri, mulai mempelajari tarian tersebut sekitar Februari 2026, sebelum Ramadhan.

Menurut Sherly, festival dan berbagai agenda pertunjukan membuat generasi muda dapat mengenal Caping Kalo melalui seni pertunjukan.
“Senang banget ternyata ada festival seperti ini karena secara tidak langsung kita melestarikan budaya,” katanya.
Tari tersebut kemudian ditampilkan dalam jumlah besar pada peringatan Hari Jadi Kota Kudus ke-477. Dari kerajinan yang dikerjakan di rumah-rumah perajin, Caping Kalo pun hadir dalam bentuk pertunjukan yang dapat disaksikan masyarakat dan pengunjung kota.

Sebanyak 670 penari Lajur Caping Kalo tampil secara kolosal di halaman Pendopo Kabupaten Kudus pada Sabtu, 26 September 2026.
Para penari mengenakan kostum dan atribut Caping Kalo. Mereka menampilkan gerakan secara serempak di hadapan masyarakat dan tamu undangan.
Senior Representative MURI, Ari Andriyani, mengatakan jumlah tersebut merupakan hasil verifikasi lapangan dari peserta yang diusulkan.

“670 penari tidak hanya menari namun menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap seni dan budaya warisan leluhur kita melalui gerakan yang indah dan selaras,” ujarnya.
Pertunjukan tersebut kemudian dicatat dalam rekor MURI. Pencatatan itu menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang memperkenalkan Caping Kalo melalui seni pertunjukan.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan rekor tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah penari. Kegiatan itu juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kearifan lokal Kudus kepada masyarakat yang lebih luas.

Pengenalan kearifan lokal menjadi semakin relevan ketika Kudus berkembang sebagai kota tujuan berbagai agenda. Event olahraga dapat mendatangkan atlet, official, penonton, maupun komunitas dari luar daerah. Kehadiran mereka membuka kesempatan untuk mengenal Kudus lebih jauh melalui budaya, kerajinan, kuliner, dan destinasi yang dimiliki kota ini.
Dalam konteks itu, Caping Kalo menambah kekhasan pengalaman yang dapat ditemukan wisatawan olahraga selama berada di Kudus. Pertandingan menjadi alasan kedatangan, sementara identitas lokal memberi pengalaman lain di luar venue.
Pertunjukan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, serta unsur Forkopimda.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan menyatakan dukungan terhadap upaya pengusulan Caping Kalo sebagai Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional.

“Caping Kalo dalam bentuk tari yang dicatat dalam rekor MURI, teman-teman, menjadi bagian dari sejarah. Saya melihat masa depan Caping Kalo akan cerah setelah rekor MURI ini. Kita akan mengupayakan Caping Kalo menjadi Warisan Budaya Takbenda nasional,” katanya.
Keberlanjutan Caping Kalo tetap bergantung pada keterampilan membuatnya yang diteruskan kepada generasi berikutnya. Tanpa regenerasi perajin, salah satu kekhasan yang membedakan Kudus dari daerah lain berisiko kehilangan mata rantai pembuatannya.
Pada saat yang sama, kekhasan lokal semacam ini memiliki ruang yang semakin luas untuk dikenalkan ketika Kudus menerima wisatawan melalui berbagai agenda, termasuk event olahraga. Wisatawan mungkin datang untuk pertandingan, tetapi pengalaman mereka terhadap Kudus juga dibentuk oleh apa yang ditemui setelah keluar dari arena.
Caping Kalo menjadi salah satunya: warisan lokal yang memberi wisatawan olahraga kesempatan mengenal Kudus melalui identitas yang hanya mereka temukan di kota ini. (ITN/mainkekudus)