

KUDUS – Sorakan penonton yang menggema di arena menjadi penyemangat bagi para pebulu tangkis yang berlaga dalam Polytron Kudus Indonesia Masters 2026. Di tengah ketatnya persaingan, setiap atlet menghadapi tantangan berbeda, mulai dari mengatasi kegugupan, menjalani pertandingan sengit, hingga menerima kenyataan ketika perjuangan harus terhenti.
Bagi sejumlah pemain, turnamen ini juga menjadi pengalaman pertama bertanding di Kudus. Dukungan penonton, fasilitas pertandingan, dan keramahan masyarakat meninggalkan kesan tersendiri, melengkapi perjalanan mereka dalam mengejar prestasi.
Di sela kesibukan kompetisi, para atlet juga memiliki kesempatan mengenal sisi lain Kudus melalui kuliner lokal dan interaksi dengan masyarakat. Pengalaman di dalam maupun luar arena tersebut menjadi bagian dari cerita penyelenggaraan turnamen bulu tangkis internasional di kota ini.

Sorakan penonton menjadi salah satu pengalaman paling berkesan bagi Lo Sin Yan Happy. Pebulu tangkis tunggal putri asal Hong Kong itu baru pertama kali datang ke Kudus dan langsung merasakan antusiasme masyarakat terhadap bulu tangkis.
Dukungan dari tribun memberinya tambahan semangat, terutama ketika harus menghadapi tekanan dan menjaga konsentrasi sepanjang pertandingan.

“Penontonnya luar biasa. Saya menyukai sorakan mereka karena membuat saya semakin bersemangat saat bermain,” tuturnya.
Happy mengaku sempat gugup ketika menjalani gim pertama. Namun, arahan pelatih membantunya kembali fokus dan menyesuaikan strategi permainan.
Upaya tersebut membuahkan hasil ketika ia menghadapi wakil Jepang, Asuka Takahashi, pada babak 32 besar tunggal putri, Rabu (21/10/2026). Happy menang dua gim langsung dengan skor 21-19, 21-7 dalam waktu 32 menit.
Berdasarkan peringkat BWF per 20 Oktober 2026, Happy menempati posisi ke-55 dunia dengan 30.786 poin. Peringkat tertinggi yang pernah dicapainya adalah posisi ke-41.
Selain atmosfer pertandingan, Happy mengapresiasi fasilitas yang tersedia, cuaca yang menurutnya nyaman, serta keramahan masyarakat Kudus. Pengalaman tersebut memberikan kesan positif dalam kunjungan pertamanya ke kota ini.

Bagi Bagas Maulana, setiap pertandingan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang telah dimulainya sejak kecil. Pebulu tangkis asal Cilacap, Jawa Tengah, itu pernah menghadapi berbagai tantangan sebelum mampu bersaing di level internasional.
Ia mengenang masa ketika harus menempuh perjalanan jauh untuk mengikuti latihan, bahkan tetap berangkat meski hujan turun. Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Perkataan orang lain pernah membuatnya mempertimbangkan untuk berhenti bermain bulu tangkis dan memilih jalan berbeda, termasuk menjadi anggota TNI.
Namun, Bagas memilih bertahan. Keinginan membahagiakan kedua orang tua menjadi salah satu motivasi terbesarnya untuk terus berjuang. Ia ingin membuktikan bahwa usaha yang dimulai dari nol dapat membuahkan hasil sekaligus menjadi cara membalas dukungan keluarga.
Semangat tersebut turut dibawanya dalam Polytron Kudus Indonesia Masters 2026. Berpasangan dengan Apriyani Rahayu di sektor ganda campuran, Bagas berusaha memberikan penampilan terbaik meski perjalanan keduanya harus berakhir pada babak 16 besar.

Mereka mengundurkan diri saat menghadapi pasangan Thailand, Phuwanat Horbanluekit dan Fungfa Korpthammakit, akibat cedera yang dialami Apriyani.
Bagas menilai permainan mereka sebenarnya berjalan cukup baik pada dua gim awal. Ia juga sempat menerima kartu kuning terkait active time atau keterlambatan permainan, tetapi menganggap situasi tersebut tidak terlalu memengaruhi penampilannya.
Terlepas dari hasil pertandingan, Bagas mengaku terkesan dengan fasilitas yang disediakan selama mengikuti turnamen di Kudus.
“Fasilitasnya bagus. Sudah seperti level Indonesia Masters,” ungkapnya.
Pengalaman pertama bertanding di Kudus pun menambah cerita dalam perjalanan karier Bagas, yang terus berupaya meraih prestasi dan membanggakan keluarganya.

Di tengah persaingan ketat Polytron Kudus Indonesia Masters 2026, Rasindu Hendahewa menyempatkan diri menikmati kuliner lokal. Pebulu tangkis tunggal putra asal Sri Lanka itu telah mencicipi soto Kudus dan bebek goreng, tetapi masih menyimpan rasa penasaran terhadap satu hidangan khas lainnya, sate kerbau.
Kudus bukan kota yang sepenuhnya asing bagi Rasindu. Ia sebelumnya pernah datang untuk mengikuti turnamen bulu tangkis junior. Pada kunjungan keduanya, ia kembali merasakan atmosfer pertandingan yang menurutnya menyenangkan, terutama berkat antusiasme penonton sejak hari pertama.
“GOR-nya sangat bagus. Penontonnya juga ramai, bahkan sejak hari pertama. Suasana seperti itu membuat pertandingan terasa menyenangkan,” ujarnya.
Rasindu datang dengan bekal peringkat ke-175 dunia sektor tunggal putra berdasarkan daftar BWF per 20 Oktober 2026, dengan koleksi 11.170 poin. Peringkat tertinggi sepanjang kariernya adalah posisi ke-152.
Perjuangannya dimulai dengan kemenangan dramatis atas wakil Malaysia, Tan Jia Jie, pada babak 64 besar, Selasa (20/10/2026). Rasindu harus bertarung selama satu jam 10 menit sebelum memastikan kemenangan tiga gim dengan skor 21-15, 18-21, 23-21.

Namun, langkahnya terhenti pada babak 32 besar, Rabu (21/10/2026). Ia kalah dari wakil Korea Selatan, Jeon Hyeok Jin, dengan skor 22-24, 10-21 dalam pertandingan berdurasi 47 menit.
Di luar arena, Rasindu memanfaatkan waktu luangnya untuk menjelajahi kuliner Kudus. Salah satu tempat yang dikunjunginya adalah Soto Djatmi, tempat ia menikmati soto khas kota ini. Ia juga telah mencoba bebek goreng dan berharap masih memiliki kesempatan mencicipi sate kerbau.
Pengalaman kuliner tersebut menjadi pelengkap kunjungan keduanya ke Kudus, sekaligus memberinya kesempatan mengenal kota ini di luar aktivitas pertandingan.
Sementara itu, Lo Sin Yan Happy belum sempat menjajal kuliner Indonesia. Selama turnamen, ia masih memilih makanan yang biasa dikonsumsinya dan berencana mencoba hidangan lokal setelah rangkaian pertandingan selesai.
Bagas Maulana juga memiliki pengalaman tersendiri. Selama mengikuti turnamen, ia menginap di Hotel Gripta. Meski jadwal latihan dan pertandingan membatasi waktunya berkeliling, Bagas sempat menikmati ayam goreng di Warung Makan Hj. Kasmini, garang asem, dan lentog.
Ketika diminta mendeskripsikan Kudus dalam tiga kata, Bagas menjawab singkat, “Seru, mantap, luar biasa.”

Menjalani turnamen di kota yang belum dikenal tentu membutuhkan penyesuaian, terutama bagi atlet mancanegara. Selain mempersiapkan diri menghadapi pertandingan, mereka juga harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mencari makanan hingga berkomunikasi dengan masyarakat setempat.
Di sinilah peran liaison officer (LO) menjadi penting. Christopher Abraham menjadi salah satu pendamping yang membantu para atlet menjalani aktivitas selama berada di Kudus.

“Sebagai LO, kami berusaha membantu para atlet agar merasa nyaman selama berada di sini. Harapannya, mereka dapat berkonsentrasi dan memberikan penampilan terbaik dalam pertandingan,” jelasnya.
Dalam kesehariannya, Abraham kerap menghadapi situasi sederhana yang membutuhkan solusi cepat. Salah satunya ketika membantu atlet memesan makanan Indonesia melalui aplikasi Grab. Perbedaan bahasa membuatnya harus menerjemahkan percakapan dengan pengemudi agar pesanan dapat dikomunikasikan dengan baik.
Pilihan makanan pun terkadang memerlukan penjelasan tambahan. Abraham pernah mendampingi atlet yang ingin mencoba tahu tek atau tahu oser. Sebelum mencicipinya, ia mengingatkan bahwa hidangan tersebut mengandung kacang yang perlu diperhatikan, terutama bagi mereka yang memiliki alergi atau berisiko mengalami gangguan pencernaan.
Meski sudah mendapat penjelasan, rasa penasaran membuat para atlet tetap ingin mencoba makanan tersebut.
Pengalaman Abraham tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan teknis. Ia juga menyaksikan bagaimana masyarakat Kudus menyambut para pebulu tangkis. Sejumlah penggemar mendekati atlet untuk meminta foto bersama, menciptakan interaksi hangat di luar arena pertandingan.

Bagi Abraham, pendampingan semacam ini membantu para atlet beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal-hal sederhana, seperti memilih makanan atau mengatasi kendala bahasa, turut menentukan kenyamanan mereka selama mengikuti turnamen.

Setiap atlet datang ke Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 dengan target dan perjalanan masing-masing. Namun, hasil pertandingan bukan satu-satunya hal yang membekas selama mereka berada di Kudus.
Antusiasme penonton, fasilitas pertandingan, kesempatan menikmati kuliner lokal, hingga interaksi dengan masyarakat turut membentuk pengalaman para atlet. Bagi yang baru pertama kali datang, turnamen ini menjadi kesempatan mengenal Kudus. Sementara bagi mereka yang pernah berkunjung, ada pengalaman baru yang melengkapi kesan sebelumnya.
Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana penyelenggaraan turnamen internasional turut membuka ruang bagi Kudus untuk memperkenalkan potensi kotanya. Perpaduan fasilitas olahraga, kekayaan kuliner, dan keramahan masyarakat menjadi daya tarik yang mendukung perkembangan Kudus sebagai destinasi wisata olahraga. (OEB/YSR/mainkekudus)