

KUDUS – Setelah mengerahkan tenaga di lapangan, para pemain bola voli membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi sebelum kembali bertanding. Tempat tidur yang nyaman, fasilitas penginapan, serta kebutuhan konsumsi menjadi bagian penting dalam perjalanan tim yang mengikuti kompetisi di luar daerah.
Kebutuhan tersebut juga dirasakan peserta Open Turnamen Dandim Cup 2026 yang berlangsung di Lapangan Kodim 0722/Kudus pada 9–11 Oktober 2026. Kompetisi yang diikuti 16 klub bola voli putra ini menghadirkan sejumlah tim dari luar Kudus, termasuk Pijar Salatiga Volleyball yang datang bersama rombongan dari Salatiga.
Klub yang didirikan Rukiman pada 2024 itu memilih Hotel Prima Graha di Jalan R. Agil Kusumadya 1 Nomor 8, Jati Kulon, Kecamatan Jati, sebagai tempat beristirahat selama mengikuti turnamen. Dengan rombongan berjumlah 11 orang, mereka menempati tiga kamar selama satu malam sebelum kembali ke Salatiga.
Kehadiran rombongan seperti Pijar Salatiga memperlihatkan bagaimana penyelenggaraan kompetisi olahraga turut menghadirkan kebutuhan akomodasi, konsumsi, dan layanan lainnya di kota tuan rumah.

Bagi Rukiman, menyiapkan tim untuk bertanding di luar daerah tidak hanya berkaitan dengan strategi permainan. Pengaturan perjalanan dan tempat menginap juga menjadi bagian dari persiapan agar para pemain dapat menjaga kondisi fisik selama kompetisi.
Hotel Prima Graha menjadi pilihannya karena lokasi yang cukup dekat dengan arena pertandingan. Rukiman juga telah mengenal kawasan tersebut dan memiliki kedekatan dengan sejumlah orang di sekitar lokasi. Suasana yang relatif tenang menjadi pertimbangan tambahan untuk mendukung waktu istirahat para pemain.

Untuk mengakomodasi 11 anggota rombongan, Pijar Salatiga menggunakan tiga kamar dengan pilihan fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan tim. Menurut karyawan Hotel Prima Graha, Santoso, kamar yang digunakan tersedia dalam pilihan tarif Rp200.000 dan Rp280.000 per malam.

Keikutsertaan dalam Dandim Cup juga menjadi bagian dari perjalanan Rukiman mengembangkan Pijar Salatiga Volleyball. Sejak mendirikan klub tersebut pada 2024, ia membangun kegiatan pembinaan dan tempat latihan secara mandiri.
Kecintaannya terhadap bola voli telah tumbuh jauh sebelum mendirikan klub. Rukiman yang pernah bekerja di PLN juga memiliki pengalaman sebagai pemain voli. Bekal tersebut kini diteruskannya melalui peran sebagai pelatih yang mendampingi atlet mengikuti berbagai kompetisi.
Baginya, kesempatan bertanding di luar daerah membuka ruang bagi para pemain untuk menambah pengalaman, menguji kemampuan, sekaligus mengembangkan potensi mereka melalui persaingan dengan klub lain.

Pengalaman mengikuti kompetisi di luar daerah juga dirasakan Sandy Bagas Prasetyo, pemain Pijar Salatiga asal Grobogan. Sandy pernah memperkuat Sukun Badak dalam ajang Proliga 2023 dan memahami pentingnya menjaga kondisi fisik selama menjalani pertandingan.
Bagi Sandy, kenyamanan penginapan menjadi salah satu faktor pendukung pemulihan tenaga. Fasilitas dasar seperti air minum, tempat tidur yang bersih dan nyaman, serta kesempatan tidur yang cukup menjadi kebutuhan utama setelah menghabiskan energi di lapangan.

Terlebih ketika jadwal pertandingan berlangsung berdekatan, waktu istirahat perlu dimanfaatkan secara optimal. Kondisi fisik yang terjaga membantu pemain menjalani latihan pengondisian atau conditioning sebelum menghadapi pertandingan berikutnya.
Kenyamanan tersebut tidak selalu bergantung pada fasilitas penginapan yang mewah. Bagi atlet, tersedianya kebutuhan dasar dan lingkungan yang mendukung istirahat sudah menjadi pertimbangan penting dalam memilih tempat menginap.
Di sela agenda pertandingan, Sandy juga berkesempatan menikmati kuliner khas Kudus. Garang asem dan soto Kudus menjadi dua hidangan yang telah dicicipinya selama berada di Kota Kretek.
Pengalaman kuliner tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan Sandy bersama tim. Selain berkompetisi, kunjungan ke Kudus memberinya kesempatan mengenal cita rasa lokal yang menjadi salah satu daya tarik kota ini.
Aktivitas sederhana seperti mencari makan dan menikmati kuliner setempat sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara penyelenggaraan turnamen olahraga dengan usaha kuliner di kota tuan rumah.

Hotel Prima Graha menjadi salah satu pilihan akomodasi bagi peserta Dandim Cup 2026. Berlokasi di kawasan Jati Kulon, hotel ini memiliki 20 kamar dengan variasi tipe dan tarif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan tamu, mulai dari pelancong individu hingga rombongan.
Menurut Santoso, pilihan kamar tersedia mulai dari tipe Economy B seharga Rp100.000 dan Economy A Rp115.000 per malam. Kedua tipe menggunakan kipas angin, dengan pilihan fasilitas televisi maupun tanpa televisi.
Sementara itu, kamar Standard ditawarkan dengan tarif Rp175.000, Superior Rp200.000, dan Family Rp280.000 per malam.
Kamar Standard dilengkapi AC, televisi, tempat tidur, dan kamar mandi dalam. Tipe Superior menyediakan AC, LED TV, dua tempat tidur, serta pemanas air. Adapun tipe Family memiliki dua tempat tidur berukuran ganda, AC, LED TV, dan fasilitas pemanas air.

Selain kamar, Hotel Prima Graha menyediakan area parkir yang luas, akses Wi-Fi, serta ruang pertemuan berpendingin ruangan. Fasilitas pertemuan tersebut dapat disewa dengan tarif Rp1,5 juta untuk penggunaan selama delapan jam.
Hotel ini berada di belakang Kantor Bea Cukai Kudus, dengan jarak sekitar 2–3 kilometer menuju Kodim 0722/Kudus melalui jalan kota. Lokasinya menjadi salah satu pertimbangan praktis bagi rombongan yang membutuhkan akses menuju arena pertandingan.
Pilihan tarif dan fasilitas yang beragam memberikan keleluasaan bagi tamu untuk menyesuaikan akomodasi dengan kebutuhan maupun anggaran perjalanan. Bagi klub olahraga yang datang bersama sejumlah atlet dan official, fleksibilitas tersebut menjadi bagian penting dalam mengatur kebutuhan selama mengikuti kompetisi.

Penyelenggaraan event olahraga di Kudus turut menghadirkan peluang bagi usaha penginapan. Menurut Santoso, kegiatan yang mendatangkan peserta dari luar daerah menjadi salah satu sumber permintaan kamar, terutama ketika berlangsung kompetisi atau agenda olahraga berskala besar.
Dalam sejumlah kegiatan, termasuk audisi olahraga tingkat nasional, pemesanan kamar bahkan dapat dilakukan jauh sebelum acara berlangsung. Kondisi ini menunjukkan pentingnya perencanaan akomodasi bagi rombongan yang akan mengikuti kegiatan di Kudus.
Kebutuhan setiap tamu pun beragam. Sebagian rombongan membutuhkan pengaturan kapasitas kamar yang lebih fleksibel, sementara tamu lainnya mempertimbangkan ketersediaan fasilitas seperti air panas untuk menunjang kenyamanan setelah beraktivitas.
Santoso menjelaskan, pengelola berupaya menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan tamu dan fasilitas yang tersedia.
Aktivitas penginapan juga memiliki keterkaitan dengan usaha masyarakat di sekitarnya. Meski Hotel Prima Graha belum menyediakan restoran dan layanan laundry sendiri, kebutuhan mencuci pakaian tamu dapat diarahkan kepada warga sekitar yang menjalankan usaha laundry.
Hubungan tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk ikut melayani kebutuhan pengunjung yang datang ke Kudus. Kehadiran rombongan olahraga tidak hanya berkaitan dengan pemesanan kamar, tetapi juga kebutuhan sehari-hari selama mereka berada di kota ini.
Untuk pemesanan, Hotel Prima Graha masih melayani reservasi melalui telepon kantor maupun kedatangan langsung. Sistem tersebut menjadi jalur komunikasi bagi calon tamu untuk menanyakan ketersediaan kamar, fasilitas, dan kebutuhan rombongan.
Kehadiran Pijar Salatiga selama Dandim Cup 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana kompetisi olahraga turut menggerakkan sektor akomodasi lokal. Kedatangan rombongan dari luar daerah membuka peluang bagi penginapan untuk menjangkau lebih banyak tamu melalui pilihan tarif dan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan peserta.
Dandim Cup 2026 menghadirkan 16 klub bola voli putra dari sejumlah daerah, antara lain Kudus, Salatiga, Gunungkidul, Demak, Jepara, Grobogan, Boyolali, dan Karanganyar.
Panitia penyelenggara, Muhammad Rizal Muzaki, menjelaskan bahwa kompetisi tersebut menjadi ajang pertemuan klub dengan latar belakang daerah dan pengalaman bertanding yang beragam. Dari daftar peserta yang terkonfirmasi, sembilan klub berasal dari luar Kudus.

Menurut Rizal, setiap tim umumnya membawa sekitar 10 atlet dan dua hingga lima official. Dengan komposisi tersebut, kehadiran klub luar daerah berpotensi mendatangkan rombongan yang membutuhkan berbagai layanan selama mengikuti turnamen.
Dengan perkiraan 12–15 orang dalam setiap tim, sembilan klub dari luar Kudus berpotensi membawa sekitar 108–135 atlet dan official. Jumlah tersebut menggambarkan besarnya mobilitas peserta sekaligus potensi kebutuhan akomodasi, konsumsi, dan transportasi selama turnamen berlangsung.
Panitia tidak menyediakan penginapan khusus sehingga setiap klub memiliki keleluasaan menentukan akomodasi sesuai kebutuhan. Lama tinggal pun dapat berbeda, bergantung pada jadwal pertandingan dan perjalanan masing-masing tim.
Sebagian rombongan dapat kembali ke daerah asal setelah menyelesaikan pertandingan, sementara tim yang melanjutkan kompetisi perlu mempertimbangkan kebutuhan menginap lebih lama.
Pengalaman Pijar Salatiga yang memilih tiga kamar untuk 11 anggota rombongannya menjadi salah satu gambaran bagaimana peserta mengatur kebutuhan akomodasi secara mandiri.
Selain akomodasi, kedatangan rombongan turut mendorong kebutuhan konsumsi, transportasi, dan berbagai layanan pendukung. Aktivitas ini membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal, sekaligus memperluas manfaat penyelenggaraan Dandim Cup 2026 bagi sektor pariwisata dan ekonomi Kudus.
Bagi Kudus, penyelenggaraan kompetisi olahraga menghadirkan kesempatan untuk memperkenalkan berbagai layanan dan potensi daerah kepada pengunjung. Atlet dan official yang datang tidak hanya membutuhkan arena pertandingan, tetapi juga tempat beristirahat, pilihan kuliner, serta akses transportasi yang mendukung perjalanan mereka.
Cerita Pijar Salatiga memperlihatkan hubungan tersebut dalam skala yang dekat dengan keseharian. Seusai bertanding, para pemain kembali ke penginapan untuk memulihkan tenaga, menikmati makanan lokal, lalu melanjutkan agenda perjalanan mereka.
Sementara bagi pelaku usaha perhotelan, kuliner, dan layanan di sekitar penginapan, kedatangan rombongan menjadi peluang untuk menjangkau pelanggan dari luar daerah.
Semakin banyak kompetisi yang digelar, semakin penting pula kesiapan layanan pendukung untuk menyambut peserta dan pengunjung. Dengan begitu, geliat olahraga di Kudus dapat berjalan beriringan dengan perkembangan sektor pariwisata dan ekonomi lokal. (OEB/mainkekudus)