

KUDUS – D’tjolo Eco Park di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, menjadi titik awal ratusan pelari Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026 sebelum menempuh lintasan di kawasan Muria pada 3-4 Oktober 2026.
Empat kategori diperlombakan, yakni 7K, 15K, 30K, dan 50K. Seluruhnya mengambil titik start dan finish di kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai Taman Ria Colo tersebut.
Pelaksanaan UTMM berlangsung ketika D’tjolo Eco Park masih dalam proses penataan. Kawasan yang sebelumnya dikelola Pemerintah Kabupaten Kudus itu kini berada di bawah pengelolaan pihak ketiga dan dikembangkan dengan konsep baru.
Di tengah proses tersebut, UTMM 2026 membawa aktivitas baru ke kawasan. Peserta, panitia, dan pendamping berkumpul di D’tjolo Eco Park sebelum para pelari memasuki rute perlombaan yang membentang dari kawasan Colo hingga sejumlah titik di pegunungan Muria.

Taman Ria Colo yang kini menjadi D’tjolo Eco Park tetap berada di lokasi yang sama, tetapi hadir dengan konsep dan pengelolaan berbeda. Pengelolaan oleh pihak ketiga dimulai sejak 1 Agustus 2026, disusul penataan sejumlah bagian kawasan.
Proses tersebut masih berlangsung ketika UTMM 2026 digelar. Pengelola menargetkan tahap awal penataan dapat dinikmati menjelang akhir tahun, sementara D’tjolo Eco Park ditargetkan mulai beroperasi pada awal Desember 2026.
Sejumlah fasilitas direncanakan hadir, mulai dari taman bunga, mini playground dan wahana edukasi anak, rainbow slide, balon udara, hingga area perkemahan yang tetap dipertahankan. Kamar mandi, musala, kafe, dan restoran juga masuk dalam rencana pengembangan.
Penataan itu sekaligus diarahkan untuk mengembalikan karakter kawasan yang dahulu dikenal dengan pepohonan dan suasana teduh.

Di tengah proses penataan, D’tjolo Eco Park harus bersiap menerima aktivitas UTMM 2026 yang berlangsung sejak malam hingga siang hari.
General Manager CV Karya Pijar Utama, Pujiharto, mengatakan pengelola menyiapkan fasilitas dasar di dalam kawasan untuk mendukung pelaksanaan lomba.
“Untuk kesiapan D’Tjolo Ecopark, kami memfasilitasi area untuk start dan finish. Yang kami persiapkan terutama pintu gerbang serta beberapa titik yang nantinya mungkin digunakan peserta,” kata Pujiharto.

Penerangan menjadi salah satu perhatian karena kategori jarak panjang memulai perlombaan pada malam hari. Selain itu, pengelola memastikan ketersediaan air dan toilet bagi peserta.
“Untuk penerangan, air, dan toilet, saya kira sudah aman. Semuanya sudah kami persiapkan,” ujarnya.
Sementara itu, pengaturan parkir kendaraan ditangani pihak penyelenggara. Pengelola D’tjolo Eco Park berkonsentrasi pada kesiapan fasilitas dan area yang berada di bawah pengelolaan mereka.
Dengan jadwal keberangkatan setiap kategori yang berbeda, aktivitas peserta di kawasan berlangsung secara bertahap. Pelari 50K mulai memasuki area sejak malam, disusul kategori 30K, sementara peserta 15K dan 7K memulai perlombaan pada pagi hari.

Dari D’tjolo Eco Park, pelari langsung berhadapan dengan karakter Colo yang menjadi bagian penting dari lintasan UTMM. Rute tidak hanya membawa peserta menuju kawasan pegunungan, tetapi juga melintasi ruang yang sehari-hari digunakan masyarakat.
Event Director Ultra Trail Mount Muria 2026, Muhammad Yusrul Huda, mengatakan salah satu karakter yang ingin ditonjolkan adalah jalur tangga pasar di bawah Masjid dan Makam Sunan Muria.

“Yang ingin kami angkat adalah tangga pasar yang berada di bawah Masjid Makam Sunan Muria. Dalam trail run, jarang ada jalur yang melewati pasar, terlebih pasar yang berada di jalur menanjak. Itu menjadi salah satu ciri khas Ultra Trail Mount Muria 2026,” kata Huda.
Selepas kawasan Colo, karakter lintasan berubah. Peserta melewati perkebunan hingga jalur pegunungan dengan tingkat tantangan berbeda sesuai kategori yang diikuti.
Natas Angin menjadi salah satu titik yang dipertahankan dalam rute. Khusus kategori 50K, perjalanan berlanjut hingga Puncak 29 dan kawasan Desa Tempur di Kabupaten Jepara sebelum peserta kembali menuju D’tjolo Eco Park.
Rangkaian jalur tersebut membuat pelari bersentuhan langsung dengan bentang alam sekaligus ruang hidup masyarakat di kawasan Muria.
Rangkaian UTMM 2026 dimulai sebelum peserta memasuki lintasan. Pengambilan race pack berlangsung selama dua hari di dua lokasi berbeda.
Pada Jumat, 2 Oktober, Race Pack Collection (RPC) hari pertama digelar pukul 15.00-21.00 WIB di Kirana Toko Oleh-oleh, United Grand Square. Hari berikutnya, RPC berlangsung pukul 10.00-18.00 WIB di Aula Hotel Graha Muria, dilanjutkan sharing session pukul 13.00 WIB dan technical meeting pukul 14.00 WIB.
Memasuki malam, giliran kategori jarak panjang mengambil alih lintasan. Peserta 50K menjalani flag off pukul 21.00 WIB, disusul kategori 30K pada pukul 23.00 WIB.


Aktivitas berlanjut pada Minggu pagi. Peserta 15K dilepas pukul 06.00 WIB, sedangkan kategori 7K memulai lomba satu jam kemudian.


Ketika seluruh kategori telah berada di lintasan, aktivitas di venue dilanjutkan dengan agenda sportainment mulai pukul 09.00 WIB.
Batas waktu penyelesaian atau cut-off time (COT) disesuaikan dengan jarak dan karakter masing-masing kategori. Peserta 7K mendapat waktu maksimal empat jam hingga pukul 11.00 WIB, sedangkan 15K memiliki enam jam hingga pukul 12.00 WIB. Untuk 30K, batas waktu ditetapkan 14 jam hingga pukul 13.00 WIB, sementara peserta 50K memiliki waktu maksimal 18 jam hingga pukul 15.00 WIB.
“Setiap kategori memiliki batas waktu yang berbeda sesuai dengan jarak dan karakter lintasannya. Peserta yang melewati batas waktu tersebut tidak lagi memenuhi ketentuan waktu penyelesaian lomba,” jelas Huda.
Seluruh rangkaian UTMM 2026 dijadwalkan berakhir pada Minggu pukul 16.00 WIB.

Aktivitas UTMM 2026 tidak berhenti di area perlombaan. Kedatangan peserta dan pendamping turut menambah pergerakan pengunjung di sekitar Colo, termasuk di tempat usaha yang berada tak jauh dari venue.
Willy Abdul Fathir, penjaga Pusat Oleh-Oleh Khas Kudus sekaligus barista, telah sekitar tiga tahun beraktivitas di kawasan tersebut. Dari pengalamannya, keramaian biasanya meningkat ketika ada kegiatan besar di Colo.
“Kalau ada event seperti ini, biasanya jadi lebih ramai,” kata Willy.

Untuk UTMM 2026, ia belum dapat memastikan seberapa besar peningkatan jumlah pengunjung yang akan terjadi. Namun, persediaan produk telah disiapkan untuk mengantisipasi bertambahnya pembeli.
Kopi Muria menjadi salah satu produk yang paling banyak dicari pengunjung. Produk lokal tersebut kerap menjadi pilihan orang yang singgah di kawasan Colo.

UTMM 2026 juga membawa peserta dari luar daerah ke Colo. Salah satunya Randhie Apituley, pelari kategori 30K asal Jakarta yang untuk pertama kalinya datang ke Kudus dan kawasan Muria.
Randhie mengetahui UTMM 2026 melalui Instagram. Informasi mengenai penyelenggaraan tahun sebelumnya membuatnya tertarik mencoba lintasan Muria dan memutuskan mendaftar.
“Saya mengetahui Ultra Trail Mount Moeria 2026 dari Instagram. Saya melihat informasi Ultra Trail Mount Moeria 2025, kemudian tertarik dan akhirnya mendaftar,” kata Randhie.
Ia berangkat dari Jakarta menggunakan bus dan tiba di Kudus pada Jumat dini hari. Selain tantangan lintasan, bentang alam Muria menjadi salah satu alasan yang membuatnya tertarik mengikuti perlombaan.
Natas Angin menjadi titik yang paling ingin ia lihat secara langsung setelah sebelumnya hanya mengenalnya melalui video.
“Saya paling tertarik dengan alamnya. Natas Angin terlihat sangat menarik dari video,” ujarnya.
Kunjungannya ke Kudus juga membuka kesempatan untuk mengenal kota melalui kuliner. Di sela agenda perlombaan, Soto Kudus masuk dalam daftar makanan yang ingin dicobanya.

Bagi penyelenggara, lintasan UTMM dirancang tidak hanya berdasarkan tantangan jarak dan medan. Jalur yang dipilih juga membawa peserta melewati sejumlah karakter kawasan Muria, dari pasar, perkebunan, hingga pegunungan.
Huda mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian dari konsep sports tourism yang dibawa UTMM 2026. Perlombaan menjadi alasan peserta datang, sementara perjalanan mereka membuka kesempatan untuk mengenal kawasan lebih luas.
“Harapan kami, Muria semakin dikenal. Bukan hanya untuk perlombaan, tetapi juga agar orang yang datang ke sini dapat mengenal UMKM, kuliner, wisata, serta berbagai potensi yang ada di sekitar Muria,” ujarnya.
Pengalaman Randhie memberi gambaran bagaimana perjalanan itu berlangsung. Ia datang dari Jakarta untuk mengikuti lomba 30K, tetapi kunjungannya juga membawanya ke Colo, membuatnya ingin melihat Natas Angin secara langsung, sekaligus mencicipi kuliner khas Kudus.
Di saat yang sama, UTMM 2026 berlangsung ketika D’tjolo Eco Park tengah memasuki fase baru. Kawasan yang masih dalam proses penataan itu menjadi pintu masuk pelari menuju lintasan Muria sekaligus titik mereka kembali setelah menuntaskan perlombaan.
Dari satu titik start dan finish, pergerakan peserta kemudian meluas ke jalur pegunungan, kawasan wisata, hingga tempat usaha di sekitarnya. Di situlah Ultra Trail Mount Moeria 2026 mempertemukan olahraga dengan pengalaman mengenal Muria secara langsung. (OEB/ITN/YSR/mainkekudus)