

KUDUS – Bola bergulir di antara kaki-kaki kecil yang berebut ruang. Dari tepi lapangan, instruksi pelatih bersahutan dengan sorak-sorai pendukung. Para pemain berlari mengejar bola, mencoba melewati lawan, lalu menyusun serangan. Setiap perebutan bola menjadi kesempatan bagi mereka untuk menguji kemampuan, memahami permainan, dan belajar bekerja sama.
Suasana itu mewarnai MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 1 2026–2027 di Kudus, yang berlangsung pada 13–18 Oktober 2026 di Supersoccer Arena dan Lapangan Rendeng. Kompetisi sepak bola putri untuk kelompok umur (KU) 10 dan KU 12 tersebut mempertemukan tim-tim sekolah dasar sekaligus memberi ruang bagi siswi untuk memperoleh pengalaman bertanding.
Penyelenggaraan seri terbaru menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan sepak bola putri usia dini di Kudus. Jumlah peserta bertambah dibandingkan seri sebelumnya, sementara kualitas permainan mulai terlihat dari pemahaman posisi, kemampuan bertahan dan menyerang, serta penerapan teknik dasar. Di sisi lain, keberlanjutan pembinaan tetap menjadi pekerjaan yang perlu dijaga setelah kompetisi berakhir.

Community Development Officer MilkLife Soccer Challenge, Welly Arisanto, menyebut jumlah tim peserta pada Seri 1 2026–2027 meningkat dibandingkan Seri 2 2025–2026. Pada seri sebelumnya, tercatat 66 tim KU 10 dan 64 tim KU 12. Kali ini, masing-masing kelompok umur diikuti 80 tim sehingga total peserta mencapai 160 tim.
“Kalau dibandingkan dengan seri sebelumnya, ada peningkatan. Sekarang KU 10 dan KU 12 masing-masing diikuti 80 tim,” ujar Welly.
MilkLife Soccer Challenge Kudus Seri 1 2026 – 2027 diikuti oleh 1.672 atlet dari 100 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Jumlah tersebut mengalami peningkatan signifikan dari Seri 2 2025 – 2026 yang diramaikan 1.391 peserta. Selain itu terdapat 13 sekolah dari wilayah Kudus dan sekitarnya yang baru ambil bagian di seri kali ini.

Peningkatan partisipasi memperluas kesempatan bagi siswi untuk mengenal sepak bola melalui lingkungan sekolah. Mereka dapat mulai berlatih bersama teman sebaya, mengikuti persiapan tim, lalu menguji kemampuan ketika berhadapan dengan peserta dari sekolah lain.
Untuk menjangkau sekolah yang belum bergabung, penyelenggara melakukan pendekatan secara langsung. Perwakilan lokal mengunjungi sekolah, memetakan potensi siswi, dan melihat kesiapan mereka untuk mengikuti kompetisi.
Ketersediaan sarana juga menjadi perhatian. Sekolah yang belum memiliki perlengkapan pendukung, seperti bola, berpeluang memperoleh bantuan apabila menunjukkan komitmen untuk berpartisipasi dalam MLSC.
“Sekolah-sekolah kami kunjungi untuk melihat kesiapan sekaligus mengajak mereka ikut. Kalau memang belum memiliki fasilitas pendukung seperti bola, kami bisa membantu dengan catatan ada komitmen untuk berpartisipasi,” jelasnya.
Bertambahnya jumlah tim turut menghadirkan kebutuhan untuk menjaga regenerasi pemain. Menurut Welly, sekolah perlu menyiapkan pemain dari kelompok usia yang lebih muda agar kegiatan sepak bola tidak bergantung pada satu angkatan. Ketika siswi KU 12 melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, pemain KU 10 diharapkan sudah memiliki pengalaman untuk meneruskan kegiatan sepak bola di sekolah.
Dengan demikian, peningkatan peserta bukan hanya terlihat dari banyaknya tim yang bertanding, tetapi juga dari kebutuhan membangun kegiatan sepak bola yang dapat berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kepala Pelatih Extra Training MilkLife Kudus, Yayat Hidayat, mengamati perubahan cara bermain anak-anak setelah mengikuti latihan dan kompetisi. Pada tahap awal, pemain usia dini kerap bergerombol mengejar bola. Seiring bertambahnya pengalaman, mereka mulai memahami posisi, membagi peran, serta mengenali kapan harus bertahan dan menyerang.
“Pemahaman teknis anak-anak secara keseluruhan sudah meningkat. Mereka tidak lagi sekadar bermain bergerombol. Secara taktik, kemampuan bertahan maupun menyerang mulai terlihat,” ungkap Yayat.
Meski pemahaman permainan berkembang, penguasaan teknik dasar tetap menjadi fondasi bagi pemain berusia 10–12 tahun. Kemampuan mengoper bola (passing), menggiring bola (dribbling), dan mengontrol bola perlu terus dilatih sebelum anak-anak mendalami pola permainan yang lebih kompleks.
Pengalaman bertanding turut membantu pemain menghadapi tekanan di lapangan. Yayat melihat anak-anak yang sudah beberapa kali mengikuti kompetisi cenderung lebih matang secara teknis dan tidak mudah gugup ketika bertanding.

Dalam mengenali potensi pemain, kemampuan mengolah bola bukan satu-satunya pertimbangan. Daya juang, keaktifan bergerak, sikap, dan kemauan untuk berkembang juga menjadi perhatian. Kemampuan teknis perlu diimbangi dengan kesediaan menjalani latihan dan menerima arahan.
“Walaupun secara teknis mereka bagus, kalau kemauannya kurang, kami akan kesulitan. Yang dicari bukan hanya kemampuan, tetapi juga kemauan untuk maju dan bermain sepak bola,” katanya.
Perubahan aturan pertandingan juga menjadi bagian dari evaluasi penyelenggaraan. Pada seri ini, ukuran lapangan KU 10 diperbesar menjadi 42 × 26 meter. Welly menjelaskan, lapangan yang lebih luas diharapkan memberi keleluasaan bagi pemain untuk bergerak sekaligus membantu memperlihatkan perkembangan kemampuan mereka.
Ruang bermain yang lebih luas memberi kesempatan bagi anak-anak untuk menerapkan teknik yang dipelajari dalam situasi pertandingan. Pelatih dapat mengamati bagaimana pemain mengambil keputusan, menempatkan diri, dan bekerja sama dengan rekan setim.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kualitas permainan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu. Pemahaman posisi, pengambilan keputusan, dan kerja sama juga menjadi bagian dari proses belajar yang berlangsung melalui latihan serta kompetisi.

Pembinaan sepak bola putri tidak selalu berlangsung di lapangan milik sekolah. Di MI NU Khoiriyah Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, pelatih sekaligus guru Bahrul Ulumuddin mengajak para siswi berlatih di Lapangan Getas Pejaten, yang lokasinya tidak jauh dari madrasah.
Pilihan tersebut dilakukan karena fasilitas olahraga di lingkungan sekolah diperuntukkan bagi tenis meja dan bulu tangkis. Agar kegiatan sepak bola tetap berjalan, latihan dipindahkan ke lapangan di luar madrasah.
Dalam kondisi normal, latihan dijadwalkan sekali sepekan. Menjelang kompetisi, frekuensinya terkadang ditambah menjadi dua kali, menyesuaikan kebutuhan dan kesempatan yang tersedia.
Selain fasilitas, menumbuhkan minat siswi dan membangun kepercayaan orang tua menjadi bagian dari tantangan pembinaan. Anak-anak perlu memperoleh kesempatan untuk mencoba, sementara keluarga perlu memahami bahwa sepak bola juga dapat menjadi kegiatan olahraga bagi anak perempuan.

“Saat pelajaran olahraga, kami berusaha menanamkan pemahaman bahwa tidak ada kesenjangan dalam olahraga. Jika anak laki-laki bisa bermain sepak bola, anak perempuan juga bisa,” tutur Bahrul.
MI NU Khoiriyah Getas Pejaten telah empat kali mengikuti MLSC. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya madrasah mempertahankan kegiatan sepak bola putri, meski sarana latihan terbatas dan pendampingan masih perlu diperkuat.

Bahrul melihat dukungan keluarga, pelatih, dan guru berperan dalam menjaga semangat anak-anak. Keinginan untuk kembali berlatih dan mengikuti pertandingan perlu dipelihara agar partisipasi mereka tidak berhenti setelah satu kompetisi selesai.
Madrasah itu berharap pembinaan ke depan dapat berjalan lebih baik, termasuk melalui penambahan pelatih untuk mendampingi para siswi. Kebutuhan tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan sepak bola putri di sekolah tidak cukup hanya dengan kesempatan mengikuti turnamen. Ketersediaan lapangan, jadwal latihan, dan pendampingan juga menentukan ruang bagi anak-anak untuk terus berkembang.

Bagi penyelenggara, MLSC menjadi salah satu jalur untuk mengenali pemain potensial sekaligus membuka kesempatan pengembangan kemampuan setelah kompetisi. Pemain terpilih dari berbagai kota dapat mengikuti program extra training sebelum berpeluang masuk tim All-Star MLSC.
Welly menjelaskan, jalur pembinaan tersebut juga membuka kesempatan bagi pemain terpilih untuk mengikuti kompetisi di luar negeri. Namun, kesempatan itu merupakan bagian dari proses seleksi dan pengembangan, bukan hasil yang otomatis diperoleh setiap peserta.
Program lanjutan memberi ruang bagi pemain untuk terus mengembangkan kemampuan di luar pertandingan antar sekolah. Teknik dasar, pemahaman permainan, kedisiplinan berlatih, dan kesiapan menghadapi persaingan menjadi bekal yang perlu dibangun secara bertahap.
Bagi pemain yang belum masuk program lanjutan, latihan di sekolah tetap menjadi bagian penting dari proses tersebut. Pengalaman bertanding dapat menjadi bahan evaluasi bagi pelatih untuk melihat kemampuan yang sudah berkembang dan aspek yang masih perlu diperbaiki.
Karena itu, kesinambungan pembinaan tidak hanya bergantung pada kesempatan masuk tim seleksi. Sekolah tetap membutuhkan lingkungan latihan yang mendukung, sedangkan pemain perlu memiliki kesempatan untuk berlatih secara rutin setelah turnamen berakhir.
Bagi sepak bola putri Kudus, MLSC Seri 1 2026–2027 memperlihatkan perkembangan partisipasi sekaligus pekerjaan yang masih perlu dilanjutkan. Bertambahnya jumlah tim membuka ruang bagi lebih banyak siswi untuk bermain, sementara perkembangan teknik dan pemahaman permainan menunjukkan pentingnya pengalaman bertanding yang berulang.

Dari lapangan sekolah hingga arena kompetisi, proses pembinaan berlangsung melalui kesempatan bermain, latihan yang teratur, dan pendampingan yang berkelanjutan. Ketika satu seri berakhir, sekolah dan para pemain kembali menghadapi pekerjaan yang sama, menjaga agar pengalaman bertanding menjadi bekal untuk berkembang pada kesempatan berikutnya. (OEB/YSR/mainkekudus)